
"Sialan! Cowok gak berguna,"seru seorang wanita berpakaian serba hitam di sudut jalan, dia bersembunyi dibalik pohon berdaun rindang.
Sosok wanita yang menutupi seluruh wajahnya dengan kacamata hitam, topi dan juga masker yang memiliki warna senada dengan apa yang sedang dia kenakan. Rahangnya mengeras kesal, dia lempar kedua kepalan tangannya ke bawah dengan kasar.
Lantas dia segera berpaling dari sana, langkah wanita itu terburu-buru memasuki sebuah mobil rental yang sengaja dia sewa untuk mengelabui semua orang yang mungkin mengenalinya.
...***...
Beberapa hari ke depan wanita misterius itu tak lagi mengganggu Almira, begitupun dengan orang suruhannya. Wanita mungil itu tak lagi mempermasalahkan kejadian beberapa hari lalu, bahkan dia tidak menceritakan semuanya pada sang suami, malam itu Royyan pulang tengah malam dalam keadaan lemah tak berdaya.
Almira memandangi sang suami dengan penuh rasa iba, tepat di sudut ruangan dari kamarnya, dia melihat sosok lelaki kekar itu tak lagi bertenaga, tubuhnya terlempar begitu saja ke atas ranjang, lekas wanita bermata kucing itu mendekat.
"Kamu kenapa?!"tanyanya sambil dia menempatkan dirinya di samping Royyan, dia terduduk dengan posisi bersila di sana.
"Cuman lelah,"cetus Royyan singkat.
Almira menghela napasnya panjang. Sesungguhnya dia tidak suka jika sang suami sudah berbicara singkat seperti ini tanpa menceritakan apa kesulitannya, tetapi wanita itu masih berusaha menyingkirkan egonya dan kembali menyeret tubuhnya untuk lebih mendekati suaminya yang masih memejamkan matanya dengan satu tangan tertidur di atas dahinya.
"Di kantor emangnya kenapa?! Tumben banget kamu pulang-pulang gak bertenaga begini, biasanya juga masih bisa gangguin aku,"tanya Almira lagi menjatuhkan sorotnya ke bawah.
Royyan menyeringai kecil. Manik matanya secara perlahan terbuka, tubuhnya miring ke arah Almira, lalu dia menepuk ranjang di sampingnya beberapa kali, memberikan isyarat pada sang istri untuk menggolekkan tubuhnya di sana.
Almira segera mengerti ; Membaringkan tubuhnya di sana, dan dengan cepat Royyan membentangkan satu tangannya tepat di bawah kepala istrinya, sedangkan satu tangannya yang lain dia letakkan di samping tubuh Almira yang lain sehingga lelaki itu ada di atas tubuh istrinya, tetapi dia tetap terbaring di samping wanita itu.
"Kamu mau aku ganggu,"kata Royyan melepaskan kedua alisnya ke atas dan bibir yang menaik.
"Bukan ih ..."protes Almira mendorong dada lebar itu dari hadapannya, sedangkan wajahnya terlempar ke arah lain.
Lelaki itu lagi-lagi menyeringai. Tangannya yang dia jadikan penopang tubuhnya lekas dia gerakkan membuai wajah Almira dengan penuh kelembutan, cinta itu mengalir deras begitu saja dari sorot matanya yang tak lagi tajam. Perlahan dia mendekatkan wajahnya dengan sang istri bersamaan dengan tangannya yang lain menarik wajah istrinya agar menghadap padanya.
"Gimana di butik?! Ada masalah?"lirih Royyan, deru napasnya menyebar masuk ke dalam pori-pori wanita berparas lembut itu.
Kali ini Royyan benar-benar bertanya karena tidak mengetahuinya, setelah kedekatannya dengan Almira, dia sudah menghentikan membuntuti istrinya. Para orang suruhannya sudah tak lagi bekerja untuk mengawasi Almira, mereka telah beralih fungsi kembali ke kantor cabang yang bergerak di bidang properti.
Sebuah perusahaan yang dibangun oleh Royyan tiga tahun yang lalu, posisi perusahaan itu ada di daerah Tangerang, dekat dengan lokasi dimana restoran keluarga Dirta berada. Royyan merencanakan hal itu agar dia bisa memantau keluarga Dirta tanpa di ketahui siapapun, bahkan Ajun sekalipun tidak mengetahui rencananya.
Almira terdiam sejenak, dia tidak ingin suaminya khawatir dan akan melarangnya untuk keluar rumah. Gadis itu menelan ludahnya kasar, seraya dia melingkari leher sang suami dengan kedua tangannya.
