
Tak seperti biasanya Royyan dan Almira pulang secara bersamaan. Baru saja Almira tiba di rumahnya dan baru satu langkah memasuki rumahnya, tak lama suara mobil kembali terparkir di pekarangan rumah besar itu. Lekas dia tolehkan wajahnya untuk melihat siapa yang datang, tetapi sebenarnya dia sudah tahu betul siapa itu. Karena rumah sebesar dan semewah itu sangat tertutup, kemungkinan lain yang bisa mengunjungi rumahnya hanyalah Adrian.
"Tumben pulangnya cepet,"tanya Almira menoleh dan terdiam di ambang pintu.
"Kamu yang pulangnya malam,"cetus Royyan seraya merangkul istrinya dan menyeret nya masuk ke dalam rumah.
"Eh apa sih, gak usah sok akrab deh pake rangkul-rangkul segala."Almira segera menepis tangan Royyan yang menongkrong di pundaknya.
Segera Almira berlari menjauhi Royyan dan menaiki anak tangga panjang itu, sedang Royyan yang berada di belakangnya menyingsingkan senyumannya seraya dia mengekori Almira yang terus berlari di tangga. Dengan langkah gontai Royyan memasuki kamarnya setelah Almira tiba lebih dulu, dan kini istrinya sudah berada di dalam kamar untuk membersihkan tubuhnya atau bahkan berendam.
Almira sangat menyukai berendam di kamar mandi saat malam hari, sunyinya malam membuat dirinya lebih tenang untuk bermanja-manja dengan air dan sabun-sabunnya. Sedang Royyan melipir ke samping pintu ruang kerjanya, menyelam ke dalamnya, melangkah mendekati meja yang menyimpan beberapa map dan komputer serta laptop di atasnya.
Lalu Royyan menjatuhkan tubuhnya di atas kursi putar seraya menyelukkan tangannya ke dalam saku jas untuk mengambil secarik kertas menyebalkan itu lagi. Isinya masih saja tetap sama, perihal pembunuhan yang entah apa yang dimaksudnya.
Gua semakin yakin jika surat-surat ini dari Dirta. Kematian yang gue denger selalu keluar dari mulutnya. Dua minggu lagi gua akan pergi ke Bali untuk memantau acara itu, gua akan cari dia disana.
Hatinya semakin meneguhkan keyakinan jika penulis surat adalah Dirta, sahabatnya dulu. Royyan tidak pernah menghapus Dirta dari daftar persahabatannya, hanya saja kini Dirta bukanlah sahabatnya yang pernah dia kenali dahulu. Karena cinta dan wanita semuanya menjadi kacau, bukan hanya kacau tetapi sudah menjadi serpihan yang sulit untuk disatukan lagi, beberapa geripis tersebar entah ke bagian bumi yang mana.
Dia remas kertas yang ada dalam genggamannya sampai tidak memiliki rupa lagi, kertas kecoklatan yang tebal itu sudah tidak memiliki harga diri lagi karena Royyan segera menghantamnya dengan kaki telanjangnya sampai kertas itu benar-benar hancur.
Tidak lama dari itu, panggilan telepon masuk ke dalam ponselnya. Tanpa menunggu lagi Royyan segera bergegas mengangkat telepon, dimana ponsel itu ada di saku jas yang dia pakai saat ini, sembari mengangkat telepon Royyan berdiri dari kursi dan menghadap pada kaca jendela yang ada di ruangan kerjanya, sebuah kaca besar yang di lengkapi anti peluru.
"Ada berita apa?"tanya Royyan pada seseorang yang meneleponnya.
"Pak Dirta berkeliaran di Jakarta dan Bali, keluarganya memiliki setidaknya tujuh restoran besar di Indonesia dan Jepang, dua di Jepang dan lima di Indonesia, tepatnya di Jakarta barat, Bandung, Bali dan juga di Yogyakarta. Dan restoran pak Dirta yang di Bali kebetulan mengadakan kerjasama dengan acara summer camp,"jelas panjang seseorang tersebut.
