
Kafe di sudut jalan sungguh menggoda Almira menyeret langkahnya dengan malas untuk berkunjung, wanita yang masih menyimpan kekesalannya itu segera berayun ke dalam kafe, wajahnya yang muram mulai menyeringai kala melihat milky strawberry kesukaannya menjadi menu andalah dari kafe itu. Langkah malasnya tiba-tiba saja mendapatkan energi yang begitu besar, dia berayun ke kasir untuk memesan menu tersebut.
Dalam perjalanannya itu entah di sengaja atau memang ketidaksengajaan, pria bertubuh tinggi dan memiliki rambut wavy bergelombang membentur tubuh Almira hingga wanita yang baru saja menemukan senyumnya terjatuh ke bawah melanggar lantai berkeramik roman berwarna abu pekat.
"Aw ...."Almira meringis di bawah, tak bisa dipungkiri jika tubuhnya merasakan sakit yang bukan main.
Tubuhnya terjatuh begitu saja tanpa ada sanggahan apapun, langsung berbenturan dengan keramik yang keras itu, dia langsung mendongak menatapi tajam pria tersebut. Sedang pria yang mengenakan topi hitam dan masker hitam itu nampak tidak merasa bersalah, dia tetap berdiri tegak tanpa berkeinginan untuk menolong Almira.
"Jalan yang bener dong, kaki sama mata tuh di pake bersamaan. Ganggu banget,"gerutu pria tersebut dengan angkuhnya.
Perkataan itu membuat hati Almira sangat sakit, mata kucingnya membuntang, lalu dia segera membawa dirinya berdiri di hadapan pria itu, menancapkan tatapannya pada pria tersebut. Belum sempat Almira melontarkan kata-kata mutiara padanya, pria itu sudah lebih dulu melimbai dan meninggalkan kafe.
"Heh! Woi! Elu yang nabrak stress, yang ada elu yang ganggu, brengsek lu ya!"cibir Almira berkacak pinggang yang kini menjadi pusat perhatian semua pengunjung disana.
Semua mata manusia yang ada di dalam kafe, termasuk para pelayan disana tertuju pada sosok wanita cantik nan mungil itu. Tetapi Almira mengabaikan semua orang, dan tetap melangkah ke kasir, milky strawberry sudah sangat diinginkannya. Seraya mengatur pola napasnya, meredam emosinya untuk saat ini.
"Hai kak, mau pesan apa?"tanya pelayan yang bertugas saat itu.
"Milky strawbery,"kata Almira singkat.
Sepertinya sudah tidak ada gairah lagi untuk Almira berbicara lagi. Hari ini banyak sekali hal yang terjadi padanya, bahkan dia harus kehilangan gaunnya, walau gaun itu sudah berubah menjadi pundi-pundi uang yang masuk ke rekeningnya, tetap saja dia merasa jengkel.
"Maaf kak, untuk hari ini milky strawberry sudah habis, terakhir di pesan oleh pria yang tadi bermasalah dengan kakak,"jelas sang pelayan mengatupkan kedua tangannya dengan sopan dan senyuman cerahnya.
"Hah?! Habis?"seru Almira berkerut kesal, kemudian dia menoleh ke pintu keluar kafe itu.
Ah sial banget sih gue hari ini, udah gaun di beli orang, di tabrak cowok gila, milky strawberry-nya habis pula. Ya tuhan .... lagi ngutuk gue kah hari ini, Aarrrghh ....
Tanpa berpamitan, Almira melengos dari sana, pergi meninggalkan kafe dalam keadaan hati yang semakin dongkol. Rasa kes semakin membuat dirinya berkabut. Riuh suara para pelanggan yang menikmati makanannya membuat Almira semakin memburu langkahnya untuk berjalan lebih cepat, dia berjalan sedikit berlari untuk segera meninggalkan kafe yang membuat harinya semakin memburuk.
Mobil merah yang selalu dikendarainya melaju dengan kecepatan tinggi terjatuh ke jalanan besar, menggelinding bersama kendaraan lainnya yang juga menjadi penghuni jalanan besar. Almira mencengkeram setirnya dengan penuh kekesalan, matanya mulai mengembun dan menimbulkan warna merah, menahan bulir kristal yang sudah berkumpul di kelopak matanya.