"Baik."Almira mengangguk kecil. "Butik lagi sibuk banget, banyak klien yang meminta gaunnya di percepat, dan yang datang ke butik pun semakin hari semakin ramai,"jelas Almira menutupi kejadian apa yang tadi terjadi padanya.
"Baguslah."
__ADS_1
Mendadak tubuh Royyan melemah dan terjatuh ke dada Almira, dia tertidur di sana. "Kita tidur aja, kita gak akan sanggup melakukannya malam ini,"lirih Royyan merayau.
"Hah?!"Almira mengernyit heran dengan apa yang sedang dibicarakan oleh suaminya.
Ingin bertanya pun gadis itu sudah terlambat, karena Royyan telah terlelap, yang terdengar hanya helaan napasnya yang memberat saja, deru napasnya pun terasa hangat menusuk ke dalam serat-serat pakaian yang dia kenakan.
Malam itu berlalu begitu saja dalam kondisi seperti itu, mereka tertidur berteman kan aroma dingin yang menyebar masuk ke dalam ruangan kamarnya. Dan hari ini Almira akan menghadiri acara persidangan sahabatnya yang masih belum bisa lepas dari belenggu agensi lamanya.
Wanita berambut coklat keemasan itu segera berayun keluar dari kamarnya, dia menemui sang suami yang sudah menunggunya di bawah, tepat di depan mobil merah yang biasa di gunakan oleh Almira.
"Sayang ... Kamu mau datang ke persidangan?"tanya Almira sesaat setelah dia ada di dekat sang suami.
"Euum ..."gumam Royyan sambil memeriksa ponselnya.
"Gak ke kantor?"tanya Almira lagi.
"Enggak,"sahut Royyan singkat, dia masih fokus dengan ponselnya sehingga tidak menyadari perkataannya telah menyakiti hati istrinya.
Almira mencebik kesal, lalu dia melayangkan satu pukulan keras di lengan kekar sang suami. "Ih jawaban apaan sih itu, bodo ah mau pergi, kamu nyebelin,"kesal Almira, dia memberengut.
Detik selanjutnya Almira melayangkan kakinya ke depan, melangkah hendak menjauhi sang suami. Tetapi gerakan cepat Royyan segera meraih pinggang istrinya dan menariknya kembali melekat dengannya.
Punggung gadis itu membentur dada bidang Royyan, lekas Almira lemparkan tatapannya ke atas, memasati leher sang suami, sedangkan manik mata Royyan masih enggan lepas dari layar pintarnya.
"Tunggu, aku belum selesai."
Wajah Almira semakin mengerut geram. "Apa sih, awas ih,"protes Almira menguatkan tenaganya, sampai akhirnya dia lepas dari jeratan Royyan. Hanya saja Royyan tidak membiarkannya begitu saja, tangannya yang lebar segera menempel di punggung Almira dan memutar tubuh gadis itu dengan cepat dan menjatuhkannya di dada.
"Aaakh ..."teriak kecil Almira yang segera mendongak lagi dan kedua tangannya menempel di dada lebar itu.
Sementara Royyan menarik tangannya yang tengah menggenggam ponsel ke belakang tubuh Almira, seraya memeluk istrinya dia meneruskan mengetikkan sebuah pesan untuk Adrian. Seketika Almira terdiam dan merasakan hangat menyebar dengan nyaman menyelimuti seluruh raganya.
Royyan :
Saya akan langsung ke pengadilan bersama istri saya, tolong handle kantor sampai saya kembali.
Tulis Royyan demikian, setelah selesai, lekas Royyan masukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, tetapi dia tidak melepaskan dekapannya pada Almira.
"Hobi banget sih marah-marah,"bisik Royyan di belakang telinga istrinya dengan dekapan yang lebih rekat.
"Biar kamu marah,"celetuk Almira yang kemudian dia tersenyum dan tenggelam di dada bidang itu.
__ADS_1
"Kalau aku udah marah, kamu mau apa?"
"Mau aku tinggalin lah ..."goda Almira tak takut jika suaminya akan menyerangnya lagi dan riasan bibirnya yang sudah sempurna akan berantakan lagi.
Secara spontan Royyan menaikkan sudut bibir kanannya, bersamaan dengan dekapannya yang menguat, tentunya Almira amat merasakan tubuhnya melekat dengan sang suami, lantas dia mengembangkan senyumannya, wajahnya tenggelam di dada bidang Royyan.
Beberapa menit berlalu, Royyan menyirami sang istri dengan dekapan yang hangat nan kelembutan yang bisa dia berikan pada istrinya itu, akhirnya pria kekar itu lekas melepaskan dekapannya karena jarum jam telah menunjukkan waktu untuk mereka segera meninggalkan rumah. Jika tidak, mungkin saja mereka akan dalam posisi seperti itu dengan jangka waktu yang lama.
