
Pada malam saat langit hitam menyelimuti cakrawala dengan penuh, para bintang bermain-bermain dengan cahayanya yang berkelintaran, entah apa yang ia inginkan, bersinar ataukah redup. Namun, semoga saja para bintang sedang berkelana dengan bahagianya. Tepat di bawah purnama yang redup, Almira dan Royyan tiba di sebuah kafe yang telah lelaki itu persiapkan untuk dinner malam ini.
Sebuah restoran yang berada di ketinggian 125 meter atau 410 kaki, restoran yang terletak di tingkat kedua dari menara yang amat di puja-puji banyak orang itu, view kota Paris yang megah dan bertaburan lampu-lampu berwarna-warni nampak jelas memukau dari lokasi restoran tersebut.
Aroma manis dari malam yang dingin menarik Royyan dan Almira untuk berdiri dari kursinya dan menyibuk keluar restoran, pemandangan kota Paris benar-benar sangat memukau, gedung-gedung menjulang tinggi dan kepadatan kota itu menjadi pemandangan yang tak kalah membuat Almira dan Royyan tak berhenti untuk memuji keindahan itu.
Royyan sengaja memilih kursi dekat dengan jendela agar sang istri bisa memandangi kemegahan kota itu dengan puas, Almira menyeringai melesatkan tatapannya keluar, sedangkan Royyan yang baru saja terduduk di kursinya segera mendekat dan tanpa segan memeluk sang istri di antara semua pengunjung yang ada di sana.
"Gimana?"paparnya lembut seraya menaikkan jari kelingking tangan kanannya ke hadapan sang istri, "aku menepati janji bukan?"tambahnya kemudian memiringkan wajahnya, bersandar pada bahu kecil Almira.
"Euum ..."Almira bergumam tanpa melepaskan tatapannya pada pemandangan indah yang ada di depannya sembari dia mengelus lembut kedua tangan Royyan yang sedang mendekapnya. "Bukannya untuk mendapatkan bangku di restoran ini sulit?"decak Almira menolehkan wajahnya pada sang suami.
Wajah yang tengah tertidur itu segera menyeringai, perlahan terbangun dan menjatuhkan kecupan kecil di pipi kanan istrinya. "Adrian adalah segalanya, dia melakukan apapun dengan baik,"jawab Royyan lembut dengan suaranya yang berat, kemudian dia memutar tubuh Almira untuk mengarah padanya.
Dia genggam kedua lengan sang istri dengan kelembutan yang dia mampu, telapak tangannya yang besar melekap lengan kecil Almira dengan penuh sehingga gadis itu mendongak dengan polos, memasati wajah sang suami dengan dalam.
"Gak jadi kan perginya?"tanya Royyan lagi, raut wajahnya bermekaran.
"Euuum,"gumam Almira dengan anggukkan tegas, "sekarang mau ..."sambungnya sengaja dia tak selesaikan.
"Apa?"tanya Royyan mengernyit heran.
"Mau makan lah, laper,"celetuk Almira menggoda sang suami.
Lekas gadis itu kembali duduk di kursinya, pria kekar itu mendongak pasrah sambil berkacak pinggang menghadapi tingkah sang istri yang membuatnya mencengkeram benih kesal, lalu dia berputar dan ikut terduduk bersama Almira.
Di atas meja telah tersaji hidangan yang telah di pesannya, pria bermata kecil itu memilih menu A la Carte, di dalamnya berisikan hidangan pembuka, utama dan juga penutup. Hidangan penutup di sana tercipta dari tangan seorang chef handal yang telah mendapatkan banyak penghargaan.
Gadis bermata kucing itu sudah siap dengan alat-alat makannya, dia mengambil hidangan yang bernama Salmon sour cream, sedangkan Royyan mengambil hidangan Cod simply cooked. Keduanya di sibukkan melahap makanannya masing-masing.
"Sidang Manda gimana?"celetuk Royyan tiba-tiba membicarakan hal yang tak biasanya dia khawatirkan.
"Katanya sidangnya setelah dari Paris,"sahut Almira tidak fokus dengan pertanyaan sang suami, mulut, mata dan tangannya di sibukkan dengan hidangan kesukaannya itu.
