
Di Rumah Sakit, Alea segera menemui dokter dan suster untuk menanyakan keadaan nenek nya. Alea berlari kencang bahkan Brian sulit mengejarnya karena Alea seperti bocah kecil saat berlari.
“ Hei! perhatikan langkahmu.” teriak Brian mengulur tangan.
Brian mengejar Alea karena takut Alea terjatuh, Brian tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya yang besar dan tinggi, berkali-kali hendak menabrak orang di depannya.
Melihat Alea sudah berhenti berlari Brian merasa tenang dan melangkah dengan lambat. Tiba-tiba ada suster yang sedang buru-buru bawa peralatan melahirkan dan tidak sengaja menabrak Alea di sampingnya.
Brian berlari menangkap Alea yang hampir terbentur ke tembok.
“ Kamu baik-baik saja?.” tanya Brian menatap Alea.
Alea tidak bisa berkata-kata dan hanya menganguk kepala.
“ Ehem, aku minta maaf karena tidak sengaja menabrakmu tadi.” ucap suster menunduk.
“ Tidak apa-apa.” Alea berdiri merapihkan rambutnya.
“ Dok, bagaimana nenek aku bisa hilang? bagaimana ceritanya, nenek aku masih belum pulih. Siapa yang membawa nenek pergi?.” teringat dengan panik.
“ Itu yang sedang aku pikirkan, belum lama aku mengecek tubuhnya, dia masih tidur. Setelah suster datang untuk mengganti infusannya pasien hilang begitu saja.” ucap dokter dengan heran.
“ Hah! nenek, nenek kau di mana? jangan tinggalkan Alea sendirian nek. Alea tidak punya siapa-siapa selain nenek.” Alea menangis sampai terduduk di lantai.
“ Jangan khawatir, aku yakin nenek kamu pasti baik-baik saja. Percayalah, Tuhan akan selalu berada dengannya dan menjaganya.” Brian mengelus punggung Alea.
“ Tapi, nenek masih belum pulih. Siapa yang menculik nenek? keluargaku tidak pernah punya masalah dengan orang lain, siapa orang yang jahat pada nenek.” Alea terus menangis.
“ Aku tahu, kamu yang tenang, jangan panik kita cari nenek kamu sama-sama. Ok.” Brian ikut sedih melihat Alea menangis histeris.
“ Dokter, aku tahu di sini ada CCTV. Beritahu aku di mana ruangan rekaman CCTV, aku akan mengeceknya sekarang.” menatap dokter.
“ Baik, aku akan tunjukan ruangannya. Silahkan ikuti aku tuan.” mengangguk dan menunjukkan jalan.
Brian memapah Alea pergi ke ruangan rekaman CCTV untuk melihat rekamannya.
“ Jangan khawatir, kita pasti akan temukan nenek kamu.” Brian berusaha menenangkan Alea.
Alea mengangguk dan menyeka air matanya.
Di ruangan itu Brian sendiri yang melakukan pengecekan rekamannya, untuk memastikan tidak ada yang curang dan menghapus rekaman itu dari komputer.
“ Ini dia.” gumam Brian dengan pokus melihat rekaman itu.
“ Itu, dia berpakaian seperti dokter, tapi dia memakai kaos tangan dan masker untuk menutupi Indentitasnya.” ujar Alea terkejut.
“ Benar, untuk memastikan rencananya berhasil pria itu sengaja memakai masker, bahkan dia sengaja menunduk dan tidak melihat ke arah kamera. Aku rasa ini akan sulit mengidentifikasi Identitasnya.” Brian kesulitan karena tidak bisa melihat wajah atau matanya untuk di jadikan sidik jari dari penjahat itu.
__ADS_1
“ Apa maksud Anda aku tidak bisa menemukan nenek aku?.” tanya Alea kecewa.
“ Bukan seperti itu, hanya saja Polisi akan kesulitan, dan penyelidikan ini akan membutuhkan setidaknya 24 jam.” Brian berdiri dan mendekati Alea.
“ Apa?! bagaimana bisa seperti itu. Nenek belum sembuh bagaimana kalau penculik itu tidak menginfusnya.” Alea terkejut dengan sedih.
Tak tak!
Zavier datang bersama Asisten Li, Zavier tidak mengetahui kalau Brian bersama Alea.
Brak!
“ Alea tuan ingin bertemu denganmu.” Asisten Li langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
Alea melihat Asisten Li datang menemuinya langsung menyeka air matanya.
“ Apa ada sesuatu yang ingin di bicarakan?.” tanya Alea.
Brian menatap Asisten Li, penasaran hubungan apa di antara Asisten Li dan Alea.
Zavier berjalan masuk dan melihat Brian ada bersama Alea.
“ Kakak?.” sapa Zavier.
“ Apa yang kamu lakukan di sini? apa karena Alea?.” tanya Brian curiga.
“ Benar.” jawab Zavier dengan dingin.
“ Tuan, sebenarnya aku dan tuan Zavier hanya.” Alea baru tahu kalau orang yang ada di depannya kakak beradik.
