Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 40 : Berangkat ke Bali.


__ADS_3

Surat-surat yang masih dia simpan di dalam laci yang selalu dia kunci akhirnnya dia keluarkan dan diberikan semuanya pada Almira, beberapa kertas dengan warna yang sama itu berceceran di atas ranjang membuat Almira terpaku hanya pada surat-surat itu.


"Kamu baca ini, semua ini adalah surat ancaman yang entah dari siapa, tapi aku yakin itu semua dari Dirta, dan aku juga pernah beberapa kali ada yang ingin menabrakku dengan motor,"jelasnya lagi.


"Hah?! Kenapa kamu gak bilang, sekarang gimana? Ada yang terluka gak atau lecet gitu."betapa terkejutnya Almira mendapatkan pengakuan jika Royyan mengalami semua hal itu, sampai dia berdiri dan memeriksa semua bagian tubuh Royyan.


"Ssstt ... enggak papa, aku baik-baik aja,"desis Royyan menarik istrinya untuk kembali duduk di hadapannya. "Jadi tolong kamu jangan deket-deket sama aku kalau lagi di luar, ini alasan aku, aku gak mau kamu menjadi sasaran keegoisannya."


Almira tertunduk dan mengangguk. Namun, kemudian dia menyadari sesuatu hal, lekas dia dongakkan lagi wajahnya menatapi sang suami dengan serius.


"Tapi kan Elshara udah balik, harusnya udah aman kan?"serunya dengan penuh keyakinan.


"Enggak bisa begitu, aku belum tahu El ini hatinya sudah lupa dengan cintanya sama aku atau belum, tunggu aku sebentar lagi, aku harus mencari keberadaan Dirta dan memantaunya dari jauh agar aku yakin tentang keselamatan kamu,"balas Royyan menegaskan apa yang dia yakini selama ini.


"Kok keselamatan aku."Almira bertanya-tanya, apa hubungannya dengan dirinya.


"Ya jelas dong sayang ..."


"Heh! Barusan ngomong apa? Sayang sayang ... gak boleh!"tunjuk Almira mematri tatapan Royyan.


"Iya oke,"sahutnya seraya dia menyugar wajahnya dengan kedua telapan tangannya, "intinya kalau Dirta tahu kamu istri aku dia pasti akan melakukan suatu hal yang buat aku merasakan kehilangan seperti apa yang dia rasakan, aku akan mencari tahu responnya dulu dan aku akan ungkap pernikahan ini."


"Kalaupun aku beneran di jahatin, kamu gak akan merasakan apapun kan? Orang kamu gak cinta sama aku jadi gak papa dong, kamu tinggal bilang kalau kamu nikahi aku karena perjodohan aja, selesai dan Dirta gak akan mengganggu kamu,"celetuk Almira enteng, bahkan dia masih bisa-bisanya tersenyum.


Royyan mendengkus kasar dan kemudian dia menggelengkan kepalanya lalu menepuk jidatnya lembut, merundukkan punggungnya pasrah, entah harus berkata apa lagi biar Almira menyadari akan cintanya yang dia salurkan lewat tindakannya.


"Terserah lah. Pokoknya ingat itu, kamu terikat sama aku jadi kamu harus ikuti apa yang aku katakan."Royyan beranjak dari ranjang dengan perasaan lega. Namun, perkataan Almira yang terakhir membuat rasa dongkol menjalari seluruh jiwanya.


Almira masih saja berpikir Royyan tidak memiliki rasa padanya, sepertinya Almira hanya mempercayai jika kata cinta terucap dari mulut Royyan secara langsung. Walau tindakan Royyan seharusnya sudah sangat menjelaskan jika hatinya memang memilihnya, tetapi hal itu tidak lah cukup untuk seorang wanita yang membutuhkan pengakuan dari mulut.


...***...


Pagi menjelang. Ketika sang baskara masih belum memamerkan sinarnya yang diramal akan sangat terang sampai membuat tanah kehausan dan orang-orang merasakan denyut nyeri di kulit mereka. Royyan keluar dari kamarnya membawa dua buah koper dan satu tas kecil yang dia gendong serta tas laptop yang sama dia silangkan di tubuhnya.


