
Tangan mungil itu segera mengetikkan sesuatu di ponselnya, mengirimi suaminya itu sebuah pesan. Almira tak bisa menunggu sampai di rumah untuk mempertanyakan kehadiran suaminya di sana, lagi dan lagi tidak memberitahunya dengan jelas.
["Jadi ini yang kamu maksud sampai jumpa? Kenapa kagak ngomong kalau kamu juga di undang ke acara ini sih kak?"]
Ponsel Royyan terdengar berdering, Almira sedikit menoleh dan menajamkan pandangan pada suaminya itu untuk segera membalas pesannya, Royyan mendelik dan segera membuka pesan itu, terlihat dengan segera Royyan mulai mengetikkan sesuatu di ponselnya.
["Untuk apa?"]
["Lah pake nanya lagi, kalau tahu kamu datang ya aku gak bakalan datang lah, kita kan suami istri bohongan, gak boleh terlihat barengan, gimana sih. Lupa sama omongan sendiri."]
["Kita gak bareng, jadi aman."]
["Aman pala lu!"]
["Jaketnya mana?"]
Membaca pesan itu Almira menegakkan punggungnya dan memejamkan matanya dengan erat seraya mengatupkan bibirnya.
Mampus! Gue lupa lagi bawa jaketnya, eh* tapi yaudahlah, lagian elu cuman istri di atas kertas Ra, tenang aja, santuy ... anda keep calm.
"Kenapa lu Ra, tiba-tiba muka lu jadi muram begitu, chat-an sama siapa?"tanya Manda membuyarkan percakapan batinnya.
Sontak Almira menoleh dan segera memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas yang masih tertidur di atas meja, kemudian dia menggeleng seraya melontarkan senyuman tipis.
"Ah enggak, biasalah bokap gue, ribet banget hidupnya,"jawab Almira berbohong lagi.
"Ooh .... pantesan muka lu jadi begitu."
"Enggak kok cintanya aku .... aman, aman, tenang aja,"balas Almira seraya menghamburkan dirinya memeluk Manda yang ada di sampingnya.
Manda menyingkirkan tubuh Almira darinya, dia merasa geli di peluk oleh Almira yang baru saja mengatakan kata cinta padanya. Merinding. Bahkan Manda menggeser kursinya sedikit menciptakan jarak dengan sahabatnya itu.
"Kenapa sih lu?"tanya Almira memicing.
"Lu serem Ra, giliran di kasih sosok Royyan yang ganteng dan tajir mampus kagak mau, giliran ke gue lu bilang sayang, waras kan lu,"pungkas Manda, membuat Almira tergemap dan mematung sejenak.
"******! Gua normal gila,"sanggah Almira menepuk lengan sahabatnya itu sedikit menggunakan tenaganya, dengan nada suaranya yang pelan.
Hari semakin malam, langit di luar sana pun sudah nampak menghitam lebih pekat dari sejak dia mengunjungi gedung tersebut. Acara masih tetap berjalan walau sesi pelelangan telah berakhir, semua tamu nampak menikmati pesta dengan berbagai macam hidangan yang tersaji disana.
Termasuk Almira dan Manda yang juga nampak menikmati hidangan, salah satu favoritnya yaitu tiramisu cake, sedang Manda nampaknya amat menyukai redvelvet cake-nya. Keduanya duduk di meja yang sama seperti tadi sembari menantap kue pilihannya bersama dua orang yang berprofesi sebagai model sama seperti Manda.
Baru saja suapan ke lima Almira melahap kuenya, ponselnya berdering, ada pesan masuk dari Royyan yang dia beri nama "Manusia es".
["Temui aku di parkiran."]
["Jangan gila deh, kita lagi di luar, kalau aku nemuin kamu, semua orang akan bergosip."]
["Cepet."]
["Enggak mau."]
["Seseorang akan menjemput kamu, dalam hitungan detik."]
["Heh! Gak usah. Iya aku nemuin kamu, repot lu."]
["Ya."]
