
Malam menjumpai langit yang berbintang, dengan samar-samar cahayanya tanpa kehadiran sang rembulan di antaranya, tepat pada pukul 20.19 wib setelah tiga hari insiden racun itu, Adrian, Ajun dan pimpinan rumah sakit itu bertandang ke rumah Rian dan Rini.
Rumah megah itu selalu menjadi batu loncatan untuk Royyan menyembunyikan dimana rumahnya sebenernya, dia tak ingin banyak ancaman mendatangi rumah pribadinya di sana, kini Almira dan Manda berada di rumah itu.
Rian dan Rini menahan putranya itu di lantai tiga sembari menyibuk ke bawah dimana Adrian, Ajun dan pimpinan rumah sakit itu tengah terduduk di depan laptopnya masing-masing, kecuali Ajun, nampaknya lelaki bermata downturned itu tengah asyik melahap cemilan milik tuan rumah.
"Ada apa ini?! Kamu ini selalu datang tiba-tiba tanpa ngasih tahu Mami Papi, kan kami bisa siapkan makanan kesukaan kamu,"tanya Rian penasaran.
"Terus istri kamu kemana? Apa dia udah tahu kalau---"timpal Rini yang nampak berat mengatakannya.
Royyan menoleh sejenak pada teman-temannya yang sudah menunggu di ruang tamunya. "Aku ada beberapa hal yang harus diurus, dan gak memungkinkan untuk dibawa ke rumah sana, dan Ami sampai saat ini belum mengetahui apapun tentang kegugurannya,"jawab Royyan seadanya.
"Kamu harus segera memberi tahu istri kamu, kasian sayang ... Dia pasti masih menganggap jika dia masih mengandung anaknya,"saran Rini lembut, dia tak ingin menantunya hidup dalam kebohongan yang terlalu lama.
"Iya mam, nanti." Royyan beranjak dari hadapan kedua orangtuanya, dia menuruni anak tangga dengan cepat.
Tiba di ruang tamu, lelaki itu segera beringsut ke sofa dimana Adrian dan yang lainnya sudah menunggu. Lantas Royyan menjatuhkan bokongnya di dekat Ajun yang menyandarkan punggungnya sambil memeluk cemilan yang terbuat dari kentang yang ada di dalam toples kaca.
Royyan mengabaikan sahabatnya yang memang tidak bisa berhenti mengunyah itu, fokusnya segera terampas oleh laptop Adrian yang menampilkan sosok seorang wanita berpakaian mini dan mengenakan kacamata dan topi hitam sehingga wajahnya tak begitu terlihat.
"Saya masih menelaah pak sosok wanita ini, dari penampilannya sepertinya dia seorang model, postur tubuhnya sangat bagus,"ucap Adrian masih menajamkan tatapannya pada laptop miliknya.
Pria berambut mullet itu menyugar wajahnya kasar sambil dia mengangguk, mencoba untuk berpikir keras siapakah sosok wanita itu. Tak lama dari itu pimpinan rumah sakit itu mulai bergerak mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Kok bisa ya dia bisa masuk, karena yang bisa masuk ke rumah sakit itu cuman pasien dan keluarga pasien, jika ada orang lain yang bukan keluarga atau kerabat pasien tidak ada yang bisa sembarangan masuk ke rumah sakit,"terang pimpinan rumah sakit itu berkerut heran.
Seketika netra Royyan mengarah pada sahabat semasa kuliahnya itu, Zayn adalah satu-satunya sahabat Royyan yang masih bersamanya dari masa kuliah hingga saat ini. Zayn tak ingin nama rumah sakitnya menjadi buruk karena ulah salah satu susternya yang baru saja bekerja kurang lebih dari satu tahun.
"Maksud lo Zayn?"tanya Royyan mencoba memastikan tentang penjelasannya.
"Gini Yan ... Rumah sakit gue itu salah satu rumah sakit terbesar di pusat kota, gue menerapkan sistem khusus untuk masuk ke ruangan VVIP, dan suster yang udah gue pecat itu tidak memiliki wewenang untuk membuka kunci gerbang masuk ruangan VVIP,"terangnya lagi.
"Jadi ... Intinya wanita itu bukan orang yang baru datang?"celetuk Ajun yang segera menghentikan acara makannya.
Zayn menoleh pada Ajun dan segera menganggukkan kepalanya dengan tegas. "Nah, betul itu. Untuk masuk ke ruangan VVIP ada kunci khusus yang hanya bisa dibuka oleh suster senior."
Royyan mulai memahami apa yang sedang dijelaskan oleh Zayn padanya, buih-buih pikiran Royyan berkumpul menjadi sebuah praduga yang semakin jelas, satu per satu serpihan teka-teki sosok wanita itu mulai terbongkar.
