Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 47 : Bujuk Royyan.


__ADS_3

Di samping lain Royyan masih terus berlari kesana-kemari mencari asal suara Almira yang menusuk telinganya. Kali ini wajahnya benar-benar ketara jelas jika dia panik dan khawatir, dengan deru napas yang tersendat seraya dia menyugar wajahnya kasar, pria bertubuh tinggi kekar itu terus menyisirkan tatapannya ke setiap sudut area resort-nya.


Sampai akhirnya bola matanya merekam sosok seorang wanita mungil berlari menghampirinya, dan dia adalah Almira yang mengenakan celana jeans dan kaos croptop berwarna hitam pekat dengan rambut yang terurai sehingga memudahkan angin untuk meniup rambut lembut itu berkeliaran di udara dengan bebas.


Posisinya Royyan ada di taman labirin yang menjadi salah satu fasilitas di resort miliknya itu, dia berdiri di tengah-tengah dengan Ajun yang ada di belakangnya dan napas yang masih saja terengah-engah seraya dia berkacak pinggang.


"Aaaah ... kalau nyamperin gue kunyah, gue makan, gue jadiin lalab sama ikan hiu ya lu,"celoteh Almira sembari dia berlari menyusuri jalanan dengan acak.


Dia tak memperhatikan di depannya ada apa dan siapanya, dalam benaknya dia ingin berlari menghindari seseorang yang mengenakan kostum hewan panda dan juga beruang berwarna putih itu jauh dari jangkauan pandangannya, bahkan kedua orang yang mengenakan kostum itu nampak kebingungan dengan tingkah Almira.


Sampai Almira mendekati Royyan, tetapi dia tidak menyadari jika pria yang berdiri di tengah-tengah itu sang suami, dia melintas begitu saja dengan raut wajah ketakutan dan bola mata yang perlahan mencairkan embun-embun di kelopaknya itu, dengan sigap Royyan meraih pinggang sang istri dan menariknya ke hadapannya.


"Aaah ..."teriakan Almira semakin kencang, memecahkan gendang telinga.


Perlahan dia dongakkan wajah muramnya dan siap menangis di pundak Royyan, tetapi Almira melihat sosok Ajun di dekatnya, lekas dia dorong sang suami sampai dekapan Royyan pada pinggangnya terlepas begitu saja.


"Kenapa? Badut?"tanya Royyan pelan dengan suara yang sangat lembut.


Tanpa mengeluarkan suaranya Almira mengangguk seraya menyeka air mata yang sempat terjatuh di pipinya. Namun, tiba-tiba Royyan menjatuhkan satu tepukan yang amat lembut di atas kepala Almira membuat wanita berparas cantik yang sedang tertunduk menahan isak tangisnya segera menengadah dan memandangi Royyan dengan dalam.


"Kamu kembali kerja, aku akan urus mereka, ngerti,"titah Royyan dengan suara beratnya yang khas.


Lekas Almira mengangguk dan berlalu pergi dari hadapan Royyan dan juga Ajun yang ada di belakangnya, masuk kembali ke dalam resort meninggalkan Royyan dan Ajun yang masih terdiam di hadapan pantai.


"Gue harus temui pihak penyelenggara itu,"tegasnya dengan wajah yang tajam dan urat-urat dahi yang menegang.


"Oke. Tapi jangan bunuh orang lu ya, lu serem ternyata kalau udah sayang sama cewek."


"Gue cabut dulu."Royyan bergegas melenggang pergi kembali ke dalam resort.


Sedangkan Ajun masih mematung di sana, kemudian dia tarik tangannya untuk menongkrong di pinggangnya, menatapi punggung lebar itu masuk ke dalam lorong yang membawanya ke area lain dari resort tersebut.


...***...


Malam bertandang bersama angin yang berhembus dingin sampai menusuk tulang-tulang semua orang yang berada di sana, keadaan pantai malam ini sangatlah ramai. Semua model yang ada di sana sudah berpakaian rapi bak pangeran dan juga seorang putri mahkota, kali ini Elshara pun ikut serta dalam acara tersebut, walau di hadapan laut, tetapi dia tak perlu terjun ke lautan, ini jauh lebih baik.


