Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 120 : Apotek


__ADS_3

Punggung yang tampak lemah itu perlahan menegak, sambil mengusap sisa air yang menempel di sekitar bibirnya, Almira menoleh dengan mata yang terpejam dan satu tangan mencangkung di atas lengan kekar Royyan.


"Enggak ..."kilah Almira sambil menunduk.


Lekas pria dengan rahang tegas itu mengapit dagu Almira dan membawanya untuk mendongak. "Muka kamu pucat, bagaimana bisa kamu bilang enggak,"tepis Royyan menaikkan tubuh sang istri ke atas kedua lengan kekarnya.


Tubuh gadis mungil itu menggantung di lengan kekar sang suami sampai membuat dia membuntang sejenak dengan spontan dia melingkari leher Royyan dengan tangan kecilnya. Dia pasati wajah sang suami yang menatap lurus ke depan, membawa dirinya ke dekat ranjang.


"Beneran kak ... Ini cuman sakit biasa, aku masih bisa jalan,"berontak Almira menggoyangkan kedua kakinya di udara agar sang suami menurunkannya.


Namun, usahanya sia-sia. Lelaki itu tidak akan mendengarkan perkataan istrinya kali ini, langkahnya semakin tegas tanpa menjawab permintaan Almira. Gadis itu bergeming memasati rahang tegas milik suaminya.


"Gak usah bohong,"ucapnya kemudian setelah beberapa detik dia membisu.


Gegas dia turunkan tubuh Almira dengan lembut ke atas ranjang, menata dua bantal di belakang Almira guna memberikan rasa nyaman pada wanitanya, dia tidurkan Almira di atas bantal itu sambil dia membuai wajah istrinya dengan penuh kelembutan.


"Tunggu di sini, aku mau nyari obat dulu,"pungkas Royyan melenggang dari hadapan Almira.


Namun, dengan sigap Almira menahan tangan sang suami dan membuat Royyan mengendap di sana, lalu terperenyuk di pesisir ranjang. "Gak usah kak ... Aku baik-baik aja,"ucap Almira lirih mengusap lembut punggung tangan sang suami.


Royyan mengungkai napasnya panjang. Membawa tangan mungil Almira ke dekat bibirnya, lalu mengusap sebuah kecupan kecil nan lembut di punggung tangan wanita mungilnya.


"Apa yang kamu rasakan sekarang?"tanya Royyan khawatir.


Tatapannya memudar, tenggelam ke dalam tatapan lemah sang istri.


"Cuman merasa mual aja dikit, pusing juga gak terlalu, besok juga sembuh,"ujar Almira pelan.


"Minum obat ya?"pinta Royyan penuh harap.


Lekas Almira menggeleng. Gadis itu bukan tidak menginginkan sembuh, tetapi angannya masih merekam jejak perkataan Manda. Dia takut perkataan Manda memang benar jika dirinya sedang hamil, jika demikian maka dia harus berhati-hati dengan obat-obatan.


"Aku gak bisa minum obat sembarangan,"cetusnya membuat dahi Royyan berkerut dalam.


"Why? " Alis Royyan menaik.


Lagi-lagi Almira termenung, tatapannya kosong terlempar ke arah lain, tepatnya pada balkon yang tertutup dengan rapat dan hanya gordennya saja yang terbuka lebar, di sana dia melihat ribuan bintang tengah tertidur di langit bersama rembulannya.


"Udah ah aku mau istirahat." Almira membalik tubuhnya membelakangi sang suami. "Kamu mandi dulu sana,"titahnya kemudian.


"Euum ..."gumam Royyan menuruti perkataan sang istri tanpa berpikir berkepanjangan dengan sikap istrinya itu.


Pria berkaki panjang itu segera melampai ke kamar mandi seraya membuka kemeja dan pakaian lainnya dan memakai handuk yang tergantung di dekat pintu kamar mandi. Lantas dia bergerak memasuki kamar mandi, tak lama suara gemericik air yang berjatuhan dari shower terdengar riuh di telinga Almira.


Mendengar hal itu Almira gegas terbangun lagi, langkahnya mengarah ke dekat nakas dimana ponselnya terbaring lemah. Dia mencari kontak sahabatnya dan segera mengirimkan sebuah pesan pada gadis berambut sebahu itu seraya dia memastikan jika sang suami masih berada di dalam kamar mandi.


Almira :


Beli yang begitu di mana?


Manda :


Test pack?

__ADS_1


Di apotek lah, di mana lagi beli alat begitu kalau bukan di apotek


Almira :


Besok temenin gue beli itu.


Tapi belinya gimana?


Manda :


Ya tinggal beli aja dodol, lu udah bersuami, cincin nikah lu bertengger di jari begitu dan umur lu kan udah 27 bukan remaja SMA, gak akan ada yang bully lu.