Simpul sudut bibir Royyan menaik, "Bagus, jadi sekarang Dirta ada di Bali?"tanya Royyan menajamkan tatapannya pada ruang hitam diluar sana, langit tanpa bintang ataupun bulan.
"Iya pak. Pak Dirta di pastikan ada di Bali, kemarin sore dia terbang ke Bali."
"Awasi terus, dan cari tahu salah satu restoran terbesar perusahaan orangtuanya, yang menjadikan pilarnya,"titah Royyan yang kemudian dia menempelkan satu tangannya di pinggang.
"Siap pak."
Panggilan telepon selesai. Dan saat itu juga Almira masuk ke ruangan Royyan yang masih mengenakan handuk kimononya dengan handuk kecil yang menempel di atas kepalanya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Kak ...."seru Almira memanggil suaminya.
Sontak Royyan mengerjap terperanjat hebat, yang membuat dirinya segera berputar menoleh pada Almira setelah dia menghela napasnya dan memejamkan matanya sejenak, lalu dia usap dadanya.
"Bisa ketuk dulu gak?"kata Royyan dengan suara beratnya yang semakin candu di telinga Almira.
"Ups, sorry ..."balas Almira seraya menutupi mulutnya dengan jari-jari kedua tangannya.
__ADS_1
"Yaudah, kenapa?"Royyan melenggang ke kursinya dan duduk disana, sambil dia menjatuhkan matanya ke kaki Almira lalu menyeretnya kembali ke wajah sang istri.
"Aku mau ngomong penting,"ucap Almira seraya melangkah mendekati Royyan.
Pria bermata kecil itu menelan ludahnya kasar, hatinya terasa acak-acakan. Melihat Almira yang hanya mengenakan sehelai handuk membuat jiwanya terasa terpanggil. Kelelakiannya tiba-tiba terisi penuh, lekas dia memutar kursinya dan membelakangi sang istri untuk menepis segala pikiran-pikirannya yang sudah tak bisa dia tahan lagi.
"Pake baju dulu, baru kamu ngomong."
Melihat sang suami tiba-tiba saja berputar membelakanginya membuat Almira kesal dan juga merasa sakit hati, bahkan dia memunculkan pikiran-pikiran menyebalkan, dia menganggap jika sang suami benar-benar tidak mencintainya sehingga Royyan tidak ingin mendekatinya.
"Dah ah males, bodo amat, terserah."Almira berputar keluar dari ruangan kerja Royyan dengan perasaan kesal dan juga perih di hati, bahkan dia mengentakkan kakinya dan menutup pintu dengan keras.
Mendengar suara pintu yang terbanting membuat Royyan menyandarkan kepalanya di kursi yang dia duduki, dan kedua tanggannya saling tertaut di atas perutnya, dia henyakkan kursi ke belakang dan meresapi angin yang masuk ke dalam pori-pori wajahnya yang nyaris tak terlihat.
Jangan sering marah, kamu masih ingat kan malam itu, aku tidak bisa menahannya.
Di luar, Almira yang mengentak-entakkan kakinya kesal, menyeret langkahnya masuk ke dalam ruangan yang menyimpan semua pakaiannya dengan suaminya. Dia mendengus kesal, melempar kekesalannya melalui deru napasnya yang keluar dengan kasar, lantas dia pun berkacak pinggang di hadapan deretan gaun-gaun dan banyak lagi pakaiannya sedangkan di seberangnya adalah lemari pakaian Royyan yang tak kalah banyaknya dengan milik Almira.
"Apa-apaan coba, kemarin nyium gue, sekarang ... gue mendekat pake acara malingin muka segala, nyebelin banget sih,"gerutu Almira dengan paras yang mendidih. "Emangnya kenapa sih, gue pake handuk kan gak telanjang, gak mungkin kan kak Royyan semudah itu tergoyahkan imannya,"sambungnya masih menggerutu.
Setelah puas berceloteh Almira segera meraih baju tidurnya, pilihan pertamanya adalah piyama celana pendek dan baju dengan satu tali dibahunya, dia bawa ke bawah dan dipandanginya dengan dalam, setelah beberapa detik Almira menyelami piyamanya itu, lantas dia pun menggeleng dan segera mengembalikan piyamanya. Dan beralih ke pilihan keduanya yaitu, piyama dengan lengan panjang dan juga celana panjang.