Dalam keadaan riuh, semua staff yang sibuk dengan pekerjaannya dan para desainer termasuk Almira tengah mendandani model yang menjadi tanggung jawabnya, sedangkan pimpinan agensi ada di dekat sutradara dan juga kameramen yang siap untuk melakukan pekerjaannya.


Saat satu persatu model sudah menempati posisinya masing-masing dengan kameramennya, semuanya sudah setuju dengan jadwal yang di buatkan oleh pihak penyelenggara. Termasuk Elshara yang juga menyetujui jika dia akan melakukan pemotretan menginjak air yang meraba pasir-pasir di tepinya.


Sedangkan Manda kali ini di jadwalkan untuk melakukan pemotretan di daratan, dia akan berpose romantis dengan salah satu model pria yang juga merupakan top model dari agensi lain.


"Yang bertugas memakai kostum panda sama beruangnya mana, kan tadi saya suruh langsung ke pantai, kenapa sampai sekarang belum ada,"seru sutradara itu seraya berkacak pinggang sedangkan satu tangannya yang lain menggenggam gulungan kertas yang berisikan naskah untuk shooting malam ini.


Hening. Tak ada yang bisa menjawab, karena semuanya tidak mengetahui apapun mengenai kostum itu, saat itu juga Royyan dan Adrian tiba dan menimpali perkataan sang sutradara, "sudah saya singkirkan semuanya,"celetuk Royyan seraya melimbai menghampiri sutradara.

__ADS_1


Mendengar hal itu wajah pria berbadan gemuk itu berubah menjadi berang bak warna merah melatis ke atas seperti akan melambungkan amarahnya, tetapi saat dia berbalik dan mendapati Royyan disana, dengan cepat warna merah yang membingkai wajahnya tadi menjadi padam dan tak nampak lagi amarah di dalamnya.


"Kenapa pak? Kostum itu bagian dari konsep dan itu permintaan top modelnya langsung nona Rala,"jelas sutradara masih berusaha untuk membujuk Royyan.


"Saya tidak peduli. Yang jelas saya tidak ingin melihat kostum itu berada di resort saya,"tegas Royyan dengan rahang tegasnya yang khas.


"Tapi pak gak bisa begitu, anda tidak bisa mengatur pekerjaan saya dong, anda hanya sebagai penyalur tempat dan kami sudah membayar anda dengan harga yang mahal, harusnya anda hanya memantau bukan ikut campur, itu namanya menyalahi kontrak,"beber panjang sutradara.


Seketika Royyan menjadi berang, wajahnya semakin tajam dan tatapan yang kuat membuat aura di sekitar sana menjadi sangat mencekam, pimpinan agensi pun ikut panik, mendapatkan izin Royyan bukanlah perkara yang mudah, lekas pria paruh baya itu menarik mundur sang sutradara yang nampaknya mulai menarik urat-urat amarahnya.


Pria berparas tajam itu segera mendengkus dengan kasar, tangannya yang semula mengepal segera dia lelehkan lalu dia tarik tangannya ke atas terlipat di depan. "Singkirkan semua benda-benda kalian dari resort saya, dan untuk pembayaran yang baru kalian lakukan 50% itu akan saya kembalikan dengan utuh,"tegas Royyan tanpa merasa iba atau apapun itu.


Semua orang yang mendengar hal itu sontak melebarkan bola matanya bersama-sama, termasuk sang sutradara yang semulanya tinggi hati seketika pundaknya merunduk lemah. Dia pikir Royyan adalah orang yang mudah untuk di gertak, tetapi malah dia sendiri yang kesulitan.


Termasuk Almira yang baru saja selesai memakaikan baju pada Manda yang ada di sudut dekat pohon besar di sebelah kiri dari posisi Royyan saat ini. Begitupun dengan Elshara yang sudah bersiap untuk melakukan pemotretan segera naik lagi dan mendekati Royyan.


"Ada apa ini? Royyan ... tenang dulu ya, kita bicarakan baik-baik,"pinta Elshara lembut mencoba meraih tangan Royyan.


