Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 16 : ACARA KELUARGA


__ADS_3

Almira memiringkan wajahnya untuk memastikan ada apa dengan kakak iparnya ini, apakah pertanyaannya cukup sulit untuk dijawab, atau ada hal besar yang berusaha disembunyikannya. Gerombolan pertanyaan wanita bertubuh mungil itu semakin menumpuk, dan tak ada yang bisa menjawab semua pertanyaannya itu.


Gak kakak, gak adek, sama aja. Sebenarnya ada apa sih? Kan tinggal jawab aja, kalau ada masalah jawab iya kalau enggak ya jawab enggak, kenapa pertanyaan gua kayak yang sulit dijawab gitu sih.


Apa ada hubungannya kenapa kak Royyan menyembunyikan pernikahan ini sedemikian rupa, bahkan aku kalau mau ketemu sama dia harus pake penyamaran segala, ada apa sih sebenarnya?


Rentetan pertanyaan itu selalu bergulung dalam batinnya sampai kusut dan tidak mudah untuk membuatnya keluar dengan teratur satu persatu ke permukaan wajahnya. Keadaan hening bertahan sampai beberapa menit ke depan, Almira sendiri tersekat dengan kecanggungan. Dia ingin bertanya lagi tetapi wajah Aneu seperti tidak ingin membicarakan hal ini.


Setelah betah dalam keadaan hening, Aneu mengayuh kakinya ke sebuah laci samping ranjang dan membuka laci tersebut mengambil sebuah foto yang telah usang disana, sebuah foto kebersamaan Royyan, Dirta, Ajun dan Elshara beberapa tahun silam. Sebuah foto masa sekolah di lapangan besar yang ada di sekolahnya. Dia beralih kembali duduk di samping Almira.


"Lihat foto ini,"ucapnya menjulurkan foto yang berada di dalam bingkai putih.


Tanpa ragu Almira segera melihat foto itu dengan teliti. Semua yang ada dalam foto itu tidak ada yang dikenalinya, sekalipun Ajun yang masih sering bertemu Royyan saat ini. Wanita yang tengah mengenakan gaun merah jambu dengan corak bunga-bunga kecil itu tidak pernah sekalipun bertemu dengan Ajun ataupun hanya mendengar namanya.


"Mereka temen-temennya kak Royyan?"tanya Almira yang masih memperhatikan foto itu.


"Iya. Ajun, Dirta, dan Royyan mereka sudah berteman dari smp, mereka berteman dengan baik, sampai akhirnya wanita ini masuk, namanya Elshara,"jelas Aneu seraya menunjuk satu persatunya.


"Terus, kenapa sekarang gak pernah ketemu, apa aku yang gak di kasih tahu sama kak Royyan?"


"Mereka emang udah gak saling ketemu dari sembilan tahun yang lalu, Royyan, Dirta dan Elshara terlibat cinta segitiga, dan Elshara suka dengan Royyan sedangkan Royyan tidak demikian, intinya Dirta tertolak, lalu Elshara mengalami kecelakaan pesawat sampai jasadnya tidak bisa ditemukan, dari situlah pertemenan Dirta, dengan Royyan dan Ajun mulai hancur."terang Aneu panjang lebar. "Setelah itu Royyan menjadi sangat tertutup, dan meminta pernikahan secara tertutup, bahkan rumah yang kamu tinggali saat ini tidak ada yang mengetahuinya, kecuali kamu dan Adrian, kami pun keluarganya tidak tahu rumah kalian letaknya ada dimana."sambung Aneu.


Almira mengangguk. Pada nyatanya dia sama sekali tidak mengerti apa yang telah dijelaskan oleh kakak iparnya. Dia menyeringai untuk mengakhiri percakapan yang membuatnya kebingungan.


Sama sekali kagak ngerti gua, maksudnya apa sih, si cewek itu kecelakaan, kenapa jadi pertemanan kak Royyan yang hancur, tahu dah ah bodo amat, kagak peduli gue apa yang terjadi sama mereka. Gak lagi-lagi nyari tahu deh, bikin pening....


