Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 127 : Dirta atau Elshara?


__ADS_3

"Aku diselamatkan sama Dirta, kebetulan dia ada di sekitar sana, katanya habis dari restoran cabang keluarganya yang baru buka di daerah deket butik aku." Kebenaran yang selama ini dia simpan sendiri akhirnya terburai di hadapan Royyan.


Dalam sekejap, bola mata milik Royyan mengerang geram bersamaan dengan alis yang saling tertaut dengan kokoh. Pria kekar itu lekas bergerak sembari menarik istrinya untuk berdiri bersamanya.


Langkahnya masih bergulir keluar dari kamar mandi tanpa mengucapkan apapun lagi, membuat Almira menggigit bibir bawahnya, khawatir jika Royyan akan melakukan sesuatu hal pada Dirta. Gegas wanita berparas lembut itu mengayuh langkahnya mengejar sang suami yang kini sudah berada di depan sofa sambil menggenggam ponselnya.


"Kak ... Kamu gak akan melakukan hal aneh-aneh kan sama Dirta,"tanya Almira khawatir akan terjadi pertengkaran hebat lagi antara Dirta dan Royyan. "Dirta bener-bener menyelamatkan aku, saat itu pula dia sempat bingung kenapa motor itu mengarah padaku, setelah itu dia sempat mengantarkan ku pulang,"lanjut Almira membelai salah satu lengah kekar sang suami.


Mendengar penjelasan sang istri, netra Royyan semakin tak karuan. Dia putar tubuhnya untuk mengarah pada Almira, sorot matanya melesat tajam pada bola mata kecoklatan milik sang istri, dahinya semakin mengerut saja.


"Kamu di antar pulang?! Kenapa kamu lancang menerima tawaran orang lain untuk membawamu, aku sudah kasih tahu kamu kan, kalau ada apa-apa kasih tahu aku, tapi lihat sekarang,"sentak Royyan bergerak ke arah lain untuk menjauh dari Almira.


Wanita berparas cantik itu lantas membiaskan warna merah ketakutan dan wajahnya tertunduk lemah, tatapannya meringkuk dalam ketakutan dan bibir bergetar tak mampu melawan perkataan Royyan lagi, jauh dalam lumbung batinnya memang apa yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan, tetapi gadis berambut ikal di bagian ujungnya itu hanya ingin Royyan memiliki hubungan baik dengan temannya.


"Aku menerima tawaran Dirta karena aku pikir pulang dengannya akan aman dan motor yang menjadi misteri itu tak mengejar aku lagi,"terang Almira hati-hati.


Namun, hanya embusan napas kasar yang diterima wanita cantik itu, wajahnya semakin merunduk ke bawah dan pejaman matanya pun ikut menguat, kedua tangan yang meringkuk di bawah semakin mencengkeram alat tes kehamilan yang masih dia genggam dengan kuat.


"Dia adalah satu-satunya orang yang telah menawan persembunyian atas pernikahan kita, kamu lupa,"ucap Royyan bergerak untuk mendekati istrinya. "Selama tiga tahun aku dikekang oleh teror-teror bodohnya, dan pernikahan kita harus tersembunyi selama kurang lebih dua tahun, dan kamu dengan mudah percaya dengan dia?! Ami ..."lanjut Royyan dengan nada suara yang melemah.


Royyan mengapit dagu sang istri dan menariknya ke atas, membuat netra mereka saling bertemu dan terpatri dalam waktu yang lama, secara spontan netra Almira membuka secara perlahan bersamaan dengan ludahnya yang tertelan dengan kasar.


"Motor dan orang itu adalah orang yang sama dengan orang yang ingin melenyapkanku,"tegasnya melepaskan dagu sang istri.


Seketika Almira membuntang hebat, bahunya yang lemah tiba-tiba saja menjadi tegang, dia tak pernah terpikirkan jauh ke sana. "Jadi ... Motor itu orang yang sama?"tanya Almira memastikan.


"Iya."tegas Royyan melempar tatapannya secara kasar keluar jendela. Dia selukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sembari menegapkan dada bidangnya, "Dirta adalah orang yang berambisi, jiwanya kuat, apapun yang menjadi keinginannya dia selalu berusaha untuk mendapatkannya, tak menutup kemungkinan dia akan melakukan hal yang sama,"sambung Royyan kembali mengarah pada sang istri.


Tatapan sendu berhamburan ke sekitarnya, menyalin kebodohan yang menurutnya sangat menjengkelkan. Almira hanya takut pertengkeran terus terjadi dikehidupan sang suami, tetapi ternyata semua yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan di mata pria dengan rahang tegas itu.


"Kemana kamu bawa Dirta? Apa ke rumah ini?"tanya Royyan dengan tautan alis yang semakin mengeras.


"Euum ... Ke rumah mami papi."


"Bagus. Jangan pernah bawa dia ke rumah ini,"pungkas Royyan.


Royyan menghampiri istrinya, lalu memeluknya dengan penuh kehangatan. Tubuh kekarnya melahap tubuh lemah gadis itu hingga penuh, paras tampannya menyelinap masuk ke dalam ribuan helai rambut sang istri.


