
Lisa di bawa ke Rs dengan Ambulance yang telah di siapkan Li. Zavier sangat tegang ketika menemani Lisa di dalam Ambulance.
“ Cepat! lebih cepat lagi jalannya!.” Teriak Zavier.
“ Tenang tuan, saya di sini sebagai dokter yang menangani pasien di dalam Ambulance, jadi nyonya tidak akan begitu parah dengan lukanya.” Ujar dokter.
“ Kau hanya bisa bilang tenang pada orang lain, sedangkan istriku masih tidak sadarkan diri dari tadi.” Balas Zavier dengan emosi.
Dokter tahu kalau Zavier sangat emosional. Jadi dokter mengalah dan tidak berkata sepatah kata lagi sepanjang jalan.
Suara Ambulance yang begitu keras membuat Darvi menangis tersedu-sedu, Darvi terus meminta Li agar mengijinkannya untuk ikut di mobil Ambulance.
Tak lama kemudian sampai di Rs, Lisa segera di bawa ke ICU untuk mendapatkan perawatan intensif. Zavier melihat Darvi yang sedang menangis di pojokan kursi, tidak tega dan memeluk Darvi sambil berkata. “ Jangan menangis lagi Darvi, ibumu pasti baik-baik saja.”
Setelah menangani Lisa, dokter keluar dan bicara pada Zavier. “ Tuan, luka di kaki istri Anda tidak begitu parah. Untungnya dokter Va sudah membersihkan air liur Singa itu, jadi lukanya akan membaik dalam beberapa hari.”
“ Apa aku bisa melihatnya sekarang?.” Zavier terburu-buru ingin melihat keadaan Lisa.
“ Maaf tuan, sekarang pasien dalam tahap kesadaran. Setelah sadar saya akan memindahkannya ke ruang rawat.”
“ Apa ibu akan baik-baik saja? aku takut terjadi apa-apa sama ibu. Aku takut kehilangan ibu,, hiks hiks.” Darvi menangis di pelukan Zavier.
“ Tidak Darvi, kau jangan bicara seperti itu. Ibumu pasti baik-baik saja, kau berdoa saja agar ibumu secepatnya sadar biar kita bisa menemuinya.”
Setelah beberapa jam menunggu, dokter mengatakan kalau Lisa sudah siuman. Zavier sangat senang mendengar hal itu, jadi Zavier menyuruh Li untuk menyiapkan ruangan inap yang mewah dan megah.
Lisa terkejut melihat ruangan yang penuh dengan bunga, Zavier masuk dan memberikan sebuah kotak kecil untuk Lisa.
“ Apa ini?.” Tanya Lisa.
“ Buka.”
Lisa membuka kotaknya dan melihat sebuah gelang tangan yang begitu indah. Zavier memakaikannya di tangan Lisa, walau Lisa menolak untuk di pasangkan oleh Zavier, tapi Zavier tidak mau dengar dan memakaikannya.
“ Apa kau menyukainya?.”
Lisa menganggukam kepalanya.
Krek! tuan Sanjaya dan nyonya Sanjaya masuk ke ruangan itu bersama Mika Fhui. Seketika Lisa melepaskan tangannya dari genggaman Zavier.
“ Aku dengar Lisa mengalami nasib buruk hari ini. Aku datang ke sini untuk melihat keadaannya.” Ujar tuan Sanjaya.
“ Terima kasih, tuan nyonya. Aku baik-baik saja.” Jawab Lisa dengan gugup.
“ Oh, baiklah. Di mana Darvi? apa dia di sini?.” Tanya nyonya Sanjaya.
“ Darvi sudah pulang ke rumah. Li yang mengantarnya pulang.” Jawab Zavier sambil duduk di sofa.
“ Kenapa tidak di bawa ke kediaman Sanjaya. Bukankah Lisa lagi sakit, siapa yang akan menjaga cucuku itu.” Nyonya Sanjaya khawatir dengan Darvi.
“ Sudah bu, Darvi bersama Puy, dia yang akan jagain Darvi selama Lisa di Rs.”
__ADS_1
“ Kamu ini gaimana Zavier? dia itu masih anak-anak, bagaimana kalau Darvi tidak betah tinggal sama Puy?.”
“ Tidak ibu, Darvi terbiasa di rawat sama Puy. Jadi biarkan dia yang jagain Darvi saat ini.”
“ Aku tahu apa maksudmu ibu, kau hanya mau Darvi bersamamu. Aku tidak akan biarkan Darvi di jauhkan dari ibu kandungnya.” Batin Zavier.
Mika Fhui mendekati Lisa yang tengah terbaring di ranjang. “ Ini untukmu, semoga lekas sembuh.” Mika memberikan buket buah-buahan.
“ Astaga! apa itu? matanya hampir loncat karena telalu benci memolototiku.” Batin Lisa sambil menerima buahnya.
Dengan senyuman Lisa membuat Mika tersenyum sinis padanya. “ Lihat! bagaimana kau akan hidup setelah ini.” Batin Mika.
Sekilas Lisa melihat cincin pernikahannya dulu bersama Zavier yang di pakai Mika. Lisa terus melirik cincin itu dan mencoba memastikan kebenarannya.
Mika ingat kalau dirinya memakai cincin pewaris keluarga Sanjaya milik Lisa dulu. “ Aku akan mengupas buahnya untukmu.”
Mika sengaja mengupas buah di depan Lisa, karena niat hati Mika ingin memperlihatkan cincinnya pada Lisa. “ Ini, makanlah.” Mika menyuapi Lisa dan memamerkan cincinnya.
“ Tidak, itu tidak perlu. Aku bisa melakukannya.”