Rasa penasarannya telah membuat otaknya bekerja terlalu keras, serpihan informasi itu tidak membuahkan hasil sama sekali, melainkan membuatnya semakin tumbuh menjadi pertanyaan yang lebih besar lagi. Almira menyimpan foto itu lagi ke dalam laci setelah beberapa menit berlalu Aneu keluar dari kamar dan meninggalkan Almira dengan foto itu.


Riuh suara orang-orang mulai menguasai area pekarangan rumah mertuanya, rumah megah ini setidaknya bisa menampung seribu orang, para pelayan sibuk mempersiapkan berbagai macam menu untuk disajikan pada para tamu, dari makanan ringan hingga ke makanan berat semuanya telah tertata rapi di meja panjang di dalam rumah, tepatnya di ruang tengah rumah megah itu.


"Rame banget sih, laper lagi, kak Royyan udah dateng belum sih?"ungkapnya seorang diri terdiam di balkon seraya memperhatikan orang-orang memasuki area rumah megah.


Almira yang tengah berada di lantai tiga, termangu sendiri. Bosan. Jenuh. Tak ada yang bisa dia lakukan disana, perutnya pun telah bergemuruh menyuruh Almira untuk segera mengisinya dengan beberapa makanan. Tak lama dia segera mengambil ponselnya yang ada di dalam tas kecil yang di simpan di atas ranjang.


"Kak...."


Tidak ada pilihan lain, dari pada mati kelaparan, akhirnya Almira menelepon suaminya, sambil dia merebahkan dirinya di atas ranjang dengan menggoyang-goyangkan kaki tanpa henti.


"Kenapa? Ada dimana?"sahut Royyan di seberang sana.


"Aku di kamar kak Royyan, aku laper ih, bawain makanan dong kesini, daripada aku keluar nanti ditanya lagi siapa aku,"


"Mau makan apa?"


"Hmm...."Almira bergumam seraya membalik tubuhnya menjadi tengkurap seraya menopang dagu dengan satu tangannya.


"Aku pengen steak."celetuknya menyambung perkataannya tadi.


"Gak ada. Adanya camilan manis dan makanan berat nasi dengan daging rendang dan olahan lain, mau yang mana?"


"Gak mau ih, pengen steak sama salad buah,"Almira tetap merengek meminta makanan yang tidak tersaji di acara tersebut.

__ADS_1


"Oke, tunggu."


"Asyiiik, makasih sayang, bye...."


Wanita berparas cantik lembut itu nampak merasa puas mengerjai suaminya, dia tersenyum-senyum seraya berguling-guling di atas ranjang seraya memeluk ponselnya itu. Lalu dia tertawa sendirian.


"Apa yang bakalan dilakukan kak Royyan ya? Kan emang gak ada makanan yang aku pinta itu disini, penasaran jadinya."ucapnya seraya merentangkan tangannya menatap langit-langit kamar putih polos.


Beralih dari kamar, Royyan beringsut masuk ke dalam rumahnya dengan gerak langkah yang cepat, langkahnya berayun ke area dapur, sampai membuat para pelayan yang sedang bekerja terkejut dan berjajar seraya menunduk menyambut Royyan.


"Selamat malam tuan muda."sapa semua pelayan serempak.


Royyan mengangguk untuk menjawab sapaan semua pelayan disana. Sedang Royyan mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru dapur, kemudian dia menyingsingkan kedua lengan bajunya sampai ke sikut, dan membuka beberapa kancing kemejanya dan melepaskan dasi yang dia pakai lalu memasukkannya ke dalam saku celana.


"Saya mau masak, siapkan segalanya."titahnya dengan suara beratnya yang khas.


"Tuan mau makan apa? Biar kami yang siapkan,"balas salah satu pelayan yang merasa sungkan tuan mudanya menyiapkan makanannya sendiri.


"Saya mau masak sendiri, cepet siapkan saya mau masak steak dan salad buah."


"Ah iya baiklah tuan muda."


Beberapa pelayan kalang kabut menyiapkan semua bahan dan alat-alat masak lainnya, sedangkan pelayan yang lain hanya terdiam dan menunggu perintah Royyan selanjutnya.


"Kembali bekerja."titah Royyan, seraya dia melenggang ke area dapur yang telah di persiapkan untuknya memasak.


"Baik tuan muda."