"Apa jangan-jangan dia salah satu pasien VVIP di sana,"hembus Adrian.
Semua yang ada di hadapannya secara kontan menoleh pada Adrian.
"Ah benar itu, jangan-jangan itu, karena suster itu katanya diperintah dokter Zarina untuk masuk ruangan VVIP karena pasiennya ingin menemuinya, kebetulan suster itu yang membantu dokter Zarina untuk menangani pasien VVIP itu, dan gue gak tahu pasien yang mana."
Royyan menatapi Zayn dengan begar. "Gimana sih lu, kok bisa gak tahu pasien lu sendiri,"tukas Royyan menyandarkan punggungnya ke sofa.
Zayn membuntang lalu menghela napasnya panjang. "Pasien yang datang gak cuman satu Yan, ada ratusan bahkan ribuan, ya mana gue inget lah gila lu ya."
Ajun memecah keheningan yang berkabut di sana dengan tawanya yang lepas, lantas dia memukul bahu Royyan dengan lembut. "Si bapak otaknya kemana ...,"goda Ajun.
Royyan menoleh kasar dan meraih keripik yang terbuat dari kentang dari dalam toples kaca yang terbuka, lalu dia tenggelamkan ke dalam mulut Ajun. "Makan nih!"ucapnya membuat Ajun menghentikan tawanya dan terpaksa mengunyah makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya.
Sontak membuat Zayn ikut tertawa begitupun dengan Adrian yang hanya tersenyum tipis-tipis, sedangkan Royyan sendiri hanya tersenyum miring tanpa menggemakan suara tawanya. Tak lama dari itu Ajun sudah menghabiskan makanannya dan sudah meneguk segelas air mineral yang ada di depannya, Ajun baru menyadari ada sebuah nama yang tak asing di telinganya.
"Eh bentar, tadi apa?! Dokter siapa?"katanya kemudian mengarahkan sorot matanya pada Zayn.
"Dokter Zarina."
__ADS_1
"Nah itu ...,"serunya lagi.
Royyan mengarah pada Ajun dengan kebingungan, sebenarnya apa yang ada dipikiran sahabatnya itu, tiba-tiba saja berseru demikian, seolah dia mengetahui sesuatu hal.
"Maksud lo apa?! Ada apa dengan nama Zarina?"
"Yan ... Gua pernah bilang kan kalau gue ketemu sama Nanda, dan di sana gue ketemu juga sama kakaknya Zarina! Dokter di rumah sakit pusat kota, ya rumah sakit Zayn,"beber Ajun penuh keyakinan.
"Ya terus---"timpal Royyan masih menunggu kelanjutan dari penjelasan Ajun.
"Dan Elshara itu adalah salah satu pasien VVIP-nya, karena saat kecelakaan El itu ditolong sama Zarina kakaknya Nanda,"jelasnya lagi.
Degh!
Tiba-tiba saja Royyan memancangkan punggungnya dan merampas laptop yang berada di depan Adrian, dia kembali memasati layar laptop itu dengan teliti, setiap gerak yang tergambar di dalam penayangan cctv itu, berulang kali Royyan putar rekaman cctv itu dan sesekali dia hentikan di pertengahan perjalanannya untuk memastikan apakah benar jika wanita itu adalah Elshara atau bukan.
"Kenapa Yan?"tanya Zayn penasaran, sebenarnya apa yang sedang dicari Royyann dari rekaman cctv yang tak menampilkan seutuhnya sosok wanita itu.
"Ssttt! Jangan ganggu,"desis Royyan mengangkat satu jari telunjuknya ke udara dan bola matanya masih berputar-putar di layar laptop.
Sontak semuanya menjadi senyap, sampai sepertinya bernapas pun mereka harus membisu karena takut mengganggu Royyan. Beberapa detik suasana menjadi sangat senyap, bahkan angin sekalipun tak ada yang berani mengusik lelaki bermata kecil itu.
Sampai akhirnya dia menemukan sebuah keyakinan kuat jika memang benar, wanita itu Elshara. Syal?! Syal bermerek terkenal itu sangat dikenalinya, saat pertemuan pertama Royyan dan Elshara setelah kecelakaan itu, Royyan sempat memberikan syal itu padanya.
"Syal?!"
"Syal?! Syal apaan?"tanya Ajun yang berada di samping kanan Royyan.
Royyan mengarahkan laptop itu pada Ajun dalam keadaan rekaman cctv itu tengah berhenti, karena Royyan sengaja pause video cctv itu. "Lihat ini, lu pernah lihat ini kan?!"tukas Royyan dengan dada yang bergemuruh geram.