__ADS_1
Namun, beberapa detik kemudian gadis itu menghentikan aktifitasnya dan mendongak menatapi Royyan dengan kernyitan dalam di dahinya. "Tumben nanya hal begituan? Ada apa nih?"
"Manda itu powernya kuat dalam dunia modeling, jadi dia akan sangat menguntungkan jika masuk ke dalam agensi yang berada di bawah naunganku,"terang Royyan datar tanpa menoleh pada istrinya.
"Hah?! Jadi bukannya khawatir dengan persidangan itu?"kernyit Almira yang tak berhenti mengunyah.
"Iya. Kenapa aku harus khawatir sama persidangan itu,"celetuk Royyan, lalu mendongak dan menyorotkan tatapannya pada sang istri yang ada di depan.
Gadis yang tengah memangku kekesalan itu lekas mengernyit dan menaikkan sudut bibir kanannya. "Diih nyebelin, bener kata Ajun, kamu itu pantes di sebut manusia kutub utara."Almira berujar.
Pria itu lantas tertawa kecil, tak lama dari itu senyumannya segera mengirap dan berganti dengan seringaian miring. "Orang lain gak berhak untuk melihat kelembutan aku,"pungkasnya kemudian melanjutkan melahap makanannya.
"Why? "tanya Almira dengan wajah polosnya.
"Kalau aku berperilaku sama terhadap orang lain, maka letak perbedaan sikapku dengan mereka dan kamu apa?"tatapan tajam itu kembali menyelami tatapan penasaran Almira.
"Emangnya kenapa? Tapi sama keluarga kamu juga begitu kelakuannya,"papar Almira meletakkan alat makannya di atas piring, lalu satu tangannya dia gunakan untuk menopang dagu sedangkan tangan yang lain dia biarkan tergeletak begitu saja.
"Mereka tidak pernah peduli dengan apapun yang terjadi padaku, kecuali kak Anneu, itupun jika suatu hal besar terjadi. Jadi, aku jarang berbicara pada mereka,"terang Royyan yang kemudian menghentikan aktifitas makannya.
Tatapan Almira mendadak sendu, dia tak menyangka mertuanya yang begitu hangat padanya ternyata menggoreskan luka di hati sang suami. Bukan karena sengaja Rian dan Rini melakukan itu semua, mereka hanya berusaha memberikan kehidupan yang layak kepada kedua anak kesayangannya, baik Rian maupun Rini membenci kehidupan serba sulit yang sebelumnya pernah mereka rasakan saat masa kecilnya.
Mereka berjuang mendapatkan kekayaannya ini bersama-sama, dari sejak pertemuan mereka saat kuliah di dalam gedung kampus yang sama, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menikah sembari membangun perusahaan properti bersama-sama, Rian yang mahir dalam perancangan gedung, rumah, atau bahkan resort, hotel dan berbagai macam bangunan lainnya. Sedangkan Rini handal dalam pembangunan bisnis yang lebih luas lagi.
"Mami dan papi membangun bisnisnya bersama-sama, sejak mereka pacaran sampai sekarang, perkembangan bisnis sangat cepat sampai aku dan kak Anneu gak mendapatkan perhatian penuh dari kedua orangtua kami, karena mereka menghabiskan waktu mereka di kantor,"jelas Royyan melangkah ke dekat sang istri.
Satu tangannya terjulur di depan Almira, dan gadis itu mendongak yang kemudian meletakkan satu tangannya di atas telapak tangan Royyan, lekas lelaki itu menarik istrinya untuk berdiri dan membawanya ke tengah-tengah, ikut serta dalam lantunan musik yang sedang menggema di sana, menyatu dengan semua orang yang sedang berdansa dengan pasangannya.
"Apa kamu marah pada mami dan papi,"tanya Almira melingkarkan tangannya di leher Royyan.
Seraya meletakkan kedua tangannya di pinggang ramping Almira, Royyan segera menyeringai dengan sorot mata yang terjatuh ke bawah. "Cuman sangat di sayangkan aja, jika kami dalam satu keluarga tidak saling dekat, aku tidak berhak marah terhadap mereka yang telah memberikanku kehidupan yang layak,"tuturnya kemudian dengan suara beratnya yang melemah.
