Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 100 : Paris.


__ADS_3

"Yang pertama aku kerjakan itu meeting dengan perusahaan German untuk membahas pembangunan museum nasional di sana, dan setelah beberapa hari kemudian baru aku akan menghadiri acara pagelaran fashion itu,"jelas Royyan setelah dia menarik bibirnya dari atas bibir Almira.


Sorot matanya meredup kala melihat senyuman sang suami merekah, ia melihat cinta itu semakin kuat. Lantas Almira menyengguk, dengan sekejap mata senyumannya yang bersembunyi segera menyembul keluar menghiasi wajah Almira dengan ceria.


"Yaudah aku berangkat ya,"pamit Royyan melepaskan dekapannya pada tubuh istrinya tadi.


"Heuum ..."Almira mengangguk dengan senyumannya yang mengembang.


Tanpa membuang waktu lagi, Royyan segera masuk ke dalam mobil bersamaan dengan sopir pribadinya, mobil itu melaju dengan kecepatan normal. Perlahan mobil hitam itu menghilang tertelan gerbang tinggi yang menjadi pelindung rumah megahnya.


Wanita berambut coklat ke-emasan itu tetap bertahan di sini walau mobil sang suami sudah tak terekam oleh bola mata kucingnya itu, tatapannya sendu. Sentuhan Royyan barusan meninggalkan rindu yang melekat dalam diri Almira.


"Kenapa kak Royyan harus cium gue dulu sih, kan gue jadi kangen lagi,"ucapnya sembari melipat kedua tangannya di depan, wajahnya memiring.


Rasa cinta keduanya telah melambung tinggi sama kuatnya, baik Royyan maupun Almira, hanya saja dia adalah Royyan yang sulit untuk berbicara terhadap hal-hal yang menurutnya tak perlu di bicarakan lagi, tetapi bagi Almira semua hal tentang Royyan dia ingin mendengarnya secara langsung dari sang suami, walau dia sudah mengetahuinya.


Dua orang yang saling mencintai dengan kepribadian yang bertolak belakang, di dalamnya selalu ada luka yang tak tergambar jelas, tetapi salah satunya merasakan sakit itu, hanya saja dia pun tak terlalu peduli selama cinta itu masih melekat dalam diri lelaki itu.


...***...


Paris, 02 Agustus 2022, tepat di hari selasa saat matahari masih bersembunyi di bawah tanjung langit. Awan-awan yang di dekap gelap berjalan secara lamban mengikuti kemana pun arah angin melangkah bersamaan dengan pria bertubuh kekar itu masuk ke dalam kamar hotel yang sudah di sediakan oleh sekretaris pribadinya.


Sebuah bangunan hotel yang megah, balkonnya langsung mengarah pada pemandangan kerlap-kerlip lampu di luar sana, pusat kota Paris. Menara eiffel sangat terlihat jelas dari kamar hotel Royyan, Adrian sengaja menyewa lokasi hotel itu untuk memberikan pengalaman yang baik bagi bos-nya.


Kedua bola mata lelaki itu enggan untuk melanting dari pemandangan berbagai macam warna cerah dari lampu-lampu yang ada di luar sana. Tubuh proporsional itu melenggang keluar, menyerana pada pagar balkon di sana seraya menyantap teh hangat yang beraroma khas dan rasa yang manis.


Helaan napas terurai keluar dengan lembut, dari berbagai cahaya di sana hanya satu wajah yang membuat senyumannya menguat, kedua tangannya seketika menjadi kelu, sungguh dia merindukan sosok pemilik senyuman indah di balik sinar rembulan yang meredup.


"Sangat indah,"celetuknya di depan pagar balkon.


Bukan pemandangannya yang membuat Royyan terpukau, melainkan kecantikan sang istri yang melekat dalam ingatannya membuat lelaki itu berseru demikian. Wajah lembut layaknya bayi yang membuat ingatan Royyan selalu tertuju pada gadis mungil itu, dia teguk dalam satu kali tegukan teh hangat itu hingga tersisa gelasnya saja.


"Besok ada acara apa aja?"tanya Royyan pada Adrian yang masih menemaninya.


"Pagi sekitar pukul sembilan waktu Paris kita akan mengadakan meeting dengan utusan perusahaan tersebut, mereka meminta untuk makan di restoran yang ada di menara eiffel, hanya saja untuk reservasi tempat itu membutuhkan waktu yang lama jadi di cancel,"jelas Adrian seraya dia memeriksa tablet yang ada dalam genggamannya.


"Jadi dimana?"tanya Royyan memastikan sambil dia melempar tatapannya pada menara eiffel yang ada di depan matanya, nan jauh di sana.