__ADS_1
Balas berbalas pesan pun dengan cepat berakhir, kue yang tersisa segera dia tenggelamkan ke dalam mulutnya dalam satu suapan besar, membuat cream putih kecoklatan beraroma kopi itu melipir ke pesisir bibir Almira, dan wanita bertubuh mungil itu tidak menyadarinya dan segera berdiri dari kursinya untuk menemui Royyan yang katanya ada di parkiran gedung.
"Gue ke toilet dulu, lama,"pamitnya seraya melangkah pergi.
"Ngapain lama-lama di kamar mandi,"seru Manda menoleh, memandangi punggung indah Almira yang terbuka.
"Ada deh,"sahut Almira tanpa menoleh.
...***...
Di parkiran gedung arteri, Royyan berdiri di depan mobilnya seorang diri seraya mengantongi kedua tangannya di saku celana dan berjalan kesana-kemari tanpa tujuan. Sedang Adrian dan beberapa orang-orangnya menunggu di setiap sudut untuk memastikan tidak akan ada yang mendatangi area parkiran selama Almira dan Royyan sedang bersama.
Dari arah kanan Almira keluar dari pintu utama, memasuki area parkiran yang dimana Adrian sudah menunggu disana. Namun, Adrian hanya menunduk dan tidak menghampirinya. Jika Adrian mendatangi Almira itu sama saja menjelaskan jika wanita bertubuh mungil itu memang memiliki hubungan spesial dengan Royyan. Adrian bukan lagi sekedar sekretaris pribadi tetapi sudah menjadi wajah lain dari Royyan.
Dengan lenggoknya yang anggun Almira melimbai ke area parkiran, mengedarkan pandangannya mencari sosok sang suami. Langkahnya yang begitu hati-hati terus merangkak sampai ke sebuah mobil berwarna hitam yang sangat dia kenali, di sampingnya sesosok pria bertubuh tinggi dengan dadanya yang bidang bersandar pada mobil tersebut.
Lekas Almira mengayuh kakinya dengan gerakan cepat menuju padanya. Tiba di sana, Almira langsung berdiri di hadapan Royyan yang masih bersandar dengan kepala yang menengadah menatap langit hitam dengan mata yang terpejam.
"Kenapa? Cepetan, sebelum orang-orang menyadari kita,"celetuk Almira di depan sang suami.
Mendengar suara lembut Almira, bibir kecil itu menyeringai dan menarik kedua tangannya dari saku, kemudian terlipat di depan tubuhnya, setelahnya barulah Royyan berdiri dengan tegak, memosisikan dirinya tepat di depan Almira.
"Pulang jam berapa?"tanya Royyan menarik tangannya dan mengantongi kedua tangannya di saku celana.
"Gak tahu, sampai acara selesai kali, aku kesini kan sama Manda, jadi pulang juga pasti bareng lagi,"jawab Almira.
Royyan mengangguk sembari dia memperhatikan gaun yang membaluti tubuh istrinya. Seperti katanya tadi pagi, jika gaun ini memang sempurna digunakan oleh Almira, hanya saja terlalu banyak bagian terbuka yang memperlihatkan tubuh indahnya, dan Royyan tidak menyukai hal itu.
"Katanya mau pake jaket."pertanyaan di pesannya tadi terlontar lagi secara langsung.
"Lupa atau emang kamu sengaja gak bawa,"lanjut Royyan seraya mengapit dagu Almira dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.
"Lupa. Emangnya kenapa sih, bukan urusan kamu juga kan, kalau pun aku di deketin cowok disini,"ucap Almira memancing Royyan, untuk mengetahui reaksi suaminya.
Jari-jari Royyan meluruh dari dagu Almira. Tatapannya menjadi tajam, tanpa mengeluarkan suara lagi, dahinya pun sedikit berkerut.
Sampai ada yang deketin kamu, siap-siap aja cowok itu besoknya tinggal nama doang.
"Tunggu."Royyan beralih ke pintu belakang mobilnya.
