Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
Bab 140 : Penembakan.


__ADS_3

Aroma mentega dan maple sirup berpadu dengan aroma eskrim vanila menyatu dengan sempurna, sebuah hidangan pancake yang lembut telah tersaji di atas meja panjang di ruang makan rumah megah milik Royyan dan Almira. Kepulan asap dari pancake panas itu menyebar ke seluruh penjuru ruangan, perlahan menyelinap masuk ke dalam ruangan kamar milik Royyan dan Almira yang masih terbaring di atas ranjang.


Sepasang suami-istri itu telah terbangun dari rasa kantuknya, tetapi keduanya sepakat untuk terbaring lebih lama dari biasanya, keduanya saling mendekap dan mengurai aura hangat ke dalam tubuh pasangannya.


Perlahan jari-jemari lembut Almira berjalan-jalan di atas dada lebar sang suami yang kini tidak memakai bajunya, Almira sudah terbiasa dengan pemandangan itu, karena Royyan memang lebih suka tidak menggunakan baju saat tertidur, beruntungnya lelaki itu masih menginginkan celananya tetap menempel di tubuhnya.


"Hari ini jadi kamu ke butik?"tanya Royyan sembari membelai rambut sang istri.


Almira mendongakkan tatapannya sampai kepalanya tenggelam di antara dua bantal. "Euum ..."gumam Almira mengangguk. "Aku udah janji sama Sara kalau hari ini aku akan ke butik,"sambungnya sambil dia melilitkan kedua tangannya di leher sang suami.


Royyan mengangguk lemah. Sebenarnya dia tidak menginginkan istrinya untuk pergi kemana-mana, ancaman kematian itu masih menakutkan. Terlebih Royyan belum benar-benar bisa memusnahkan pelakunya karena lelaki itu masih membutuhkan banyak bukti untuk menjerat pelakunya hingga tak mampu berkutik lagi.


"Baiklah, aku akan siapkan bodyguard untuk menjaga kamu, karena aku harus mengurus pekerjaanku di kantor,"ucap Royyan menarik tubuhnya untuk tenggelam pada dekapan sang istri lebih dalam lagi.


Almira melemahkan tubuhnya agar sang suami dengan bebas masuk ke dalam pelukannya. "Iya Kak ... Kamu fokus sama pekerjaan kamu, aku juga gak bakalan lama kok, aku akan aktifkan GPS jadi kamu bisa lacak aku ada di mana,"terang Almira mencoba menenangkan sang suami yang nampak khawatir.


"Euum ..."gumam Royyan dengan suara beratnya.


Aroma matahari semakin pekat, ia masuk begitu saja ke dalam bangunan mewah dengan pagar menjulang tinggi hingga tak sembarangan orang yang bisa melihat kemegahan yang tercipta di dalam rumah itu.


Royyan dan Almira telah berdiri di depan mobilnya masing-masing, sedang di dekat mobil merah milik Almira telah berdiri dua orang pria berbadan tinggi nan kekar bersikap sopan, lantas keduanya masuk ke dalam mobilnya masing-masing tanpa bercengkerama terlebih dulu, waktu telah menunjukkan waktunya untuk berangkat pada pekerjaannya masing-masing.


...***...


"Aaarggh ..." Teriakan seorang gadis bertubuh indah yang kini tengah mengenakan mini dress yang menampilkan kaki indahnya.


Gadis muda itu berdiri di depan sebuah danau yang indah, jernih airnya dan beberapa tanaman air dengan bunga-bunganya yang tak kalah indah dari paras gadis cantik itu. Dia tersungkur ke bawah, mencengkeram rumput-rumput hijau yang tampak sudah memanjang.


Garis-garis wajahnya sungguh tegang, netra pipihnya menikam keindahan langit yang tengah melukis wajahnya dengan baskara yang memukau, tetapi hati gadis itu tak menginginkan itu semua, sedari tadi dia hanya memburu deru napasnya dengan kasar.