Belum sempat Almira membalas pesan terakhir dari Manda, terdengar tetesan air itu berhenti dan di susul dengan suara pintu terbuka, gegas Almira mematikan ponselnya dan meletakkannya lagi di atas nakas.


Sementara dirinya dia lempar ke atas ranjang lagi, tubuhnya dia selimuti dengan penuh dan menyisakan kepalanya saja yang tampak menyembul keluar. Pria berbadan tegap itu perlahan menyelinap masuk ke dalam ruangan pakaiannya dalam keadaan masih kuyup dan tetesan air dari tubuhnya masih bercucuran membasahi lantai berkeramik putih itu.


Sekitar lima belas menit lamanya Royyan berada di ruangan itu akhirnya dia keluar setelah mengenakan piyamanya lengkap, rambut mullet-nya masih terlihat setengah kering, pria itu beralih ke meja rias dan mengeringkan rambutnya dengan pengering lalu menyisirnya dengan rapi.


Setelahnya dia berayun mendekati istrinya yang masih berusaha memejamkan matanya ; Royyan memosisikan dirinya tepat di belakang tubuh sang istri, dia seret tubuh mungil itu ke tengah-tengah ranjang, kemudian dia tertidur di sana sambil melingkari tubuh Almira dengan kedua tangannya, satu tangannya menyelinap masuk ke bagian bawah dan berhasil memutar Almira untuk menghadap padanya,


Sontak Almira terperanjat dan melebarkan tatapannya. "Kenapa nyari yang sempit sih, kan di sana masih luas,"tunjuk Almira pada bagian ranjang lain yang masih kosong.


"Di sana dingin,"celetuknya sambil membenarkan selimut dan keduanya berada di bawah selimut yang sama.


"Dingin?"kernyit Almira ganar, "kan bisa pake selimut, udah sana pindah ke samping, aku mau---"


Almira tidak bisa melanjutkan perkataannya, tanpa aba-aba Royyan dengan kecepatan kilat mengurai kecupan kecil nan hangat di bibir gadis itu sehingga Almira mengerjap dan memasati wajah Royyan dengan dalam.


"Ssst ..."desis Royyan tepat di atas bibir sang istri. "Kita tidur, kamu jangan banyak protes,"sambungnya merekatkan dekapannya.


Tubuh Royyan memiring dengan satu tangannya dia jadikan sebagai tumpuan, dan satu tangannya yang lain berada di sisi lain tubuh istrinya. "Ada apa dengan kamu sayang ... Kenapa marah-marah mulu dan anehnya kamu sering mual-mual gak jelas, tapi kamu gak mau minum obat,"ujar Royyan membelai wajah Almira dengan lembut.


Tatapan Royyan begitu saja melemah memasati wajah cantik Almira. Sebuah kilatan cantik yang menghipnotis dirinya, dari sejak pertemuan pertama mereka, Royyan tidak pernah berhenti memuji gadis kecil itu. Senyumannya membuai angin yang menyelinap masuk ke dalam kamarnya, lalu dia tenggelam di tengkuk sang istri.


...***...


Di dalam ruangan dengan kedap suara yang melekat dengan sempurna, tubuh kekar milik lelaki dengan tatapan tajam itu berayun ke dekat jendela, memandangi ruangan hampa di luar sana yang tengah menampilkan sinar keangkuhannya. Ia bersinar layaknya rembulan yang menyinari seisi muka bumi.


Sosok pria tak kalah tegap dengan dirinya berdiri di belakang, dia tengah menunggu perintah dari bos-nya yang masih melayangkan pikiran-pikiran yang menguasai seisi kepalanya.


"Tolong belikan saya alat tes kehamilan,"titah Royyan tanpa segan.


"Hah?! Siapa yang hamil pak?"sahut Adrian spontan.


Tubuh kekar itu berbalik dan melangkah ke depan, tepatnya ke dekat meja kerja untuk menghampiri ponselnya yang terbaring lemah di sana. Wajah istri terkasihnya terpancang nyata di layar ponselnya, lalu dia membiaskan senyuman tipis terurai keluar.


"Untuk istri saya, sikapnya aneh, seperti orang hamil, kata kakak saya sepeti itu,"terang Royyan memasati layar ponselnya.


"Ooh baik pak, saya akan segera membelinya,"sahut Adrian mulai mengerti maksud dari bos-nya.


"Yasudah, kembali bekerja."


"Baik pak,"sahut Adrian lagi.

__ADS_1


Adrian beringsut dari sana keluar dari ruangan kerja Royyan. Tanpa tunggu lama lagi, Adrian gegas langkahnya keluar dari gedung kantor dan mengendarai mobil hitam miliknya keluar dari gedung menuju apotek terdekat.