Semalam, saat Almira sudah tertidur nyenyak setelah perbincangan panjang mereka, Royyan mengemas barang-barangnya sendiri tanpa bantuan siapapun termasuk para pelayannya.


Alih-alih membuat Almira menyadari perasaannya, wanita cantik itu malah menunjukkan sikap yang membuat Royyan semakin ingin membawanya dalam malam panjang yang panas di ranjang kebesarannya. Entah pura-pura tidak mengerti atau memang Almira kurang pintar jika urusannya bermasalah dengan hati dan perasaan.


Di pagi ini Royyan sudah bersiap di depan pintu utama rumah besarnya, tetapi tiba-tiba Almira terbangun setelah mendengar raungan mobil yang biasa Royyan kendarai untuk mengantarnya pergi bekerja.


Perlahan dia sibak bola matanya yang masih terasa lengket, dia turun dari ranjang dan segera keluar dari kamarnya. Kakinya menuntun tubuhnya menuruni anak tangga sampai habis di lantai satu, wanita berambut coklat keemasan yang kini sudah menyerupai rambut singa itu berlenggang mendekati pintu utama, disana Royyan masih berdiri di depan mobilnya, sedangkan sopir dan satpamnya membantunya untuk memasukkan koper-kopernya ke dalam bagasi.


Dalam wajah yang setengah mengantuk Almira menarik jaket denim berwarna hitam yang dikenakan Royyan, sedangkan pria yang sedang memakai topi itu masih berfokus dengan ponselnya, tanpa dia sadari Royyan menarik sang istri untuk di peluknya, dan Almira menikmatinya karena wanita itu masih dalam keadaan mengantuk, dia masih menguap berulang kali sampai pelipisnya mengeluarkan titik tetesan air mata.


"Kak Royyan mau kemana? Kok banyak banget bawaannya,"lirih Almira dengan malas karena rasa kantuk masih saja menempel di matanya.


Pria yang baru saja selesai mengirim pesan pada Adrian segera memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket denimnya, lalu dia menoleh dan menatapi wajah istrinya yang tengah melenggak dalam keadaan mata yang masih berusaha untuk membukanya. Detik itu juga senyuman tipis dengan segera melatis di permukaan wajahnya, lalu dia dekap Almira dengan kedua tangannya dengan erat.


"Aku mau ke Bali, ada kerjaan disana, aku harus mantau sebuah acara di resort yang aku punya disana,"bisik Royyan di daun telinga sang istri.


"Hmm ... kok baru bilang sekarang,"jawab Almira lagi masih dalam suara yang parau.

__ADS_1


Beruntungnya telinga Royyan sangat dekat dengan mulut Almira, jadi dia bisa mendengar dengan jelas apa yang di katakan oleh istrinya yang masih saja memaksakan diri untuk terbangun dari rasa kantuknya.


"Ini bilang, udah ya aku mau berangkat."Royyan melepaskan dekapannya seraya menegapkan tubuh Almira.


"Yaudah,"jawab Almira yang kemudian dia menguap lagi dan menanamkan embun di matanya semakin lebat.


Melihat sang istri masih saja seperti itu, lekas Royyan menurunkan sedikit lututnya menyejajarkan dirinya dengan Almira, tanpa aba-aba Royyan menjatuhkan kecupan hangat di bibir Almira yang masih polos dari warna-warna perona bibir yang sering digunakannya, sebuah kecupan hangat yang terasa manis itu melekat selama beberapa detik sampai Almira melebarkan kedua bola matanya dan akhirnya dia terbangun dari rasa kantuknya dengan penuh.


"Kak Royyan!"pekik Almira seraya memukul dada Royyan lalu dia menutupi mulutnya dengan satu tangannya yang lain, "sembarangan main cium-cium orang lain aja,"tambahnya memberengut.


"Bukan orang lain, kamu kan istri aku,"kilah Royyan menajamkan tatapan nakalnya sampai akhirnya dia merangkai wajahnya dengan senyuman ceria.


Lalu dia turun dari rumahnya untuk memasuki mobil, "yaudah aku berangkat ya, aku di Bali dua bulan,"pungkasnya seraya menaikkan satu kakinya ke dalam mobil.


"Bali?"seru Almira memutar bola matanya ke langit yang masih hitam.


