Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 129 : Malam pesta ulang tahun.


__ADS_3

Bangunan megah kediaman Rian dan Rini masih menjadi favorit banyak orang, rancangan sederhana dengan gaya klasik alami menampilkan kesan mewah yang tak bisa terkunyah oleh waktu. Ia masih mempertahankan kesan mewahnya, rumah itu dibangun saat usia Royyan menginjak umur delapan tahun, kurang lebih 3 tahun pembangunan.


Dalam balutan kemegahan rumah besar itu Royyan kembali menyerukan kebahagiaannya persis saat pertama kali dia dan keluarga menempati rumah itu yang sebelumnya hanya tinggal di apartemen kecil di kelas biasa.


Pria dengan sorot matanya yang tajam itu berlutut di depan sang istri yang terduduk di atas kursi di dekat kaca yang menyatu dengan meja rias di dalam kamar yang semula milik Royyan, dan sampai kini kamar itu tidak ada yang berani menempati kecuali Royyan dan Almira jika mereka bertandang.


Rian dan Rini tidak pernah menghapus jejak anak-anaknya walau kini kedua anaknya sudah memiliki rumah sendiri bersama pasangannya. Rian dan Rini masih saja merasa bersalah karena tak memberikan waktu mereka dengan kedua anaknya, mereka mengakui betul jika selama ini Royyan dan Anneu tidak mendapatkan kasih sayang yang penuh darinya.


"Sini ... Aku pakaikan lipstiknya,"tawar Royyan mengambil tiga warna lipstik seperti yang sering digunakan oleh istrinya.


"Kamu kenapa bisa memakaikan lipstik ke aku sih,"seru Almira menopang dagunya di atas meja rias yang berada di samping kanannya.


Royyan menyeringai lembut, derai kasih sayang berhamburan ke sekitar Almira, pria bertubuh kekar itu tak henti-hentinya memasati paras cantik sang istri, sambil dia menggerakkan lengannya di atas bibir Almira, mengoleskan warna dasar lipstik.


"Kamu mau tahu bagaimana aku tahu caranya menciptakan bibir kamu menjadi lebih cantik?" Royyan kembali bertanya dengan senyuman nakalnya.


"Euum ..." Almira mengangguk.


Sebelum menjawab, Royyan sempet menjilati bibirnya seraya memasati bibir istrinya yang tengah dia olesi lipstik warna dasar, lantas bibir kanannya menaik begitu saja, sontak hal itu membuat Almira membangunkan gairahnya yang tengah tertidur.


Dengan sigap Almira menarik kedua tangannya tertanam di atas bibirnya, dia tahu betul apa yang sedang dipikirkan Royyan, bola matanya membuncah hebat dengan debaran di dada yang bergemuruh dengan azmat.


"Stop! Kamu jangan macem-macem ya,"ancam Almira menaikkan satu telunjuknya ke udara dan mendarat di atas bibir kecil Royyan seraya dia mendorongnya ke belakang.


Tubuh Royyan terenyak ke belakang dan perlahan terjatuh ke lantai sambil menggenggam salah satu tangan Almira, lalu dia usapkan sebuah ciuman hangat nan tipis di punggung tangan sang istri.


"Aku gak akan melakukannya jika kamu tidak menginginkannya,"ucap Royyan menarik tubuhnya lagi berlutut di hadapan Almira.


Paras tampan lelaki itu terjatuh ke bawah sembari menyiapkan warna lipstik kedua yang akan dia oleskan di bagian dalam bibir Almira, perlahan dia mendongakkan wajahnya sembari menggerakkan kedua tangannya untuk mengapit dagu Almira.


Namun, tiba-tiba wajah gadis berambut coklat keemasan itu bergerak ke depan dan menjatuhkan sebuah kecupan singkat di bibir sang suami, lalu dia oleskan ibu jarinya di atas bibir pria berambut mullet itu.


"Udah ..."serunya kemudian merangkai senyuman indah di wajahnya.


Lantas Royyan mendengkuskan senyuman tipis, ciuman singkat itu sungguh menggodanya, tetapi dia masih mampu menahan gairah kelelakiannya karena riuh para tamu sudah menggema di telinganya, dia tak ingin membiarkan para tamu menunggunya dengan Almira lebih lama lagi.