Gerombolan awan berbondong-bondong mengikuti angin, kemana pun ia bergerak. Angin menyiratkan sebuah suasana tegang yang bergemuruh di bawah sana, tepat di gedung pengadilan yang sudah di penuhi oleh wartawan berita, televisi dan juga dari berbagai macam majalah.
Ajun keluar dari mobil pribadinya dan di temani oleh dua wanita yang biasa membantunya dalam menyelesaikan berbagai macam kasus. Pria berbadan tegap yang kini tengah mengenakan kacamata barrybarton itu mulai melangkah ke depan, tak nampak ketegangan ataupun panik karena harus menghadapi ribuan pertanyaan dari para wartawan itu.
Dan benar saja, tak perlu banyak waktu, para wartawan itu sudah berhamburan menghampiri Ajun, membuat langkah Ajun terpaksa harus di hentikan. Dia mengatur pola pernapasannya, mempersiapkan dirinya untuk menjawab semua pertanyaan tanpa membocorkan informasi apapun yang akan di bahas di dalam ruang sidang.
"Pak Ajun, bagaimana tanggapan anda mengenai kasus ini?"
"Apa bapak sudah siap dengan semua kemungkinan yang akan terjadi?"
"Bagaimana bapak bisa mengambil peran penting ini?"
"Poin apa aja pak yang akan di bahas di dalam?"
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang dilontarkan oleh berbagai macam wartawan. Ajun menarik napas panjang yang lalu dia lemparkan lagi keluar, seraya mendorong kacamatanya untuk terduduk dengan tenang di tulang hidungnya, Ajun mendongak dan melontarkan senyuman tipis.
"Seperti yang kalian ketahui, jika klien saya mendapatkan perlakuan tidak adil dari agensi, dan poin yang akan kami perjuangkan hanya satu, klien saya hanya ingin haknya saja. Untuk urusan kasus di luar itu, saya tidak ingin membahasnya,"terang Ajun dengan tenang.
Ajun melangkahkan kakinya kembali dan kedua asistennya mengikuti langkah Ajun. Tetapi para wartawan itu tetap mengejar Ajun sampai tiba di depan gedung pengadilan, terpaksa Ajun harus kembali berputar dan menghadapi para wartawan sekali lagi.
Suara gaduh yang saling bersahutan dengan deru kamera yang terus bekerja tanpa hentinya, membuat Ajun merasa pening dan terganggu dengan suara itu semua, belum lagi para wartawan itu tidak berhenti melontarkannya berbagai macam pertanyaan yang sebenarnya jawabannya tetaplah sama.
"Pak bagaimana dengan nona Rala, bukankah kalian berteman sejak SMA, bagaimana bisa bapak menentang sahabat anda sendiri?"
Satu pertanyaan yang membuat Ajun mematung. Hanya saja Ajun sama sekali tidak gentar, dia masih bisa menyeringai, membingkai wajahnya dengan senyuman tegas dan tatapan yang menyorot dengan tajam.
"Ya benar, saya memang temannya Rala, tapi ... Apakah ada aturan dalam sebuah keadilan dan kebenaran?"kernyit Ajun mencugat, "saya tidak memilih kebenaran sesuai dengan hubungan saya dengan seseorang, jika Royyan melakukan kesalahan maka saya akan membuatnya mendapatkan hukuman, itulah fungsinya hukum, menghukum siapapun yang melakukan kesalahan, tanpa terkecuali,"tambah Ajun.
Seketika atmosfer yang memanas dan berguruh tadi menjadi senyap, sekaligus kameramen yang tengah bekerja, mereka ikut terdiam. Hal itu membuat Ajun menyeringai puas, sepertinya jawaban Ajun sudah membuat hantaman keras pada semuanya.
Ajun kembali melanjutkan langkahnya tanpa memedulikan para wartawan dan kameramen yang masih bekerja dan tidak gentar dengan jawaban Ajun. Semuanya telah menunggu Ajun di dalam ruang pengadilan, termasuk Manda, Royyan, Elshara, Almira dan pimpinan agensi pun telah menempati kursinya di bagian terdakwa bersama dengan pengacaranya.
Sedangkan Ressa dan Miranda serta kedua orangtua Elshara berada di bagian lain di dalam ruang pengadilan. Hari ini adalah hari keputusan atas semua tuntutan yang telah di ajukan oleh Manda pada pengadilan.
__ADS_1
NEXT ....