Di saat bersamaan, Royyan dan Almira keluar dari ruangannya tadi. Royyan yang sudah melepaskan jas dan juga kemejanya, yang artinya Royyan tengah telanjang dada seperti biasanya. Sedangkan Almira telah selesai mengganti pakaiannya, dan segera beringsut ke ranjangnya tanpa mempedulikan sang suami yang berada di dekatnya.
"Gak tahu, udah lupa."ketus Almira sembari dia menenggelamkan wajahnya ke dalam selimut.
"Yaudah."jawab Royyan acuh.
Tetapi sebenarnya Royyan tak seperti yang dia gambar di parasnya, jauh di dalam bendungan batinnya dia sangat khawatir dengan apapun yang terjadi pada Almira, bagaimanapun dia menikahi wanita yang dia inginkan, walau dahulu cintanya belum sejelas sekarang ini.
Royyan melangkah maju ke dalam lorong kamar mandi dan gegas masuk ke dalamnya, di dalam kamar mandi Royyan tak berniat untuk mandi, dia menyeluk saku celananya dan mengambil ponsel. Lalu dia mencari kontak orang suruhannya untuk mengawasi Almira seharian di luar.
"Apa yang terjadi terhadap istri saya?"tanya Royyan tegas, dia mengharap jika orang suruhan ini bisa memberikan jawaban yang menjelaskan kondisi Almira saat ini.
"Tidak ada tuan, nona Almira hanya pergi ke butik dan bekerja seharian di butik, saya tidak melihat nona keluar dari butiknya sampai beliau keluar untuk pulang,"jelasnya seperti apa yang dia lihat.
"Apa ada orang yang datang untuk menemui istri saya,"tanya Royyan lagi yang masih merasa ragu dengan laporan orang suruhannya hari ini.
"Seperti biasanya, hanya nona Manda yang mengunjungi nona Almira, nona Manda selalu datang setiap hari ke butik untuk menemui nona Almira, dan saya tidak bisa mendengarkan perbincangan mereka di dalam ruangan,"katanya lagi menegaskan keterangannya.
"Oke."
Royyan segera mematikan panggilan teleponnya, tak lama Royyan kembali keluar dari kamar mandi berjalan lagi ke tengah-tengah kamarnya untuk melihat Almira. Dan kini wanita yang dirundung kekesalan itu sudah tertidur seraya menggenggam ponselnya, dalam posisi tubuhnya terduduk di lantai sedangkan kepalanya bersandar dan tertidur di pesisir ranjangnya, rambut panjangnya terurai dengan indah sampai sebagian wajahnya tertutupi oleh rambutnya.
__ADS_1
"Kenapa gak tidur langsung di ranjang sih,"gerutu Royyan seraya melangkah untuk mendekati Almira.
Tiba di dekat Almira, Royyan segera menurunkan tubuhnya dengan satu kaki berlutut sedangkan satu kakinya terpijak dengan kokoh, perlahan dia melingkarkan satu tangannya dipinggang Almira sedangkan satu tangannya lagi berjalan ke belakang tengkuk lututnya, lalu dia angkat tubuh istrinya yang sudah ada di atas lengan kekarnya, dia berjalan dan naik ke atas ranjang lalu menjatuhkan tubuh Almira dengan lembut, setelahnya dia selimuti sang istri dengan penuh.
"Anak kecil tukang marah,"bisik Royyan yang kemudian dia menyembulkan senyuman tipisnya.
Sedang tangan Almira yang menggantung di leher Royyan, tiba-tiba saja menariknya terjatuh dan mendekatkan wajahnya dengan paras cantik Almira, bahkan bibirnya berdiri tepat di atas bibir Almira yang hanya berjarak satu sentimeter saja. Pria bermata kecil itu melebarkan bola matanya terkejut dan dia segera menguatkan tangannya untuk menahan dirinya agar tak terjatuh dan mencium Almira lagi.