Namun, seperti biasanya Royyan tidak akan pernah mengizinkan siapapun memegang dirinya tanpa izinnnya, kecuali itu adalah Almira, istrinya sendiri. Lantas dia menoleh dan menghujamkan tatapan amarahnya pada Elshara yang ada di sampingnya.


"Maaf pak ... kami akan menuruti bapak, maafkan sutradari kami yang tidak tahu apapun, tolong jangan cabut izinnya, kita sudah shooting hampir 40% disini,"pinta sang pemimpin penyelenggara dengan penuh harap.


Sutradara yang semula angkuh itu segera berjalan ke depan dan tertunduk, "maafkan saya pak Royyan, saya tidak bermaksud untuk melawan bapak, tapi inti termasuk konsep yang sudah kami jadwalkan,"timpal sutradara dengan suara merasa bersalahnya.


"Saya tidak peduli, singkirkan semuanya. Saya sudah bilang dari awal, kalian bisa menggunakan resort saya dengan syarat dari saya, kenapa kalian masih saja melawannya, jadi ... tolong singkirkan semuanya secepatnya,"tegas Royyan lagi, setelahnya dia segera enyah dari hadapan semuanya bersama Adrian.


Royyan tak mempedulikannya sama sekali, bahkan Elshara tidak mampu membujuknya, sedangkan pimpinan agensi dan juga pihak penyelenggara segera berdiri tegak di hadapan sutradara itu.


"Kamu ini gimana sih, membujuk pak Royyan itu sangat sulit, dan lihat ulah kamu sekarang, pak Royyan jadi marah dan ngusir kita semua,"sentak pimpinan agensi.


"Berani-beraninya kamu bilang hal tidak sopan pada pak Royyan, saya tidak mau tahu pokoknya kamu bujuk pak Royyan untuk memberikan izinnya lagi,"timpal pimpinan penyelenggara.


"Saya hanya menjalankan tugas saya, dan semua ini juga gara-gara top model anda yang memintanya,"jawab sang sutradara yang tidak mau di salahkan, karena sumber utamanya ada di Rala yang bersikeras untuk memakai kostum malapetaka itu.


Dengan satu detakan jarum jam, pimpinan agensi dan pimpinan penyelenggara itu segera menoleh pada Rala yang sedang berdiri dengan wajah polosnya yang menyebalkan.


"Kenapa? Aku?"Elshara menunjuk dirinya dengan wajah datar seolah dia memang tidak melakukan kesalahan apapun.


"Rala ... kan saya sudah bilang, jangan minta kostum itu karena pak Royyan tidak menyukainya."


"Aku ini sahabat Royyan udah lama, dulu Royyan tidak masalah dengan kostum itu, jadi aku pikir gak masalah atau Royyan lagi gak mood aja, mana aku tahu kalau Royyan sebenci itu sama kostum begitu,"elak Elshara.


"Lu kan hilang hampir sembilan sampai sepuluh tahun, otomatis ada perubahan yang terjadi dengan sahabat lu,"timpal salah satu model yang akan di sandingkan dengan Manda nanti.


"Nah betul itu,"timpal model wanita lainnya.

__ADS_1


Sementara di sisi lain, Almira dan Manda yang ikut mematung di tempat, raga mereka seolah tidak mampu bergerak dari sana. Lalu wanita berambut coklat keemasan itu lekas berkacak pinggang.


"Sutradaranya songong amat sih, gak tahu apa tuh makhluk kalau marah menyeramkan,"tukas Almira yang menajamkan matanya agar semua orang yang sedang berkumpul di hadapannya terlihat dengan jelas.


"Cuman gara-gara kostum yang lu takuti Ra, Royyan semarah itu,"timpal Manda di sampingnya.


Deg!


Tiba-tiba saja Almira ingat dengan pertanyaan Royyan saat dia akan memasuki pesawat di Jakarta bersama Adrian, mungkin ini lah yang di maksud oleh Royyan, jika dia akan menyingkirkannya dengan cepat.


"Man, gue cabut dulu."tiba-tiba saja Almira berlari meninggalkan pantai, membuat Manda mengernyit heran dengan tingkah Almira.


