Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
Bab 139 : Pemutusan kontrak


__ADS_3

Pendar baskara di pagi ini sungguh menyegarkan, sorotnya bergerak maju dengan lembut dan kini sinarnya beralih ke sudut kamar yang berbentuk persegi itu, kelembutan sinarnya mampu membangunkan sosok gadis cantik yang sekarang telah bergerak keluar dari area kamarnya ke balkon.


Mengenakan pakaian piyama lengkap dengan tiga anak bajunya di bagian atas terbuka, wanita itu membentangkan kedua lengannya dan membiarkan angin pagi menyambut raganya yang masih terasa kaku. Perlahan dia tekuk lehernya ke arah kiri dan kananya sembari menghirup aroma pagi yang masih segar, deru hijau menyelinap masuk ke dalam rongga hidung gadis itu.


Bibir kecil milik gadis itu menautkan sebuah senyuman lega dengan dada yang mengembang kala dia mengingat permainan malam tadi, ah tidak! Bukan hanya malam, tetapi pagi juga, bisa dibilang sepasang suami-istri itu melakukan hal itu dua kali dalam satu hari.


Bagaimana tidak, mereka memang sudah lama tidak melakukannya sehingga mereka hampir saja lupa bagaimana rasanya mencapai ******* yang membuatnya tak bisa mengukur kebahagiaan itu.


Dari arah kamar, Royyan bergerak ke dekat istrinya dan tanpa segan mendekap tubuh Almira bersamaan dengan dagunya yang terjatuh di atas bahu wanita bermata kucing itu. "Pagi sayang ...,"bisik Royyan di telinga istrinya.


Almira menoleh lamban dan memasati wajah sang suami dari bawah sambil dia membelai wajah Royyan dengan satu tangannya, sedangkan tangannya yang lain masih menetap di atas tangan Royyan yang mendekapnya.


"Pagi ... Hari ini jadi kamu ke kantor mami papi?"sahut Almira, kemudian dia berputar menghadap sang suami dan melingkari leher lelaki itu dengan kedua tangannya.


"Euum ...,"gumam Royyan mendekatkan wajahnya dengan sang istri, tanpa aba-aba tiba-tiba saja Royyan melekatkan bibirnya dengan bibir Almira membuat gadis itu sedikit mengerjap.


Namun, sebenarnya Almira tahu jika Royyan akan melakukan hal itu, jadi dia terdiam dan membiarkan suaminya bermain di bibirnya beberapa menit sampai lelaki itu merasa puas dan melepaskan c*um*nnya.


Royyan usap bibir istrinya yang baru saja dia *****, pria bermata kecil itu menyeringai sambil membelai wajah Almira dengan lembut. "Jangan kemana-mana sampai aku kembali lagi ke rumah,"katanya kemudian.


"Aku harus ke butik, ada beberapa hal yang harus aku selesaikan di sana, kasian Sara udah beberapa hari ini dia sendirian ngurus segala macam,"tepis Almira mengendurkan tangannya dari leher Royyan.


Pria berambut mullet itu bergerak ke dalam kamar, delusinya bergerak kesana-kemari mempertimbangkan atas permintaan sang istri, dadanya yang tengah telanjang itu kembali mengarah pada Almira yang masih berdiri di balkon dengan wajah yang memiring.


"Boleh ya kak ...,"rengek Almira mendekati suaminya lagi, "sebentar aja kok." Almira menghamburkan tubuhnya memeluk dada telanjang Royyan. "Kamu siapkan bodyguard aja kalau emang kamu khawatir aku akan kenapa-kenapa lagi."


Royyan menghela napasnya panjang sambil dia menjatuhkan tatapannya pada bola mata kucing yang nampak menggemaskan itu. Lalu dia menyeringai. "Oke, tapi tidak hari ini, besok aja ya?"


"Euum ...,"ucap Almira menggerakkan mulutnya ke kiri dan kanannya sambil menganjur ke depan. "Oke." Almira mengangguk menyetujui keputuasan sang suami.


"Oke kalau gitu, aku mau siap-siap mau ketemu sama mami dan papi, udah itu mau ke kantor, secepatnya aku akan pulang." Royyan merelai pelukan Almira yang melekat dengan tubuhnya.


Lelaki itu membungkukkan punggungnya untuk mendekatkan wajahnya dengan istrinya itu, sementara Almira dengan spontan tertadah untuk memasati wajah sang suami lebih jelas lagi.


"Dan sampai a--"


"Sampai kamu kembali aku jangan kemana-mana, gak boleh keluar rumah, gitu ...,"potong Almira yang mendadak mengecup kecil bibir Royyan.