Almira mengangguk, lantas dia menarik leher sang suami masuk ke dalam dekapannya. "Ternyata kamu orang baik,"celetuknya memeluk erat sang suami.
__ADS_1
"Jadi selama ini aku jahat?"seru Royyan mengembuskan napasnya menyebar ke leher polos Almira, sedangkan kedua tangan yang menggantung di pinggang semakin mengerat, sampai keduanya menempel tak ada celah, bahkan angin sekalipun enggan untuk menyelinap ke antara mereka.
"Iya, soalnya kalau ngomong satu kalimat doang."
"Oh gitu,"serunya enteng dan kemudian menjatuhkan kecupan kecil di leher gadis itu, sehingga Almira terdiam, tubuhnya membeku sejenak.
Langkahnya yang bergerak ke kanan dan kiri tadi ikut terhenti bersamaan dengan Royyan yang menarik tubuhnya terlepas dari dekapan istrinya, bibir kecilnya terlihat menyeringai. Perlahan ibu jari lelaki ittu menggores di bibir Almira dan jari tengahnya berjalan ke bawah dagunya dan menarik wajah gadis itu untuk mengarah padanya.
"Jadi ... apa yang kamu inginkan dariku sekarang?"bisik Royyan, kedua alisnya naik ke atas.
Wanita bermata kucing itu menelan ludahnya secara kasar, tangan yang terjuntai lekas mengepal dengan bola mata yang terpatri dengan sang suami, ia enggan untuk berkedip. Pesona Royyan di matanya sungguh tak bisa dia elakkan lagi.
"Euuum ..."Almira bergumam mencari alasan agar lepas dari jeratan Royyan, "mau ... lihat langit,"celetuknya kemudian mengalihkan perhatian Royyan seraya dia melepaskan diri dari Royyan.
Dia melangkah ke dekat jendela dan melepaskan ketegangan yang mencengkeram hatinya tadi pada langit yang tengah mengurai keindahannya, bersamaan dengan gemerlap lampu-lampu silih berganti mengubah warnanya dengan warna lain.
Royyan yang terkhianati oleh ekspektasinya untuk bisa merasakan rasa manis dari bibir dengan perona bibir yang sempat di belinya. Namun, dia tak jera. Pria kekar itu berayun ke dekat sang istri dan mendekapnya lagi dengan kekuatan yang lebih besar, kali ini dia tak akan membiarkan istrinya lepas dari jeratannya.
"Besok kita berangkat masing-masing?"tanya Almira menyandarkan kepalanya ke atas dada bidang suaminya.
"Euum ..."gumam Royyan merekatkan dekapannya, "mau bareng?"tanyanya kemudian.
"Emangnya bisa?"ujar Almira mendongakkan wajahnya pada Royyan.
"Maybe."tatapan Royyan terjatuh dan terpatri dengan bola mata kucing yang ada di dekatnya itu.
Satu kecupan jatuh di atas bibir Almira sehingga gadis itu mengerjap, tapi dia tak bisa melakukan apapun selain memejamkan mata dan membiarkan sang suami bermain semaunya, tubuh Almira benar-benar melekat dengan lelaki itu. Perlahan tubuh mungil itu berputar dan berhadapan dengan Royyan, menjadikan lelaki itu lebih leluasa meresapi rasa manis yang membuatnya menggila.
Almira merasakan dekapan Royyan pada punggungnya semakin melekat sehingga gadis itu melenturkan kepalanya dan juga tubuhnya, tekanan pada bibirnya terlalu kuat membuatnya tak bisa mengelak ataupun melawannya.
Beruntungnya di Paris, mereka bisa melakukan kemesraan ini di depan umum tanpa khawatir akan di cibir oleh semua orang yang melihatnya, masyarakat di sana sudah terbiasa melihat hal seperti itu secara nyata tanpa merasa terusik ataupun mengganggu aktifitasnya.
NEXT ....
__ADS_1