Tiba di apotek, lelaki itu dengan sigap berangsur masuk ke dalam apotek tersebut. Di sana dia menemui sosok dokter wanita yang sempat dia temui di Bali, wajah Adrian mengerut, dia berusaha mengingat sosok wanita itu.


Dia ... Wanita yang di Bali kan?


Batinnya melambungkan sebuah pertanyaan yang sampai detik ini tidak pernah menemui jawaban, siapa wanita itu. Kali ini dia mengenakan stelan dokter lengkap dengan alat stetoskop yang menggantung di lehernya.


"Bu dokter nyari apa?"tanya seorang penjaga apotek.


"Mau nyari obat merah sama kapasnya,"jawab wanita berambut sepinggang itu.


"Buat siapa bu dokter? Buat di rumah sakit?!" Penjaga apotek itu kembali bertanya sambil dia menyiapkan pesanan wanita itu.


Wanita yang kerap di sapa bu dokter itu memuntahkan gelaknya sambil bergeleng. "Bukan ... Buat adik saya, jatuh lagi dari motor itu anak, kebiasaan kalau bawa motor gak hati-hati,"terangnya.


"Oh buat Nanda, masih belum lancar bawanya."


"Begitulah, dikasih tahu juga ngeyel anaknya."


Adrian yang berada di bagian lain tentu saja mendengar dengan jelas perbincangan kedua wanita itu, tetapi pria itu lekas menepisnya dan fokus dengan tujuannya mendatangi apotek.


"Ada yang bisa dibantu tuan,"tanya penjaga apotek itu.


"Ah iya ... Saya mencari alat tes kehamilan,"ucap Adrian tanpa segan, membuat semua orang yang berada di dalam apotek itu segera menoleh ke arah Adrian.


Namun, tampak Adrian tidak memedulikannya, dia mengabaikan puluhan mata yang memandanginya. Dia berdiri dengan tegap di depan etalase yang berisikan ribuan obat-obatan untuk berbagai macam jenis penyakit.


"Mau yang mana tuan?"tanya petugas apotek itu lagi membawakan tiga jenis Test Pack ke hadapan Adrian.


Sontak Adrian membeliakkan netranya kebingungan dengan semua jenis itu semua, yang sama sekali tidak dia mengerti, lantas dia menggaruk kepalanya tak mengerti. "Yang mana aja deh ya, yang paling bagus, saya tidak paham,"seru Adrian.


"Baiklah tuan, rekomendasi saya yang ini,"sahut petugas apotek itu menggeser salah satu alat tes kehamilan tersebut ke depan dan mengambil lagi yang lainnya, lalu di masukkan kembali ke dalam etalase. "Ini akurat tuan, mau berapa tuan? Untuk istrinya kah?"tanya petugas itu membuat Adrian semakin kebingungan.


"Lima, buat bos saya, istrinya kayaknya lagi hamil,"papar Adrian.


"Oh begitu, tunggu sebentar."


Setelah semuanya selesai, Adrian segera kembali ke dalm mobillnya dan gegas meninggalkan apotek itu untuk kembali ke gedung kantornya. Pria itu menyisakan serpihan benih gosip yang tumbuh di dalam apotek itu.


"Eh itu bukannya Adrian ya, sekretaris kepercayaan pak Royyan, pimpinan Rain Corporation,"ujar salah satu pembeli yang masih berada di dalam apotek tersebut.


"Iya bener itu, berarti yang hamil itu istrinya pak Royyan,"timpal yang lain.


"Bisa jadi begitu."


Wanita yang berprofesi dokter itu menyeringai, lalu bergeleng tak habis pikir dengan orang-orang yang sangat ingin mencampuri urusan pribadi orang lain. "Pak Royyan itu siapa?"tanyanya pada petugas apotek yang sudah lama di kenalnya.


"Pimpinan Rain corporation itu lo Bu dokter, yang perusahaannya ada di ujung jalan ini, gedungnya yang paling tinggi itu,"terang pertugas apotek tersebut.


"Oh ... Yang kemarin mengumumkan kalau dia sudah menikah dan istrinya nona Ra desainer terkenal itu,"timpal wanita itu.


"Nah iya ..."

__ADS_1


Perbincangan terus berlanjut. Dan wanita itu meninggalkan orang-orang yang masih bergosip dengan kemungkinan yang belum benar adanya. Dia melenggang keluar dari apotek menuju mobilnya yang terparkir di depan pekarangan apotek tersebut, dari dalam mobil ada kaki yang terjulur ke depan, lutut gadis itu nampak berderai darah segar.


NEXT ....


__ADS_2