Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 66 : Malam setengah panas 2.


__ADS_3

Almira tak lagi mengoceh seperti saat Royyan mengarungi kakinya yang membaca setiap deretan keramik-keramik putih itu keluar dari kamar mandi. Dia tercodak saat melihat si kaki panjang mencium kakinya yang sudah pucat pasi.


"Aku kan cuman mau membuktikan,"ucap Royyan saat dia sudah berada di hadapan sang istri yang masih menggigil dengan irama sedu tangisannya, sembari dia menggantungkan handuk kimono itu di pundak Almira.


"E-emang, ka-kalau kamu c*um aku kayak gitu, i-itu tandanya-"sedu Almira sambil dia mencengkeram handuk yang menyelimuti tubuhnya.


Royyan mencondongkan tubuhnya ke depan, mempertemukan mata kecilnya dengan mata kucing wanita di hadapannya, tak lama dia segera menyeringai, merangkai wajah tampannya dengan senyuman manis beraroma hangat, pun dia membuai wajah Almira sekali lagi dengan kelembutan yang menajam.


"Mungkin tidak semua pria seperti itu, tapi ... mencumbu wanita yang dicintai jauh lebih nikmat,"katanya menggesekkan hidungnya dengan hidung Almira.


"Tahu ah!"wanita mungil itu memalingkan wajahnya yang mulai memerah karena tersipu, "kamu jahat, aku yang cemburu dan marah, harusnya aku yang hukum kamu,"sambungnya jemu.


"Aku juga cemburu,"celetuknya membuat Almira kembali menarik wajahnya mematri tatapan Royyan yang kini sudah berdiri tegak.


"Bohong!"tukas Almira.


"C*uman itu adalah sebuah bukti kalau aku cemburu, kamu masih mempertanyakannya?"kernyit Royyan.


Almira condong ke bawah memasati kaki Royyan yang sudah pucat pasi, dan dia tak berbicara. Dia tak bisa mengatakan apapun lagi, hatinya sudah tak lagi merasa tercengkeram seperti tadi. Semuanya sudah berubah dengan aroma mawar yang bermekaran di pagi hari, sepertinya kain sutra sedang menyelimutinya sehingga terasa hangat.


Melihat sang istri tidak mengatakan apapun, lekas dia melangkah dan memaut tubuh setengah kering itu karam dalam kehangatannya bahkan dia sedikit membungkuk untuk menyeimbangkan tinggi badannya dengan wanita cantik itu.


"Kamu dengar,"lirih Royyan merekatkan pelukannya, kedua tangan yang melingkari tubuh Almira mengerat.


"Apa?"tanya Almira bingung, dengar apa? Sedangkan yang terdengar oleh telinganya hanya suara angin dan detak jantung yang berdebar sangat cepat.


"Detak jantung."


Degh!


Bola mata kucing itu melebar dengan penuh, tetapi dia tak bisa menangkis Royyan karena dia tengah menggenggam handuk yang menggantung padanya.


Apakah Royyan mencoba berbicara jika detak jantung Almira yang begitu menggebu-gebu ataukah membicarakan hatinya yang mulai berterus-terang tentang perasaan yang selalu mengendap dalam bait-bait cintanya.


"Jantungku selalu berdebar-debar setiap aku di dekatmu, sampai kadang aku kelelahan untuk menghentikannya, membuat tubuhku lemas. Dan kamu tahu, kapan jantung ini berhenti berdebar-debar,"ungkap Royyan sambil dia menjalankan satu tangannya ke bawah menyelinap masuk ke dalam handuk.


"Kapan?"


"Saat aku tidak melihat kamu dan juga tidak mendengar suara kamu."


Mendengar hal itu hati Almira mendadak terasa berkembang dan bermekaran, tetapi ... pertanyaan tentang kebenaran itu masih saja merambati batinnya yang tidak mudah percaya dengan perkataan dari suaminya, setelah melihat kedekatan Royyan dan Elshara kepercayaan Almira kembali berlengkesa. Setipis sebuah tisu yang akan rapuh jika bertemu dengah air, walau hanya setitik embun, ia akan hancur begitu saja.


"Sebelumnya aku udah bilang kan, jika kamu melihat aku dekat dengan El, percayalah kalau aku tetap mencintai kamu, aku melakukan itu semua karena rasa sebuah pertemanan,"lanjut Royyan menekan tubuh Almira semakin lekat dengannya, seraya dia melingsirkan ritsleting gaun Almira sampai habis.