Dia ingin merasakannya lagi, ciuman pertama di malam itu sungguh sangat indah. Sampai rasanya menjadi candu dan ingin mengulanginya terus menerus, atau jika diizinkan rasanya dia ingin merasakan sentuhan menggairahkan itu setiap pagi dan malam. Tetapi Royyan tidak ingin melakukannya tanpa sepengetahuan sang istri. Memilikinya dengan saling menerima adalah sebuah nikmat yang indah tersendiri.
"Kak Royyan jahat ... kalau gak suka sama aku, kenapa kamu menciumku malam itu ...."lirih Almira meracau seraya dia menarik leher Royyan semakin masuk ke dalam dekapannya.
Tarikan itu semakin kuat, Royyan segera memalingkan wajahnya dan akhirnya memeluk sang istri. Membiarkan istrinya memeluknya dengan erat. "Kamu yang memintanya,"celetuk Royyan berbisik di telinga Almira.
Mendadak dekapan Almira yang mengerat tadi mulai melemah dan terlepas. Saat itu juga Royyan segera menjauh dan berdiri di samping ranjangnya seraya berkacak pinggang dan memasati wajah sang istri dengan dalam. Lambat laun lidahnya terjulur ke luar dan menjilati bibirnya sendiri, bertepatan dengan matanya yang meresapi bibir cantik Almira.
Sial! Gua harus cabut dari sini.
Jiwa kelelakiannya kembali merasuki sehingga menggetarkan hatinya, tanpa menunggu lagi Royyan mengayuh kakinya keluar dari kamar dan berpindah ke kamar kedua yang berada di seberang pintu kamar utama itu. Terburu-buru dia memasuki kamar tersebut, dan mengunci pintu dengan rapat. Lalu dia gegas lempar tubuhnya ke atas ranjang dan menyelimuti tubuhnya hingga tak ada yang bisa terlihat selain jari-jarinya yang terjulur ke atas.
Royyan! Sadar! Jangan lakukan itu tanpa persetujuan istri elu.
Batinnya kembali berceloteh dan menegaskan jiwanya untuk tidak melakukannya.
...***...
Di bawah langit cerah dan awan-awan putihnya yang nampak saling berjauhan dan matahari yang memancarkan kegagahan sinarnya, perusahaan Rain Corporation milik Royyan yang menjulang tinggi hingga menyentuh langit itu nampaknya sedang mengalami kegaduhan. Seluruh karyawan terlihat terburu-buru, tidak ada satu orang pun yang tidak berlari di dalam gedung, hanya bagian resepsionis yang tetap duduk di tempat, tetapi jari-jarinya yang berlari-lari di atas laptop.
Tepat pada pukul 09.00 wib, seorang wanita memasuki area perusahaan dengan pakaian modisnya, wanita cantik berkacamata hitam dengan gaun seksinya yang mempertontonkan dada mulusnya, hanya ada satu tali yang melingkari bahunya, sedangkan gaunnya yang berekor hingga ke mata kakinya sesekali tertiup angin yang lewat. Dia menata wajahnya dengan riasan yang sempurna, bibirnya merah merekah serta rambut dark blonde-nya bergelombang dengan indah.
"Permisi ... boleh saya menemui pimpinan perusahaan ini, Royyan D'Caprio Alzaro,"tanya wanita berparas cantik itu bak seorang model profesional seraya dia bersandar pada meja tinggi di depan resepsionis.
Wanita berpenampilan rapi di hadapannya mendongak dan menghentikkan pekerjaanya dan berdiri seraya menampilkan senyuman termanisnya untuk menyambut semua tamu yang berkunjung ke perusahaan tersebut.
"Apakah nona sudah membuat janji dengan pak Royyan, mohon maaf?"tanyanya seraya mengatupkan kedua tangannya dan dia angkat di depan dadanya, "Pak Royyan tidak bisa sembarangan bertemu dengan seseorang,"sambungnya dengan sopan, dan dia benar-benar terpukau dengan lekuk tubuh wanita di hadapannya.
"Oh begitu ya, saya belum membuat janji dengannya."wanita itu menggelengkan kepalanya dan seketika wajahnya menjadi muram.
"Dengan nona siapa?"tanya resepsionis itu lagi.
"Saya ..."
NEXT ....
__ADS_1