Ajun menyipitkan kedua bola matanya, mencoba untuk mengingat-ingat ada apa dengan syal itu, ada memori apa yang diciptakan oleh syal itu, sampai akhirnya lelaki berambut french crop itu melerbarkan bola matanya kala mengingat rekaman kejadian yang dirakit oleh syal itu.
Sorot mata Royyan mendadak menjadi mencekam, merajam apapun yang ada di depannya, membuat Zayn dan Ajun ketakutan, bahkan Ajun menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Royyan, wajah lelaki itu semakin mengeras dan bola matanya memberikan isyarat jika pikirannya sudah dikuasai kabut hitam yang mampu mencekik semua orang yang mengusiknya.
"Gue nelepon Nanda dulu,"pamit Ajun melangkah keluar dari rumah besar itu.
Pria itu hanya ingin memastikan jika wanita itu Elshara atau bukan. Lekas dia mencari kontak nanda dan segera melakukan panggilan telepon. Beberapa detik Ajun menunggu jawaban dari gadis berambut sepinggang itu.
"Iya halo ..." Akhirnya Nanda menjawab panggilan teleponnya.
"Lama lu,"ketus Ajun sembari menoleh ke dalam, mencalang posisi Royyan yang masih belum terlepas dari layar teleponnya.
"Apa sih Jun, gue kan lagi kerja bodoh!"
"Ah ya udah lah, tanya kakak lu si El ada datang nemuin dia gak tiga hari lalu,"tanya Ajun langsung tanpa banyak basa-basi.
"Tiga hari lalu ya?! Sebenarnya gue ketemu di rumah sakit pusat kota sama El, dan katanya emang mau ketemu kak Zarina mau konsultasi kesehatan mentalnya."
"Hah?!"seru Ajun kencang, membuat Royyan yang tengah mengeras segera beringsut dari sofa untuk mendekati Ajun yang ada di luar.
Lelaki bertubuh kekar itu segera melangkah cepat untuk mendatangi Ajun. Saat menyadari jika sahabatnya sudah ada di dekatnya, lekas Ajun menyalakan loud-speaker agar Royyan juga mendengar pembicaraan Nanda dengannya.
"Coba jelaskan maksudnya apa?"tanya Ajun memastika apa yang dia dengar itu benar, bukan karena telinganya yang sedang tidak bekerja dengan baik.
"Udah lumayan lama, dari dua tahun lalu El emang udah melakukan pengobatan ini, gue gak tahu jelasnya tapi kata kak Zarina kalau El mengidap gangguan mental OLD atau Obsessive Love disorder, kondisi ini terjadi pada gangguan kejiwaan yang disebut erotomania."
"Jadi ..."seru Royyan membuat Nanda terhentak.
__ADS_1
"Royyan?!"
"Iya,"jawab Royyan tegas.
"Jadi El selalu mencari cara untuk deket dengan elu, dan kadang dia suka marah-marah gak jelas karena delusinya yang merasa cemburu kalau lu deket sama oranglain, rasa cemburu yang berlebihan atau disebut sindrom orthello."
"Terus sekarang gimana keadaan El?"tanya Ajun semakin penasaran dengan nama penyakit yang asing di telinganya.
"Terakhir katanya sudah mulai membaik, tapi masih harus bergantung pada obat-obatan, kalau enggak dia gak bisa tidur karena tubuhnya akan terus mengirim energi untuk menemui elu Yan atau bisa jadi dia mantau lu dari kejauhan."
"Oke. Thanks infonya Nan,"ungkap Royyan.
"Oke, dah ya gue mau lanjut kerja."
"Euum .. Bye!"sahut Ajun yang segera mematikan ponselnya.
Sementara di dalam rumah yang tak kalah mewahnya, Almira dan Manda berada di sebuah ruangan yang jarang sekali dikunjungi, ruangan dengan pintu kaca dilengkapi dengan sensor sidik jari dan kode sebagai pembuka kunci ruangan itu.
Almira dan Manda terbenam ke dalam ruangan itu yang segera disambut dengan aura dingin yang pekat, hamparan bulat dengan pembatas stainlees steel bening yang dibaluti dengan kain tebal berbahan lembut itu membuat Manda terpukau dengan keindahannya, terlebih saat nuansa putih menyelinap masuk ke dalam bola mata almond itu semakin mematung karena kagum terhadapnya.
Tepat di samping kanan dan kiri arena ice skating pribadi itu terdapat beberapa pelayan yang siap melayani tuan rumahnya dengan mempersiapkan segala keperluan untuk berolahraga kecil di atas es yang membeku dengan bening.
"Gila! Lu punya arena pribadi seperti ini?!"tanya Manda yang terpukau dengan ruangan ini.
Bahkan di sudut lain ada berbagai macam bunga dan tanaman hijau. Sungguh ini adalah ruangan yang dikhususkan untuk gadis mungil itu. Ice skating selalu menjadi tempat yang paling diinginkan oleh Almira kala dia mengalami kesulitan ataupun untuk menenangkan hatinya yang gusar ataupun dalam keadaan geram.