"Gua akan hancurkan elu Almira!"tukas Elshara semakin membuncah bersamaan dengan bola matanya yang membulat hebat, "sialan! Gue gak akan kalah, ENGGAK! Gua akan dapatkan perusahaan mami papi lagi, liat aja! Satu langkah lagi gue akan ...,"sambung Elshara dengan begar seraya dia mengepalkan satu tangannya ke udara, "bunuh lu dengan tangan gue."


Lekas Elshara seka wajahnya dari air mata yang sempat membasahi pipinya itu, membawa dirinya untuk berdiri dari sana, dia putar tubuhnya secara kasar dan berlari kecil menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari lokasi danau sunyi itu.


Danau yang benar-benar senyap dari suara manusia ataupun suara desiran para hewan, angin pun tak berembus gahar, ia hanya sentuhan lembut yang menyapu aroma pagi menjadi lebih hangat dengan lukisan bintang-bintang kecil yang menjadi teman langit pagi ini.


...***...


Gadis berambut coklat keemasan itu tiba di butiknya setelah satu minggu lebih dia tak bertandang ke sana, setelah kecelakaan itu Almira telah banyak beristirahat dan kini jiwanya terbakar kala melihat betapa banyak tumpukan pekerjaannya yang terbengkalai.


Sara tidak mampu mengerjakannya seorang diri, gadis muda itu sudah lebih dari tiga hari tidak pulang ke rumahnya hanya untuk menyelesaikan pekerjaan itu tepat waktu, tetapi Sara hanya manusia biasa yang tentunya akan merasakan lelah dan terjatuh sakit.


Gadis muda itu mengekor bos-nya yang tengah memantau pekerjaan di butik selama dia tidak berada di butik. Almira memasati setiap gaun yang masih terdiam di dalam gudang, satu per satu dia perhatikan sampai akhirnya dia berhenti di sebuah gaun pesta milik seorang sosialita, gaun indah berwarna biru bagaikan warna laut.


"Kapan gaun ini akan di ambil?"tanya Almira seraya dia menenteng tablet miliknya.


"Hari ini Kak, kemarin malam beliau sudah menghubungi saya akan mengambil gaunnya siang ini, beruntungnya kak Ra hari ini datang,"jelas Sara melipat kedua tangannya di bawah sambil dia menggenggam tablet yang selalu dia bawa untuk menjadwal pekerjaannya.


Wanita berambut coklat keemasan itu beralih ke gaun lainnya yang sudah menunggu untuk melewati pengawasan mata dari gadis mungil itu. "Euum ... Kalau ini punya siapa?"tanya Almira lagi seraya meraba-raba gaun yang sedang berada di dekatnya.


Sara bergeser ke depan Almira dan merunduk kan punggungnya sebagai bentuk sopan terhadap bos-nya itu. "Ini gaun milik salah satu anggota DPR Kak, beliau katanya mau menghadiri pesta ulangtahun salah satu menteri, tetapi tidak hari ini, kemungkinan satu minggu lagi baru diambil gaunnya,"beber Sara kemudian.


Almira mengangguk. "Oke ...."


Lantas Almira bergerak keluar dari gudang yang berpenampilan rapi dan bersih itu, langkahnya menuju keluar butik untuk mengambil beberapa barang yang masih tersimpan di dalam bagasinya.

__ADS_1


Di pintu masuk Almira dicegah oleh kedua bodyguard suruhan sang suami. Kedua pria berbadan tegap itu mencekal langkah Almira untuk terdiam di dalam butik. "Maaf nona, pak Royyan telah memerintah kami untuk menjaga nona dan mencegah nona untuk keluar dari area butik, tanpa terkecuali,"ujar salah satu pria berbadan tegap itu.


"Saya cuman mau ngambil barang yang ada di bagasi mobil, enggak keluar dari area butik,"tepis Almira sembari melayangkan kunci mobilnya di udara.