Kenapa itu anak, makin hari makin mencurigakan, Ra sama si cowok kebab kayaknya ada yang mereka sembunyikan, tingkahnya aneh banget, tapi Ra gak mungkin menyembunyikan apapun dari gue kecuali ada sebuah rahasia yang harus dia jaga.


Batin Manda berceloteh, tetapi setelah itu dia dengan cepat mengabaikannya, menurutnya gak baik mencurigai sahabatnya sendiri.


Meninggalkan semua yang tengah kebingungan bagaimana membujuk Royyan, Elshara sudah puluhan kali menelepon Royyan, tetapi satu pun tak ada yang di angkat oleh pria dengan pendirian kuat itu, sampai Elshara frustasi sendiri dan jadwal shooting lagi-lagi terhambat.


Elshara berjalan bertitar-titar dengan acak, kakinya sudah tak tahu kemanakah dia ingin melangkah, seraya menyisir rambutnya ke belakang dia terus melakukan panggilan telepon pada Royyan, tetapi lagi-lagi panggilan teleponnya tertolak mentah-mentah.


"Ih Royyan kemana sih, telepon gue gak di angkat-angkat, lagian tuh sutradara songong amat lawan Royyan, jadi gue kan yang di salahkan, padahal kan tinggal turuti aja apa susahnya gak usah memaksakan, udah tahu Royyan susah buat di bujuk, gue aja yang udah kenal lama gak bisa bujuk,"gerutunya sendirian di hadapan laut.


Sedangkan semua orang tengah termangu lemah di depan alat-alat untuk shooting yang menganggur, sorot mata Elshara merekam betapa terpuruknya semua tim dan teman-teman sesama modelnya. Mereka seperti telah kehilangan semangat hidupnya, lalu Elshara mendapatkan sebuah ide, yaitu meminta bantuan Ajun, seorang yang mengenali Royyan lebih lama darinya.


"Ajun ... lu ada dimana? Tolong bujukin Royyan dong buat gak cabut izin resort, kita jadi terhambat nih shooting-nya,"jelas Elshara setelah panggilan teleponnya di angkat oleh Ajun.


"Kenapa nih tiba-tiba? Emangnya ada masalah apa?"


"Udah itu nanti aja gue jelasin, yang penting elu bujuk Royyan dulu, gua dari tadi telepon gak di angkat-angkat,"balas Elshara seraya berkelintaran di tempat yang sama.


"Gak bisa. Royyan kalau udah buat keputusn sulit untuk di ubah lagi, kecuali ada satu orang yang sekarang bisa membujuk kekerasan Royyan."


"Siapa?"tanya Elshara penuh harap.


"Istrinya. Royyan sangat mencintai istrinya, pasti dia akan mendengarkan istrinya,"pungkas Ajun dengan sengaja.


Telinganya terasa gatal dan juga panas, perkataan Ajun membuat jiwa Elshara kembali membara, mengobarkan bara api yang begitu dahsyatnya. Wajah paniknya berubah menjadi paras kesal, lagi-lagi dia terkalahkan oleh istri dari Royyan yang tidak dia ketahui.


Sialan! Siapa sih istrinya, gue akan singkirkan secepatnya, lihat aja ... seorang Rala top model pasti akan mampu menyingkirkannya dengan mudah. Pastinya juga masih cantikkan gue ....


"Udah ah lu berisik, bukannya menolong malah bikin gue pening."


"Terserah. Makanya jangan nelepon gue, ganggu lu ah,"jawab Ajun yang kemudian segera mematikan panggilan telepon itu.


Mendengar bunyi panggilan teleponnya di tutup, Elshara merasa tersakiti sehingga dia mengerutkan wajahnya kesal seraya dia menatapi layar segiempatnya yang sudah menampilkan deretan aplikasi yang sedang tertidur di dalam ponsel.

__ADS_1


"Si Ajun emang ya gak pernah gak nyebelin nih anak, dari dulu sampai sekarang masih aja sama, pantes jomblo mulu,"paparnya tanpa melihat dirinya sendiri pun masih saja jomblo sampai sekarang, hanya karena mengharap cinta yang tak bisa dia dapatkan.


NEXT ....


__ADS_2