Sontak bibir yang baru saja mendapatkan sentuhan lembut menyeringai, lalu dia tegakkan tubuhnya seraya menarik kedua tangannya ke belakang. "Oke, yang pinter ya sayang selama gak ada aku,"pungkas Royyan sambil mengacak-acak rambut Almira, seolah Almira adalah gadis kecil berumur lima tahun.


Lantas Royyan berlalu menuju kamar mandi. Sementara Almira mencebik kesal, wanita berambut coklat keemasan itu memutar tubuhnya ke arah balkon sembari dia melipat kedua tangannya di depan. Kesal, geram, tetapi merasa senang bercampur menjadi satu.


"Nyebelin banget sih, emangnya aku anak kecil,"gerutunya mengarahkan paras cantiknya pada sorot baskara yang masih lemah.


...***...


Royyan, Adrian, Ressa dan Miranda tiba di gedung perkantoran milik keluarga Elshara, perusahaan Romz Fashion. Mereka bertandang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, itu dilakukan guna mengelabui para wartawan yang mungkin saja akan menyerbunya dengan ribuan pertanyaan yang memuakkan.


Ditemani oleh Ajun yang merangkap menjadi pengacara untuk permasalah perebutan saham perusahaan tersebut. Keluarga Almira menggunakan Ajun karena merasa kagum dengan pekerjaannya saat menangani kasus Manda beberapa waktu lalu, dan Ajun dengan senang hati menerima tawaran pekerjaan ini.

__ADS_1


Bagi Ajun hal ini merupakan kasus baru yang pernah dia tangani sebelumnya. Ajun harap keluarga Almira akan puas dengan pekerjaannya. Walau sebenarnya dia sendiri merasa cemas dengan kemarahan Elshara. Namun, bukan masalah bagi Ajun, dari dulu lelaki bermata downturned itu memang selalu berada di pihak yang berbeda dengan Elshara.


Semuanya telah berkumpul di ruang meeting perusahaan tersebut, Elshara dan kedua orangtuanya pun telah berada di ruangan putih polos tersebut. Sedangkan Royyan dengan yang lainnya terduduk di depan Elshara dan kedua orangtuanya dengan wajah yang serius.


"Ada apa ini?"tanya Papi Elshara dengan ketegangan di wajahnya melekat begitu pekat, "kenapa Pak Ressa dan Bu Miranda tidak memberitahu kami terlebih dahulu pada kami, Elshara sendiri sampai harus mengundurkan jadwalnya karena pertemuan mendadak ini,"sambungnya dengan senyuman terpaksa.


Royyan membenarkan posisi duduknya sambil dia melirik tajam pada Elshara. "Jika putri anda memang sibuk, silakan untuk pergi, karena dia tidak ikut andil dalam pembahasan ini,"tukas Royyan dingin.


Degh!


Jantung Elshara berdebar begitu cepat, ada rasa sakit yang masih saja mendalam dari diri Elshara. "Enggak papa, saya masih bisa di sini dalam empat jam ke depan,"timpal Elshara.


"Oke kalau gitu, kita lanjutkan pembahasannya, Papi Mami ... Silakan berbicara, karena saya di sini hanya memantau,"papar Royyan kemudian.


Setelah mendengar perkataan Royyan barusan, Ressa segera berdiri dari kursinya sambil menenteng berkas kontrak yang telah kedua perusahaan itu setujui beberapa waktu lalu. Persetujuan itu telah di tandatangani oleh kedua belah pihak dalam keadaan waras ataupun tanpa paksaan.


"Saya akan terus terang saja, saya akan mencabut seluruh saham yang saya miliki di perusahaan anda, hari ini juga dan tidak menerima negosiasi,"tegas Ressa menajamkan tatapannya pada Elshara.


Sontak Elshara yang berada di sisi lain dari kedua orangtuanya terhenyak heran, mengapa Ressa memandanginya seperti mengatakan jika dia mengetahui suatu hal. Jiwa gadis itu nampak ketakutan, tangan yang semula tertidur di atas meja dengan tenang, perlahan luntur ke bawah dan berganti tertidur di atas pahanya sendiri.


Kenapa pak tua itu ngelihatin gue kayak gitu, aneh banget.


Batin Elshara berseru heran.


Sementara kedua orangtuanya masih terpaku diam, keduanya bagaikan terkena sengatan petir saat matahari tengah ganasnya. Kedua orangtua Elshara masih berusaha menelaah bait demi bait perkataan yang keluar dari mulut partner bisnisnya itu.