"Biar saya saja yang mengambilkannya,"tawarnya sembari menjulurkan salah satu telapak tangannya ke dekat Almira, tetapi masih menciptakan jarak dengan gadis mungil itu.


Terpaksa Almira harus menuruti permintaan dari bodyguard itu, karena jika tidak maka kedua pria berbadan tegap itu yang akan menjadi sasaran kemarahan sang suami yang terkadang tidak terkontrol.


Lekas Almira berikan kunci mobilnya pada tangan yang masih tertadah tanpa bergerak sedikitpun, walau Almira menahan kuncinya dalam waktu yang lama. "Ambilkan aku beberapa berkas yang ada di dalam bagasi, bawa semua ya ..."titahnya kemudian.


"Baik nona,"sahutnya yang segera berlari ke bagasi mobilnya yang terparkir di sudut kanan pekarangan butik tersebut.


Sedangkan satu pria berbadan tegap lainnya tetap berada di sana, di depan pintu keluar masuk butik tersebut untuk menjaga keadaan tetap aman, lantas Almira kembali masuk ke dalam butik. Langkahnya bergerak cepat kembali ke ruangan pribadinya, rasanya sudah sangat lama dia tidak bersua dengan gema dinding dan tumpukan kertas yang selalu mengunci dirinya dalam jangka waktu yang lama di sana.


Mata kucing wanita itu mengedar ke seluruh penjuru ruangannya yang nampak rapi dan tidak ada satu pun yang bergeser dari tempatnya, kecuali berkas-berkas yang semula berserakan di mejanya kini telah tertata rapi sesuai dengan jadwal pemesanan dari para klien.


Almira ambil satu per satu berkas tersebut, dan dia letakkan secara berjajar di atas mejanya, lalu dia buka satu per satu untuk memeriksa pekerjaan mana yang harus dia selesaikan terlebih dulu.


"Euum ... Lima ini kayaknya harus gue bawa pulang deh, soalnya kan gue cuman izin bentar doang sama Kak Royyan, kalau gak buru-buru balik bisa-bisa gue diamuk kak Royyan,"gerutu Almira yang tidak melepas pandangannya dari deretan berkas yang sedang berjajar saling bertumpuk dengan berkas lainnya.


Kedua tangannya dengan lihai merapikan ke-lima berkas yang sudah berada di depannya dan dia peluk untuk dibawanya pulang, kemudian wanita berambut ikal dibagian ujungnya itu lekas beringsut dari ruangannya, langkahnya bergerak kembali keluar butik, dia menemui dua bodyguard-nya.


"Tolong masukkan ke dalam mobil ya, di kursi belakang,"titah Almira pada salah satu pria berbadan tegap itu.


Pria berbadan tegap yang sedang berada di sebelah kanannya segera menyambar tumpukan berkas yang ada digenggaman Almira. "Baik nona,"sahutnya kemudian bergerak menuju mobil Almira setelah dia mendapatkan kunci mobil dari temannya.


Sedangkan pria berbadan tegap yang tengah menenteng berkas-berkas yang diambilnya dari bagasi segera menyerahkan berkas itu pada Almira. "Ini nona, berkas yang anda inginkan tadi,"pungkasnya.


"Ah iya, makasih." Almira segera menyambar berkas itu lalu dia kembali ke dalam butik.


Dari sudut lain nampak seseorang berpakaian serba hitam menarik turun topinya sehingga wajahnya tak terbaca, dia mencengkeram hebat ponsel yang ada dalam genggamannya, embusan napasnya yang kasar telah merobek angin yang tengah melintas di sekitarnya.


Seorang misterius itu lantas melakukan panggilan telepon dengan seseorang yang ada di balik ponselnya. Tak lama dari itu, panggilan teleponnya segera terangkat.


"Bagaimanapun caranya, saat dia keluar tembak dia sampai mampus! Gue gak mau tahu!"titahnya penuh ambisi, lalu dia segera mematikan teleponnya.


