
Pria itu mengurai rasa kesal dan marah diwaktu yang bersamaan keluar melalui helaan napasnya yang panjang nan berat. Tiba di luar ruangan inap sang istri, punggung lelaki itu bersandar pada pintu ruang inap itu, lantas menyurut ke bawah beriringan dengan rautnya yang terjatuh dengan sendu.
Rasa sesak di dadanya semakin membuncah, saat itu juga Royyan pukuli kepalanya sendiri secara kasar, dia frustasi, kesal, geram, marah. Namun, tidak ada yang bisa dikembalikan ke masa awal. Semuanya telah terjadi dan bubur tidak akan pernah kembali menjadi nasi, serupa dengan waktu yang tak akan bergulir kembali ke belakang.
Wajahnya memerah kesal dan sesak yang semakin menyakitinya, perlahan sesak itu terurai menjadi sebuah ratapan yang membasahi bibirnya, helaan napasnya memberat seraya dia menjulurkan lidahnya keluar, beberapa detik dia menjilati bibirnya sendiri dengan gusar.
"Aaarghh ...,"kesal Royyan menyugar wajahnya dengan kasar, sampai di kepalanya, pria itu kembali memukuli dirinya sendiri.
Ajun yang baru saja tiba di rumah sakit segera mengayuh langkahnya mendekati Royyan dan dia tarik kedua tangan Royyan yang terus saja menyakiti dirinya sendiri. "Yan! Stop! Lu kebiasaan banget sih suka nyakiti diri lu sendiri,"tepis Ajun menatapi sahabatnya dengan iba.
Kedua tangan lelaki bertubuh kekar itu memang berhenti, tetapi dia terjatuh lemah ke bawah dan tatapannya mencelat jauh dengan kekosongan yang mengerikan. Perasaan Ajun terguncang kala dia melihat bercak-bercak merah yang melukai punggung tangan sahabatnya.
Dahi lelaki bermata downturned itu lekas mengerut, benaknya mempertanyakan kemana sahabatnya itu pergi, bahkan penampilannya pun sangat kacau, jas yang dikenakannya nampak kusut apalagi di bagian kemeja ada noda kotor hampir di seluruh bagian kemeja itu.
"Ada apa? Kenapa lu gak hubungi gue, kalau Manda gak ngasih tahu gue, mungkin gue gak akan tahu apa-apa,"tanya Ajun beruntun memosisikan dirinya berlutut di samping Royyan.
Pria itu masih merekam jejak kosong di depannya, hanya ada beberapa kursi yang menempel dengan dinding sebagai ruang tunggu untuk keluarga pasien. Sorotnya menyiratkan sebuah kelam yang menyayat hati Ajun, tak biasanya dia melihat kondisi Royyan dalam keadaan seburuk ini.
Sebelum menjawab pertanyaan Ajun, pria berambut mullet itu sempat menyisir rambutnya ke belakang dengan lemah. "Gue gagal Jun! Gue gak bisa jaga istri dan anak gue, walau gue ada di dekatnya, tapi semuanya kacau. Gue---gagal, haah ..."sesal Royyan menjulurkan kedua kaki panjangnya dan parasnya terlempar ke arah lain dimana Ajun tak berada di depannya.
Ajun menarik napasnya lalu dia lemparkan keluar untuk mempersiapkan dirinya menenangkan Royyan. "Ada apa?! Kenapa lu kacau banget kayak gini sih, dan kenapa tangan lu bisa terluka begitu?"tanya Ajun lagi.
"Gu-e ... Kehilangan, dan gue gak akan pernah lepasin siapa pun dalang dibalik ini semua." Raut wajah Royyan seketika menjadi mengeras, sorot matanya menajam dengan kepalan tangan yang membulat dengan kasar.
Lelaki bertubuh tegap itu lantas menganjurkan tubuhnya ke bawah, dia tak tahu lagi harus mencari tahu kemana tentang kejadian yang tidak dia ketahui. Helaan napas terurai dengan lemah.
Namun, tiba-tiba Ajun mengingat perkataan Royyan saat di acara pesta ulangtahun sahabatnya itu, jika bayangan lelaki bermotor itu kembali menjadi kabut tebal di kehidupan Royyan.
"Ra ... Oleh lelaki bermotor itu,"duga Ajun tampak ragu-ragu.
Netra Royyan berpaling dengan kasar merekam mata Ajun yang sudah menunggu jawaban darinya. Bukannya menjawab, pria bermata kecil itu malah melempar deru napasnya yang tak kalah kasarnya dengan tatapannya.
"Kami sudah kehilangan anak kami,"celetuk Royyan membuat Ajun membeliak.
