Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 9 : Kepergian Elshara.


__ADS_3

Di bandara internasional, wanita berambut panjang dengan ujungnya yang ikal dan kini dia memakai topi berwarna coklat, wajahnya muram dan menunduk. Terduduk di kursi tunggu, menunggu jadwal keberangkatannya untuk meninggalkan negara kelahirannya. Tetesan air mata terus berjatuhan dari mata kucingnya, terjun ke paha rampingnya.


Punggungnya bergetar hebat, sesungguhnya dia tidak menginginkannya. Tetapi tak ada yang bisa dia pilih, semuanya mengalirkan sesuai gerakkan tangan kedua orangtuanya.


"Almira!"panggil Manda sang sahabat yang dizinkan oleh petugas masuk ke dalam.


"Mandaaaaa...."rengek Almira mendongak dan segera memeluk sahabatnya itu.


Menangis disana, sampai suaranya serak dan isakan tangisannya kian memuncak dan mengencang. Punggungnya bergetar mendorong bulir-bulir kristal membasahi pipinya, pipi tirus itu semakin kekeringan karena energinya keluar bersama air mata gadis ini.


"Aku gak mau Manda, aku gak punya temen di sana, gimana kalau aku di culik atau aku di makan binatang buas atau...."Almira terus merengek dengan bulir air mata yang lebih lebat.


Baju Manda menjadi kuyup karena tangisan Almira yang terus saja terjun tanpa tahu bagaimana menghentikkannya. Almira mengeratkan dekapannya pada Manda, sedang wanita berambut sebahu itu mengelus lembut punggung Almira, sesekali dia tepuk kepala wanita manja itu untuk menenangkannya.


"Elu cuman kuliah di Paris bareng kedua orangtua lu Ra! Bukan mau menyerahkan nyawa lu, setelah lulus kan bisa balik lagi kesini,"


"Ta-tapi kan, gak mau...."


"Udah-udah, cup cup ya nak, udah sana cepet pergi, gue tunggu beberapa tahun kemudian"


Pelukan itu mengendur. Almira menyeka air matanya, lalu menutupnya dengan masker, mata sembab dan hidungnya yang memerah. Perlahan dia berjalan untuk segera berangkat meninggalkan Manda yang tengah tersenyum seraya membentuk simbol love dengan kedua tangannya.


Dengan lemah Almira melangkah masuk dan berjalan ke arah pesawat yang akan membawanya menemui kedua orangtuanya yang pulang ke Indonesia dua tahun atau tiga tahun sekali, itupun jika memang mengingatnya.


Selamat tinggal Indonesia, aku akan sangat merindukan semua tentang Indonesia. Selamat tinggal kota kelahiranku yang sangat aku cintai. Semoga aku bisa kembali lagi ke tanah kelahiranku. Mungkin emang ada baiknya aku deket sama mami dan papi.


Ucap batin Almira layuh, dia menghenyakkan tubuhnya ke kursi yang dia duduki di pesawat itu, kursi putih dengan berbagai fasilitas. Perlahan wanita yang telah menurunkan masker hitamnya terlelap, menyelami alam bawah sadarnya.


Perjalanannya akan sangat panjang hari ini, dia membutuhkan energi yang lebih baik lagi dari sekarang.


Meninggalkan Almira yang masih berdamai dengan keadaan untuk menerima semua keputusan kedua orangtuanya. Royyan kembali ke sekolah dengan raut wajah yang tak biasa. Wajahnya berseri-seri walau tak ada senyuman di paras tampannya itu. Dia melenggang masuk ke kelasnya, di dalamnya hanya ada Dirta, Ajun dan Elshara yang berada di salah satu sudut kelas. Pria bertubuh tinggi itu segera duduk di kursinya dan menghiraukan aktifitas sahabat-sahabatnya itu.


"Yan! Tumben baru datang lu, biasanya juga datang pagi."seru Ajun melangkah maju menghampiri Royyan.


"Kesiangan."celetuknya seperti biasa, singkat, padat dan terkadang tidak jelas.


Royyan menoleh untuk melihat Ajun dengan jelas, seraya dia mendelikkan matanya mengintip Elshara dan Dirta yang masih setia berdiri di sudut saling berhadapan.


