
Ajun berhasil membuat Elshara mencebik kesal, kaki rampingnya mencecah pasir-pasir di sana dengan tangguhnya. Lantas dia mengejar Ajun, dia belum puas untuk mengganggu Ajun sampai sahabatnya yang hanya memperhatikan makanan itu buka mulut dan semua rahasia yang selalu dia simpan di bendungan batinnya termuntahkan.
Elshara sangat yakin jika Ajun mengetahui banyak hal tentang Royyan, hanya saja Ajun adalah orang yang menjunjung tinggi perdamaian dan dia memilih untuk mengalir bak air yang dimana pun ia berada akan mengikuti bagaimana bentuk wadahnya. Van yang berada di dekat Manda segera berpamitan untuk mengembalikan pelampungnya.
Tidak dengan Manda dan Almira yang masih betah menongkrong di hadapan laut saat ombak sedang tertidur hanya anak-anaknya saja yang berkeliaran dan tidak mengenal lelah untuk menyeret air ke daratan menemui ratusan bahkan jutaan pasir yang tertidur di samping lautan. Deru angin tersibak dengan ganas, tetapi beruntungnya matahari yang terik tadi nampak sudah sedikit meredup.
"Gue gak percaya elu tenggelam, kalau cuman jatuh gitu doang sih gue yakin lu langsung bisa naik ke atas lagi, apa yang lu lakuin di dalam lautan sama dia, ekhem ...."deham Manda memandangi sang sahabat dengan tatapan mengintimidasi.
Bukannya menjawab, Almira malah menyembulkan warna merah muda yang membara, sehingga dia tertunduk seraya meraba pipinya yang memerah dan terasa meranum karena tersipu. Dia sebenarnya tidak tahu apa rencana dari Royyan, dia hanya menuruti apa yang di katakan suaminya untuk pura-pura tenggelam agar Elshara mempercayai alasan yang terlontar dari mulut Ajun.
Dia kembali malu ketika ingatannya tenggelam pada apa yang telah terjadi di dalam lautan tadi, sentuhan demi sentuhan dan rasa manis yang menyelapi gairahnya, jika bukan di dalam air Royyan akan menunjukkan permainan yang lebih dalam lagi dari itu. Untuk urusan bermain yang saling menyalurkan gairah panas, Royyan sangatlah mahir melakukannya. Hanya saja dia belum mengetahui bagaimana melakukan lebih dari itu sampai menyatukan keduanya dalam satu keutuhan gairah yang membara.
"Heh!"dorong Manda pelan, dia mengerut dan menyangka jika sahabatnya sudah di rasuki jin penghuni lautan, "gila lo, di tanya malah senyum-senyum sendiri,"tambah Manda belum menyadari apa yang terjadi pada Almira.
Namun, tak perlu waktu yang lama, tiba-tiba saja kerlingan matanya berbinar-binar dengan wajah yang terbelangah, angannya mengukir banyak sekali bait-bait kemungkinan yang Almira dan Royyan lakukan dalam waktu lima menit, hanya saja pikirannya terlalu tinggi sampai mengira sepasang suami-istri itu melakukan hal yang lebih dari hanya sekedar saling merasakan rasa manis dari bibir.
"Jangan bilang lu dan dia melakukan itu dalam waktu tiga menit, gak mungkin kan?"tebak Manda dengan wajah yang berkerut dan debur jantung yang berhamburan.
Almira menoleh, dan wajahnya yang tersipu tadi perlahan memudar dan akhirnya menghilang, sedang kini paras cantiknya bertukar dengan kernyitan yang dalam, bahkan dia menaikkan satu sudut bibirnya heran, sebenarnya apa yang sedang di pikirkan oleh sahabatnya.
"Lu mikir apaan sih?"tanya Almira membersut.
"Ya lu kan istrinya, dia bisa dong lakuin apapun sama tubuh lo,"pungkas Manda, membuat mata Almira melebar.
Debar jantungnya menjadi berhamburan tak beraturan, rupanya ini yang dipikirkan oleh Manda, sampai wajahnya ikut memerah dan deru jantung yang berdebar dengan kecepatan tak normal. Dia membayangkan hal-hal yang jauh dari jangkauan sorot matanya yang kecil.
"Woi!"tepis Almira menepuk lengan Manda sampai napasnya tersekat, "gila lo ya, pikiran lu mablas banget. Ya kali dalam waktu lima menit bisa lakukan hal kayak gitu, dan lagian kak Royyan belum melakukan apapun apalagi sampai kesana, wah parah otak lu,"tambahnya menggebu-gebu.