Dia terperanjat dengan perkataan Royyan barusan, netranya bukan hanya membeliak, tapi ia juga mengerut dengan dada yang bergemuruh hebat. Kemarahan mulai berkumpul dalam ceruk batin Ajun, kini dia mengerti mengapa sahabatnya bersikap amat kacau seperti demikian.
Janin yang baru saja tumbuh harus segera kembali ke surga karena ulah lelaki bermotor itu, hati Ajun tercengkeram kekesalan yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Royyan. "Kalau begitu, jika lu mau hajar mereka, ajak gue,"tegas Ajun sembari menyingsingkan kedua lengan kemejanya.
Tendasnya kembali terjatuh ke bawah bersamaan dengan kedua lututnya yang menaik dan kedua tangannya terjun ke atas lututnya untuk terbaring dengan lemah. "Gua udah hajar tiga orang di antaranya dan gedung tua markas mereka udah gua bakar,"jelas Royyan lirih.
"Hah?! Kapan?"seru Ajun terkesiap membawa bokongnya untuk merungguh tetap berada di dekat Royyan.
"Saat Ami di UGD, dan gue minta Manda untuk jaga Ami, karena kalau gue biarin terlalu lama mereka bisa menghilang."
"Haahh ...." Napas Ajun terurai lembut, "jadi tangan lu berdarah-darah gitu karena hajar mereka?"sambung Ajun.
"Euum ...." Suara beratnya mendesah dengan rengsa.
Ajun terdiam sejenak sampai otak cerdasnya itu melambungkan sebuah pertanyaan. "Tapi lu tahu dari mana kalau mereka ada di sana?"
"Dirta, gue tahu mereka mantan orang suruhan Dirta, jadi gue datangi Dirta."
Ajun terkulai-kulai mengerti.
__ADS_1
Di sudut lain dari lorong rumah sakit yang nampak kosong, suster dan dokter pun tak lagi berkeliaran di area dimana Ajun dan Royyan tengah bertukar cerita, Manda mencuar di balik dinding yang menyambungkan dengan lorong lain, warna putih menguasai rumah sakit.
Tubuh Manda membisu di sana, aliran napasnya pun tercekat. Desir perih yang membukit di dalam dadanya berhasil membuat Manda kesulitan untuk bernapas, dia membalik tubuhnya dan bersandar pada dinding itu, membekap mulutnya dengan erat memangkas segala suara yang bisa ditimbulkan dari rona mulutnya.
Jadi ... Ra?! Keguguran! Ya tuhan .... Kenapa kau memberikan ujian begitu besar pada orang sebaik Ra. Pantas saja Royyan tadi kelihatannya lesu, dan ... Semua itu karena ulah oranglain, Dirta sialan!
Batin Manda mengutuk beriringan dengan hujan dari bola matanya melebat.
...***...
Di balik dinding-dinding dingin yang kosong, Dirta bersembunyi untuk melakukan panggilan telepon dengan seseorang. Dahinya mengerut geram dan menerkam jendela di depannya dengan penuh kesal.
"Hentikan! Kamu sudah keterlaluan, aku kira kamu minta untuk menghubungi orang-orang suruhan itu untuk keperluan lain, cukup! Jangan lakukan lebih dari ini, kamu tidak tahu kemarahan seperti apa yang akan dilakukan oleh Royyan, kamu tidak mengenalnya dengan baik,"berang Dirta berkacak pinggang dan berkelintaran tak karuan.
"Jangan ikut campur, ini urusan gue, lu gak perlu terlibat dengan urusan gue."
"Kenapa kamu nekad banget sih, kamu tidak akan bisa melawan kemarahannya Royyan, dia bisa membuat seluruh keluargamu rata dengan tanah,"kata Dirta lagi berkobar-kobar.
"Kita lihat aja nanti, siapa yang akan kalah."
"Kamu udah kalah! Para pembunuh bayaran itu sudah dikalahkan oleh Royyan, dan gedung tua pun telah terbakar dan menjadi abu, satu dari tiga orang yang dikalahkan Royyan telah terluka karena kakinya terbakar,"terang Dirta yang mengetahui bagaimana situasi sebenarnya yang ada di sana.
"What?! Kenapa bisa? Royyan tidak tahu apapun tentang gedung tua itu."
"Aku! Aku yang mengantarkannya."
"Ah sial! Dirta! Kenapa lu bodoh banget sih."
"Diam! Sudah aku bilang, tidak ada yang akan bisa melawan kemarahan Royyan, jadi segera hentikan sebelum kamu hancur di tangannya,"sembur Dirta.
Tuut!
"Sialan!"kesal Dirta melempar tangannya ke bawah dengan kasar sambil menggenggam ponselnya itu erat-erat. "Aku mau kamu selamat, kenapa kamu malah milih untuk masuk ke dalam kegelapan Royyan, sungguh kamu tidak tahu bagaimana jalan pikirannya Royyan, aku mohon ... Berhenti sekarang, sebelum semuanya terlambat."