Melaju cepat sampai tiba di rumahnya, dia memarkirkan mobil dengan sembarangan, tepat di depan air mancur besar di pekarangan rumah itu. Keluar dari mobil dan membanting pintu mobil dengan penuh tenaganya. Lantas dia menoleh pada salah satu satpam yang bertugas di sore ini.
Menyadari jika paras kesal Almira mematrinya yang tengah berdiri di depan pos satpamnya, dia segera mengayuh langkahnya mendekati Almira dengan wajah yang tertunduk dan kedua tangan yang terlipat di depan.
"Ada yang bisa saya bantu bu?"tanyanya hati-hati.
"Bisa bawa mobil gak? Parkirin mobil,"jawabnya ketus.
"Bisa nona, saya akan memarkirkannya untuk nona,"katanya lagi sedikit mengangkat wajahnya.
"Ini."ketus Almira lagi memberikan kunci mobil pada satpamnya itu.
Sedang dia segera berayun masuk ke dalam rumah besar, di dalam sudah berjajar para pelayan yang menyambutnya, di depannya berdiri Syani dengan sopannya.
"Nona mau mandi dulu atau mau makan?"tanya Syani pelan dengan wajah yang tertunduk.
"Gak mau ngapa-ngapain, bawain air putih dingin aja, pake es batu yang banyak,"ketus Almira dengan wajah muramnya dan bibir yang cemberut.
"Baik nona."
Wanita yang diselimuti kekesalan itu melenggang menaiki tangga panjang yang membawanya ke lantai dua, dari sana Almira masih mengayuh langkahnya ke tangga panjang ke dua untuk menuju lantai tiga, tujuannya tentu saja kamar utama yang dia tempati bersama sang suami.
Beringsut masuk ke dalam kamar, melempar tas yang dia bawa ke sembarang tempat, tergeletak di lantai yang dibaluti karpet berbulu lembut berwarna putih sedikit kecoklatan. Sedang dia masih berlanjut ke ranjang dan melempar tubuhnya ke atasnya, berguling mengubah posisi tidurnya menjadi telungkup seraya dia memeluk guling yang ada di dekatnya.
Tak lama dia menghela napasnya di hadapan guling, Syani mengetuk pintu membawakan segelas air dingin yang dipinta Almira tadi ditemani dengan cheese cake kesukaan nona mudanya itu.
"Masuk,"sahut Almira tidak mengubah posisinya seperti awal dia masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Syani masuk ke dalam kamar dan menyimpan nampan berisikan air dan kue itu di atas meja depan sofa yang ada di hadapan ranjang dan juga televisi besar.
"Saya simpan di atas meja ya nona,"katanya setelah dia meletakkan nampan itu.
"Iya,"jawab Almira sembari dia telungkup dan terpejam.
"Baiklah nona, saya kembali bekerja lagi. Jika ada yang nona inginkan lagi, panggil saya saja,"terang Syani.
"Oke."
Pelayan yang memang ditugaskan untuk melayani Almira itu beranjak dari sana, kemudian dia keluar dari kamar dan menutup pintu kamar dengan mulus, langkah kakinya pun nyaris tidak terdengar, kalai saing dengan angin yang berhembus dari luar masuk ke dalam.
Dari tempat lain, Royyan yang baru saja keluar dari ruangan meeting bersama Adrian, berayun menuju **lift** yang berada di sudut lantai tujuh, lekas dia dan Adrian masuk ke dalam lift.
"Hasil meeting tadi langsung kirim ke email saya,"pinta Royyan pada orang kepercayaannya itu sembari dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Baik pak, saya akan segera menyelesaikannya."
Lantas Royyan mengangguk lembut. Tidak lama dia berada di dalam lift, ponsel yang ada dalam saku jas-nya bergetar, panggilan telepon masuk dari orang suruhannya untuk mengawasi keseharian Almira selama berada di luar jangkauannya. Lekas Royyan mengambilnya dan mengangkatnya.
"Ada apa?"tanya Royyan tenang.
"Nona Almira sedang dalam keadaan marah,"jelasnya menggangtung.
Royyan berkerut dan tatapannya ikut menajam pada tombol-tombol yang ada di hadapannya itu.
"Kenapa?"tanyanya lagi.