Seorang misterius itu tahu ada akan kehadiran mobil yang tak lagi asing baginya, ya! Itu adalah mobil Ajun, mobil berwarna silver mengkilat itu dengan cepat mencelat memasuki pekarangan butik Almira. Ajun datang bersama Manda, dan lelaki bermata downturned itu tak menyadari ada sesosok wanita aneh di samping jalan dekat pohon besar tersebut.


Namun, Manda sempat melihat bayangan hitam tiba-tiba menghilang dari balik pohon tersebut, tetapi wanita berambut sebahu itu hanya tenggelam dalam lamunan sejenak saja lalu segera dia abaikan karena pikirnya mungin hanya seseorang berpakaian hitam yang melintas di sekitar sana.


Setelah mobil terparkir, Manda dan Ajun segera keluar dari mobil dan menghampiri Almira yang berada di ambang pintu bersama dua bodyguard-nya.


"Ra ...,"panggil Manda dari kejauhan.


Keduanya tiba di depan Almira, bersamaan dengan Almira yang berputar mengarah pada Manda dan juga Ajun. "Haii ..."balas Almira tersenyum cerah, "akhir-akhir ini kayaknya kalian sering bareng ya,"sambung Almira dengan pertanyaan menggaham.


"Heh!" Manda mengibaskan satu tangannya di hadapan Almira, "kita itu kebetulan ketemu di jalan tadi, makanya bisa bareng dan Ajun katanya ada yang mau dia beli di butik lu,"kilah Manda dengan cepat.


Sedangkan Ajun hanya terdiam sembari menyuruk menyembunyikan senyuman tipisnya, lalu dia masukkan kedua tangannya ke dalam saku seirama dengan wajahnya yang kembali mendongak dan secara bergantian mengamati paras cantik kedua wanita yang ada didekatnya itu.


"Gue masuk ya,"pamit Ajun membiarkan kedua wanita itu saling bercengkerama.


"Oke ... Masuk lah,"sahut Almira memberikan jalan untuk Ajun masuk ke dalam butiknya.


Pria berbadan tegap itu tanpa segan terbenam ke dalam ruangan yang memiliki banyak gaun-gaun dan pakaian-pakaian berkualitas, langkahnya bergerak ke area jas dan berbagai macam jenis pakaian pria lainnya.

__ADS_1


Sampai dia tiba di sudut kiri, Ajun menghentikkan langkahnya karena terpukau dengan sebuah jas berwarna merah padam seperti yang saat ini dia inginkan untuk ke acara pesta malam ulangtahun pernikahan salah satu teman pengacaranya.


Lelaki itu mengelilingi satu set jas blazer untuk memastikan apakah dia minat dengan pakaian itu ataukah dia masih ingin mencari yang lain. Tiba-tiba panggilan telepon dari seseorang masuk ke dalam ponsel Ajun, tanpa mengalihkan pandangannya Ajun segera mengangkat panggilan telepon itu.


"Ya halo ...."


"Jun! Lu di mana?"tanya seseorang di balik ponsel itu yang tampak terburu-buru.


"Oh lu Dir, mobil udah nyampe kan." Ajun malah balik bertanya dengan santainya.


"Iya udah, itu gak penting, sekarang lu ada di mana,"tanya Dirta.


"Di butik bininya Royyan, kenapa sih lu panik banget kayaknya." Ajun menghentikan mengamati pakaian itu.


Langkah Ajun bergerak ke tengah sambil dia menyimpan satu tangannya di saku celana. "Ada apa sih? Gue lagi milih baju ini buat pesta,"tukas Ajun kesal dengan Dirta yang tidak juga mengatakan maksudnya menelepon dirinya untuk apa.


"Jun! Jaga Ra sampai gue tiba di situ, atau lu telepon Royyan buat cepet-cepet datang ke butik Ra, ini gawat! Pokoknya lu cepetan lakuin apa yang geu bilang."