...***...
Gedung-gedung tinggi yang berderet di sudut kota, dekat dengan beberapa pusat perbelanjaan yang terletak di bagian paling ujung dari daerah tersebut. Royyan dan Adrian yang dipandu oleh seorang sopir biasanya yang bekerja di induk perusahaan Rain corporation memarkirkan mobilnya di sana.
Keduanya keluar dari mobil setelah dibukakan pintunya oleh sopir itu, Royyan dan Adrian melenggang masuk ke dalam perusahaan besar itu dan disambut oleh beberapa banner-banner dan standee sebuah busana yang sudah diluncurkan beberapa waktu lalu, di sudut lain berdiri jam dinding raksasa yang dirancang menyerupai seorang wanita tengah berlenggok dengan busana indahnya berwarna merah.
Langkah Royyan dan Adrian berpaling dari sana menuju lift yang terletak di lorong kecil sebelah kanannya, mereka menekan lantai 17 dimana Ressa dan Miranda. Ya! Itu adalah perusahaan milik mertuanya.
"Cek jadwal, setelah ini saya harus kemana?"tanya Royyan yang berdiri dengan gagah di depan deretan tombol yang ada di dalam lift.
Adrian segera memeriksa tablet hitam miliknya, dia sentuh layar pintar itu ke atas dan memeriksa satu per satu jadwal yang sudah tertulis di sana. "Setelah ini bapak ada meeting dengan kedutaan inggris, beliau ingin membahas tentang pembangunan rumah pribadinya di daerah Jakarta selatan,"terang Adrian.
Royyan menghela napasnya terlebih dahulu. "Oke. Kita selesaikan hari ini lebih cepat, saya harus ke rumah sakit jemput istri saya."
"Baik pak." Adrian mengangguk.
Tiba di lantai yang ditujunya, langkah kedua pria berbadan tegap itu berayun ke sebuah ruangan dengan kualitas pintu lebih baik dari yang lainnya. Sebelum masuk, Royyan sempat mengetuk pintu berwarna kecoklatan itu dan dengan sigap suara yang berasal dari dalam itu segera bergeser terdengar oleh Royyan.
Royyan mengambil langkah lebih dulu, dan Adrian mendikte gerakan sang bos masuk ke dalam ruangan itu. Di dalam sudah ada Ressa dan Miranda, mertuanya itu segera mempersilakan menantu kesayangannya itu untuk duduk di sofa yang telah disediakan.
__ADS_1
"Ada apa nak? Tumben sekali kamu mendadak datang tanpa ada memberi kabar dahulu,"tanya Ressa masih bersikap tenang di kursi sebelan kanan Royyan.
Miranda terperenyuk duduk diam di samping sang suami. "Iya nak, apa Ra meminta sesuatu, dia kan kalau lagi sakit suka minta hal yang aneh-aneh,"timpal Miranda.
Ressa dan Miranda memang mengetahui Almira mengalami kecelakaan di depan rumah sakit, dan hari itu juga kedua orangtua Almira yang selalu sibuk itu bertandang ke rumah sakit untuk memastikan jika putri semata wayangnya itu baik-baik saja, dan saat mereka tiba Almira sudah selesai melawan mautnya.
Keadaan wanita berambut coklat itu tampak baik-baik saja bahkan Almira sudah bisa tersenyum dan terbangun dengan baik, Ressa dan Miranda tidak mengetahui apapun tentang kejadian dibalik itu semua.
"Ami bukan kecelakaan biasa, dan ... Aku ada suatu hal yang harus disampaikan selain hal itu,"cetus Royyan ragu-ragu, napasnya memberat.
"Ada apa?" Raut Ressa seketika berubah menjadi redup, bergantian menatapi Royyan dan sang istri yang ada di sampingnya.
"Kenapa nak?! Muka kamu kenapa berubah jadi muram begitu,"tanya Miranda penasaran, bahkan dia berpindah ke dekat Royyan.
"Ada seseorang yang merencanakan semua itu,"kata Royyan tersekat.
"Hah?! Siapa? Tapi ... Kenapa? Ra kami ada masalah dengan siapa, sampai dia harus diancam dengan kematian seperti ini, ada apa?"tanya Miranda beruntun, dia berkerut dalam.
"Mi ... Tenang dulu, kita dengarkan anak kita dulu,"sanggah Ressa pelan.
Miranda terdiam dengan raut kemerahan karena kekhawatirannya terhadap putri semata wayangnya itu membuncah.
Mendengar semuanya telah senyap, Royyan yang tertunduk tadi segera menengadahkan wajahnya menatapi ruangan itu penuh dengan kekosongan dan penyesalan dirinya sendiri.