"Di era sekarang banyak sekali lelaki yang berkhianat pada pasangannya, walau itu adalah seorang teman, tetap saja. Terlebih cewek itu emang suka sama kamu, bagaimana aku gak cemburu, apa aku gak berhak untuk cemburu? Karena aku bukan istri kamu seutuhnya,"papar Almira sendu.


Gaun yang membaluti tubuh Almira, tiba-tiba terjatuh, terlepas dari tubuh mungil wanita itu dan Almira tidak menyadarinya jika sang suami telah melucuti pakaiannya karena dia sibuk berceloteh dan nyaman dengan pelukan Royyan yang perlahan menyebarkan kehangatan yang semakin membara.


"Terlepas kita yang belum pernah melakukannya, kamu tetap istri aku,"ucap Royyan yang kemudian melepaskan dekapannya, dia berdiri dengan tegak seraya medekap kedua bahu Almira dengan kedua telapak tangannya yang lebar, "sekarang kamu pakai handuknya, dan ganti pakaian, aku udah siapkan bajunya di atas kasur, aku harus keluar dulu sebentar,"sambungnya sambil dia berputar dan melangkah keluar dari kamar mandi, tak lupa dia kunci pintu kamar mandi itu dengan rapat.


Mata kucing itu tak lepas dari punggung telanjang sang suami yang gagah, bukan hanya lebar tetapi juga kekar. Dia belum juga sadar jika tubuhnya sudah tak memiliki sehelai kain apapun selain handuk kimono yang dia genggam dan tak dia tali.


"Kak Royyan beneran gila! Gue cemburu gitu aja gue di guyur sambil di c*um ganas kayak gitu, kalau lebih gimana ya?"celotehnya pada dinding-dinding kamar mandi yang memantulkan suaranya dengan kuat.


Perlahan dia pakai handuk kimono itu dan menalikannya dengan rekat, lalu dia menyeka wajahnya dengan lembut, menyingkirkan bercak-bercak air yang menempel di wajahnya, lalu dia melangkah ke depan dan saat itulah dia menyadari jika tubuhnya terasa lebih ringan tidak seperti tadi saat dia mengenakan gaun dengan ekor yang panjang.


Dengan lamban dia menoleh bahkan memutar tubuhnya kembali melesat ke bawah shower dan mendapati gaunnya sudah terbujur di lantai bersama keramik-keramik basah, dia terbelangah, membuka mulutnya dan juga bola matanya, kemudian dia menutupinya dengan kedua telapak tangannya yang mungil.


"Wait ... wait ... kapan gue buka baju."Almira meraba tubuhnya, tak lama dia jatuhkan pandangannya pada tubuhnya yang sudah terbalut handuk kimono dengan baik, tak lupa bola matanya mendelik kesana-kemari merobek ingatannya beberapa menit yang lalu, "apa kak Royyan yang ..."sambungnya tak bisa menyelesaikan perkataannya, "aaaaah ...."seketika dia menjerit sekencang mungkin, wajahnya berkerut malu dan segera dia tutupi wajahnya.

__ADS_1


Setelah dia yakin jika Royyan yang melakukannya, lekas dia kayuh langkahnya keluar dari kamar mandi, matanya menyisir setiap sudut kamarnya, dan beruntungnya Royyan benar-benar pergi, sepertinya Royyan keluar begitu saja dalam keadaan kuyup tanpa sehelai baju, dia hanya mengenakan celana panjangnya yang sama kuyupnya.


"Yang gue maksud istri sesungguhnya itu, biar kak Royyan menjauh dari tuh cewek, karena gue yakin cewek itu gak akan pernah jera untuk deketin kak Royyan, tapi ... apa yang ada di otak kak Royyan, apa? Apa? Apa weeeeh ...."Almira kembali menggerutu, mencengkeram lembut kepalanya dengan bola mata yang membulat.


Fokusnya beralih pada piyama dan juga pakaian sensitifnya yang ada di atas kasur, lekas dia pakai baju itu, tanpa memikirkan apapun lagi. Selesai mengenakannya dia lempar handuknya dengan sembarangan sampai ia menggantung di sofa yang ada di dekatnya, sedangkan dia melempar tubuhnya ke atas kasur dalam keadaan rambut masih setengah kering, dia tenggelam ke dalam selimut itu dan dia berusaha memejamkan matanya.


Sementara itu di luar, di tepi pantai dekat resort miliknya Royyan yang sudah mengganti pakaiannya dengan celana panjang dan kaos polos berwarna gelap itu terduduk di pasir kering seraya meneguk minuman perisa buah dingin dalam kemasan kaleng, bukan hanya itu, tetapi minuman teh berbagai macam merek dan juga makanan ringan tergolek di sampingnya.