“ Tidak perlu menjelaskan sekarang. Bukankah kamu ingin menyelamatkan nenek kamu, ikuti aku jika tidak ingin terlambat menyelamatkan nyawanya.” berbicara sambil berjalan keluar.
Alea bingung antara harus mengikuti Zavier atau menjelaskan kesalah pahaman itu pada Brian.
“ Tuan, maafkan aku, aku harus pergi selamatkan nenek aku.” teriak Alea berlari mengejar Zavier.
Zavier masuk ke dalam mobil lebih dulu, duduk di kursi belakang dan membiarkan Alea duduk di depan bersama Asisten Li.
“ Apa yang kalian sembunyikan dariku? aku berharap hubungan kalian tidak seperti yang aku pikirkan.” batin Brian sambil menatap Alea masuk ke dalam mobil Zavier.
Zavier turun dari mobil dan menyembunyikan pistol di kantong jas yang ada di dalam. Berlaku seperti tidak terjadi apa-apa, demi menangkap tikus di dalam sangkar Zavier mengantarkan Alea masuk ke dalam jebakan musuhnya.
“ Tuan, apa nenek aku ada di dalam?.” melihat gedung tua yang sudah lama tidak berpenghuni Alea ketakutan.
“ Benar, jika ingin menyelamatkan nenek kamu, kamu harus patuh padaku dan masuk ke dalam. Ingat, jika terjadi sesuatu kamu harus berteriak agar aku bisa mendengarnya dari sini.” mengangguk dan mengingatkan.
Alea sedikit takut jika harus masuk ke gedung tua sendirian, tapi demi menyelamatkan nenek nya Alea terpaksa masuk dan memberanikan diri.
__ADS_1
“ Demi nenek aku harus masuk. Tunggu Alea nek, sebentar lagi Alea datang membawa nenek pulang.” batin Alea menghela nafas.
Alea berlari masuk dengan kencang, bahkan Zavier sampai terkejut dengan keberanian Alea untuk menyelamatkan nenek nya.
“ Benar-benar gadis pemberani.” gumam Zavier dengan heran.
Setelah memasuki gedung tua, Alea kesulitan berjalan karena terlalu gelap, membuatnya panik dan tidak sengaja jatuh karena seseorang yang menghalangi jalannya.
“ Aduh! siapa di sana?.” Alea beranjak dan mundur perlahan.
“ Jangan banyak tanya, ikuti aku.” pria itu menangkap Alea dan mencengkramnya.
“ Tidak, aku tidak mau. Kalian siapa? kenapa menangkapku? cepat lepaskan aku!.” teriak Alea berontak.
“ Rupanya kamu ingin melihat nenek kamu mati! baiklah aku akan menurutimu dan sekarang aku akan melepaskanmu.” pria tua itu menyeringai walaupun dalam keadaan gelap.
“ Ikuti dia, jangan biarkan dia pergi membawa nenek kamu. Mengerti?.” ucap Zavier di earphone yang terpasang di telinga Alea, earphone itu sangat kecil dan canggih, hanya bisa di sentuh tanpa bisa di lihat.
“ Baik, aku akan ikut denganmu. Asalkan kamu membawaku menemui nenek.” Alea meraih tangan pria itu dan memohon.
Pria itu menutup mata Alea menggunakan kain yang sudah di siapkan, penjahat itu tidak mau Alea mengetahui jalan menuju tempat persembunyian mereka.
“ Kenapa harus menutup mata segala? ini sangat gelap dan kamu malah menutup mataku.” teriak Alea dengan kaget.
“ Jangan banyak bicara! aku bisa saja membunuhmu di sini jika kau terus bicara.” bentak pria itu dengan kesal.
“ Sial! sepertinya mereka sudah curiga akan rencana kita. Li ubah rencana kita dari sebelumnya.” Zavier marah sampai memukul mobil menggunakan tangannya.
“ Baik tuan.” Asisten Li tercengang dan mengangguk.
Perjalanan sangat jauh dari gedung itu, bahkan harus naik mobil untuk pergi ke tempat yang di maksud pria itu.
“ Kenapa lama sekali? apa kau membohongiku?.” Alea mulai tidak tenang karena perjalanan lumayan jauh.
Bruk!
Pria itu merasa jengkel dan memukul pundak Alea agar pingsan.
“ Gadis tidak tahu diri, sudah tahu akan mati tapi masih saja berteriak seperti itu padaku.” gumam pria itu.
“ Seharusnya kamu jangan pukul dia, bagaimana kalau dia mati. Tuan akan marah pada kita.” ucap rekannya.
“ Toh tuan juga akan membunuhnya, kenapa harus takut?.” dengan percaya diri.
“ Hahah, kamu memang tidak sabaran.” gumam rekannya dengan tertawa.
Zavier terus mendengar percakakapan mereka sambil mengikuti Maps yang terpasang di Alea.
__ADS_1
“ Mereka tidak menyebut namanya, tapi aku harus tahu di mana tempat persembunyiannya. Setidaknya aku tahu siapa bos mereka.” batin Zavier dengan kecewa.
BERSAMBUNG