Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 25 : Malam pelelangan perhiasan.


__ADS_3

"Kayaknya kita pergi aja, mereka butuh waktu berdua,"bisik Aneu pada Adrian.


"Iya bu,"jawab Adrian mengangguk dengan senyuman yang menaik.


Aneu melangkah mendekati perancang busana tersebut dengan pegawainya, mengajak mereka untuk mengikutinya, menjauhi Royyan dan Almira yang masih bersi-tegang.


Royyan semakin mendekat dan memblokir Almira di antara dinding dan kedua telapak tangan Royyan yang menempel pada dinding itu. Dia menyejajarkan tinggi badannya dengan Almira yang lebih pendek darinya. Tatapan itu tepat dengan bola mata Almira, menyelam dalam tatapan Almira yang mulai bergetar ketakutan, bahkan untuk menelan ludahnya saja membutuhkan energi yang kuat.


"Aku menyewa mereka untuk kamu memilih gaun yang bagus, bukan baju terbuka kayak gini, jadi ganti sekarang,"bisik Royyan dengan suara beratnya.


Almira menghela napas panjang seraya mendorong Royyan untuk berdiri dengan benar. Sesuai keinginan istrinya, Royyan segera berdiri dengan tegak lalu dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, sembari memasati wajah istrinya yang sudah menerbitkan beberapa urat kekesalan di dahinya.


"Aku mau pake baju ini pokoknya, gaun ini cantik dan aku suka. Udah kamu gak usah ngatur aku lagi, lagian kita-"teguh Almira menantang suaminya yang sudah menampilkan wajah tegasnya.


Mendengar penolakan yang begitu teguhnya dari sang istri, meninggikan emosi yang dia pendam. Berkacak pinggang di hadapan wanita yang tengah menantangnya itu Royyan melukis wajahnya dengan ketegasan ditambah rahangnya yang tegas dengan sempurna, lantas dia mengukir langkahnya mendekati beberapa pakaian yang tergantung di belakang.


Dia menyisir setiap gaun yang tergantung, satu persatu Royyan pasati dengan teliti. Sampai dia menemukan gaun dengan warna senada dengan gaun yang sedang di pakai Almira saat ini, hanya saja gaun ini agak tertutup, lengan panjang transparan, dan bagian dada pun tertutup dengan sempurna, hanya menunjukan samar-samar bagian dadanya, sedang rok-nya panjang, sedang ada belahan di bagian kaki kanannya, hanya menunjukkan bagian kaki jenjangnya nanti.


Royyan menyeringai seraya mengambil gaun itu dan mengangkatnya ke atas. Lalu dia memutar langkahnya lagi mendekati Almira yang masih berdiam diri di tempat yang sama. Melimbai ke hadapan sang istri sembari menjulurkan gaun itu ke hadapannya.


"Pakai ini."


Almira mengernyit yang kemudian menggerakkan kedua tangannya ke belakang, menyembunyikan kedua tangannya disana. Lalu dia memalingkan wajahnya ke arah lain, dia tidak berani menatap sang suami yang tengah memasang wajah serius yang menakutkan, menurutnya.


"Enggak. Aku mau pake ini, gak usah maksa."


"Oke. Kamu mau pake cara paksaan?"


Segera Almira menoleh dan kembali menunjukkan kedua tangannya yang sudah terkepal, meredam emosi yang terkumpul dalam kepalannya itu.


"Enggak mau, bodo amat, bye ...."tukas Almira sembari melangkah maju untuk meninggalkan Royyan.


Namun, Royyan tidak akan pernah membiarkan perintahnya terabaikan begitu saja, dengan sigap dia menggenggam pinggang Almira dan mendekapnya dengan erat, sehingga Almira tidak lagi mampu bergerak.


"Ya!"pekik Almira berusaha melepaskan tangan Royyan yang melingkar di pinggang kecilnya, "Lepasin, jangan maksa bisa enggak sih kak,"tambahnya seraya dia menoleh pada wajah Royyan yang ada di belakangnya.