“ Lihat itu, bahkan dia menolak kebaikan Mika secara langsung di depan kita. Kasihan sekali Mika.” Singgung nyonya Sanjaya.
Merasa tidak enak hati, Lisa terpaksa menerima suapan dari Mika.
“ Oh iya bibi, aku harus pergi sekarang, aku ada urusan di perusahaan. Apa bibi tidak apa-apa aku pulang duluan?.” Mika menghampiri nyonya Sanjaya.
“ Oh, baiklah. Kau memang anak yang tanggung jawab sayang. Pergilah, jangan buat orang tuamu kecewa.”
Mika keluar dan menutup pintunya. “ Aku pikir Lisa sudah melihatnya dengan jelas apa maksudku. Sekarang dia pasti sedang bertanya-tanya soal cincin yang kupakai.” Sambil melihat cincin di jarinya.
Nyonya Sanjaya terburu-buru ingin pergi dari Rs. “ Zavier, ibu dan ayahmu akan pulang sekarang. Tapi sebelum ke kediaman Sanjaya, aku akan pergi mengajak Darvi untuk tinggal bersamaku. Apa kau keberatan Lisa?.” Ujar nyonya Sanjaya.
“ Hemm, tidak, tidak keberatan.” Jawab Lisa dengan kaget.
“ Baiklah, semoga kamu cepat sembuh.”
Lisa menganggukan kepalanya dengan tersenyum paksa. “ Apa yang bisa kubuat, aku tidak bisa ngapa-ngapin sekarang, terpaksa aku ijinkan nyonya membawa Darvi ke kediaman Sanjaya.” Batin Lisa.
Lisa melirik Zavier yang tengah sibuk dengan laptop nya. Perasaan Lisa tidak nyaman ketika tahu kalau cincin pernikahannya di pakai Mika di depan mata kepalanya sendiri.
Zavier mengetahui kalau Lisa sedang gelisah sambil menatapnya. Tapi Zavier tidak berani bertanya karena takut Lisa memarahinya. Zavier pun memutuskan untuk keluar dari ruangan itu, dan membawa laptop nya yang masih menyala.
“ Eehh,, tunggu!.”
Zavier berhenti melangkah dan berbalik badan melihat Lisa. “ Apa ada yang bisa kubantu?.”
“ Tidak, aku tidak membutuhkan apapun.” Lisa menggelengkan kepalanya.
Zavier membuka pintu dan hendak keluar, tapi Lisa berkata. “ Di mana cincinku? cincin yang pernah kau pakaikan di depan orang tuaku!.” Teriak Lisa.
Zavier tertegun mendengarnya. “ Aku tidak tahu!.”
__ADS_1
“ Bohong! kau berbohong padaku!.”
Zavier menyimpan laptop nya dan menghampiri Lisa. Zavier memeluk Lisa dengan agresif. Lisa marah dan memukul dada Zavier sampai beberapa kali.
“ Kau jahat Zavier! kamu tidak bisa di percaya.” Teriak Lisa.
Zavier menghiraukan kata-kata Lisa dan mencoba membuat Lisa tenang di pelukannya. Beberapa saat, Lisa berhenti menangis dan berontak, Lisa merasa lelah karena berontak di pelukan Zavier.
Tak di sangka jahitan yang belum kering mengeluarkan darah segar. Zavier panik melihatnya, dan segera memanggil dokter untuk menangani luka di kaki Lisa.
“ Nyonya, sebaiknya Anda jangan terlalu banyak gerak dulu, takutnya akan timbul infeksi di kakinya.” Ujar dokter.
“ Apa lukanya tidak parah dok?.” Tanya Zavier.
“ Tidak, saya sudah memberikan suntik pereda nyeri. Jika obatnya sudah hilang, rasa sakitnya akan muncul lagi.”
Dokter pergi setelah selesai mengecek lukanya. Lisa kesusahan berjalan sekarang, karenanya Lisa kebingungan ketika dirinya ingin BAB. Lisa tidak bisa diam dan terus memegang perutnya dengan wajah bingung.
“ Ada apa? apa kau lapar?.”
Lisa menggelengkan kepalanya dengan wajah memelas.
“ Hahaa! ada apa denganmu? kenapa wajahmu jelek seperti itu?.” Zavier tidak bisa menahan tawanya melihat wajah Lisa yang menyedihkan.
Lisa kesal karena Zavier malah mengejeknya. Lisa membuang muka dengan ketus. “ Dia sengaja melakukan itu, menyebalkan.” Batin Lisa.
Zavier memeluk Lisa dari belakang. “ Apa perutmu tidak nyaman? katakan padaku apa yang terjadi!.”
Preet! tidak sengaja Lisa mengeluarkan angin dari belakang yang begitu bau. “ Woah! bau apa ini? kamu kentutt ya?.” Zavier beranjak dan menjauh dari Lisa.
“ Hehee!.” Lisa menganguk dengan penuh malu.
“ Kenapa tidak bilang dari tadi! aku pikir kamu lapar, dari tadi terus memegang perut.”
Lisa menggelengkan kepalanya.
“ Sudah sana! pergi ke toilet.”
“ Tidak bisaa.”
“ Mengapa?.”
“ Kaki ku sakit.”
Zavier ingat kalau kaki Lisa terluka, jadi tidak mungkin bisa jalan dengan cepat. Kemudian Zavier mendekat dan menggendong Lisa lalu membawanya ke toilet. Zavier mendudukan Lisa di toilet duduk.
“ Begini sudah bisa? apa perlu aku bantu buka celanamu?.”
“ Tidak perlu! aku bisa sendiri kok.”
Zavier keluar dan menutup pintunya.
__ADS_1
BERSAMBUNG