Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kejam
Part149


__ADS_3

Asisten Li mau menjelaskan semuanya pada Sekertaris Puy, tapi terganggu dengan kedatangan Darvi dan Laura.


“ Bibi Puy, bagaimana keadaan bibi Lisa?.” teriak Laura dengan cemas.


“ Hah, nona, tuan, kenapa kalian bisa ada di sini? ke mana suster yang menjaga kalian.” dengan panik Sekertaris Puy berdiri tercengang.


Darvi berjalan masuk ke ruangan pasien, Zavier yang sedang mengelus perut Lisa terkejut.


“ Darvi? kamu di sini nak.” sapa Zavier menarik tangan dari perut Lisa.


“ Ayah, apa yang terjadi pada ibu?.” Darvi mendekat dan memeluk Lisa.


“ Darvi, ibu tidak apa-apa. Ibu hanya masuk angin biasa.” ujar Lisa mengelus kepala Zavier.


Zavier melongo melihat Darvi menyandar pada Lisa dengan sedikit menindih perut Lisa.


“ Darvi sayang, dengan siapa kamu kemari?.” Zavier menggendong Darvi agar tidak menindih perut Lisa terlalu lama.


Andra masuk dan menggenggam tangan Laura.


“ Maaf tuan, aku membawa Darvi dan Laura datang kemari tanpa memberitahu Anda.” ujar Andra.


“ Dia lagi? untuk apa dia sering datang menemui anak-anak, apa Lisa yang menyuruhnya?.” batin Zavier tidak senang.


“ Anda jangan salah paham tuan, saya hanya menemani Darvi dan Laura belajar. Tidak ada maksud lain.” Andra tahu kalau kedatangannya akan membuat suasana hati Zavier kacau.


“ Lalu kenapa kamu membawa anak-anak datang kemari?.” dengan tatapan suram.


Zavier dan Andra saling menatap membuat seisi ruangan jadi tegang.


“ Jangan salahkan paman, dia bantu aku bertemu dengan ibu. Kenapa tidak boleh?.” Darvi menghentikan Zavier agar tidak saling menatap dengan Andra.


“ Hemm! benarkah? baiklah, ayah hanya salah paham padamu, ayah tidak mau kamu keluar sembarang.” Zavier luluh dengan bentakan Darvi.


“ Sudah-sudah, kenapa jadi ribut begini. Karena kalian sudah berada di sini bagaimana kalau kita pergi makan di resto. Aku yakin kalian pasti lapar bukan?.” Lisa beranjak untuk duduk.


“ Makan? mau-mau, kebetulan aku belum makan siang.” ucap Laura dengan senang.


“ Hadeh, bukan 'kah tadi kamu sudah makan? kenapa bilang belum makan? dasar rakus.” Darvi memegang kepala dengan heran.


“ Tapi aku belum makan siang, tadi hanya sarapan pagi.” balas Laura dengan cemberut.


Darvi tertawa melihat Laura yang marah, padahal sebelum datang ke Rumah Sakit Laura sempat makan sesuatu yang di bawa Andra untuknya.


“ Sudahlah, tidak apa. Kita akan makan bersama.” Lisa turun dari ranjang.


Zavier memapah Lisa keluar, sadar kalau Andra mengikutinya dari belakang Zavier menghentikan langkahnya.


“ Maaf guru Andra, bukankah hari ini seharusnya kamu mengajar siswa di sekolah, kenapa malah mengikuti kami?.” gumam Zavier tidak senang.


“ Ayah, biarkan paman ikut dengan kami. Dia bisa menjagaku dan mengantar aku pulang.” jawab Darvi memohon.

__ADS_1


“ Darvi benar tuan, lagi pula kelas nya akan di mulai 1 jam lagi. Jadi aku punya waktu menemani Darvi dan Laura belajar.” Andra tidak tahan melihat Zavier yang terlalu Posesif.


Di resto yang biasa Lisa kunjungi.


Andra duduk bergabung dengan Zavier, sedangkan Sekertaris Puy hanya berdua bersama Asisten Li. Zavier tidak senang karena Andra terlalu lengket pada Darvi, Zavier hanya bisa mengalah karena Lisa duduk di sampingnya.


“ Baiklah, kali ini aku akan membiarkanmu duduk di dekat keluargaku, tapi tidak dengan lain waktu. Aku tidak akan memberimu kesempatan untuk dekat dengan anak-anak terutama dengan Lisa.” batin Zavier sambil melirik Andra dengan menggertakan gigi.


Makanan telah siap di hidangkan, Darvi dan Laura sangat lahap memakan makanan kesukaan mereka, tapi ada yang aneh dengan suasana saat makan.


“ Andra lihat, bukankah ini minuman kesukaanmu? kamu pasti ingin mencicipinya bukan?.” Lisa mencicipi minuman itu dengan kaget karena rasanya sesuai dengan selera Andra sejak sekolah dulu.


“ Benarkah? bagaimana rasanya?.” tanya Andra sambil tersenyum.


“ Raspberry, mau coba tidak?.” jawab Lisa.


“ Ternyata kamu masih ingat minuman kesukaanku, aku pikir kamu sudah melupakan hal seperti itu.” tertawa senang.


“ Tidak mungkin, aku tahu betul makanan kesukaanmu, jika kamu makan di Villa aku pasti akan memasak Ramen pedas untukmu.” Lisa terlihat bahagia bisa bercanda dengan Andra.


Zavier melihat Lisa sebahagia itu malah bimbang, antara melarang Lisa berbicara dengan Andra atau membiarkannya tapi dirinya cemburu.