Ressa turun dan kembali mengendurkan bokongnya untuk terduduk, dia menyerahkan berkas kontrak kerja itu pada Ajun yang sudah mengetahui seluk-beluk perjanjian kontrak pembelian saham perusahaan tersebut.


Kali ini Ajun yang berdiri dari kursinya, lelaki itu tersenyum tipis dan sebisa mungkin dia tak mengalihkan pandangannya dan tidak mempertemukan bola matanya itu dengan Elshara karena dia tak ingin berbicara lewat sorot matanya, itu sangat melelahkan, pikir Ajun demikian.


"Apa anda membaca perjanjian kontrak perpindahan saham ini dengan baik dan benar?"tanya Ajun sopan sambil dia membaca ulang deretan angka dan huruf yang tertera di dalam berkas berwarna putih dengan map hitam.


Cepat-cepat pimpinan perusahaan Romz fashion itu menjawabnya penuh keyakinan. "Tentu saja, kenapa kamu meremehkan saya."


"Ajun jangan lancang lo ya, ini kedua orangtua gue kalau lu lupa,"sembur Elshara sembari mengganyah meja panjang yang dibalut dengan kaca.


Terpaksa Ajun harus menoleh pada Elshara melontarkan senyuman tipisnya, lantas dia mengarahkan perjanjian kontrak perpindahan saham itu pada Elshara. "Matanya masih sehat kan?"tanya Ajun menaikkan kedua alisnya, lalu dia jatuhkan dengan lembut di hadapan Elshara, "baca poin ke 19 dan 27."


Belum habis Ajun menguraikan semua perkataannya, Elshara segera menyambar berkas bermap hitam itu, dia pasati nomor yang sudah terdengar di telinganya dengan jelas.


"Di sana tertera, jika Pak Ressa dan Bu Miranda berhak untuk menarik saham miliknya dengan alasan tertentu, baik pribadi maupun urusan pekerjaan, dan semua itu telah sah di atas materai,"jelas Ajun berusaha membuat Elshara mengerti dengan situasinya.


Dahi gadis bermata pipih itu segera menyipit dan napasnya menderu dengan kasar, dadanya bergemuruh, dia tidak terima dengan apa yang terjadi di depan matanya. Jika seluruh saham milik Ressa di tarik maka perusahaan keluarganya akan dengan mudah ambruk begitu saja, gadis itu tak bisa menyangkal lagi bahwa dirinya telah kehilangan semua uangnya.


"ENGGAK!"pekik Elshara melempar berkas kontrak itu ke hadapan Ajun, dan sorot matanya bukan hanya menajam tapi dia seperti siap untuk memburu siapapun yang membuatnya lemah, tak berdaya seperti ini. "Ini penipuan! Gue akan bawa kasus ini ke pengadilan, kita bertemu di pengadilan lagi AJUN!"tantang Elshara mencengkeram bibir meja hingga hidungnya mengerut.


"Jangan buang-buang waktu dan uangmu El, karena kamu akan kalah,"tegas Ajun merapikan berkas kontrak yang berserakan di dekatnya.


"WHY?! LU TAKUT HAH?"jerit Elshara.

__ADS_1


Sontak mami Elshara berdiri dan mengelus pundak anaknya, berusaha menangkan putri semata wayangnya itu, sembari dia sesekali memasati semua orang yang ada di ruangan tersebut.


"Kontrak ini sudah ditandatangani oleh kedua orangtua lu di atas materai, dan lu gak bisa menyangkalnya, dalam UU Bea meterai apabila ada yang melanggar ketentuan kontrak maka akan mendapatkan sanksi administratif berupa denda 100% dan artinya kedua orangtua lu harus bayar denda sepenuhnya pada Pak Ressa dan Bu Miranda,"terang Ajun yang masih berusaha untuk sabar.


"BERISIK! Lu cuman bacot doang! Perjanjian ini gak sah! Karena Papi Mami gak tahu apapun tentang itu,"sangkal Elshara masih bersi-keras untuk mangkir dari perjanjian yang sudah ditandatangani.


"Tentu saja sah, karena kedua belah pihak telah menyetujui seluruh isi kontrak tanpa ada paksaan dan dalam keadaan waras."


"No!"pekik Elshara lagi menggebrak meja dengan kekuatan yang lebih besar lagi, bola matanya membuncah hingga warna merah menguasai netra pipihnya itu.


"Jika pada awalnya pembuatan perjanjian nyatanya para pihak tidak beritikad baik dan terjadinya ingkar janji maka kasus ini masuk kepada perihal tindak pidana penipuan, lu mau keluarga lu terjerat kasus penipuan?"urai panjang Ajun, lalu dia merangkai wajahnya dengan senyuman tipis.