"Jangan lakukan lagi, aku takut terjadi hal buruk dengan mu, apapun itu kamu harus jujur,"pinta Royyan bernada lembut.


Almira mendongak dan tenggelam di leher suaminya dan membalas pelukan lelaki itu. "Maaf ... Aku gak akan mengulanginya lagi, tapi kamu jangan marah, aku takut ...." Suara gadis itu lirih, ada sebuah ketakutan yang tak bisa dia jelaskan.


"Euum ..."gumam Royyan mengangguk. "Kenapa kamu menyembunyikan hal ini dariku?"


"Aku takut kamu dan Dirta kembali bersitegang."

__ADS_1


Bibir kecil milik Royyan menaik, dia tersenyum miring lalu menegakkan postur tubuhnya dengan masih memeluk tubuh istrinya yang tengah menunduk. "Kamu tenang aja ... Aku bisa mengendalikan diriku."


...***...


Sebuah bangunan tua di tengah hutan rindang, aroma mencekam berhamburan ke segala arah. Warna hitam dengan cepat menyelimuti area tersebut. Ia menjelma menjadi kelam yang menakutkan. Rembulan yang tengah membulat di atas gegas mengendurkan cahayanya dilahap oleh awan hitam yang berkumpul di sekitarnya.


Dua buah motor besar, dan salah satunya adalah sosok pria bermotor yang selama ini menjadi bayang-bayang malapetaka bagi Royyan dan kini Almira. Kedua pria itu tanpa segan masuk ke dalam bangunan tua dengan pencahayaan samar-samar dari lampu yang dipaksa untuk menyala.


Baru saja lima menit kedua pria berbadan besar itu tenggelam ke dalam bangunan tua itu, sebuah mobil berwarna silver bertandang tepat di hadapan kedua motor tersebut. Pria berambut wavy bergelombang turun dari mobil itu dengan gagahnya, tak ada keraguan di dalam dirinya.


Langkahnya berayun ke dalam bangunan tua itu sambil membetulkan pakaiannya, kini pria itu tengah mengenakan stelan jas lengkap dengan dasinya, karena sebelumnya dia baru saja menemui klien besar yang ingin menyantap makanan hasil dari kedua tangannya.


"Pak Dirta,"seru salah satu pria berbadan besar itu.


"Duduk pak,"tawar lelaki berbadan besar yang lain sambil dia menyeret sebuh kursi ke dekat Dirta.


Lantas Dirta mengendurkan bokongnya dan terduduk di kursi yang telah disediakan kedua pria tersebut. Lelaki itu masih merapikan pakaiannya. "Mari bicara,"pungkas Dirta dengan sorot mata yang serius.


"Baik pak." Anggukan tegas dari kedua pria itu menyembul di hadapan Dirta.


Tak lama dari itu suatu bayangan wanita cantik mengendap masuk ke dalam bangunan tua itu, samar-samar ia menyelinap dalam bayang-bayang lampu yang sepertinya sudah sangat ingin menutup matanya.


"Udah gue duga, lu pasti ke sini,"seru seorang wanita berparas cantik dan memiliki lekukan tubuh yang indah, tiba-tiba saja muncul dari balik pintu keluar gedung tua itu.


...***...


Sedang Adrian baru saja tiba di ruangan berkedap-suara yang kuat. Tak ada celah untuk angin atau bahkan debu-debu yang berserakan di udara untuk mengendap masuk ke dalamnya, Adrian tutup pintu kaca ruangan sang bos, di tangannya dia menenteng sebuah tablet yang biasa dia gunakan untuk berbagai macam aktifitasnya.


"Ada info pak,"ucap Adrian setibanya dia di ruangan Royyan.


"Katakan cepat,"titah Royyan kembali fokus dengan pekerjaannya.


Adrian menarik langkahnya lebih dekat dengan Royyan. "Mengenai motor dan pria berbadan besar yang mengganggu nona, dia adalah mantan napi, sebetulnya dia beroperasi dengan dua temannya,"jelas Adrian yang belum tuntas.


Namun, Royyan sudah memangkas penjelasan Adrian lebih dulu, pria berambut mullet itu mendekati Adrian dengan sorot matanya yang meruncing. "Napi? Kejahatan apa yang dilakukannya?"potong Royyan.


"Mereka pernah merampok bank, tetapi tertangkap, lalu keluar dan menjadi pembunuh bayaran, mereka pernah melakukan tindak kriminal tabrak lari dan tertangkap, tetapi berhubung korban tidak meninggal maka hukuman mereka tidak berat,"sambung Adrian menjelaskan kedua pria misterius itu dengan terperinci.


"Berapa hukuman penjaranya?"tanya Royyan penasaran, kedua tangannya mencangkung di pinggangnya.


"Terakhir mereka dihukum selama 8 tahun penjara, tetapi mereka kabur dan kini menjadi buronan dan motor yang digunakan adalah milik salah satu keluarganya, orang-orang kita telah menyelidikinya dengan serius, pak ..."