“ Biar aku cicipi.” Andra mengambil minuman milik Lisa tapi Zavier menghadangnya.


“ Biarkan aku mencicipinya terlebih dulu, untuk memastikan rasanya benar Raspberry atau bukan.” mengambil minuman milik Lisa dari tangan Andra.


“ Emm, aku rasa Lisa benar, rasanya mirip seperti Raspberry, tapi ini bukan Raspberry tapi Strawberry.” gumam Zavier dengan menikmati minumannya.


“ Sepertinya dia kaget saat tahu ini Strawberry. Rencanaku berhasil, aku rasa dia tidak suka dengan minuman ini.” batin Zavier dengan menyeringai.


“ Mana ada Stawberry, aku memesan Raspberry kenapa jadi Stawberry?.” balas Lisa tidak percaya.


“ Kenapa istriku tidak percaya pada suamimu?.” senyuman cemburu.


“ Hah, iya, aku pikir Zavier benar, ini Stawberry bukan Raspberry.” terpaksa patuh pada Zavier.


Andra tidak percaya dan ada yang aneh dengan kedua orang ini, Andra mengambil gelas itu dan mencicipinya sendiri.


“ Ini, Strawberry, ada sedikit asam nya.” Andra hampir muntah karena minuman itu.


Zavier tertawa sedikit puas melihat Andra yang ceroboh. Andra mencicipi minuman itu dari sedotan bekas Zavier, otomatis Andra berciuman tanpa intim dengan Zavier.


“ Tapi ini tidak buruk, aku menyukainya.” ucap Andra mencicipi kembali minuman itu.


Zavier kesal karena Andra tidak nyerah dan selalu membuatnya marah karena cemburu.


“ Li, biarkan dia duduk di dekatmu.” teriak Zavier dengan ekspresi cemburu.


Asisten Li yang sedang makan berdua dengan Sekertaris Puy merasa terganggu, terutama Sekertaris Puy yang ingin berbicara berdua saja dengan Asisten Li tidak punya kesempatan.


“ Baik tuan.” Asisten Li mengambil kursi milik Andra dan memindahkannya.

__ADS_1


“ Maaf mengganggu.” gumam Asisten Li.


“ Tidak apa.” Andra hanya pasrah dan membawa makanan miliknya.


“ Ayah, kau jahat. Paman Andra sudah baik padaku, tapi ayah malah memperlakukan dia tidak adil.” Darvi terlihat kesal dan cemberut.


“ Kakak tampan, jangan buat ayah marah.” bisik Laura ke Darvi.


Beberapa saat kemudian mereka selesai makan siang, Zavier mengantarkan Darvi dan Laura pulang terlebih dulu. Tidak mau anaknya lebih dekat dengan Andra Zavier tidak mengijinkan Andra mengantar Darvi dan menyuruhnya segera pergi ke sekolah untuk mengajar.


“ Terima kasih atas kebaikanmu teman. Lain kali aku akan mengundangmu makan bersama di Villa.” dengan bangga Zavier menyetir mobil sambil memakai kaca mata hitam.


“ Baik, aku menunggu undanganmu.” balas Andra dengan santai.


“ Dah paman! jangan lupa besok datang temui aku ya.” teriak Laura.


“ Laura, duduk dengan benar.” gumam Zavier tidak senang.


“ Baik ayah. Maafkan Laura.” Laura ketakutan.


Lisa memeluk Laura agar tenang dan tidak takut pada Zavier, Lisa terbiasa dengan prilaku Zavier yang sulit di tebak, membuatnya susah mengetahui isi pikiran Zavier.


Keesokan harinya, hari pernikahan Brian dan Mika tiba.


“ Sayang, bagaimana keadaanmu? sudah membaik?.” tanya Zavier membangunkan Lisa.


“ Iya, sekarang sudah tidak lemas lagi.” gumam Lisa mengucek mata.


“ Eh, sayang bukankah ini hari pernikahan kakak dan Mika?.” teringat dan segera duduk tegak.


Zavier menganggukan kepala.


“ Kenapa kamu tidak membangunkanku lebih awal? aku harus bersiap sekarang sebelum terlambat.” terburu-buru pergi ke toilet.


“ Tunggu! jika kamu tidak enak badan lebih baik jangan pergi ke pesta. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa.” Zavier meraih tangan Lisa dan memeluknya dengan erat.


“ Aku harus pergi, tidak baik di hari pernikahan kakak aku tidak datang. Bagaimana kata orang?.” berbicara sambil melepaskan pelukan Zavier.


“ Biarkan aku memelukmu sebentar. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, aku ingin meminta maaf padamu atas semua kesalahanku.” Zavier tiba-tiba gemetar dan menangis di hadapan Lisa.


“ Kamu! kenapa nangis? apa yang terjadi?.” Lisa panik melihat Zavier menangis di hadapannya.


“ Sayang, tolong maafkan semua kesalahanku! aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana menebus kesalahanku padamu. Jika aku mati aku berharap kamu bisa bahagia seperti yang kuinginkan.” menggenggam tangan Lisa dengan senyum menangis..


“ Ada apa denganmu Zavier?! apa kau sudah gila sampai berbicara tidak waras seperti itu?.” Lisa menampar Zavier dan berharap Zavier sadar dengan ucapannya.


Zavier malah memeluk Lisa setelah di tampar, berharap hidup bahagia bersama istri tercintanya.


“ Sudahlah, aku tidak apa-apa. Sekarang kamu pergi mandi, kita harus pergi sekarang sebelum terlambat.” ujar Zavier memapah Lisa ke toilet.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2