Elshara terdiam. Hanya dengkusan napasnya yang terdengar kasar, tetapi mulut gadis itu sudah membisu, dia tak mampu melawan perkataan Ajun lagi. Tentunya Ajun sangat mengerti tentang hukum bukan? Karena lelaki itu memang bergelut di dunia hukum.


Mami Elshara segera tarik putrinya untuk kembali terduduk, sedangkan dirinya masih berdiri untuk berusaha menenangkan dirinya dari kehancuran yang sedang berada di depan matanya.


"Tunggu dulu Pak Ressa dan Bu Miranda, mari kita bicara baik-baik, kenapa secara tiba-tiba ingin mencabut semua saham, apa ada yang mengusik anda atau ada hal lain?"tanya Mami Elshara dengan sopan.


Miranda bangkit dari kursinya, merapikan sedikit penampilannya sambil dia menoleh ke arah Royyan berada, lantas lelaki berambut mullet itu lekas mengangguk, memberikan isyarat pada mertuanya itu untuk mengatakan apapun yang dia inginkan, dan Royyan akan selalu berada di pihaknya.


Miranda menarik napasnya panjang dan menoleh pada Elshara seperti yang dilakukan suaminya tadi. Ibu mana yang tidak terbakar emosi jika mengetahui putri semata wayangnya dihantui kematian, terlebih Miranda telah tahu segalanya dari sang menantu jika Elshara satu-satunya orang yang dicurigai sebagai pelaku utamanya.


"Awalnya saya membeli saham perusahaan anda karena permintaan dari menantu saya, Pak Royyan Alzaro, tapi setelah mengetahui jika putri anda telah mengusik pernikahan putri saya, maka dari itu saya ingin menciptakan jarak antara anak saya dengan putri anda,"jelas Miranda menggebu-gebu, hanya saja wanita itu masih mampu menahan emosinya.


"Hah?!"seru Mami Elshara sambil dia menoleh pada putrinya yang kini tertunduk tak bisa menyangkalnya, "itu urusan pribadi, tidak bisa disangkut pautkan dengan bisnis."


"Ini keputusan kami dan tidak ada yang bisa diganggu gugat, lebih baik anda siapkan dana untuk mengembalikan semua uang milik mertua saya,"timpal Royyan yang kemudian berdiri dari kursinya.


Degh!


Bagaikan menelan petir hidup-hidup. Tubuh kedua orangtua Elshara, begitupun dengan gadis bermata pipih itu tampak membeku, bahkan uraian helaan napasnya terdengar amat berat. Kali ini mereka yang selalu bermain dalam gelap benar-benar mendekap kelam itu dengan utuh dan tak ada yang bisa mereka lakukan selain menerimanya.


Keputusan Ressa dan Miranda sudah benar-benar matang, tekadnya membulat dengan utuh. Tak ada satu orang pun atau instansi mana pun yang bisa mencegah keputusan Ressa dan Miranda.


"Kami berikan pilihan,"celetuk Ressa saat kedua orangtua Elshara masih mematung terpekur di kursinya.


Lantas partner kerjanya itu lekas menoleh bersamaan dengan Elshara yang mencengkeram rok mini yang sedang dia kenakan.


"Anda membayar saham kami dengan utuh beserta bunga yang sudah tertoreh atau menjual perusahaan anda kepada kami,"lanjut Ressa dengan tegas.


Seketika Bola mata partner kerjanya itu membuncah, kedua orang itu segera mendorong kursi yang sedang dia duduki terpental ke belakang, kedua tangannya mencengkeram bibir meja dengan begar.


"Anda jangan meremehkan saya!"pekik Papi Elshara dengan tatapannya yang tajam.


Ressa mengereseng sambil dia menggelengkan kepalanya kecil, kemudian netranya yang sempat terjatuh tadi segera mendongak dan mematri tatapan lelaki atletis di depannya. "Anda tetap akan bekerja di perusahaan ini dengan posisi bukan sebagai pimpinan, melainkan sebagai pegawai, jika memang anda keberatan, maka pilih opsi pertama yakni ... Kembalikan semua dana dan bunga milik perusahaan saya, adil bukan?!"cakap Ressa.


Dalam hitungan detik suasana ruangan meeting itu kembali senyap, tak ada suara ataupun embusan angin yang bertandang ke tengah-tengah mereka, hanya sunyi yang semakin berkembang dan tak ada siapapun yang berani untuk memecah kebisuan atmosfer di sana.


NEXT ....

__ADS_1


__ADS_2