Tak lama dari itu, semua penghuni kelas itu mulai berdatangan setelah bel masuk berbunyi, menggema ke setiap penjuru sekolahan megah ini. Percakapan Ajun dan Royyan pun terpotong, begitupun dengan Elshara dan Dirta yang segera berlari kembali ke kursinya.


Jam pelajaran di mulai. Semua anggota kelas itu mendadak menjadi hening dan hanya terdengar suara angin dan seorang guru yang tengah mengajarkan mata pelajarannya. Tiga jam berlalu, mata pelajaran dari guru pria yang sudah berumur itu usai. Dan berganti dengan guru lain dengan mata pelajaran yang berbeda.


"Yan! Elu akhir pekan kemarin kemana? Kata nyokap bokap lu, elu balik malam?"bisik Ajun di telinga Royyan.


"Main es."jawab Royyan yang lagi-lagi singkat.


"Hah? Kayak bocah lu,"


"Mencari udara dingin,"


"Tapi elu harus inget balik Yan! Nyokap bokap lu nelponin gua mulu karena si Dirta kagak bisa dihubungi katanya, lah gua kagak tahu apa-apa, parah lu numbalin gua,"beber Ajun masih berbisik.


"Tinggal bilang gak tahu, selesai kan?"


"Selesai pala lu, yang ada gua makin dicecer."


Percakapan itupun kembali terpotong. Guru selanjutnya telah memasuki area kelas dan berdiri di depan kelas tanpa memberikan kata sapaan seperti biasanya, beliau segera menggerakkan jari-jemarinya di atas papan tulis putih menuliskan beberapa kata sebagai judul pelajaran yang akan di pelajari pada jam mata pelajaran kali ini.

__ADS_1


Dari hari itu, hubungan Dirta dan Royyan perlahan membaik. Walau Elshara masih terus berusaha mendekati Royyan dengan berbagai macam cara, pria dengan tangan lebar itu pun tak kalah cerdiknya untuk menghindari bahkan menepis segala perhatian dan pembuktian cinta Elshara.


Di suatu hari pada jam istirahat.


"Royyan suka pancake kan? Aku buatin khusus untuk kamu, di makan ya...."ucap Elshara membawa kotak bekal berwarna merah jambu di hadapan Royyan.


Dimana Dirta menatapi semua hal itu dengan tajam. Hatinya geram dengan semua ini, tetapi dia tak bisa melakukan apapun untuk menghentikkannya. Dia mendengus, mengeluarkan emosinya lewat hembusan napas dan beralih duduk di samping Elshara tepat di hadapan Ajun dan Royyan.


"Oke."sahut Royyan singkat.


Kemudian dia menyimpan ponselnya di samping nampan makan siang yang di pesannya, tangannya bergerak memotong pancake itu dengan ukuran cukup besar, lalu dia bawa ke atas dan menoleh pada Ajun. Membuat Ajun sempat terkejut menghenyakkan wajahnya.


"Am."


"Apa sih, ngapa jadi gua."tepis Ajun lembut.


Bukan Royyan jika tidak memaksa. Tangannya bergerak memasukkan pancake yang ditusuk oleh garfu ke dalam mulut Ajun sampai mulut salah satu sahabatnya itu penuh dan tak mampu untuk berbicara lagi.


Wajah ceria Elshara seketika menjadi muram, dia menunduk lemah. Menarik-narik rok pendek seragamnya, mencoba menahan amarahnya di sana. Tetapi Dirta sangat memahami keadaan seperti itu. Dirta menoleh pada Royyan dan menajamkan pandangannya, seolah memerintah untuk memakan makanan itu untuk menjaga hati Elshara.


Tetapi Royan hirau dan tidak mempedulikan gertakan Dirta. Dia melanjutkan memakan makan siangnya yang sempat tertunda tadi dan menyingkirkan pancake itu dengan segera. Melahap makan siangnya dalam suapan besar, kuah pedas pelengkap dalam mangkuk kecil dia seruput sampai kuahnya ludes dan berpindah ke perut Royyan.


Segitu gak sukanya, sampai Royyan enggan untuk memakan makanan yang aku buat.


Wanita seperti apa sih yang kamu inginkan Yan! Apa wanita di lapangan golf itu, atau ada wanita lain. Aku benar-benar mencintai kamu Royyan.


