Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 32 : Rala? Elshara?


__ADS_3

"Buat janji dengan wanita yang bernama Rala itu secepatnya, saya penasaran dia mau apa,"titah Royyan setibanya dia di ruangannya tepat di hadapan Adrian.


"Baik pak, saya akan aturkan jadwalnya. Tapi hari ini bapak harus meeting dengan salah satu perusahaan fashion yang ada di Paris, mereka meminta untuk menggunakan gedung kastil yang sering bapak sewakan untuk shooting film,"sahut Adrian seraya dia menjelaskan jadwal selanjutnya yang harus Royyan kerjakan.


"Oke. Siapkan segalanya, saya akan pelajari proposalnya dulu."


"Baik pak."


Adrian segera keluar dari ruangan Royyan dan kembali duduk di kursinya, lekas dia mengetikkan beberapa huruf dan juga angka untuk mengatur jadwal Royyan selama seharian ini. Saking rajinnya Adriannya dia bahkan telah menyelesaikan pengaturan jadwal Royyan selama satu bulan ke depan. Ini yang menyebabkan Royyan sangat menyukai Adrian sampai rela membelikan Adrian sebuah mobil mewah untuk digunakannya.


Awan-awan putih yang panas di atas sana mulai bergerak sesuai arah angin mendorongnya untuk berpindah dari posisinya kini ke sudut lain dari langit, dan memerintahnya untuk meninggalkan wilayah tengah dari sebuah bidang berwarna biru yang memesona. Di bawahnya Royyan telah bersiap untuk keluar dari gedung perusahaannya bersama Adrian.


Mobil hitam yang dibelikan Royyan untuk Adrian sebagai hadiah atas kinerja Adrian telah terparkir di depan gedung untuk membawa Royyan dan juga Adrian keluar dari gedung. Jika dilihat lagi, memang Royyan lebih sering menumpang di mobil Adrian dibanding mengendarai mobilnya sendiri, mobilnya hanya sebagai kendaraan saat berangkat dan pulang bekerja, sedangkan untuk aktifitas pekerjaannya yang lain diluar kantor mobil Adrian lah yang selalu mengantarkannya.


"Kita meeting dimana?"tanya Royyan seraya dia bersandar di dalam mobil.


Sedangkan Adrian di depan, duduk di samping sopir pribadi Royyan. Seraya melihat layar tablet di genggaman tangannya, dia memeriksa setiap deretan jadwal yang sudah dia atur dengan sedemikian rupanya, sampai akhirnya dia berhenti di nomor lima di hari ini yang menunjukkan kemana kah tujuan mereka sebenarnya.


"Restoran kenanga di seberang mal angkasa dekat dengan butik nona,"jawab Adrian menjelaskan dengan terperinci.


"Oke."


Sebutan nona bagi Adrian hanya tertuju pada Almira, wanita yang menjadi pendamping bos-nya. Walau dia harus berusaha keras untuk menyembunyikannya agar publik tidak mengetahui keberadaan sosok wnaita cantik bertubuh mungil itu. Sesungguhnya Adrian mulai penasaran dengan semua perintah Royyan yang selalu bersikeras untuk menyembunyikan wujud istrinya sendiri. Dia termangu sejenak menyelami pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah ingin dia muntahkan.


"Yan!"panggil Royyan seraya mendongakkan pandangannya menatapi punggung Adrian yang terlihat mematung.


Seketika punggung itu mengerjap, mendengar panggilan Royyan membuat Adrian menghentikkan pikiran-pikirannya yang sempat mengalihkan fokusnya. "Iya pak,"jawab Adrian setelah dia mengembalikan fokusnya.


"Kenapa? Jangan hilang fokus,"tanya Royyan seraya dia kembali dengan ponselnya.


"Enggak pak, aman. Maaf saya barusan sedikit melamun,"sahut Adrian seraya dia menolehkan sedikit kepalanya ke samping dan matanya tertuju pada Royyan yang ada di belakang.


"Oke."


Tiba di restoran tersebut, sopir segera keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil Royyan dan juga Adrian, setelahnya kedua pria yang sama-sama gagah itu keluar dari mobil dengan membawa beberapa map dan juga laptopnya masing-masing. Setelahnya mereka segera melimbai masuk ke dalam restoran.


Keduanya berjalan menaiki tangga menuju ke lantai dua seraya dituntun oleh salah satu pelayan yang ditugaskan oleh kliennya untuk menjemput Royyan dan Adrian. Masuk ke dalam sebuah pintu yang memiliki kenop menyerupai pintu-pintu di kerajaan di luar negeri sana berwarna putih dengan perpaduan gold.

__ADS_1


"Selamat siang pak Royyan, pak Adrian ...."sambut seorang pria paruh baya yang berdiri di depan meja panjang yang telah terisi beberapa minuman yang ada di daftar menu di restoran tersebut.


"Selamat siang,"sahut Royyan datar.


Lekas Royyan dan Adrian masuk dan duduk di dua kursi yang tersisa di sana, tanpa basa-basi yang membuat Royyan muak, seorang wanita berpakaian rapi dari pihak klien mulai menyiapkan materi meeting untuk hari ini.