Permainan Royyan tidak pernah bisa menggunakan waktu yang singkat, ia akan melekat dalam waktu yang lama atau bahkan saat matahari bertandang pun, permainannya tak kunjung usai.


"Udah selesai,"lontar Royyan sembari bangkit dari bawah dan berdiri dengan tegak. "Mari kita ke bawah dan temui semua orang, aku akan mengumumkan suatu hal yang penting,"lanjutnya kemudian, sambil menjulurkan satu tangannya dan menggenggam salah satu tangan mungil Almira.


"Pengumuman apa?"tanya Almira penasaran.


Tatapan polosnya merekam setiap jejak sorot mata tajam sang suami, kilatan pesona mata kecil itu menghipnotis waktu Almira dalam beberapa detik bahkan gadis itu tak bisa berhenti untuk melekatkan senyumannya di paras cantiknya itu.


"Kamu akan tahu saat kita turun,"jawabnya singkat sambil menarik tangan Almira dan perlahan tubuh gadis cantik itu bangkit dari kursi.


Satu tangannya dia lilitkan di salah satu tangan Royyan. "Kenapa gak ngasih tahu sekarang, kan aku jadi penasaran,"protes Almira melangkahkan kakinya mengikuti jejak sang suami.

__ADS_1


Royyan hanya menyeringai kecil, lalu menolehkan wajahnya untuk memandangi rambut indah Almira sembari dia membuai tangan Almira yang tengah melingkari tangan kanannya. "Sebenarnya aku hanya ingin meluruskan suatu hal yang telah terlanjur beredar di media online."


"Hah?! Emangnya di media online ada apa?"tanya Almira semakin penasaran sampai langkahnya terhenti sejenak.


Hanya beberapa detik saja, karena Royyan dengan sigap menarik Almira untuk tetap berjalan di sisinya. "Udah ... Kamu akan segera tahu,"timpal Royyan.


Sepasang suami-istri itu beringsut dari lantai tiga menuju lantai satu menggunakan lift, Royyan tidak ingin istrinya terlalu banyak berjalan yang tentunya akan memberikan dampak buruk untuk buah hatinya yang masih dalam kandungan.


Angin bergerak maju dan mundur, masuk dan keluar, mereka selalu bergulir ditempat yang sama, mendekap Ajun dan Manda yang tengah asyik berbincang satu sama lain. Peristiwa beberapa waktu lalu membuat Manda tak bisa lagi mengelak akan rasa cintanya pada Ajun, rasanya hati Manda tiba-tiba saja tertaut dengan Ajun, begitupun dengan Ajun. Hanya saja keduanya masih membekukan hatinya untuk mengalirkan cinta lebih deras dari yang apa mereka rasakan saat ini.


"Btw ... Cewek kemarin itu cewek lo Jun,"tanya Manda basa-basi sambil memutar-mutar anggur merah yang tinggal setengahnya.


"Yang mana?" Ajun kembali bertanya, dahinya mengerut sambil meraba-raba siapa yang dimaksud oleh Manda.


"Itu lo ... Pas elo nolongin gue dari cowok-cowok gaje,"pungkasnya menjelaskan.


Seketika nama Nanda melambung dalam lokap batin Ajun dan dia segera menyengguk. "Oh itu ... Bukan lah, dia Nanda temen masa SMA gue, Dirta, El, dan Royyan juga kenal karena saat itu kami sering hange-out bareng,"terang Ajun menjelaskan situasi sebenarnya yang terjadi antara dirinya dengan Nanda.


"Ooh si Rala tahu cewek itu, berarti mereka sering ketemu dong?"


"Enggak juga, kebetulan kakak kandungnya Nanda yang menyelamatkan El, tapi katanya Nanda jarang ketemu sama El."


"Aneh ya, biasanya kan cewek kalau temenan suka sering ketemu, kayak gue sama Ra.


"Entahlah." Ajun mengedikkan bahunya.