Semuanya kembali seperti semula. Para pelayan sudah tidak merasa canggung lagi, dan mulai melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Begitupun dengan Royyan yang sudah memulai acara memasaknya, dia memotong berbagai macam buah-buahan untuk membuat salad buah, seperti buah apel fuji, buah pir, buah alpukat mentega, buah melon, buah naga, dan strawberry dengan ukuran besar kegemaran Almira.


Saat itu pula Aneu masuk ke area dapur hendak mencari jus buah, untuk dia minum. Dan malah melihat sesuatu hal yang sangat langka, yaitu Royyan berada di dapur mempersiapkan sebuah menu makanan. Lekas dia menghampiri Royyan yang tengah memanggang daging sapi dengan serius.


"Yan! Tumben pengen masak, gak biasanya."celetuk Aneu dengan mata yang melebar dan mulut yang sedikit terbuka.


"Pengen aja. Udah kakak sana temenin mami papi."jawabnya seraya membalik daging yang terpanggang di atas teflon.


"Hmm, oke."


Aneu beranjak dari hadapan Royyan dengan netra yang masih memandangi adik satu-satunya itu sibuk memasak, dia melangkah seraya menggaruk kepalanya yang tidak merasa gatal dan juga melupakan tujuannya masuk ke dapur itu untuk apa. Mata almond-nya berpindah ke depan, berjalan lurus kembali ke ruang tengah, tempat acara di adakan.


Nyanyian malam dari pengiring menemani suasana acara perayaan ini semakin meriah, semua orang yang datang nampak bahagia berseri-seri. Rian dan Rini pun sibuk menyambut satu persatu tamu yang berdatangan, bersama Aneu.


Di tengah-tengah keramaian, dan para pelayan yang sibuk mempersiapkan makanan dan minuman agar cukup untuk semua tamu yang entah berapa banyak lagi yang akan datang. Sedangkan Royyan sibuk mempersiapkan makanan keinginan istrinya yang manja itu, dia menata rapi steak dan salad buah itu di mangkuk dan piring lalu dia bawa di atas nampan hitam bersama segelas susu strawberry hangat dan juga air putih.


Kemudian dia berlenggang dari dapur menuju lantai tiga dimana Almira berada sambil membawa makanan yang telah dia siapkan dengan susah payah. Masuk ke dalam kamar dan menutupnya dengan rapat, lalu dia letakkan nampan itu di atas meja di depan sofa panjang yang berhadapan langsung dengan televisi besar.


"Katanya laper, tapi malah tidur enak begitu."gerutu Royyan berkacak pinggang menatapi Almira yang tertidur di atas ranjang dengan nyenyaknya.


Bibir kecilnya itu menyeringai, lalu dia berayun ke pintu balkon dan menutupnya bersama gorden berwarna coklat keemasan itu senada dengan warna rambut istrinya. Menyalakan semua lampu di kamarnya, termasuk lampu yang ada di atas meja di samping ranjangnya. Kemudian dia melangkah terjun ke ranjangnya dan berbaring di samping Almira, memiringkan tubuh kekarnya itu dan menopang tengkuk menggunakan satu tangannya.


Wajah cantik Almira menar-benar membawanya menyelam ke dalam rasa yang entah kapan itu akan menyeruak dan menampakkan diri dengan gagahnya. Bibir kecil itu kembali menyeringai, kelopak mata pipih Almira terpejam indah. Perlahan jari telunjuk Royyan menyentuh dahi istrinya dan juga menepuknya beberapa kali dengan lembut.

__ADS_1


"Mau tidur terus atau mau makan?"lirih Royyan dengan jari telunjuknya yang masih menempel di dahi mulus Almira.


Perlahan bola mata lembut itu mulai menyeringai dan secara lambat kelopak matanya terbuka dan segera melebar sesaat setelah dia mendapati suaminya terbaring bersama dengannya.


"Akhh...."spontan Almira berteriak terkejut mendapati Royyan sudah ada dekat dengannya, dia pun sedikit terhenyak ke belakang.


Wanita dengan rambut yang terurai itu segera bangun dan mengubah posisinya menjadi duduk di hadapan Royyan, sedangkan Royyan membalikkan posisinya menjadi terbaring dan menidurkan kepalanya di atas bantal, tidak ikut terbangun seperti yang dilakukan istrinya.