Tak lama dia baru sadar, kalau dia juga akan pergi ke bali empat hari lagi, lekas dia berlari mengejar Royyan yang sudah masuk ke dalam mobil dan pintu mobil hendak tertutup, dia segera menahan sopir yang akan menutup pintu itu.


"Tunggu, aku mau ngomong dulu,"pinta Almira membuka pintu itu lagi dengan lebar.


"Mau ngomong apa? Cepet, jam tujuh aku harus udah ada di bandara,"jawab Royyan dengan wajahnya yang sudah kembali datar seraya dia melihat jam tangan yang melingkari lengan kirinya.


"Aku juga mau ke Bali empat hari lagi,"terang Almira masih pegangan pada pintu mobil.


"Hah?! Mau ngapain?"sahut Royyan sedikit terkejut sehingga dahinya mengernyit.


"Ada kerjaan, di acara summer camp,"katanya lagi dengan polos, kali ini pintu mobil dia lepaskan.


"Summer camp?"tanya Royyan memastikan.


"Berapa lama?"


"Dua bulan kayaknya, sampai acaranya selesai."


"Yaudah, hati-hati. Aku mau berangkat, udah telat,"jawab Royyan dingin yang segera menutup pintu mobilnya.


Almira memberengut, merasa tidak puas mendapatkan jawaban dari suaminya, dia ingin mendapatkan respon seperti di film-film yang dia tonton, jika sang suami akan merasa khawatir atau menyiapkan segela kepergiannya ke Bali, tetapi ternyata responnya tidak baik, menurutnya.


Perlahan mobil hitam mulai meninggalkan pekarangan rumah besarnya meninggalkan Almira yang tengah memasang wajah kesal dan masamnya. Seraya melipat kedua tangannya di depan, dia melangkah masuk kembali ke dalam rumahnya.


"Respon apaan begitu? Istrinya mau pergi ke Bali sendirian, bukannya khawatir atau apa kek, malah yaudah hati-hati, gitu doang,"omelnya sembari dia berjalan ke dalam kamarnya lagi.


Tiba di dalam kamar, segera dia lempar tubuhnya ke atas ranjang. Baru satu detik Almira merebahkan tubuhnya, ponselnya sudah berdering di pagi-pagi buta begini. Dia menoleh pada ponselnya yang ada di atas nakas, dengan malas dia seret langkahnya untuk mengangkat telepon itu.


"Kak Ra, gaun dan busana lainnya mau di kemas hari ini atau kapan?"tanya Sara yang ada di balik ponsel.


"Hari ini, kita kan berangkatnya bergilir, besok kamu sama beberapa staff yang pergi duluan, baru dua hari kemudiannya saya berangkat sama staff lain,"terang Almira yang kembali membawa dirinya ke atas ranjang.


"Baik kak."


Panggilan telepon dengan singkat berakhir, setelah itu Almira segera melempar ponselnya ke atas sampai tenggelam di antara keempat bantalnya yang tebal-tebal. dengan dua guling yang sudah saling berjauhan, sedangkan Almira berada di tengah-tengah dan dia mulai memejamkan matanya lagi.

__ADS_1


Sementara itu di dalam mobil, Royyan pun sedang melakukan panggilan telepon.


"Besok datang ke butik istri saya, tanyakan kapan mau berangkat dan kamu urus penerbangannya dengan baik, karena istri saya dia bawa banyak barang untuk keperluan acara,"titah Royyan pada Adrian yang memang tidak dibiarkannya berangkat bersama dengannya.


Awalnya Adrian di pinta Royyan untuk tetap di Jakarta karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan di kantor.


"Baik pak, saya akan berangkat bersama dengan nona tetapi dalam nomor seat yang berbeda."


"Bagus. Saya mengandalkan kamu Adrian."


"Siap pak."


Panggilan telepon berakhir, lekas dia masukkan lagi ponselnya ke dalam saku jaket denimnya, lalu dia sandarkan kepalanya ke belakang. Jakarta tak pernah lepas dari keramaian, walau sepagi ini, Royyan harus bergelut dengan keramaian dan sesekali macet setiap melewati jalanan bercagak.


Tapi beruntungnya Royyan bisa tepat waktu tiba di bandara, matahari perlahan naik ke langit menemani langit biru dan awan-awan yang mulai berkumpul di setiap area yang ada di langit.