"Kami dari pihak promotor untuk acara penghargaan fashion beberapa bulan lagi yang akan kami adakan di Paris, dan rata-rata para desainer dan juga sponsor menginginkan gedung kastil milik pak Royyan sebagai tempat di selenggarakannya acara tersebut,"jelas seorang pria paruh baya itu di depan Royyan dalam kondisi terduduk.


"Pesta penghargaan ya?"tanya Royyan seraya menelaah proposal yang ada di dalam genggamannya kini.


"Iya pak, dari Indonesia sendiri ada lima desainer yang ikut serta dan juga beberapa model papan atas dari Indonesia pun ikut memeriahkan acara tersebut, bukah hanya itu penyanyi dan idola-idola remaja masa kini juga ikut merayakannya,"sahut pria paruh baya itu lagi meyakinkan Royyan.


"Desainernya siapa saja?"tanya Royyan yang mulai menampilkan ketertarikannya pada acara tersebut.


"Untuk sekarang kami sedang berusaha untuk menghubungi kak Ra, sedangkan keempat desainer lainnya sudah bersedia, tinggal kak Ra yang sulit untuk kami bawa."


Mendengar nama "Ra" sontak wajah Royyan yang semulanya dingin menjadi agak lebih bercahaya, memang bibirnya tidak tersenyum, tetapi seperti ada cahaya yang masuk ke dalam pori-pori wajah Royyan sehingga parasnya mendadak lebih cerah dan juga ceria.


"Kenapa anda sangat menginginkannya?"tanya Royyan yang sangat penasaran, mengapa pihak kliennya ini sangat menginginkan istrinya untuk ikut serta dalam acara tersebut.


"Kak Ra adalah lulusan terbaik di Esmod Internationale, salah satu kampus fashion designer terbaik di Paris, dan para sponsor sangat penasaran dengan karya-karyanya,"terangnya lagi.


...***...


Entah hantu mana yang merasuki Royyan, sehingga pria berparas dingin dengan tatapan yang selalu tajam itu melipir ke sebuah mal yang ada di dekat restoran tersebut. Dia berjalan-jalan santai di mal itu dengan di temani oleh Adrian yang senantiasa berjalan di belakangnya, dengan tujuan yang tak pasti Royyan masuk ke dalam sebuah toko yang menjajal berbagai macam pajangan dengan harga yang fantastis.


Dimulai dari guci pahatan, patung-patung yang menyerupai benda aslinya sampai ke piring-piring dan juga gelas-gelas yang tak bisa di gunakan untuk makan ataupun minum, fungsinya hanya sebagai pajangan yang akan menambahkan kesan rumah menjadi mewah atau lebih menarik saja. Berangsur dia melajukan langkahnya menuju sebuah miniatur yang menyerupai buah strawberry berukuran sangat besar, tiba disana Royyan lekas menyeringaikan wajahnya seraya menggerakkan satu tangannya untuk mencoba menyentuhnya.


Ami sangat menyukai strawberry, rasanya yang manis dan juga menyegarkan selalu berhasil membuat wanita mungil itu selalu tersenyum. Dan senyumannya adalah hal yang paling gua tunggu, bosen lihat dia ketus mulu.


"Saya mau bungkus ini,"ucap Royyan menunjuk pada miniatur strawberry itu yang dipahat dengan sempurna dan juga menggunakan partikel-partikel terbaik.


"Baik tuan, tunggu sebentar, saya akan bungkuskan untuk anda,"sahut salah seorang wanita yang bekerja di toko tersebut.


Namun, tiba-tiba Royyan mendengar kibasan sebuah rambut yang melintasinya, seketika Royyan menoleh dan mendapati sesosok wanita bertubuh indah mengenakan gaun merah di atas lutut sedangkan bagian dada terbuka, tetapi lengannya panjang. Aroma parfume ini memang bukanlah yang dikenalinya tetapi jenisnya hampir sama. Aroma lembut namun tetap memiliki aroma yang kuat.


Netranya tak berhenti memandangi, wanita itu berjalan ke depan menuju sebuah pahatan guci yang memiliki harga yang fantastis. Rambut dark blonde-nya yang lurus tertiup angin berulang kali, melayang-layang indah seraya menyebarkan aroma shampoo dan juga parfume rambutnya ke seluruh penjuru dari toko tersebut.

__ADS_1


"Bapak mengenalinya?"tanya Adrian yang mulai merasa aneh dengan tingkah bos-nya.


Sebelumnya, secantik, se-sexy atau sewangi apapun seorang wanita, dimata Royyan semuanya sama, tidak menarik. Jangankan untuk memandanginya, untuk menoleh sekilas saja tidak pernah dia lakukan. Hal yang menarik telah habis di Almira, tetapi kali ini berbeda. Wanita yang hanya bisa dilihat punggungnya itu, seolah menggoyahkan pertahanan Royyan.


"Saya tidak tahu, saya hanya merasa menenalinya,"jawab Royyan dengan dahinya yang berkerut.