Tanpa menjawab, Royyan segera mengangkat Almira sehingga kedua kaki Almira terayun-ayun, menyeret langkahnya dengan tegas masuk ke dalam kamar tamu tersebut, sedang satu tangannya tetap memegangi gaun pilihannya tadi.


"Kak Royyan!"panggil Almira seraya menggoyangkan tubuhnya, sebagai upaya untuk melepaskan diri dari Royyan.


"Diem,"tegasnya seraya menutupi pintu dengan rapat, bahkan Royyan menguncinya dan membawa kunci itu di saku jas nya setelah dia menurunkan Almira.


Melempar gaun yang ada dalam genggamannya ke atas ranjang yang ada disana. Menarik lengan Almira ke depan ranjang itu, kemudian dia menggenggam kedua bahu Almira, lalu mengapit dagu Almira untuk mendongakkan wajah istrinya yang tengah cemberut.


"Mau aku bantu atau ganti sendiri,"tuturnya menggetarkan tubuh Almira, sampai bola matanya terbelalak.


"Apa sih. Enggak mau, orang aku mau pake ini,"ucap Almira menepis tangan Royyan dari bahu dan dagunya.


"Kenapa kamu selalu ngebantah sih, ganti sekarang, cepet."


"Ini tubuh aku, jadi terserah aku dong, aku mau pake apapun itu yang penting aku nyaman,"kernyit Almira.


Kamu sudah menikah Ami, jangan tunjukkan keindahan tubuh kamu pada siapapun kecuali padaku, suami kamu. Aku gak mau orang-orang menjadi tertarik sama kamu.


"Oke,"jawab Royyan kemudian seraya dia menghela napasnya. "Aku akan bantu kamu untuk mengganti pakaian kamu,"pungkasnya kemudian melangkah maju mendekati Almira.


Kedua tangannya mulai menjalari gaun Almira, wanita berambut coklat itu membeliak seraya memundurkan langkahnya sampai dia membentur ranjang yang ada di belakangnya, lalu dia menepis tangan sang suami darinya.


"Jangan macam-macam, kalau berani nyentuh aku, aku teriak ya, aku gak becanda,"ancam Almira yang kemudian mendorong tubuh Royyan menjauh darinya.


Tetapi Royyan tetap melangkah maju, tidak mempedulikan ancaman dari istrinya.


"Yaudah ganti sekarang sendiri, kalau kamu gak mau aku bantu."

__ADS_1


"Aku enggak mau, apa sih kak, udah ah aku mau keluar, gak jelas kamu."Almira berputar melangkah untuk menuju pintu yang sudah terkunci.


Royyan mengembuskan napasnya kasar seraya dia mendongak dengan mata yang terpejam. Lantas dia menyusul istrinya dengan segera dan menarik tangan Almira secara cepat sampai wanita yang mengurai rambutnya kehilangan kendali dan terjatuh dalam dekapan pria bertubuh tinggi kekar itu.


"Apa lagi, lepasin gak, kalau enggak a-"ujarnya mendorong-dorong tubuh Royyan, "Aaargh ...."perkataannya segera disusul dengan teriakannya yang selalu berhasil memecah gendang telinga Royyan, setelah Almira naik ke atas kedua lengan Royyan, dan pria berambut mullet itu membawa kembali istrinya ke dekat ranjang.


"Mau apa sih, turunin cepet. Aku bisa jalan sendiri gak usah dipangku kayak gini, turunin aku kak Royyan ...."protes Almira mengayuh kakinya di udara.


"Diem. Kamu mau aku lepasin baju kamu kan, jadi diem, biar aku bisa dengan tenang mengganti pakaian kamu,"balasnya menerjunkan tubuh Almira dengan mulus ke atas ranjang.


Terduduk di pesisir ranjang itu, Almira tertunduk. Tidak ada lagi energi untuk melawan suaminya yang memiliki keteguhan hati yang kuat. Dengan wajah cemberut dan sedikit sentuhan manjanya, Almira menarik ujung kemeja Royyan sehingga pria yang hendak meraih gaun itu menghentikkan aktifitasnya dan kembali berlutut di hadapan sang istri.