Hening. Adrian masih memeriksa tablet hitam yang selalu dia bawa itu, sampai akhirnya di detik tujuh pada pukul 01.25 dini hari, pria itu baru membuka mulutnya lagi."Pilihan utama selain restoran yang ada di menara eiffel itu adalah restoran Breizh cafe, dan saya sudah resevasi tempat yang bagus di kafe ini,"terang Adrian lagi.

__ADS_1


Anggukan kecil menyembul, tubuh tegap itu berputar mengarah pada Adrian yang ada di belakangnya. Sorot matanya yang tajam terjatuh pada ranjang berukuran besar di sana, lekas dia kayuh langkahnya untuk mendekatinya, dalam hitungan detik, lelaki itu lekas menjatuhkan bokongnya di atas ranjang tersebut.


"Oke. Istirahat sana, saya juga mau istirahat,"kata Royyan seraya menopang dagunya dia atas lutut.


"Baik pak,"jawab Adrian mengangguk, "saya permisi, selamat malam pak,"lanjut Adrian, pria itu segera enyah dari kamar Royyan.


Royyan lempar tubuhnya ke tengah-tengah ranjang yang berukuran besar itu, matanya terpejam melukis bayang-bayang sang istri lagi dalam ingatannya, perlahan bibir kecilnya menyeringai bersamaan dengan redupnya bola mata kecil itu dengan satu tangan menggantung di dahinya dan tangan yang lain menganggur di atas perut kekarnya.


"Good night istriku untuk selamanya,"lirih Royyan dalam keadaan setengah mengantuk.


Di waktu yang berbeda Almira yang masih terjaga karena menunggu kabar dari sang suami, tetapi rupanya Royyan melupakan hal ini, tubuhnya terlalu kelelahan sehingga dia melupakan hal penting dalam sebuah hubungan, yaitu kabar.


Gadis itu mengeras, wajahnya memerah padam menatapi layar ponsel yang terus saja hitam di depan matanya, ponsel itu tergeletak lemah di atas ranjang. Tatapannya yang terjatuh segera menyingkir dari layar hitam itu, tubuhnya terlempar begitu saja dengan deru kemarahan yang bergejolak.


"Kak Royyan kenapa gak ada ngabarin sih, dia udah nyampe atau belum sih,"gerutu Almira menatapi langit-langit kosong berwarna putih.


Kedua tangannya telentang, bola matanya terlempar ke samping dan angannya mengoyak ide, siapa yang harus dia tanyakan tentang bagaimana keadaan suaminya di sana. Jarum jam telah menunjukkan pukul 07.25 wib, gadis itu tidak berpikir perbedaan waktu antara Indonesia dengan negara tersebut.


"Ah iya,"ucapnya mengingat nama Adrian di lumbung batinnya, segera dia tarik tubuhnya dan mencari kontak Adrian yang sengaja dia simpan dalam ponselnya.


Tanpa segan, gadis itu melakukan panggilan telepon dengan orang kepercayaan dari suaminya itu, Adrian segera mengangkat panggilan telepon itu, walau lelah dia masih bisa melakukan pekerjaan dengan baik. "Halo Adrian?"ucap Almira.


"Iya nona, ada yang bisa saya bantu?"tanya Adrian dengan suaranya yang parau, sepertinya lelaki itu terpaksa terbangun dari tidurnya.


Bibirnya pun ikut bergerak ke atas, tersenyum dengan lebar. Terdengar suara pergerakkan Adrian berpindah dari posisinya kini dan entah dia berpindah ke mana, Almira hanya mendengarnya dan gadis cantik itu nampak tidak memedulikan hal itu.


"Bapak baru saja tiba beberapa jam yang lalu dan sepertinya beliau sedang beristirahat nona, karena saat ini di sini sekitar pukul 02.25 dini hari,"terang Adrian dengan sopan.


"Hah?!"seru Almira terkejut saat Adrian menyebutkan pukul berapa saat ini di sana, sontak ponselnya terjatuh ke bawah dan tatapannya terlempar jauh ke depannya. "Kok gue bisa lupa sih, kan di sini sama di sana ada perbedaan waktu, bodoh banget sih lu Ra,"sambung Almira berbisik yang kemudian dia tepuk jidatnya.


Lantas dia mengambil ponselnya lagi untuk melanjutkan panggilan teleponnya, Adrian tidak akan mematikan panggilan telepon itu sampai suara hening menyelinap masuk ke dalam telinganya yang tajam.


"Oke. Maaf Adrian saya ganggu nih,"ucap Almira merasa bersalah telah mengganggu waktu istirahat pria itu.