Perbincangan mereka dengan cepat terpangkas oleh kedatangan Almira dan Royyan, kedua insan itu bak seorang raja dan permaisurinya yang menuruni tangga kebesaran kerajaan. Seketika semua orang yang tengah berkumpul di berbagai tempat dan penjuru rumah besar itu segera berkumpul ke tengah untuk menikmati pemandangan indah dari Royyan dan Almira.


"Halo semuanya ... Terima kasih telah menghadiri acara saya, sebelumnya saya tidak ingin mengadakan pesta seperti ini, tetapi karena saya ada kabar gembira untuk semua orang yang sangat menantikannya,"ungkap Royyan di depan semua orang sambil dia memandangi paras samping sang istri.


Lantas Royyan kembali melempar tatapannya ke depan, mengabsen satu per satu tamu undangan termasuk Ajun dan Manda yang berada di bagian paling belakang. Ajun dan Manda nampak berusaha untuk melihat apa yang terjadi di depan, tetapi sayangnya mereka tidak bisa menerobos kerumunan semua orang dan memutuskan untuk tetap di sana dan mengandalkan telinga mereka untuk mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh Royyan.


"Seperti yang kalian ketahui dari media online, ya memang benar, istri saya Almira Miara Tisya tengah mengandung anak kami, dan karena itulah saya mengadakan pesta ulangtahun ini untuk menyampaikan kabar ini,"beber Royyan lagi menegaskan perkataannya tadi di awal.


Seketika riuh kebahagiaan berserakan di netra Royyan dan Almira, senyuman keduanya semakin mengembang bersamaan dengan tepuk tangan semua orang yang ada di sana bergemuruh dengan penuh antusias, terutama kedua orangtua keduanya.


"Selamat pak Royyan, semoga kandungannya sehat-sehat sampai kelahirannya,"ucap salah satu tamu wanita yang mengenakan gaun merah muda pekat.


Royyan hanya mengangguk dengan bingkai senyum kecilnya. Almira yang melihat tingkah suaminya lekas mengerut dan menggerutu di dalam batinnya.


Ish! Bukannya disalami kek atau apa kek, orang udah effort ngasih selamat begitu, dasar manusia es.


Almira mencebik kecil dan melempar tatapannya kesal dari sang suami. Gadis mungil itu menggantikan sang suami menjabat tangan semua orang yang memberikannya selamat, sementara itu Royyan melenggang dari sana menghampiri Ajun dan meninggalkan Almira melayani semua orang dengan ditemani oleh Rian, Rini dan Ressa, Miranda.


Melihat Royyan datang menghampirinya Ajun segera mendekat dan membiarkan Manda beranjak dari sana untuk mendekati Almira juga. Kedua lelaki itu saling berhadapan sambil menggenggam gelas anggur merah masing-masing.


"Ada apa Yan?! Kayaknya muka lu butek begitu?"tanya Ajun yang sampai saat ini belum mengetahui tentang teror yang menghampiri Almira.

__ADS_1


"Motor itu dan orang itu kembali datang dan mencoba melakukan hal yang sama seperti dulu,"terang Royyan tanpa banyak basa-basi.


Tubuh kekarnya berayun ke ruang gelap yang berada di luar rumah megah itu, lekas Ajun mengekori kemana pun sang sahabat berayun. Sorot matanya yang tajam mendekap malam bersama sunyinya dengan penuh kegetiran.


"Maksudnya orang yang dibayar Dirta untuk neror elu,"ucap Ajun memastikan apa yang dipikirkannya sama dengan apa yang dipikirkan oleh Royyan.


"Eum ..."gumam Royyan tipis ; Gelas yang berada dalam genggamannya perlahan berputar dan menerjunkan seluruh isinya ke dalam rongga mulutnya.


Rasa manis dengan tipis-tipis rasa pahit segera menjalar ke seluruh permukaan lidahnya, lalu pria bermata kecilnya itu melempar embusan napasnya keluar dengan kasar, ada sebuah tekanan yang amat berat dari embusan yang tercipta itu.


"Apa Dirta melakukannya lagi?"tanya Ajun pada siapapun yang mengerti dengan situasi itu.