Dia memandangi laut yang berhembus pelan, sepertinya sebagian ombaknya tengah tertidur sehingga laut terasa lebih tenang dari biasanya, langit hitam yang tak bersama bintangnya pun ikut meredup, pria kekar itu terduduk dengan lutut terangkat dan dia gantungkan kedua sikutnya di atas lutut.


"Kenapa nih? Tumben lu ngajak ketemu tengah malam, untung gue udah balik dari Jakarta,"seru Ajun yang baru saja tiba dan segera duduk di samping Royyan.


"Lu dari mana? Beberapa hari ini gak ngerecokin gue,"jawab Royyan yang tidak melepaskan tautannya pada laut.


"Biasalah, gue harus ke Jakarta untuk menyelesaikan kasus klien,"sahut Ajun seraya dia menyomot minuman perisa buah milik Royyan dan dia meneguknya.


"Lu gak mau kenalan sama cewek?"tanya Royyan tiba-tiba saja.


Degh!


Jantung Ajun terasa berdebar mendengar pertanyaan yang tak biasanya keluar dari mulut sahabatnya ini, dia menoleh dengan tatapan penuh tanya, apa yang terjadi dengannya sampai dia bisa bertanya hal itu.


"Kenapa lu nanya-nanya hal itu? Tumben banget lu."


"Gue takutnya elu ada kelainan,"lontar Royyan tak melepaskan tatapannya pada sang ombak tipis.


"Woanjirr! Mulut lu ya sembarangan, normal gue.


Cuman gue belum menemukan yang pas aja,"sanggah Ajun seraya dia mendorong Royyan tak setuju dengan dugaan sahabatnya itu.


"Manda gimana?"imbuh Royyan.


Royyan mengangguk yang kemudian meremas botol kosong yang sudah dia telan seluruh isinya, lalu dia beranjak ke makanan ringai yang terbuat dari kentang dengan rasa pedas manis dan juga gurih.


"Dia deket sama Van, top model itu."


"Baru deket doang."


"Sama aja lah, gue gak mau jadi pebinor."


"Apaan tuh?"Royyan menoleh, menatapi Ajun dengan serius.


"Perebut bini orang,"gelak Ajun setelah dia meneguk tetesan terakhir dari minuman perisa itu.


Seketika Royyan terkekeh-kekeh dengan jawaban Ajun, dia ambil beberapa potong makanan ringan itu dan melahapnya lalu dia kunyah sampai lunak di mulutnya, baru dia telan sampai menyisakan bumbu-bumbunya yang menempel dengan lidahnya.


"Lu kan jomblo mulu nih,"urai Royyan.


"Ya lu juga sama, lu gak pernah deketin cewek ataupun pacaran, tapi udah nikah,"sahut Ajun yang mulai merasa aneh dengan semua pertanyaan Royyan.


"Gue sangat mencintai Ami, tadi lihat dia marah karena cemburu gue deket sama El, membuat gue takut,"ujar Royyan merundukkan wajahnya.


Ajun tertegun, dia membalik tubuhnya yang menghadap laut menjadi mengarah pada Royyan, lebih tepatnya sih dia ingin menyantap makanan ringan milik Royyan lebih leluasa. Dari dulu Ajun tak pernah berubah, padahal tubuhnya sangat bagus, tak gendut ataupun tak terlalu kecil, tetapi makannya selalu banyak, baginya asal bisa membeli makanan yang banyak maka hidupnya masih baik-baik aja.


"Kenapa lu masih ngasih kesempatan sama El, cewek itu emang penuh ambisi, tapi itu tidak akan pernah terjadi kalau lu menghentikannya."


"Maksud lu?"Royyan menoleh, dahinya mengernyit menanti jawaban dari Ajun.


"Lakukan seperti saat di SMA, kalau Dirta nyerang lu karena El ngadu, lu cuman perlu jawab kalau lu mau menjaga hati istri lu."

__ADS_1


"Apakah Dirta akan menerima?"tanya Royyan tak percaya dengan alasan yang di berikan Ajun akan berhasil menghentikan Dirta.


"Ya gak tahu, gue kan cuman ngasal aja."Ajun berkelit.


Saat itu juga wajah Royyan mengerut, lalu dia dorong tubuh Ajun sampai terhenyak ke belakang dengan gertakkan gigi yang menguat, Ajun melepaskan tawanya menggema menderu bersama angin-angin yang berkelana di sekitarnya.