"Iya nona tidak apa-apa,"sahut Adrian.


Almira segera mematikkan panggilan teleponnya, dia lempar ponsel itu ke samping yang biasanya di isi oleh Royyan, sedangkan dia tenggelam ke dalam selimut tebal berwarna biru laut, rasanya ingin sekali dia tenggelam ke dalam lautan sampai tiba di dasarnya.


Sungguh memalukan, karena rasa rindunya yang terlalu pekat sampai dia melupakan segala hal tentang perbedaan dua negara tersebut. Kedua tangannya tiada henti memukul kedua pipinya yang tirus dan wajah polosnya menegang.

__ADS_1


"Ah sialan! Kenapa gue lupa sih, kan Indonesia sama paris beda lima jam, gimana sih Ra ...."kedua tangan itu beralih ke kepalanya dengan pejaman yang lebih kuat lagi.


...***...


Paris, 03 Agustus 2022, pagi hari.


Royyan tertidur dalam keadaan lengkap dengan sepatu dan jas yang dia pakai di hari kemarin, malam tadi dia terlelap begitu saja tanpa memedulikan penampilannya apalagi mengingat untuk mengabari sang istri.


Pria berbadan tegap itu lekas terbangun dari ranjangnya, sorot matanya meredup pada sinar matahari yang menajam, jendela balkonnya masih terbuka lebar sisa semalam. Lantas dia beralih dari ranjang itu mendekati ponsel yang dia letakkan di atas nakas dalam keadaan mati.


"Hapenya mati,"seru Royyan, dahinya berkerut.


Royyan beralih dari nakas itu ke stop kontak yang ada di dekat sofa di samping kanan ranjang, dia menyambungkan listrik dengan ponselnya, seraya dia mencharger ponsel itu dan dia menghidupkan ponselnya lagi.


Sesaat setelah ponselnya menyala, deretan notifikasi panggilan telepon dari Almira berjajar di layarnya, hingga belasan pesan bertengger di sana, lelaki itu mengembangkan senyumnya. Dia tekankan jari telunjuknya pada sensor sidik jari yang ada di badan ponsel itu, lelaki itu segera melakukan panggilan telepon dengan istrinya.


Panggilan telepon itu terus berdering tanpa ada tanda-tanda menemukan jawaban dari istrinya, lekas dia jauhkan ponsel hitam itu dari telinganya, wajahnya berkerut. Dia bertanya-tanya, kemanakah perginya sang istri di pagi buta ini.


"Kemana? Apa belum bangun?"tanyanya pada diri sendiri, angannya melambung pada beberapa kemungkinan yang dibuat oleh akal sehatnya.


Lantas dia putarkan arah matanya pada jam dinding yang ada di dekat pintu balkon, jarum jam tengah menunjukkan pukul 07.45, mendadak hati Royyan menciut. Dia meraba-raba waktu, pikirnya mungkin di Indonesia sudah siang dan Almira sudah beraktifitas seperti biasanya.


"Harusnya di Indonesia sudah jam 12.45, apa lagi kerja?"lelaki itu masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba pintu kamar hotelnya menggemakan suara pantulan ketukan seseorang yang begitu lantang, membuat pria itu mendelik tajam. Dia tidak suka ada orang yang mengganggu dirinya di pagi-pagi seperti ini, jika hal itu adalah Almira mungkin hatinya akan merasakan senang, tetapi hal yang mustahil. Karena istrinya belum pergi ke negara dimana dia sekarang berada.


Dengan langkah malas dia seret kakinya mendekati pintu keluar kamar hotelnya itu, sebelum membukakan pintu itu Royyan terlebih dulu memastikan siapa yang ada di sana lewat layar monitor yang ada di samping pintu kamar hotelnya.


"El ..."seru Royyan malas, bola matanya mendelik kasar bersamaan dengan raut wajahnya yang mengeras.


Lalu dia tekan tombol yang ada di monitor tersebut, "kenapa?"tanya Royyan tanpa membukakan pintu tersebut.


Ketara jelas raut wajah wanita berpakaian serba pendek dengan riasan tebal itu mengendur, wajah cerianya seketika padam. Kedua tangannya yang terlipat di depan segera meleleh dan terjuntai ke bawah.


"Yan ... buka dong pintunya, temen datang bukannya di bukain juga,"protes Elshara bersandar pada pintu.


"Ada keperluan apa?"Royyan bersi-kukuh tidak membukakan pintu tersebut.


"Ya emangnya kenapa sih, kita temen kan?"sahutnya masih bersi-keras.

__ADS_1


"Urusan kita sudah selesai,"jawab Royyan tegas.


NEXT ....


__ADS_2