"Nona kehilangan gaun yang akan dia gunakan untuk acara penting, tapi saya tidak tahu acara penting apa itu, lalu di kafe nona juga kehilangan minuman kesukaannya, milky strawberry, sebelum itu dia sempat ditabrak oleh sorang pria tinggi yang menutupi seluruh wajahnya,"bebernya dengan terperinci.
Pria yang baru saja keluar dari lift menghela napasnya panjang lagi berat, kemudian dia berayun bersama Adrian melanjutkan langkahnya menuju ruangannya yang tidak jauh dari lift tersebut.
"Baiklah pak."
Panggilan telepon usai. Baru saja Royyan berhadapan dengan pintu ruangannya, dia segera menoleh pada Adrian yang ada di belakangnya.
"Carikan saya butik bagus untuk istri saya, bila perlu undang karyawan butik dan perancangnya ke rumah orangtua saya, malam ini,"pungkasnya kemudian.
Walau wajahnya memunculkan kebingungan, Adrian mengangguk dan segera pergi dari hadapan Royyan, Sedangkan pria bermata kecil itu kembali mengayuh kakinya masuk ke dalam lift, turun langsung ke lantai satu. Tujuannya sudah jelas yaitu rumah.
Kurang lebih dari satu jam Royyan bertarung dengan jalanan yang macet dan klakson para penghuni jalanan yang memiliki kesabaran yang tipis, akhirnya Royyan tiba di rumahnya tepat pada jam 19.00 wib. Tanpa membawa tas yang tadi pagi ada bersamanya. Dia meninggalkan segalanya di kantor.
Langkahnya dengan tegas masuk ke dalam rumah, membuat para pelayan disana terkejut dan tidak sempat menyambutnya. Para pelayan termangu dan mematung di tempat, yang tengah menyiapkan makan malam, sedang Royyan berlari meraba tangga-tangga di sana sampai masuk ke dalam kamarnya. Mendapati Almira yang masih saja terbaring memeluk guling.
"Ami ...."panggilnya lembut seraya melucuti jas hitam dan dasi abu dengan corak butiran air kecil-kecil berwarna putih pudar.
Sang istri tidak menjawab. Tetapi kemudian Almira terbangun dan menoleh padanya, lalu Almira mendelik dan menatap lurus, berangsur turun dari ranjang menghampiri meja dan mengambil gelas yang kini hanya tersisa balok es kecil-kecil, dia masukkan es itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya, sebagai refleksi diri untuk meredam emosinya.
"Jangan kebanyakan kunyah es, nanti susah tidur,"celetuknya seraya membuka tiga kancing atasnya satu persatu.
"Berisik deh. Terserah aku, orang aku yang ngunyah bukan kamu, lagian ngapain jam segini udah pulang sih, ganggu aja,"ketusnya tetap mengunyah es batu itu hingga meleleh di dalam mulutnya.
"Kenapa?"tanya Royyan mendekat.
Almira menoleh kasar dan menyimpan gelas itu di atas meja lagi dengan gerakan cepat, lantas dia berdiri mendekati Royyan yang baru sampai di sudut meja.
"Kamu nanya apaan sih, yang jelas dong kalau ngomong tuh,"jawab Almira dengan bibir yang mulai bergetar dan mata kucingnya mulai mengembun, namun Almira masih berusaha untuk menahannya.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Apanya sih? Enggak ada apa-apa, ngaco banget pertanyaannya."
"Yakin?"ucap Royyan menurunkan lututnya menyejajarkan tinggi badannya dengan istrinya itu, dan kedua tangannya menongkrong di lututnya.
Hati Almira mulai tergoyahkan, melihat mata Royyan yang nampak khawatir, walau wajah itu tetap lah dingin dan tajam, tetapi Almira merasakan kehangatan di dalamnya dan akhirnya embun di matanya itu meleleh dan Almira menangis.
Bulir-bulir kristal membasahi pipi wanita bertubuh mungil itu, dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang sama mungilnya. Dia terisak, tangisannya pecah sampai punggungnya bergetar hebat.
"Jangan nanya aku kenapa sih,"ucapnya seraya melebatkan hujan dari air matanya.
"Oke. Maaf,"seru Royyan menghela napasnya, lalu dia menarik punggung Almira masuk ke dalam pelukannya.