"Gak usah ngomong lu."


Ajun masih terkekeh, "jalani hidup lu sesuai kemauan lu aja, gak usah pedulikan El ataupun Dirta, gue sih yakin kalau Dirta akan berhenti karena tujuan dia ganggu elu karena El gak ada, kalau El ada mungkin dia akan fokus dengan El,"imbuh Ajun dengan yakin.


Royyan menarik udara di sekitarnya masuk ke dalam dirinya lalu dia hembuskan lagi keluar, dia menyugar wajahnya sampai menyeka rambutnya ke belakang dan dia tertunduk, tak lama kemudian dia menegakkan wajahnya lagi.


"Gua mau nanya hal sensitif,"cetus Royyan penuh tekad.


"Nanya apaan?"sahut Ajun sibuk mengunyah makanan ringan milik Royyan.


Mendengar mulut Ajun yang mengunyah, lekas Royyan tolehkan wajahnya menatapi sang sahabat dengan dalam dan tatapan tajamnya menegas lalu dia menggelengkan kepalanya, tetapi dia mengabaikannya, membiarkan makanan ringannya dilahap oleh Ajun.


"Gua gak tahu apapun aktifitas apa aja yang dilakukan suami-istri, lu tahu gak?"


"Hah?! Aktifitas suami-istri? Ya apalagi lah, menjalankan rumahtangga bersama, menjalin kasih sayang dan cinta, saling mengerti dan mudah memaafkan jika kesalahan itu masih wajar dan yang paling penting ya berhubungan intim untuk mendekatkan satu sama lain dan membuat cinta itu semakin kuat,"beber panjang Ajun yang masih sibuk mengunyah makanan ringan yang terbuat dari kentang itu.


"Yang terakhir gue gak tahu."


"Terakhir? Apaan?"


"Berhubungan intim,"pungkas Royyan menghela napasnya.


"Oh itu ..."serunya belum menyadari.


Beberapa menit kemudian Ajun terkesiap hingga dia tercodak dan menghentikan aktifitasnya menyuapi makanan, dia tidak bisa mempercayai jika sahabatnya yang memiliki tubuh kekar proporsional dan sifat dingin yang keren itu, tidak tahu caranya menikmati malam panas bersama istrinya sendiri.


Tiba-tiba saja Ajun melepas tawanya melambung tinggi menembus langit yang hitam dan angin yang mulai menusuk, dia dorong sahabatnya dengan pelan karena tawanya sudah tak bisa dia kendalilkan. Sungguh dia tidak mempercayai pria di hadapannya ini ternyata sangat payah.


"Bohong lu ya?"ujarnya kemudian.


"Hah ...."Royyan menghela napasnya, "udah gue duga lu pasti bakalan ketawa,"sambungnya kemudian, lantas dia mendengkus tersenyum tipis.


"Seriusan?"tanya Ajun mengernyit tak percaya.


"Iya!"tegas Royyan menoleh pada Ajun seraya dia menaikkan kedua alisnya ke atas.


Ajun semakin terhenyak, bola matanya berputar tak menentu, lalu dia garuk kepalanya yang tak gatal sembari dia mengernyih dan menggelengkan kepalanya, masih enggan untuk mempercayainya.


"Jomblo sih jomblo, tapi ya gak parah kayak gini Yan, elu gak pernah lihat film dewasa apa?"


"Ngapain? Gak ada waktu,"tepis Royyan menjulurkan kakinya ke depan seraya dia menghenyakkan tubuh dan menjadikan kedua telapak tangannya tumpuan tubuhnya.


"Nah ini, yang kayak gini tuh gak bisa di contohkan, elu harus belajar sendiri, caranya ya elu tonton konten dewasa."


"Dimana?"Royyan menoleh menarik alisnya ke atas menunggu jawaban Ajun.


"Hmm ... nanti gue cari situsnya, eh tapi elu jangan ketagihan nonton begituan, dosa!"


"Lu tahu dosa?"tanya Royyan merangkai wajahnya dengan senyuman meremehkan.


"B*ngs*t! Ya tahu lah gila, parah lu sama temen sendiri."


Lagi-lagi Royyan terkekeh-kekeh. Berakhirlah keduanya saling bersahut-sahutan tawanya, kemudian keduanya merelakan tubuhnya menyentuh pasir-pasir kering yang ada di sana, karena mereka memilih untuk terbaring menatap langit bersama-sama, tak lama mata Royyan terpejam yang kemudian di ikuti oleh Ajun, membiarkan gerombolan angin menerobos masuk ke dalam pori-pori.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2