Segera Royyan keluar dari mobilnya dan dua kopernya dibantu oleh sopirnya masuk ke dalam bandara sampai ke area pemeriksaan data diri dan tiket. Tiba di depan petugas, Royyan memerintah sopirnya untuk segera kembali pulang, dan sopirnya itu mengerti, makanya sang sopir memutar tubuhnya menuju keluar dari bandara itu.


Menjelang selesai pemeriksaan, Elshara tiba dengan manager-nya, lantas wanita yang mengenakan baju serba panjang dan juga topi besarnya itu menyentuh tangan Royyan dengan hati-hati, karena dia masih mengingat jika Royyan tidak suka sembarangan di sentuh.


"Royyan,"seru Elshara dengan senyuman cerianya.


Pria yang sedang merapikan tiketnya itu segera menoleh, "hai El,"ucap Royyan dengan senyuman tipisnya, tetapi jika sekilas wajahnya tak terlalu nampak tersenyum. Lantas Royyan segera melangkah seraya membawa dua kopernya karena pemeriksaannya sudah selesai.


Tak lama dari itu Elshara pun selesai dengan segala pemeriksaannya, dia segera berlari dan menyusul Royyan untuk menyejajarkan tubuhnya dengan Royyan, sedangkan Royyan masih acuh menatap lurus ke depan seraya menggenggam koper di kedua tangannya.


"Kamu berangkat hari ini? Aku kira besok, kita ternyata berjodoh ya,"cerocos Elshara yang nampak bahagia bisa berdekatan lagi dengan Royyan.


Mendengar perkataan jodoh membuat Royyan menyadari jika Elshara masih mengharap cintanya, lantas dia hanya menaikkan satu sudut bibirnya untuk merespon perkataan Elshara.


"Kita kerja di kota yang sama,"pungkasnya kemudian setelah dia berusaha untuk mengukir senyum tipisnya.


"Ya iya sih, tapi aku bahagia banget tahu bisa dekat sama kamu lagi, Ajun juga,"kilah Elshara seraya dia menoleh pada Royyan yang ada di sampingnya.


Hembusan tawa ringan terdengar jelas oleh telinga Elshara, tetapi Royyan tidak mengatakan apapun dalam beberapa detik ke depan sampai akhirnya dia kembali membuka mulutnya.


"Selamat karena kamu masih bisa menghirup udara segar, kita harus nemuin Dirta secepatnya."


"Iya,"sahut Elshara mengerucutkan bibirnya kesal.


Harus terus berusaha El, Royyan itu cowok langka jadi elu harus banyak berkoban untuk mendapatkannya, gak mungkin kan kalau Royyan gak suka sama elu, secara elu itu cantik, top model lagi.


Pungkas batinnya, tiada hentinya memuji dirinya sendiri.


Lalu dia mulai berani melingkarkan tangannya di salah satu tangan Royyan yang menjuntai dan berayun-ayun selama mereka berjalan menuju ke pesawat yang akan mereka tumpangi.


"Tahu gak, aku tuh pas pertama bangun dari koma kayak orang bego gak tahu siapa-siapa, dan rasanya pengen beneran aja akhiri kehidupan, tapi kata dokternya kamu masih punya kehidupan yang bagus, aku pengen deh ketemu sama dia dokter yang udah nyelamatin aku,"celotehnya dengan enteng masih belum menyadari jika tindakannya sudah melewati batas.


Tiba-tiba langkah Royyan terhenti dan menoleh pada Elshara dengan tatapan tajam seraya dia melepaskan tangan Elshara dari lengannya, "jangan melewati batas, tidak ada teman yang bergandengan,"tegas Royyan dengan suara beratnya.


"Ah iya ... maaf,"seru Elshara kecewa.

__ADS_1


Dia pikir Royyan sudah berubah dari yang dulu, karena terakhir ketemu sikap Royyan lebih hangat tidak seperti dulu, sampai dia menyentuh wajahnya. Namun, ternyata tak seperti apa yang ada dalam bayangannya. Lekas Elshara menarik kedua tangannya ke belakang dan merundukkan kepalanya, muram.


NEXT ....


__ADS_2