Tawa Manda segera pecah di sana sampai dia malu sendiri, Almira yang mengalami hal manis itu, tetapi wajah Manda lebih memerah di banding sahabatnya sendiri.
"Ya gue kira begitu, lagian kelakuan lu aneh tahu gak, makanya pikiran gue kesitu,"elaknya yang segera bersembunyi di balik punggung mungil Almira, "eh bentar, apa lu bilang barusan, belum melakukan apapun?"sambung Manda yang baru menyadari maksud dari penuturan Almira yang baru saja terlontar.
Dia beralih dari punggung Almira kembali ke hadapan sang sahabat yang sedang menampilkan wajah yang memerah lagi, benaknya belum bisa melepaskan betapa indahnya kejadian di dalam air tadi. Dia telah terbakar api asmara yang tengah membara, Almira tak bisa mengendalikan dirinya yang bahagia.
"Gue kira saat itu lu ngomong kalau kalian masih perawan dan perjaka itu hanya istilah aja, ternyata itu beneran?"tanya Manda satu kali lagi, dia masih belum mempercayainya.
Almira mengangguk. Wajah Manda berkembang dengan bola mata yang melebar, lantas dia memegangi wajahnya yang terperanjat itu, pikirannya menjelajah pada kemungkinan yang konyol. Pikirnya Royyan mungkin mengalami kelainan sehingga tidak melakukan apapun pada istrinya sendiri, tetapi ... jika memang pria gagah itu mengalami suatu masalah, kenapa dia bisa membuat sahabatnya ini nampak bahagia.
"Suami lu gak ada kelainan kan?"celetuknya dan berharap jika pikirannya itu salah.
"Hush!"Almira mengibaskan tangannya di hadapan Manda, "gak usah ngaco, kalau emang punya kelainan suami gue gak bakalan mau ..."katanya yang sengaja dia hentikan karena Royyan sudah mendekatinya.
__ADS_1
Pria berkaki panjang itu, kaki pria itu sangatlah mulus, bersih dari bulu-bulu yang menempel di betisnya, dia berayun ke dekat Almira. Manda yang menyadari jika penglihatan sahabatnya terus berpaling dari perbincangan mereka, lantas dia ikut berputar dan dia melihat Royyan membawakan satu gelas berukuran tinggi dan air mineral botol serta handuk putih yang sepertinya tebal.
Tiba di hadapan dua wanita yang enggan untuk enyah dari muka lautan itu, dia menoleh pada Manda dan memintanya untuk mengambil air botol mineral itu dengan sorot matanya, gadis setengah kering itu segera mengambilnya, selepas itu Royyan beralih pada sang cinta dan menyodorkan gelas dengan suhu hangat itu.
Segera Almira mengambilnya lalu dia menghirup aroma hangat yang menyegarkan sehingga dia memejamkan matanya, menikmati aroma itu menusuk hidungnya dan masuk ke dalam dirinya tanpa sadar membuatnya merasakan hangat yang menenangkan.
"Euuum ...."serunya yang kemudian membingkai wajahnya dengan senyuman manis, genggamannya pada gelas yang berisikan aroma jahe yang pekat itu semakin mengerat, "wedang jahe ya?"tebak Almira seraya menyelukkan bibirnya pada gelas itu dan meneguk air manis dengan perpaduan rasa jahe yang kuat itu.
"Iya, minum. Biar tubuh kamu hangat,"pungkasnya seraya membawa handuk putih yang menggantung di pundaknya tadi ke belakang tubuh Almira dan terjatuh di kepalanya yang masih basah hingga tetesan air bercucuran dari rambut coklat keemasannya.
Pria itu menekankan tangannya mengeringkan rambut sang istri, bahkan dia sempat merangkai senyumnya secara singkat, Manda yang berada di antara keduanya panik, dia segera menyisirkan pandangannya ke setiap penjuru yang bisa dia jangkau, dia tidak menemukan siapapun di sana, tetapi tetap saja rasa khawatirnya tak bisa di kendalikan.
"Duh udah, udah ... kalau mau mesra nanti aja di kamar kalian masing-masing dalam keadaan lampunya mati, jangan di sini, ada sinar matahari yang terang banget,"sanggah Manda menarik Almira menjauh dari Royyan.
"Oke. Gue duluan ya ..."akhirnya Royyan pergi, dia berlari menjauh dari kedua gadis cantik itu.