Netra downturned milik Ajun mendadak redup dan kernyitan di area dahinya melekuk ke dalam, dia tak bisa mempercayai jika Dirta bisa melakukan hal ini lagi setelah ikrar yang dia ucapkan untuk menghentikan itu semua karena motifnya saat itu hanya karena Elshara tidak ada dihidupnya, lantas mengapa kali ini dia melakukannya lagi, motif apa lagi yang mendorong lelaki itu untuk melakukannya lagi.


"Belum bisa dipastikan karena ada dua orang yang mencurigakan,"celetuk Royyan meletakkan gelas anggur itu di pesisir tiang besar rumah tersebut.


Ajun tercekal sejenak. Siapa lagi? Menagapa ada dua orang yang terlibat dalam kasus ini? Apa yang terjadi sebenarnya? Pertanyaan demi pertanyaan menyeruak batin Ajun hingga sesak, amarahnya membuncah.


"Siapa? El?"serunya kemudian menerka siapa oranglain yang terlibat di dalam itu.


"Mungkin, gue harus lebih hati-hati karena Ami sedang mengandung, kalau gue gak hati-hati gue bisa kehilangan salah satunya atau bahkan paling buruknya adalah keduanya."


Ajun melangkah maju, mengungguli tubuh Royyan tengah terpekur dipilar rumah besar itu, tangannya terlipat di depan dengan gagahnya. "Gue ketemu sama Nanda."


"Hah?! Nanda? Temen SMA kita dulu,"pungkas Royyan mencoba mengingat sosok Nanda yang terpenjara memorinya yang membeku.


"Iya dia." Tubuh Ajun berputar dan mempertemukan keempat mata yang berbeda itu. "Nanda ... Lebih tepatnya Zarina kakak kandungnya Nanda yang menyelamatkan Elshara saat kecelakaan pesawat."


Belum habis Ajun menyerukan semua yang dia ketahui, netra Royyan sudah melebar lebih dulu, tatapannya mengurai ketidakpercayaan, jika dia tahu Nanda yang menyelamatkannya, mungkin saja dia akan mencari Nanda dan mengubah sejarah pertengkarannya dengan Dirta, hanya saja semua itu sudah terjadi dan tak ada lagi yang bisa diubah dari waktu yang sudah berputar dan waktu tidak bisa melangkah mundur.


"Bagaimana dia bisa berdiam diri saat kita mencari El,"kesal Royyan dengan tatapan nanarnya.


"Nanda ada di Singapura saat kecelakaan terjadi dan Zarina menjadi relawan di kecelakaan tersebut, setelah kondisi El nampak baik, dia di bawa ke Singapura untuk pengobatan yang lebih baik lagi, ya ... seperti itulah perjalanannya,"terang Ajun lagi.


Sorot mata Royyan mengeras. Perlahan dia tepis pikiran-pikiran buruk tentang Nanda dari lumbung batinnya. "Ah sudahlah, semua itu sudah terjadi dan kita tidak bisa mengubah apapun untuk kembali ke masa itu."


"Bener ..."timpal Ajun singkat, pria berambut french crop itu tak bisa melontarkan jawaban yang lebih panjang lagi.


Sementara Almira yang kini tengah bersama Manda terduduk di salah satu kursi sofa yang ada di dalam rumah itu, keduanya saling berhadapan, terutama Almira yang menyandarkan punggungnya ke sofa itu.


"Udah ngasih tahu suami lu tentang surat itu?"tanya Manda yang rupanya masih mengkhawatirkan sang sahabat.


"Euum ..."gumam Almira melesatkan tatapannya jauh ke depan untuk memastikan sang suami tidak ada di dekatnya. "Belum, belum sempet ngomong gue, dari tadi cuman persiapan buat acara ini, hadiah pun belum gue kasih,"sambungnya kemudian.


"Terus kapan lu mau ngasih tahu, lu harus ngasih tahu suami lu tentang ini karena jika enggak, lu dalam bahaya,"kata Manda masih mengkhawatirkan Almira.


Almira menghela napasnya panjang mengendurkan punggungnya ke depan. "Gue bingung ngasih tahunya gimana?"

__ADS_1


"Lu kasih aja kertas itu langsung sama Royyan dan gue yakin suami lu bakalan langsung ngerti dengan surat itu,"saran Manda sembari menegakkan posisi duduknya.


NEXT .....


__ADS_2