"Ayo lah kita main, udah lama kan kita gak main ini,"ajak Almira sembari dia memakai sapu tangan tebal.
"Gue kaget aja di dalam rumah lu ada segalanya, jadi lu gak perlu keluar rumah untuk menikmati arena ini,"sahut Manda masih saja terpukau dengan ruangan itu.
"Semuanya kak Royyan yang mengaturnya, biar gue gak berkeliaran sembarangan di luar sana,"ucap Almira beralih terduduk di lantai untuk mengenakan sepatu khusus olahraga ice skating itu.
Manda menyeringai bahagia jika sahabatnya mendapatkan sosok suami yang tepat, yang bisa membuatnya bahagia dan memberikan hal-hal yang mengejutkan untuk gadis cantik itu. Manda sangat bersyukur jika sahabatnya mendapatkan kebahagiaan lain dari semua luka yang pernah menjeratnya.
Gadis itu tidak pernah memiliki kesempatan untuk memilih keinginannya sendiri, dari mulai sekolah impian, ataupun aktivitas lainnya. Sejak kecil Almira selalu diikuti oleh bayang-bayang telunjuk kedua orangtuanya, gadis mungil itu harus menurut kemanapun telunjuk itu mengarah.
Walau sebenarnya cita-citanya terwujud karena kedua orangtuanya yang mengarahkannya menjadi nyata, tetapi cara Ressa dan Miranda memang terbilang keras. Ressa dan Miranda selalu maksa nilai pelajaran anaknya untuk selalu berada di atas standar pendidikan, dan memaksa untuk bersekolah di sekolah tertentu tanpa meminta persetujuan dari Almira terlebih dulu.
Itupun yang terjadi saat masa SMA gadis itu yang harus terbang ke Paris untuk mengenyam pendidikan di sana, dan Almira tak bisa menyangkal, begitupun saat pernikahan itu menghadiri gadis bermata kucing itu, lagi-lagi dia tak bisa menyangkalnya, beruntungnya kedua orangtuanya tidak salah memilihkan pasangan, Royyan adalah orang yang tepat untuk sosok gadis manja, tetapi berjiwa keras seperti Almira.
Manda dan Almira sudah berdiri di atas es berbentuk bundar dengan diameter lebih dari 1.248 meter, mereka bergerak kesana-kemari dengan lihai bermain-main bersama dengan angin yang ditimbulkan dari uap es tersebut.
Manda bergerak mendekati Almira, dan keduanya berputar-putar di tengah arena ice skating tersebut, layaknya kupu-kupu berputar-putar dengan lembut bahkan mereka sesekali saling berpegangan untuk menciptakan tarian ganda yang indah.
"Terus sekarang lu gak marah lagi kan sama kedua orangtua lu Ra,"tanya Manda kala dia mengingat tangisan sahabatnya saat dia dikirim kedua orangtuanya ke Paris untuk menuntut ilmu di sana.
"Euum ... Awalnya iya gue marah, karena mereka gak pernah mempertanyakan apa yang gue mau, dan apakah gue bahagia dengan pilihannya, tapi untuk pilihannya soal pasangan gue, ya ... Gue akui gue sangat berterima kasih sama mami dan papi karena mereka ngirim kak Royyan,"beber panjang Almira dengan senyuman yang membingkai wajahnya dengan keindahan yang mengembang.
Tangan keduanya terlepas dan bergerak mengelilingi arena itu, mengikuti pola arena ice skating itu dengan tarian yang sangat indah, lekukan tubuh kedua gadis cantik itu membuat para pelayan yang sedang menunggu nampak terpukau dan berseri-seri.
"Tapi bukannya semua perjodohan ini memang rencana dari suami lu sendiri?"tanya Manda memastikan suatu hal yang pernah dikatakan oleh gadis mungil itu padanya.
"Iya ... Setelah jauh dari pernikahan kita, kak Royyan baru bilang kalau semua itu adalah rencananya, tapi ya sudahlah, lagipula itu udah berlalu lama juga kan." Tiba-tiba saja Almira menghentikan permainannya membuat Manda juga ikut terhenti.
"Kenapa lu berhenti, ini baru satu jam, biasanya kan lu kalau main ice skating gak pernah cukup dari empat jam,"ucap Manda merasa heran.
Netra gadis mungil itu terlempar jauh keluar ruangan yang dipenuhi dengan aroma dingin yang menusuk. "Gue lupa, gue harus ke rumah sakit buat cek keadaan bayi gue,"tukas Almira bergerak ke depan menuju ke lantai yang tidak dibaluti dengan es.
__ADS_1
NEXT ....