Ungkap batin Elshara lemah, mata pipihnya mulai mengembun dan punggungnya perlahan bergetar, wajahnya memerah menahan air mata itu untuk tetap terdiam dan memaksa jangan lemah hanya karena hal sepele di depan matanya.


Melihat Dirta yang membeliak seperti mau menerkam orang, Royyan segera melahap makanannya dengan gerakan cepat, tak peduli jika giginya kelelahan mengunyah dengan kecepatan yang tak biasa, dia terus mengunyah sampai nampan maka siangnya itu sudah bersih hingga kuahnya pun ikut masuk ke dalam perutnya.


"Gua cabut, mau ke perpustakaan."Royyan beralasan, lalu dia berayun pergi tanpa menunggu teman-temannya itu menjawab perkataannya.


Kepala Ajun berputar mengikuti Royyan yang melangkah pergi sambil terus menyuapi mulutnya dengan makanan yang di sajikan kantin sekolah siang ini, dengan mata yang tak bisa berpaling dari punggung pria yang kini sudah tertelan pintu masuk kantin. Kaki panjangnya membuat Royyan cepat menghilang dari pandangan Ajun, Dirta dan Elshara.


"Aku duluan ya,"lirih Elshara berdiri dari kursi dan melenggang pergi keluar kantin.


"Hmm...."sahut Ajun acuh, dia tidak memiliki waktu untuk ikut campur dalam permasalahan teman-temannya.


Tangan dan mulutnya sibuk dengan makanannya yang kini tinggal tersisa beberapa suap lagi saja. Sedangkan Dirta yang nampak sudah kesal segera berdiri dari kursinya setelah Elshara tak terlihat lagi olehnya. Raut wajahnya yang serius dan juga sedikit memerah padam, serta kepalan tangan yang membulat hebat membuat Ajun tertegun, namun tangannya tak bisa berhenti untuk menyuapinya makanan.


"Gua cabut."ketus Dirta sembari melangkah pergi bahkan juga berlari untuk mempercepat langkahnya.


"Ya ya ya, cabut aja semuanya sono."seru Ajun yang kemudian menggelengkan kepalanya.


"Nih temen-temen gua pada perang dingin mulu heran, gara-gara si El persahabatan ini jadi kacau, tapi apapun itu biar mereka yang urus, gua gak mau ikut campur, mending makan dah."lanjut Ajun berceloteh seorang diri.


...***...


Tahun ini merupakan tahun terakhir bagi Ajun, Dirta, Royyan maupun Elshara. Hari kelulusan telah menampakkan diri, tinggal menghitung hari saja.


Ke-empatnya sudah lepas dari jenjang pendidikan (SMA) dan berlanjut ke perguruan tinggi. Royyan termangu di balkon rumahnya mengenakan baju tidurnya dengan kancing baju terbuka. Membiarkan angin membawa setiap lirikan matanya yang mematikan, mata yang selalu tajam itu menerkam setiap angin yang masuk ke dalam dirinya.


Dalam hitungan detik pintu kamarnya yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi berwarna putih dan menggunakan kunci smart lock itu bersuara, menggemakan ketukan pintu seorang pelayan wanita yang bertugas membawakan sarapan paginya langsung ke kamar Royyan.


"Permisi tuan muda, saya membawakan sarapan pagi."seru pelayan wanita itu di luar pintu.


"Masuk."sahut Royyan masih berdiam di balkon kamarnya.

__ADS_1


"Baik."


Kenop pintu itu bergerak ke bawah dan muncul lah seorang wanita berpakaian pelayan berwarna hitam dan putih lengkap dengan masker dan sarung tangan. Kebetulan pintu itu tak terkunci, Royyan sengaja melakukan itu untuk memudahkan para pelayannya mengerjakan kerjaannya.


"Sarapannya mau disimpan dimana tuan muda,"tanya sang pelayan.


"Di meja."


"Baik tuan."sahut pelayan wanita itu rengkuh.


Pelayan wanita itu segera meletakkan nampan sarapan pagi Royyan yang berisikan roti isi selai strawberry, satu gelas susu hangat dengan gelas ukuran tinggi, dan beberapa potong buah-buahan dari berbagai macam jenis buah di atas meja di depan sofa. Lalu dia melipir keluar dari kamar Royyan dan menutup pintu itu dengan erat lagi.