"Aku mau pake baju ini, boleh ya ...."pintanya lembut seraya mengerutkan bibirnya.


Lalu dia mendongak dengan wajah penuh harap, tak lama dari itu Almira menghamburkan tubuhnya memeluk Royyan. Terpaksa dia harus menggunakan cara ini agar suaminya menuruti kemauannya sendiri.


"Ami .... baju itu terlalu terbuka, acaranya kan malam,"jawab Royyan tidak bergerak ataupun membalas pelukan istrinya, dia malah memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Gak papa, aku kan bisa pake jaket."masih memeluk Royyan.


Hening. Royyan tak lagi menjawab Almira, dia terdiam menjelajahi pertimbangan yang ada di dalam kepalanya. Tentunya Almira menyadari jika sang suami tidak menjawabnya, dia memicing.


Kenapa kagak dijawab sih, kan gue jadi deg-degan nih, lagian kenapa sih peduli banget apa yang gua pakai buat ke acara itu, tubuh-tubuh gua, ya terserah lah anjirr.


"Oke. Aku harus balik kantor,"celetuknya seraya melepaskan kedua tangan Almira yang menggantung di pinggangnya, "Sampai ketemu di acara,"tambah Royyan seraya dia melangkah ke pintu dan membukanya, lalu dia keluar dari kamar.


Almira tidak bergerak dari sana, dia hanya menonton sampai Royyan tenggelam keluar pintu kamar itu. Rasanya melegakan Royyan sudah enyah dari hadapannya, lantas Almira melempar tubuhnya ke ranjang dan mengembuskan napasnya tenang.


"Akhirnya pergi juga, gua kira gua beneran bakalan ...."paparnya menatapi langit-langit kosong dan hanya menggantung satu lampu yang bersinar dengan terang seraya merentangkan tangannya.


Pikirannya menyelam kepada sebuah hal yang dia takuti, jika itu benaran terjadi hari ini, mungkin saja Almira benar-benar tidak bisa menghadiri acara besar itu. Lantas dia menggelengkan kepalanya menepis segala pikiran anehnya.


"Enggak. Gua harus bisa menahannya, gua akan mau jika kak Royyan sudah bener-bener suka sama gua, kalau cuman sekedar tuntutan karena kita suami-istri, enggak. Gua gak bakalan mau."


Malam acara pelelangan perhiasan yang diselenggarakan oleh perusahaan B&D Jewellery akhirnya berlangsung, gedung arteri telah di penuhi lampu-lampu cantik yang bersinar dari segala penjuru ruangan, lampu yang menggantung di langit-langit pun telah menyala dengan kekuatan cahaya yang mampu menyebarkan sinarnya ke setiap penjuru ruangan yang telah tertata rapi dengan sedemikian rupa.


Di dalam ruangan telah dipenuhi dengan meja dan kursi yang sudah di tata dengan rapi oleh petugas dari gedung tersebut dengan hiasan bunga-bunga segar yang baru di petik. Bercak-bercak air masih merias wajah bunga-bunga cantik itu, bunga dari berbagai macam jenis dan juga warna menambah keindahan gedung itu menjadi lebih sempurna.


Satu persatu tamu undangan berdatangan dan di sambut langsung oleh dua orang pria tinggi dengan balutan jas hitam yang rapi, dua orang yang di tugaskan untuk memeriksa undangan resmi yang dikeluarkan oleh perusahaan perhiasan tersebut. Tepat Almira yang menggunakan gaun itu bersama Manda yang juga mendapatkan undangan resmi itu memberikan surat undangan kepada salah satu dari dua orang itu.


"Bu Almira Miara Tisya, silahkan masuk."pria itu mempersilakan Almira masuk setelah dia menjulurkan sebuah gelang yang terbuat dari kain sebagai pertanda jika dia merupakan tamu undangan.


"Terimakasih,"balas Almira menyambar gelang itu dan segera memakainya.