"Hah?! Ada apaan sih?"sela Ajun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak merasakan gatal, "lu tahu sesuatu?"pancing Ajun menyipitkan netranya sambil dia mengarah keluar dimana Almira dan Manda masih bercengkerama.


"Di sekitar butik Ra sudah ada beberapa orang yang akan menembakkan peluru kepada Ra, jadi lu jaga dia dulu, gue bentar lagi sampe butik." Panggilan telepon terputus.


Mendengar hal itu membuat bola mata Ajun menjungkar hebat, seketika tubuhnya bergetar takut sekaligus heran, 'tembak', 'peluru?' kata-kata itu terus saja menjadi bayang-bayang menakutkan di dalam jiwa Ajun.


Kedua alisnya saling tertaut dengan kerutan yang menjorok. Ada satu pertanyaan yang membuncah di dada Ajun, darimana Dirta tahu bahwa ada ancaman bahaya yang sedang mengintai gadis bermta kucing itu, tetapi Ajun segera menepis pertanyaan yang saat ini tak terlalu penting.


Kakinya segera mengayuh dengan cepat keluar dari butik, sementara Almira dan Manda beserta dua bodyguard itu telah berjalan ke bibir jalan, entah kemanakah mereka akan pergi. Sontak bola mata Ajun membulat jengah.


"Ra ..."panggil Ajun keras sambil dia terus berlari, "cepet balik ke dalam butik." Suara pekikan Ajun semakin mengencang.


Namun, Almira tidak mendengarnya begitupun dengan Manda dan kedua bodyguard itu, semuanya telah beralih ke seberang jalan, langkah mereka terus bergerak ke area kosong yang tak ramai dikunjungi orang-orang. Sepertinya tujuannya adalah taman di depan danau yang berada di belakang mal besar itu.


"Sialan!" Ajun mencibir.


Langkah Ajun begitu berambisi melahap langkahanya dengan suapan besar untuk mencoba mengejar semuanya tepat waktu, perkataan Dirta telah membuat jantungnya berhamburan ketakutan, netranya mengedar ke setiap tempat untuk memastikan di manakah letak ancaman itu berada, tetapi Ajun tidak menemukan apapun selain banyaknya orang yang berlalu lalang dengan berbagai macam aktifitasnya.


Ajun berhenti di lorong yang membawanya ke belakang gedung mal tersebut, dengan napas yang masih tersekat Ajun melakukan panggilan telepon dengan Royyan, dia melakukan apapun seperti yang dikatakan oleh Dirta.


"Yan ..."ucapnya terengah-engah.


"Kenapa? Cepetan, gue sibuk."


"Istri lu,"ucapnya lagi seraya dia menelan ludahnya mencoba merelai napasnya untuk kembali tenang.


"Iya, gue udah tahu, gue minta tolong jaga bini gue dulu, gue lagi ada hal yang harus gue lakukan."


"Hah?!" Ajun terenyak heran.


Salah satu tangan yang semula menggantung di pinggangnya dengan begitu saja terlepas karena terkejut jika Royyan sudah mengetahuinya lebih dulu sebelum dia mengatakan apa yang dia ketahui.


"Kok bisa lu tahu, gue aja tahu dari Dirta."


"Dirta?"


"Iya, tadi pas gue di butik Dirta nelepon gue buat larang bini lu keluar butik, tapi gue telat karena Ra sama Manda cabut duluan sama dua orang suruhan lu,"jelas Ajun sambil dia berjalan cepat untuk menyelesaikan langkahnya tadi.

__ADS_1


Senyap. Royyan membisu beberapa detik, yang terdengar hanya embusan napasnya yang nampak begar, embusan kasarnya membuat Ajun mengetahui jika sahabatnya itu tengah dirundung emosi dengan tatapan tajam yang mampu memangkas energi semua orang yang melihatnya seketika menjadi ketakutan.


NEXT ....


__ADS_2