Tak lama dari kepergian pelayan wanita itu, ponsel yang sedari tadi malam tergeletak di atas meja di ruangan belajarnya terdengar berbunyi nyaring. Royyan menoleh lambat, lekas dia mengayuh langkahnya memasuki ruangan itu dan mengambil ponselnya, segera mengangkat panggilan telepon yang sedari tadi terus berbunyi.


"Kenapa?"celetuk Royyan setelah dia tahu siapa yang telah meneleponnya.


"Lu ada dimana Yan?"tanya seseorang di seberang sana.


Suara lantang Ajun tembus ke telinga Royyan. Riuh kendaraan saling bersahutan di sana, tapi suara Ajun yang lantang tidak mempersulit Royyan untuk mendengar perkataan sahabatnya itu.


"Di rumah, kenapa?"


"Lu cepet keluar samperin kita di bandara internasional,"


"Ngapain?"


"Udah cepetan datang aja, gua sama Dirta udah ada di sini, gua hubungi elu dari semalam kagak bisa-bisa, makanya cepetan datang,"


"Ada apa?"


"Elshara mau pindah ke Paris nyusul kedua orangtuanya, dan katanya gak tahu kapan balik lagi ke Indonesianya."jelas Ajun.


"Oke. Tunggu bentar."


Pria berambut hitam pekat itu bergegas berpindah ke ruangan pakaiannya, mengambil beberapa pakaian dengan sembarang tanpa memikirkan apakah pakaiannya ini cocok di pakai di waktu saat seperti ini atau tidak.


Dia berlari dari kamarnya membaca setiap tangga yang dia turuni sampai habis, otaknya entah pergi kemana, padahal rumahnya memiliki lift, tetapi kakinya terburu berlari dan menuruni tangga seperti kesetanan. Entah apa yang sedang dilakukannya, sikap tenang dan acuhnya seketika menghilang.


Dia terus melangkah menuju parkiran rumahnya yang berada di samping kiri bangunan rumah megah itu, masih di dalam pagar yang menjulang tinggi mencium langit. Parkiran yang diisi banyak sekali mobil dan juga motor miliknya, kakak wanitanya dan juga kedua orangtuanya. Royyan menyalakan mesin motor merah yang selalu dia kendarai untuk menempuh jarak sekolahnya.


Ini kenapa gua jadi kesetanan begini sih. El mau pindah keluar negeri bukannya itu hal yang sangat bagus, jadi gua gak perlu capek-capek jauhi dia.


Eh tapi untuk terakhir kalinya gak papa deh, semoga setelah itu Elshara udah lupa sama perasaannya.


Begitu gumam batin Royyan yang tengah menyusuri jalanan dengan kecepatan motor bak seorang pebalap profesional. Membaca setiap angin yang menjadi temannya selama perjalanan ini.


Tiba di bandara, pria bertubuh tinggi itu mengayuh kakinya dengan cepat memasuki bandara, menerobos setiap orang yang menghalangi jalannya, tak peduli orang-orang meneriakinya dan mencibir tindakan cerobohnya itu. Pria dengan bulu mata yang lentik itu terus mengelibat langkahnya sampai dia menabrak seorang wanita bermata hitam pekat dan berambut sebahu. Wanita itu terjatuh mengerang kesakitan karena tubuhnya membentur lantai keras itu.


"Sorry, gue lagi buru-buru. Nanti cari gue aja,"ucap Royyan seraya membuka dompetnya dan mengambil sehelai kartu namanya.


Setelahnya Royyan segera kembali berlari tanpa menolong wanita itu untuk berdiri lagi, dia hanya menepuk lembut pundaknya dan berlari lagi. Wanita itu tersekat dan termangu seraya memandangi kartu nama yang berada di tangannya.


"Cowok itu bukannya yang sering di ceritakan Ra, ya."ucapnya setelah dia berdiri dari lantai.


Wanita itu adalah Manda yang baru saja pulang dari luar kota karena ada beberapa hal yang harus di selesaikan di kota lain. Lekas Manda mengabaikannya, dengan berbesar hati dia memaafkan perlakuan Royyan, dia berayun keluar dari bandara seraya memasukkan kartu nama berwarna putih itu ke dalam tas kecil yang dia kenakan.


NEXT....

__ADS_1


__ADS_2