Di belakangnya Manda pun mendapatkan perlakuan yang sama, segera keduanya kayuh langkahnya masuk ke dalam gedung itu. Atmosfer gedung ini memang sangat mewah, semua tamu undangan sepertinya menggunakan pakaian terbaiknya. Tak sedikit para sosialita itu menggunakan perhiasan dengan harga yang fantastis, begitupun dengan Almira dan Manda yang juga menggunakan set perhiasan yang dikeluarkan dari perusahaan B&D Jewellery beberapa bulan yang lalu.


"Kita gak salah masuk pintu kan Ra,"tanya Manda seraya dia mengedarkan pandangannya ke depan.


"Ya kagaklah gila, kenapa sih lu. Elu model anjir, ngapain elu insecure begitu sih,"balas Almira seraya menoleh pada Manda yang sedari tadi hanya berjalan di belakangnya. "Elu kenapa jalan di belakang gua sih, elu itu sahabat gua bukan ajudan gua,"tambahnya yang kemudian menarik Manda ke sampingnya, berjalan ke depan untuk mencari kursi yang tercantum namanya dengan Manda.


"Ya habisnya orang-orang pada kece banget bajunya, lah gua,"tuturnya sembari dia berputar menunjukkan gaun sederhana berwarna gold yang memperlihatkan tubuh indahnya dengan bagian dada menggunakan bahan transparan yang lembut.


"Udah ah, kita nikmati aja acaranya, gak perlu kenalan sama orang lain, kalau elu mau beli perhiasannya kalau enggak yaudah, gak usah dibikin ribet."


"Kok elu bisa tenang begitu sih Ra, elu gak takut di hina sama mereka karena penampilan kita biasa aja, eh* tapi gaun lu mahal gila, gak bakalan ada yang menghina elu juga sih."


"Sssstt .... berisik lu anjrit, disini kita harus elegan dan bertutur kata sopan, oke,"pungkasnya seraya menaikkan ibu jari tangan kanannya.


Sontak Manda lekas mengukir wajahnya dengan tawa tipis.


Acara telah dimulai. Manda dan Almira duduk di kursi sebelah kanan yang tak terlalu dekat dengan podium dan juga tidak terlalu jauh. Tempat duduknya cukup strategis dengan letak podium di depan, sedangkan tepat di belakangnya Royyan dan Adrian terduduk disana bersama, kursi itu tidak hanya diisi oleh Royyan dan Adrian, melainkan oleh seorang wanita yang pernah berkunjung ke butik Almira beberapa waktu lalu.


Wanita berkulit putih dengan lekukan tubuhnya yang indah masih saja menyembunyikan wajahnya, kacamata hitam yang agak besar berbentuk kotak dan masker hitamnya masih saja dia gunakan. Rupanya dia menggunakan gaun yang dirancang oleh Almira, dia di temani oleh si wanita paruh baya yang memaksa Almira menjual gaunnya, entah apa hubungan kedua wanita itu.

__ADS_1


"Kita akan mulai dengan satu set perhiasan berlian oppenheimer blue diamond, rancangan terbaru dari perusahaan B&D Jewellery salah satu perhiasan terbaik yang terbuat dari berlian langka, kami buka dengan harga USD25.000, silakan,"tutur seorang pria berpernampilan rapi itu di di depan podium di hadapan sebuah palu kayu.


Sedangkan perhiasan itu sedang di pakai seorang model bertubuh tinggi yang berlenggak-lenggok di hadapan semua orang. Pehiasan berwarna biru itu sangat cantik dan memukau, bohong jika Almira tidak menginginkannya. Banyak sekali yang menginginkan perhiasan itu walau harganya fantastis tetapi kecantikan satu set berlian itu telah menghipnotis semua orang yang ada dalam ruangan itu.


"27.000 dollar,"celetuk wanita berkacamata hitam itu.


"Oke, 27.000 dollar, ada yang mau melawan,"sahut pria di depan podium.


"30.000 dollar,"ucap salah seorang dari sudut lain.


Deg!