Almira sendiri sibuk menyeruput minuman hangat yang manis tersebut, dia berseri-seri mendapatkan perhatian yang selama ini dia dambakan. Walau masih tipis-tipis karena persembunyian masih terus berlanjut, pada nyatanya Royyan hanya menghindari Dirta. Berhubung beberapa hari ini Dirta tak lagi terlihat di dekatnya, pria kekar itu nampaknya merasakan sedikit rasa lega, tidak di landa rasa khawatir yang berlebihan.
"Pantesan Ajun jadi orang panikan, dia tegang mulu kalau kalian lagi deketan, ternyata gini ya rasanya,"ucap Manda yang baru saja melepaskan genggaman pada hatinya yang mencekam.
Wanita bermata kucing itu melepaskan tawanya berhamburan keluar seraya menggenggam gelas yang masih berisikan setengah air hangat yang manis itu, "lu ngapain panik, udahlah santai aja. Semua orang tahunya gue ini kan sepupunya,"ucapnya masih tenang di saat Manda masih belum melepas rasa paniknya.
"Heh! Lu pikir ada sepupu yang perhatiannya semanis itu, romantis, mesra begitu, gak ada ya,"tepis Manda menarik kedua tangannya mencangkung di pinggangnya yang ramping.
Manda terbelangah dengan jawaban sahabatnya, sepertinya otak Almira terkikis cintanya yang tengah membara. Lantas dia segera mengekori Almira dari belakang dan perlahan langkahnya imbang dengan kaki mungil itu.
Mereka tidak menyadari jika ada seseorang yang memperhatikannya dari balik pohon, dan dia adalah Elshara, wanita bermata pipih itu menajamkan tatapannya dengan kemarahan yang lebih terbakar dari sebelumnya. kepalan tangannya semakin membulat, dia membakar jiwanya yang kesakitan, batinnya bercengkerama dengan para setan yang menuntunnya.
"Sialan! Sepupu apaan sampai di perhatikan begitu, walaupun Manda pun di kasih air putih, tetap aja gue ngerasa ada yang janggal di antara mereka. Gue harus cari tahu, siapa Ra sebenarnya,"ocehnya kesal lalu dia menyugar wajahnya kasar.
Dia kesal tidak bisa mendapatkan perhatian seperti itu dari Royyan, bahkan Manda pun bisa mendapatkannya walau hanya sekecil memberinya air mineral, tetapi mengapa Elshara tidak pernah mendapatkannya, sebelum mereka Elshara lebih dulu menjadi teman dalam hidup Royyan, pikir batinnya demikian.
Elshara tak pernah berhenti membandingkan dirinya dengan wanita lain yang bisa dekat dengan Royyan tanpa perlu khawatir jika pria kekar itu akan mengabaikannya ataupun menghindarinya, dia selalu mendorong dirinya sendiri untuk tenggelam ke dalam kehidupan Royyan yang sudah jelas membuatnya menjadi sakit dan penuh luka.
"Gue harus temui Dirta, dia pernah menjadi penguntit Royyan selama dua tahun, dan dia pernah menerornya dengan surat-surat kan, pastinya dia punya info yang lebih. Ajun tidak berguna, mulutnya sama sekali tidak berguna,"cibirnya kesal sehingga hidungnya berkerut.
...***...
Elshara yang sudah mengganti pakaiannya dengan gaun ketat berwarna merah gelap dan bagian dadanya sedikit terbuka dengan menunjukkan kedua bahu runcingnya yang indah, dia tiba di restoran milik Dirta, dia masuk ke dalam restoran mewah dengan perpaduan warna klasik yang memukau itu bak seorang ratu, penampilannya sangat elegan.
Wanita berambut panjang lurus itu lekas melangkahkan kakinya masuk ke dalamnya, dia meminta para pelayan membawanya ke ruangan VVIP yang ada di restoran itu, dia ingin mendapatkan ruang pribadi untuknya, tepatnya untuk menemui Dirta. Beberapa hari ini Dirta benar-benar seperti di telan bumi bahkan lautan, dihubungi lewat telepon ataupun pesan singkat pun sulit, penuturannya saat itu ternyata benar-benar dia kabulkan.
__ADS_1
"Saya mau pesan tenderloin steak dengan tingkat kematangan medium, dan anggur merah terbaik di sini,"ucap Elshara seraya dia memberikan buku menu berwarna hitam dan berbahan tebal dan juga sedikit empuk ke pelayan yang tengah melayaninya.
"Baik nona, tolong tunggu sebentar,"sahutnya seraya dia perlahan mengambil buku menu itu.