"Kamu kapan datang? Bikin kaget aja,"seru Almira yang masih mengatur pola napasnya.


"Dari tadi."sahutnya singkat seraya matanya terpejam.


Almira mengernyit, kemudian satu tangan meraba dadanya, merasakan betapa kencang detak jantung miliknya. Sampai membuat dirinya merasa lemas.


"Makanannya ada di meja, cepetan makan, kamu sakit aku gak mau tanggungjawab."lanjut Royyan masih memejamkan matanya dengan satu tangan yang dia jadikan bantal tambahan.


Ish! Nyebelin banget sih, suami siapa sih? Eh* Laki lu Ra, kenapa gua bisa tertarik sama nih laki ya, ganteng sih tapi lebih banyak nyebelinnya. Matanya merem malah nambah ganteng lagi, haduh! Bisa gila gue, tapi sayangnya sifatnya nyebelin banget.


Bibir kanannya terangkat jengkel. Tanpa berkata apapun lagi, Almira turun dari ranjangnya dan mendatangi makanan yang sudah sangat menggoda itu, asap yang mengepul dari makanan itu membuat Almira kembali berselera untuk makan dengan lahap.


Kedua tangannya dengan sigap memotong daging lembut itu dan melahapnya dalam suapan besar, disusul dengan anggukan penuh gairah. Makanan ini sungguh memanjakan lidah Almira yang memiliki kepekaan rasa, dia seorang pemilih makanan. Tidak semua makanan bisa masuk ke dalam mulutnya dengan mudah. Beralih ke salad buah yang sama menggugah seleranya, satu suapan besar kembali masuk ke dalam mulut mungil nan tipisnya itu.


"Kamu beli ini dimana? Atau orang dapur yang bikin, enak banget deh asli, kalau gitu aku datang ke rumah mami papi tiap hari deh,"ungkapnya dalam mulut yang dipenuhi makanan.


"Kalau mau lagi, bilang aja."sahut Royyan masih dalam posisi yang sama, tetapi kali ini bibirnya yang selalu beku itu kembali menyeringai.


"Aku bisa beli sendiri, kalau aku mintanya pas kamu lagi kerja atau meeting penting gimana?"


"Tunggu aku selesai."


"Kalau aku gak mau gimana?"


"Bodo amat."


"Ish...."


Almira tak berbicara lagi. Senyuman tipis merangkai paras tampan Royyan menjadi lebih merekah. Terdengar wanita yang tengah dikuasai kekesalan itu tetap mengunyah makanannya sampai ludes. Setelah makanannya telah berpindah ke perutnya, Almira melangkah mendekati Royyan yang masih tertidur di atas ranjang.


"Kak Royyan! Jawab ih beli dimana?"tanya Almira seraya menggegarkan tubuh Royyan.


"Nanti aja, aku ngantuk."sahut Royyan.


"Tinggal kasih tahu aja lama ih, Kak Royyan!"pekik Almira masih menggenggam lengan Royyan.


Pria bertubuh tinggi itu menarik istrinya sampai terjatuh ke sampingnya dan memeluknya dengan erat, bahkan kaki panjangnya memblokir kaki Almira tetap terdiam dalam dekapannya.


"Akhh...."lagi-lagi Almira berteriak dengan bola mata yang melebar, seraya memukul-mukul dada bidang Royyan.


"Mau ngapain? Macem-macem aku teriak ya?"ancam Almira sambil mendorong dada lebar Royyan sedikit menjauh dari hadapannya.


Tetapi lingkaran tangan Royyan semakin mengerat dan menarik tubuh mungilnya kembali mendekat, tubuh keduanya saling berdekatan dengan jarak yang sangat dekat, hingga kedua tangan Almira menjadi lemas dan mencangkung di atas pundak Royyan. Perlahan Royyan bergerak dan membuat posisinya ada di atas Almira dengan satu tangannya yang menahan tubuhnya untuk tidak terjatuh menekan Almira.

__ADS_1


Bibirnya mendadak beku. Matanya melebar dengan iringan derap jantung yang berdegup sangat cepat, sampai aliran darah menderu dengan deras, memburu tubuh Almira menjadi semakin lemas dan tak bisa berkata ataupun bertindak apapun.


NEXT....


__ADS_2