Saat itu juga Almira menaikkan bahunya dan kemudian menurunkannya lagi, lalu langkahnya berputar untuk meninggalkan Royyan, tetapi Royyan dengan cepat menyadarinya. Pria dengan kaki panjangnya itu melangkah mengambil pinggang Almira, menyeretnya kembali ke depan mobilnya, dengan gerakan cepat dia menggenggam pinggang kecil itu dan menaikkannya ke atas mobil.
Almira terperanjat, tetapi dia hanya melebarkan bola matanya tanpa berteriak seperti yang dia lakukan saat di rumah. Dia membeku dengan kedua tangannya menongkrong di atas bahu lebar Royyan.
"Mau kemana?"tanya Royyan menggerakkan wajahnya ke atas lalu ke bawah seraya kedua tangannya masih menggenggam pinggang kecil Almira.
"Kamu gila ya! Kaget tahu,"gertak Almira sembari menepuk bahu Royyan menggunakan tangan kanannya.
"Diem. Kalau enggak aku cium kamu,"tunjuk Royyan seraya melipir ke pintu belakang lagi.
Almira terhenyak dengan wajah yang mengernyit, lalu dia mendelik yang kemudian dia mengembuskan napasnya dan melipat kedua tangannya di depan.
"Kamu gak akan berani melakukan itu,"pungkasnya percaya diri.
"Kenapa?"jawab Royyan yang masih mencari jaket berbulu yang dia beli sebelum menghadiri acara pelelangan.
"Karena kamu gak cinta sama aku, dan kamu gak akan pernah melakukan hal seperti itu pada wanita yang gak kamu cintai, di sentuh aja kamu gak mau,"katanya lagi.
__ADS_1
Royyan tersenyum nakal dengan binaran cahaya mentari pagi dari bola matanya, seperti mendapatkan sebuah sinyal. Setelah mendapatkan jaket berbulu itu, pria bermata kecoklatan membawa tubuhnya keluar dari mobil dan melempar pintu itu lembut sampai pintu mobil tertutup lagi.
"Aku gak keberatan jika itu kamu,"celetuknya setelah dia tiba di hadapan Almira.
Deg!
Spontan Almira mendorong tubuhnya ke belakang dengan bola mata yang terbeliak, sedikit memicing. Sedangkan kedua telapak tangannya menempel dengan mobil yang sedang dia duduki. Namun, setelahnya Almira kembali tenang dan percaya jika Royyan tidak akan melakukan hal itu. Karena setahunya jika suaminya tidak mencintai dirinya.
"Imposible."
Sudut bibir kanan Royyan menyeringai seraya menarik kedua tangan Almira kembali melekati bahunya lalu jaket berbulu itu dibawa ke belakang tubuh Almira dan dia gantungkan di bahu sang istri.
"Yakin? Kamu mau bukti."
"Bukti apaan lagi, udah ah cepet sini aku yang pake jaketnya,"sahutnya masih tenang seraya melunturkan tangannya dari bahu Royyan dan memakai jaket itu dengan cepat, "Udah kan ya, aku mau balik lagi ke Manda, nanti dia curiga aku pergi ke toilet tapi lama banget,"sambungnya seraya turun dari atas mobil.
Almira mulai melangkahkan kakinya ke depan hendak meninggalkan Royyan disana, tetapi dengan sigap secepat angin malam saat itu Royyan menarik pinggang istrinya kembali ke depan mobil lagi. Netra Almira kembali membuntang dan kedua tangannya mencangkung di kedua lengan Royyan sedikit mencengkeramnya.
"Ya! Apa sih, kamu cuman mau aku pake jaket kan, yaudah ini aku udah pake, awas ah,"sergah Almira kemudian mendorong tubuh Royyan menjauh.
Tetapi itu pun tidak berhasil. Gerakan Royyan benar-benar cepat, belum sempat Almira melangkah, Royyan sudah menyergap kedua tangan Almira dan segera menariknya dengan lembut ke belakang, mengunci kedua tangan Almira disana menggunakan satu tangannya yang kekar dengan telapak tangan yang lebar.
"Kamu mau bukti kan?"ucap Royyan memasati wajah Almira.
Mari bersihkan sisa cream yang ada di mulut kamu itu bersama-sama. Batinnya berceloteh dengan keinginan yang menggebu-gebu.