Bentuk tubuh wanita itu memang jauh lebih bagus, tetapi cara jalannya mengingatkannya pada Elshara. Jari-jemarinya yang lentik dengan kukunya yang panjang sama persis seperti lengan Elshara. Tak lama dari itu, wanita bertubuh indah itu mulai berputar ke arah Royyan dan Adrian berdiri. Bedanya kali ini Royyan sudah menghentikkan pengembaraan rasa penasarannya padanya.


Perlahan wanita berambut panjang lurus itu menyeka rambutnya yang menghalangi wajah cantiknya ke belakang lalu dia berjalan ke arah Royyan yang tidak bergerak sama sekali. Mereka berjalan di waktu yang sama, dengan pandangan yang berbeda. Keduanya berayun dengan suasana hati yang tenang dan tak lagi memikirkan banyak hal tentang kehidupan ataupun tentang pekerjaan masing-masing.


Tiba-tiba wanita cantik itu tak sengaja melanggar tubuh Royyan, sehingga keduanya saling menoleh dan akhirnya rasa penasaran Royyan terbayarkan dengan sekejap. Wanita itu pun ikut menyeringai seraya membuka kacamatanya yang berukuran besar. Sedangkan Royyan masih tersekat, dia tidak bisa mempercayai apa yang dia lihat saat ini.


Matanya tiba-tiba saja mematung, serasa waktunya terhenti dengan begitu saja. Tanpa aba-aba semesta menghentikkan perjalanan detak jarum jam kehidupannya. Perlahan Royyan menggerakkan kedua tangannya ke atas, membelai lembut wajah wanita itu, meraba-rabanya dengan kelembutan yang dia bisa.


Deru napasnya masih tercekat, dia tak bisa membayangkan jika hal ini terjadi. Apakah ini mimpi? Atau wanita itu adalah bayangan hantunya? Tetapi wanita itu sangat nyata, kakinya pun menginjak lantai dengan sempurna tidak melayang seperti bayangan seorang hantu yang selama ini melekat dipikirannya. Wajahnya, jari-jemarinya, tangan, warna kulitnya pun masih sama. Cantik. Hanya saja tubuhnya lebih sempurna dari sebelumnya.


Perempuan itu tersenyum seraya menggenggam kedua lengan Royyan yang masih membelai wajahnya dengan lembut. Tangannya yang lebar menangkup kedua pipi wanita itu yang kini menirus, dia tidak terpukau dengan kecantikannya tetapi dia adalah ... ELSHARA. El! Dia kembali, benarkah ini? Ingin menepisnya, tetapi semuanya sangat nyata.


"El ..."seru Royyan lirih.


Wanita bermata pipih itu tersenyum yang berkembang, satu detik kemudian lekas dia anggukkan kepalanya, memberikan jawaban pasti pada pria yang masih melukiskan wajahnya dengan ketidakpercayaan, tetapi kemudian senyuman tipis segera melukis wajah dingin Royyan dengan cerah.


Tangan Royyan masih belum lepas dari pipi Elshara yang sekarang sudah memiliki nama baru yaitu Rala. Keduanya masih mematri tatapan satu sama lain, entah bahagia atau kebingungan yang melanda Royyan. Yang jelas saat ini Royyan merasa lega ternyata Elshara masih hidup dan kini sedang dalam genggamannya, dia belum berpikir sejauh itu. Namun, dalam lumbung batinnya yang terdalam ada ukiran nama Dirta yang perlahan menyeruak untuk menyembul ke permukaan.


Dari jarak dua meter di luar toko, Almira dan Manda kebetulan melintasi toko tersebut. Tanpa sengaja Almira menoleh pada dua orang yang masih saling menatap dengan iringan senyuman tipis mereka. Seketika netranya yang sempat mengantuk segera meroyak dan langkahnya pun ikut terhenti.


Deg!


Ada suara dentuman keras di balik dada mulusnya, rasa perih mulai merebak ke seluruh jiwanya, tangan dan tubuhnya merasakan kelu yang tak bisa dia pungkiri lagi, bahkan bola matanya pun perlahan mengembun begitu saja, tanpa disadari olehnya. Perlahan merunduk dan berpaling dari pemandangan yang menyakitkan itu, dia terakuk dengan rombongan deru napas yang terkatung-katung seperti kehilangan arah.


Manda yang berada di sampingnya belum juga menyadari jika punggung sahabatnya itu tengah berusaha keras menahan getaran amarah yang menurutnya ini tidak boleh terjadi, mengingat pernikahan itu tak pernah menjadi sebuah pernikahan yang pada umumnya terjadi. Dia, hanyalah orang asing bagi Royyan, pikirnya begitu.


"Di Bali kita bisa enggak ya jalan-jalan begini, santai gitu, disana kan gue cuman kerja, sama kayak elu Ra,"celoteh Manda yang menatap lurus ke depan.


"Hmm ..."Almira hanya bergumam dengan wajah yang tertunduk pilu.


Apakah ini yang namanya cemburu? Rasanya terlalu menyakitkan, sampai seluruh raganya terasa mencekit, napasnya tercekik sampai dia kehilangan gairah untuk menghirup oksigen di sekitarnya.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2