Almira dan Manda terkejut dengan penawaran semua orang, keduanya tak mampu mengangkat tangannya, punggung yang semula tegas itu tiba-tiba meleleh dan terhenyak ke belakang bersandar pada kursi yang dia duduki.


"Gila. 30.000 dollar amerika berapa tuh,"bisik Manda di telinga Almira.


"Kemungkinan sekitar empat ratus lima puluh juta,"jawab Almira berbisik pula pada Manda.


"Woaaah, duit doang itu."


"Kagak. Daun itu, ya iya dongke, masa pake daun."


Manda terkekeh, nampaknya dia bahagia mendengar jawaban Almira. Keduanya kembali fokus dengan acara seraya menikmati hidangan yang tersaji di atas mejanya, kebetulan di meja itu hanya ada Manda dan Almira.


"Next ...."kata pria di podium tersebut, seraya dia mengedarkan matanya ke seluruh orang-orang yang ada disana.


Tiba-tiba suasana menjadi hening. Tak ada yang melakukan penawaran lagi, tetapi itu hanya bertahan satu menit saja. Namun, kemudian wanita yang ada di meja Royyan kembali mengangkat tangannya.


"35.000 dollar."celetuknya tanpa ragu.


"40.000 dollar,"sahut seorang pria berpenampilan rapi dari sudut kiri di depan.


"45.000 dollar,"tutur wanita itu lagi, sepertinya dia sangat menginginkan perhiasan itu, wanita berambut panjang hitam pekat itu nampak berambisi.


Sedang Royyan sedari tadi hanya terdiam tanpa melakukan apapun, di sampingnya Adrian pun ikut terdiam, pria berambut rapi itu hanya menunggu bos-nya untuk bersuara.


Atmosfer gedung arteri kembali hening. Dan lelaki yang menjadi Mc acara ini ikut terdiam menunggu ada yang melakukan penawaran terakhir untuk satu set perhiasan itu.


"Kayaknya stop deh harganya disini,"pungkas Almira seraya dia bersandar pada kursinya.


"Maybe."


Namun, mendadak Royyan mengangkat tangannya untuk pertama kali dari acara pelelangan perhiasan set terakhir ini dimulai, lantas dia berdiri seraya membetulkan pakaiannya yang sedikit berantakan.


"Penawaran terakhir, 60.000 dollar."ucap Royyan tegas dengan suara beratnya yang khas.


Deg!


Memang benar, itu adalah penawaran terakhir. Semua telinga yang mendengar hal itu seketika mematung, semua bibir mendadak menjadi bisu. Tak ada yang bisa melawan penawaran yang sangat tinggi itu. Wanita di sampingnya ikut menoleh, sepertinya dia pun ikut terkejut, tetapi kemudian samar-samar matanya menyeringai.


"Oke. Satu set perhiasan berlian oppenheimer blue diamond, resmi menjadi milik tuan yang ada di belakang sana,"ungkapnya seraya tangannya menunjuk pada Royyan yang masih berdiri, dan kemudian Royyan menunduk sejenak untuk menyapa semua mata yang memperhatikannya.


Termasuk Almira dan Manda yang ikut menoleh ke belakang, dan betapa terkejutnya Almira jika pria itu adalah suaminya sendiri, mulutnya sedikit terbuka karena saking terkejutnya. Matanya terbelalak memasati wajah Royyan, begitupun dengan Manda yang terperanjat sama dahsyatnya dengan Almira.


"Si cowok kebab Ra,"celetuk Manda berbisik di telinga Almira.


Lekas Almira dan Manda kembali menatap lurus dan terduduk dengan rapi lagi.


"Ra, lu gak mau pepet aja tuh cowok, tajir lo dia,"tambah Manda.


"Hush! Elu kalau ngomong ya."


Lagi-lagi Manda hanya menyernyih. Wanita yang menata rambutnya dengan membuat ikal rambutnya lebih banyak dari biasanya itu menghela napasnya panjang, dan segera mengambil ponselnya yang ada di dalam tas kecil yang tergeletak di atas meja tepat di samping sebuah minuman dengan rasa manis yang tidak terlalu pekat berwarna biru.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2