Dengan bola mata yang masih saja membulat dan detak jantung yang berdegup sangat cepat, seirama dengan aliran darah yang mengalir deras membuat tubuhnya merasakan lemas, Almira menggegarkan tubuhnya yang terkunci oleh dekapan Royyan padanya, tetapi semua itu usaha yang sia-sia, "Kamu itu ngomongin apaan sih, bukti apa? Lepasin aku cepetan, nanti ada yang lihat kita disini, kalau sampai kita ketahuan dalam posisi seperti ini kamu gak bisa mengelak la--"
Tanpa menunggu Almira menghabiskan celotehnya, Royyan telah lebih dulu menyentuh bibir kecil Almira dengan kecupan yang tiba-tiba saja terjatuh dari bibirnya yang tipis. Sontak Almira mengerjap lalu netranya melebar, tatapannya lurus masuk ke dalam cahaya mata Royyan yang saat ini bersinar seperti satu bintang yang ada di atas langit. Dia membeku, kedua tangannya yang tadi tak bisa diam akhirnya ikut mematung.
"Gimana? Aku berani kan,"tutur Royyan seraya melukiskan senyuman manisnya.
"Ka-kamu, lepas. Lepasin aku kak Royyan, aku harus balik lagi ke dalam,"balas Almira kembali menggoyangkan tubuhnya, masih berusaha untuk lepas dari Royyan.
"Balik lagi ke dalam atau kamu menghindari aku,"jawab Royyan sembari memajukan wajahnya mendekati Almira.
Tubuh Almira semakin terhenyak ke belakang dia melukis wajahnya dengan ketegangan, wanita berkulit putih itu benar-benar menjelma seperti patung-patung yang terpajang di toko-toko pakaian di mal ataupun di butik-butik, bahkan napasnya pun sempat tersendat karena jarak wajahnya dengan Royyan benar-benar sangat dekat, sampai deru napas Royyan pun ikut terdengar sangat jelas.
"Eng-eng-enggak ... lepasin, aku harus pergi,"tepis Almira dengan wajah yang masih tegang.
Desir senyuman tipis Royyan terurai di hadapan Almira, lantas genggaman Royyan melemah, dan Almira segera mendorong Royyan.
"Kali ini aku maafin ya, kalau sekali lagi kamu begitu aku beneran akan marah ya,"gertak Almira meruncingkan pandangannya pada Royyan seraya menunjuk-nunjuk suaminya.
Pria berambut mullet itu menaikkan sudut bibir kanannya, dengan tatapan mata yang mampu menghipnotis Almira kembali mematung, senyuman tipis itu sungguh membuat Almira terpana dan memilih untuk terdiam tak mampu melakukan apapun.
"Iya. Gak di maafin juga gak papa,"pungkas Royyan singkat, tetap memastikan dirinya berada di hadapan sang istri.
Membuat Almira menggertakkan giginya kesal, suara gesekan antara gigi bawah dan atas terdengar ngilu, lalu wanita cantik di hadapannya itu memicing mengepalkan kedua tangannya yang menjuntai ke bawah dengan kuat.
"Jangan terlalu sering melotot ke suami sendiri, nanti makin jatuh cinta,"lanjutnya seraya dia mendekatkan diri lagi dengan Almira.
Melekatkan kedua kakinya dengan langkah sang istri yang perlahan mundur untuk menghindarinya, Royyan tidak menyerah, dengan cepat tangannya mengayun ke belakang tubuh Almira dan menarik pinggang kecil itu kembali mendekat padanya, menyentuh perut sixpack-nya dengan lekat.
Perlahan menggeser Almira ke belakang kembali berbenturan lembut dengan mobil hitam tersebut, tubuh mereka sungguh dekat, sampai angin pun tak berani untuk mencuri celah di antara sepasang suami-istri yang tengah merasakan getaran hebat dari jantungnya yang terus berlari tiada hentinya bersama dengan aliran darah yang berlomba-lomba mengalirkan energinya dengan penuh semangat.
NEXT ....
__ADS_1