Royyan bergeming. Penjelasan Adrian sudah sangat menjelaskan jika kedua pria itu dibayar oleh seseorang untuk melenyapkannya atau menghabisi istrinya yang kini tengah mengandung. Raut wajahnya mengeras dengan kemerahan yang matang.


Kaki panjang lelaki itu terus bergulir ke arah yang tak menentu dengan bahu yang menegak, bahkan kedua tangannya terlipat di depan. "Bagaimana dengan Dirta dan Elshara, dimana keberadaan mereka?"tanya Royyan lagi memastikan jika pelakunya adalah salah satu dari kedua temannya itu atau bahkan keduanya melakukan hal yang sama diwaktu bersamaan.

__ADS_1


Adrian kembali memeriksa tabletnya, di sana tertera lokasi mana saja yang dihampiri Elshara dan Dirta selama beberapa waktu yang lalu sampai di hari ini. Setelah mengingat semua tempat yang tercantum di dalam benda pintar itu, Adrian gegas tegakkan bahunya dan mulai bergerak untuk mendekat dengan Royyan.


"Pak Dirta memang benar sedang mengurus restoran baru di dekat butik nona, dan manager restoran itu adalah mantan staff kita yang mengundurkan diri karena jarak rumahnya yang terlalu jauh, tidak ada tempat lain yang Pak Dirta kunjungi selain restoran baru, restoran di Tangerang, tempat gym, lapang golf, dan tentunya supermarket besar di pusat kota."beber Adrian panjang, lelaki itu benar-benar mengingat bait-bait lokasi yang dikunjungi oleh Dirta.


Selama Adrian menjelaskan, Royyan hanya mengangguk paham dengan apa yang dijelaskan oleh sekretaris pribadinya itu, tetapi di antara lekukan anggukkan, ada sebuah senyuman miring yang amat tipis dari lelaki bermata kecoklatan itu.


Jika dia, gue tinggal tarik satu tuas maka semuanya akan hancur, kerja bagus.


Bingkai batin Royyan merangkai sebuah kepuasan atas rencana yang selama ini dia rancang, tanpa diketahui oleh siapapun, termasuk Adrian yang selalu menjadi batu tumpuan Royyan untuk melakukan segala hal.


"Bagaimana dengan Elshara?"tanya Royyan lagi memudarkan ketegangan wajahnya yang sempat mengerang.


"Nona Rala sedang fokus bekerja di agensi karena agensi itu hanya memiliki nona Rala untuk menebus semua kerugian yang harus dibayar oleh pimpinan agensi itu, waktunya habis untuk pemotretan dan pertemuan klien di berbagai macam restoran. Tapi ada satu hal yang janggal dari kedua orang ini pak."


Royyan menoleh, kerlingan matanya menajam dengan kuat. "Apa itu." Sungguh Royyan sangat ingin mengetahui, kejanggalan apa yang sedang di bicarakan oleh Adrian.


"Di hari yang sama bahkan diwaktu yang sama, mereka keluar rumah dan orang kami kehilangan jejak keduanya di waktu yang bersamaan,"pungkas Adrian.


Degh!


Kata-kata Adrian membangunkan praduga yang lebih mengental dalam jiwa Royyan.


Apakah ada yang terjadi dengan Dirta dan Elshara?


Apa mereka melakukan kerjasama untuk menghantui bahkan menawan kehidupan Royyan dan Almira lagi?


Atau, apakah salah satu dari mereka, dan salah satu dari mereka memilih diam untuk melindungi satu sama lain.


Deretan pertanyaan mengendap dalam pikiran Royyan, semuanya masih menjadi misteri, tak ada yang mengetahui siapa dalang dibalik semua ini, praduga itu terus menggerogoti pikiran Royyan yang sangat membuncah.


"Pantau terus, jangan sampai lengah, kalau bisa selundupkan orang-orang kita masuk ke dalam rencana mereka,"titah Royyan dengan tegas.


"Baik pak." Adrian mengangguk sembari menurunkan tablet yang semula di atas tertadah di atas telapak tangannya.


Adrian beranjak dari ruangan Royyan keluar menuju ke ruangannya, lantas lelaki itu kembali fokus dengan pekerjaannya, meninggalkan Royyan yang masih membeku di depan jendela bening yang menghamparkan pemandangan luar dengan sangat indah.


Pesona hijau di luar sana memberikan kesan yang menenangkan, pria bertubuh kekar itu lekas menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar. Sorot matanya terlempar jauh pada hamparan awan-awan kumulus yang berkumpul bersama cakrawala yang menyala dengan kuat.


...***...


'Satu jam lagi, siap-siap! Lo akan segera menemui neraka lo sendiri'


Deretan kata di dalam kertas berwarna kekuningan mendarat di depan butik Almira. Sara yang baru saja tiba di butik tak sengaja membuka dan membaca isi surat itu, bahkan dalam kertas itu ada noda merah yang berasal dari darah, warna anyir dari darah itu sungguh melekap Sara sehingga melemparkan tubuhnya ke belakang dan tak sengaja dia lempar kertas itu ke bawah.


"Apa itu?"ucap Sara bergetar, bukan hanya tubuhnya yang bergetar ngeri, tetapi suaranya pun sedikit menggigil.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2