Lantas pelayan itu berputar untuk segera pergi menyampaikan pesanan Elshara, tetapi kemudian wanita berambut pipih itu menghentikan langkah pelayan itu, dengan cepat sang pelayan kembali menoleh pada Elshara.
"Apa pemilik restoran ini ada di sini?"tanyanya dengan nada suara yang bulat.
Pelayan itu menoleh, "iya nona, pak Dirta ada di dapur, apa anda ingin menemuinya?"tanyanya dengan sopan, punggungnya sedikit membungkuk.
"Saya ingin dia yang membuatkan pesanan saya dan juga mengantarkannya,"pintanya dengan satu alis yang menaik.
"Baik nona, akan saya sampaikan."pelayan itu benar-benar pergi.
Pelayan pria itu berjalan cepat agar langkahnya segera menemui dapur dan tentunya orang yang mempekerjakannya, dia begitu terburu-buru, mengabaikan semua orang yang dia lewati sebelum dia menjumpai dapur yang ada di bagian lantai satu dari gedung restoran yang memiliki tiga lantai tersebut.
Tiba di depan meja panjang nan tinggi yang terbuat dari bahan stainlees itu, sang pelayan segera menekan gambar pesanan yang diinginkan oleh Elshara di layar yang tersedia di depan meja panjang itu, setelah selesai dia kirimkan dan pesanan itu akan langsung tercetak oleh mesin dan akan keluar di depan mesin yang ada di dalam dapur.
Beberapa menit berlalu kertas pesanan Elshara di terima oleh Dirta, dia segera mencabutnya dari mesin, pria gagah yang mengenakan pakaian putih yang biasanya di kenakan oleh para chef itu melenggang ke depan seraya mengapit kertas pesanan.
"Pelayanan khusus? Pelayanan khusus apa yang diinginkannya?"tanya Dirta pada pelayan yang sedang menunggu pekerjaan selanjutnya sembari mengeringkan piring-piring yang baru selesai di cuci.
Mendengar atasannya berbicara, dia segera menghentikan aktifitasnya dan berlari mendekati Dirta, dia melipat kedua tangannya di bawah dengan mata yang tertunduk.
"Dia menginginkan pak bos yang membuatkan pesanannya dan juga mengantarkannya,"jelasnya dengan sangat hati-hati.
Dahi Dirta membersut heran, tak biasanya ada yang menyuruhnya untuk melakukan hal itu, biasanya para pelanggan hanya menginginkan dibuatkan makanan olehnya, tetapi tidak dengan mengantarkannya.
"Banyak maunya,"ketus Dirta seraya dia berpaling dari pelayannya dan kembali ke kompor dan alat-alat masaknya.
Memasak steak membutuhkan keahlian dan ketelitian, jika tidak maka pelanggan akan kecewa dengan rasanya, dan untuk mendapatkan tingkat kematangan medium adalah hal tersulit bagi Dirta, karena dia harus memastikan daging steak itu tak terlalu matang dan juga tidak setengah matang, aromanya yang khas harus tetap menempel pada daging sapi yang dipilih dari daging berkualitas tinggi.
Setelah beberapa menit berlalu, masakannya telah selesai, dia menata tenderloin steak itu di atas nampan berwarna coklat pekat, lalu dia beralih ke dalam lemari dimana para anggur milik restorannya berada, dia mengambil satu botol dan menuangkannya ke dalam gelas yang di sebut dengan gelas anggur.
Pria berambut wavy bergelombang hitam legam itu membawa nampan berisikan masakannya dan minuman itu keluar dari dapur menuju ruangan VVIP yang sudah tertera dalam kertas pesanan itu. Dia berayun dengan gagahnya, nampan coklat pekat itu bertengger dengan kokoh di atas tangan kanannya tanpa takut terjatuh.
Tiba di depan pintu VVIP yang dimaksud, Dirta segera menerobos pintu itu dan masuk ke dalamnya, dia meletakkan pesanan itu tanpa memperhatikan siapa wanita yang tengah terduduk disana dengan kaca mata hitam.
"Silahkan dinikmati nona,"seru Dirta dengan mata yang tertunduk.
Sampai detik terakhir dia selesai memindahkan piring steak dan gelas anggur itu ke atas meja dengan kursi sofa yang empuk berwarna biru pudar, setelah selesai barulah dia berdiri dengan tegak dalam keadaan sorot mata yang masih menunduk, fokusnya masih pada jam tangan yang dikenakan oleh wanita di hadapannya.
__ADS_1
Jam tangan keluaran terbaru dari B&D, sepertinya dia bukan wanita sembarangan. Ah sudahlah, bukan urusan gue.
NEXT ....