"Jangan meluk aku."Almira menghindar seraya menyeka air matanya.
"Sini."Royyan menahannya, dan menarik pinggang Almira untuk di peluknya.
Dekapan terjatuh di tubuh Almira, Royyan memeluk istrinya dengan erat, dagunya menempel dengan pangkal kepala wanita yang mulai menggemakan tangisannya di hadapan dada bidang Royyan. Sedangkan satu tangan menggantung di pinggang kecil sang istri dan satu tangannya yang lain mendekap punggung kecil itu.
Tak ada obrolan diantara keduanya, Almira terus menangis seraya melingkari pinggang Royyan dengan kedua tangannya, tubuhnya bergetar karena tangisan itu terlalu deras, sedangkan Royyan memilih untuk diam dan mendengarkan tangisan istrinya sampai habis, sembari dia membelai rambut Almira dengan lembut dan satu tangannya tetap berdiam di pinggang kecil wanita yang terus menangis itu.
Almira benar-benar terjatuh tenggelam di dada bidang Royyan, membasahi pipinya dan juga dada Royyan yang sebagian kancing kemejanya terbuka. Sudah lebih dari lima menit Almira menjatuhkan bulir-bulir kristal dari kelopak matanya itu sampai dia tersedu-sedu, kaki Royyan sudah merasakan pegal, akhirnya dia menyeret langkahnya dengan perlahan ke samping ranjang berukuran luas itu, Royyan mendorong Almira terjatuh ke atas ranjang itu bersamanya.
Ami emang suka banget nangis, gua akan pastikan dia akan mendapatkan apa yang diinginkannya, untuk sekarang buat dia tidur dulu aja.
Wanita berkulit putih lembut itu menyisakan isakannya saat dia sudah terlelap menyelam ke dalam alam bawah sadarnya. Tangannya yang melingkari pinggang Royyan dari sepuluh menit yang lalu akhirnya terjatuh, dengan sigap pria berambut mullet itu perlahan terbangun dan melepaskan dekapannya, kemudian menaikkan tubuh istrinya ke atas lengan kekarnya itu dan memindahkan posisi Almira tertidur di atas bantal, lantas dia menyelimutinya dengan penuh.
"Besok kamu akan mendapatkan gaun yang baru,"bisik Royyan di telinga Almira seraya dia membelai rambut sang istri dengan lembut.
Perlahan dia berayun keluar dari kamar, kemudian dia mengambil ponselnya dari saku celana, dan menjelajahi ponselnya mencari kontak Adrian yang dia sematkan setelah kontak Almira.
"Udah dapat?"tanya Royyan tegas dengan intonasi suara yang sangat pelan.
Dia tidak ingin membangunkan istrinya yang baru saja terlelap.
"Saya sudah menemukan perancang yang setara dengan ibu Almira. Mereka siap datang kapan saja,"terang Adrian dari balik ponsel itu.
"Besok pagi pukul sepuluh, pinta mereka datang ke rumah mami papi."
"Baik pak. Oh iya pak, tas bapak ketinggalan di kantor."
"Bawa dulu sama kamu, besok kamu bawa lagi ke kantor."
"Baiklah pak."
Panggilan telepon selesai dengan cepat. Royyan melangkah lebih jauh dari hadapan pintu kamarnya sampai berada di tangga penghubung antara lantai tiga dan dua, lantas dia menghentikkan langkahnya disana. Kembali menyalakan ponselnya dan mengetikkan sesuatu dan mengirimkannnya langsung pada kakak perempuannya.
"Besok Ami akan datang ke rumah mami papi jam sepuluh, aku minta tolong untuk buatkan milky strawberry yang enak."
"Oke. Tenang aja, istri kamu akan aman disini."
"Nanti juga akan ada orang butik untuk memilihkan Ami gaun untuk acara pentingnya."
"Siap tuan muda. Kamu sekalian kesini gak?"
"Iya. Aku nyusul pulang kerja."
Setelah dia selesai dengan ponselnya, lekas dia masukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Sedang dia tetap melanjutkan langkahnya untuk menuruni tangga menuju lantai dua dan berlanjut berayun ke lantai satu, dengan kemejanya yang setengah terbuka .
NEXT ....
__ADS_1