"Maaf ... Mungkin karena aku mi pi ...."ucap Royyan lirih, tatapannya kembali terjatuh ke bawah. "Semua ancaman itu berasal dari aku, harusnya aku tidak bersama Ami, salahku yang menginginkan anak mami dan papi, hanya karena aku mencintainya, tapi ternyata Ami hidup dalam bayang-bayang kematian, bahkan anak kami pun telah tiada karena kecelakaan itu,"sambung Royyab berat, suara bulatnya memberat dan membenihkan parau menyebar ke seluruh penjuru tenggorokannya.
Ressa dan Miranda seketika terkesiap dengan penuturan Royyan, cucu pertama mereka telah tiada, ingin marah pun tak mampu. Melihat betapa rapuh menantunya itu membuat Ressa dan Miranda tak mampu marah ataupun memaki Royyan, karena mereka tahu betul pria bertubuh kekar itu tengah mendekap kelamnya.
"Coba ceritakan pada kami nak, kami akan mendengarkannya."
Tatapan yang mengendur tadi seketika menjelma menjadi belati tertajam di muka bumi, ia menyembul ke udara, mencabik-cabik butiran udara yang berserakan di depannya. jari-jemarinya salit bertautan seraya dia menarik napasnya ke dalam dengan panjang, lalu dia lekas lemparkan lagi keluar.
"Ini bukan sebuah kesalahan, tapi entah mengapa selama ini menjadi bayang-bayang hitam yang memuakkan di kehidupanku." Lelaki bertubuh tegap itu bergerak menuju jendela besar yang merekam keadaan di luar dengan sempurna. "Saat masa remaja sahabatku Dirta jatuh hati pada seorang wanita namanya Elshara atau Rala, kami berteman dengan baik,"sambung Royyan yang terpaksa harus dihentikan karena Ressa memotong pembicaraannya.
"Rala?! Putri dari pimpinan Romz Fashion?"potong Ressa sambil dia bergerak untuk mendekati menantunya itu.
"Iya Pi, Rala putri dari pimpinan perusahaan itu, aku, Ajun, Dirta, dan Rala dulu berteman dengan baik, sampai Dirta jatuh hati pada Rala dan Rala malah jatuh hati padaku, dan dari sanalah pertengkaran dimulai, tepatnya saat Rala kecelakaan pesawat, Dirta berubah menjadi ancaman bagiku." Royyan bergerak untuk memutar tubuhnya dan mengarah pada Ressa yang ada di sampingnya.
"Maksudnya?" Ressa nampaknya belum sepenuhnya mengerti.
"Dirta neror aku, katanya ... Dia akan membunuh siapapun yang menjadi istriku, karena dia kehilangan Rala karena kecelakaan pesawat itu, Rala pergi untuk melupakan perasaannya padaku,"terang Royyan lagi.
"Jadi ... Ra kecelakaan karena temen kamu itu?"tanya Miranda yang bergerak untuk mendekati suaminya dengan Royyan.
"Belum dipastikan, ketiga pembunuh bayaran itu tidak mengatakan siapapun yang telah menyuruhnya, bahkan aku datang menemui pembunuh bayaran itu bersama Dirta,"jawab Royyan yang kemudian menghela napasnya terlebih dulu, "ada kemungkinan antara Dirta dan Rala atau bisa jadi keduanya,"lanjutnya ragu-ragu.
Namun, entah mengapa hatinya begitu bertekad dengan keyakinan itu semua, seperti dengan dugaannya di awal, dia telah mempersiapkan dua belati yang siap untuk dia tarik kapanpun dia mau, hanya saja Royyan tak bisa menariknya begitu saja sebelum dia benar-benar mengetahui siapa dalang dibalik rencana pembunuhan yang mengarah pada istrinya itu.
"Aku meminta Mami dan Papi untuk menyelundup masuk sebagai pemegang saham terbesar di perusahaan keluarga Rala karena ini." Raut tampannya menoleh dan tatapannya terlempar keluar jendela lagi. "Jika ada permainan busuk dari anaknya, maka Mami dan Papi bisa menarik semuanya dalam satu waktu, oh iya ..." Lelaki itu kembali berbalik pada kedua mertuanya, "ada satu perusahaan cabang Rain Corporation, yang juga mengambil 10% saham di perusahaan itu, maka jika ditarik mereka akan lumpuh."
Ressa dan Miranda terkesiap dengan penuturan Royyan. Sepasang suami-istri pebisnis itu tak pernah menyangka rencana yang telah dibuat menantunya itu sungguh sempurna sehingga mereka tidak pernah mengira jika semua itu hanyalah rencana Royyan, bukan karena ingin menolong perusahaan itu yang tengah dalam keadaan kalut.
"Jadi ... Selama ini kamu merencanakan ini semua?"tanya Ressa yang masih belum bisa mempercayainya.
__ADS_1
NEXT ....