Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 81 : Sirkuit 2.


__ADS_3

Tidak sempat Almira melontarkan namanya, wanita bermata pipih itu sudah menyela dengan keangkuhannya. "Sepupu yang posesif lu ya, sampai lu nyamperin Royyan ke sini,"celetuknya dari belakang dengan pakaian kekurangan bahannya.


Almira mengernyit, dia pasati penampilan gadis itu di depannya, dari ujung kepala hingga ujung kaki, Elshara sangat sempurna. Penampilannya memang luar biasa, sayangnya dia salah tempat. Sirkuit tidak menerima pakaian seperti yang dikenakan Elshara saat ini, terlebih warnanya yang mencolok membuat Elshara ingin menggemakan tawanya.


Gadis bermata kucing itu tersenyum kecil, walau jauh di dasar hatinya ingin sekali dia menjambak dan mencabik-cabik Elshara yang telah membuatnya dengan Royyan menjadi semakin jauh.


"Lu yakin pake baju begitu ke sirkuit?"kernyit Almira seraya dia menopang dagunya di atas meja resepsionis.


Gadis bertubuh ramping itu menyeringai seraya menyeka rambutnya ke belakang dengan cantik, "lu syirik kan? Karena pada nyatanya Royyan lebih memilih menyelamatkan gue di banding elu,"tukasnya sambil dia mengangkat satu alisnya.


Si anj*ng! Kalau status gue udah jelas di mata publik udah gua kunyah lu hidup-hidup.


Monolog batinnya bertalun azmat membuat kepalan di tangannya sehingga bibir bawahnya menganjur ke depan sambil dia mendelik dengan malas, lantas dia memalingkan wajahnya dari wanita yang membuatnya sangat ingin mengunyah cabe hijau berukuran besar.


Namun, Almira segera menepis rasa cemburu itu, dia tak ingin Elshara senang atas kinerja jahatnya dengan menggunakan trik kotor seperti itu, lekas gadis berparas lembut itu merangkai wajahnya dengan senyuman meremehkannya lagi, dia tolehkan wajahnya kembali ke hadapan Elshara.


"Kata siapa? Gue kan cuman sepupunya, kenapa gua harus syirik? Harusnya elu yang malu, sebegitunya lu ingin mendapatkan perhatian kak Royyan sampai lu pake cara murahan kayak gitu,"ledek Almira yang kemudian menyelipkan ratusan helai rambutnya yang terurai.


Durja gadis itu memanen kemarahan dengan mudahnya, secuil perkataan Almira mampu membakar sumbu-sumbu kemarahannya, sehingga dia membuang mukanya ke arah lain, tak lama kemudian dia kembali mematri tatapan Almira yang selalu terlihat lembut dan polos, berbeda dengan pembalasan yang bisa di lakukan gadis mungil itu.


"Elu!"tunjuk Elshara dengan getir, lalu dia lempar telunjuknya ke bawah dengan kasar, garis-garis di wajahnya masih tegang bersamaan dengan urat hijau di tangannya menyembul. "Gue ini punya trauma dengan laut! Itulah kenapa Royyan mengkhawatirkan gue,"tegasnya menyambung perkataannya tadi.


Bukannya merasa iba, wanita bertubuh mungil itu semakin puas melihat gadis di depannya merentangkan kemarahan lebih tangguh di banding tadi, dia tersenyum miring merasa puas.


"Lantas ..."sahut Almira dengan suara mendayu seraya mengelilingi tubuh gadis itu lalu dia mengibaskan rambut indahnya yang berwarna coklat keemasan alami ke tubuh gadis itu, "kenapa lu narik gue ke laut, apa saat itu lu amnesia sama rasa trauma sendiri, sangat kebetulan ya, saat lu tahu gue gak bisa berenang, padahal hal itu semua hanya sebuah kebohongan,"beber panjang Almira melesatkan tatapan tajamnya menembus pupil mata Elshara yang sudah membesar.


Deru napasnya menggebu-gebu terdengar sangat kasar, kepalan tangan yang sudah mengepal geram segera dia layangkan ke atas dalam keadaan masih mengepal, tetapi saat itu juga Ajun datang menghampiri menyela pertengkeran Elshara dan Almira, sehingga Elshara menurunkan kepalan tangannya yang sudah mengudara.


"Ra ...."panggil Ajun lantang, dia berlari mendekati Elshara dan Almira yang saling berhadapan memercikan petir amarah.


Kedua gadis itu serempak menoleh pada arah suara tersebut, pria berbadan tinggi mendekatinya, rautnya memercikan aroma kepanikan yang lebih lekat di banding saat tadi di telepon.


"Gue nyasar, ini sirkuit apa kastil sih,"protes Almira mengalihkan sorot matanya pada Ajun.


Ajun terkekeh kecil, "salahkan Royyan, kenapa dia bangun sirkuit semewah ini,"balasnya seraya hendak mengarik tangan Almira.


Namun, tak jadi dia lakukan. Karena jika itu dia lakukan dan Royyan mengetahuinya, bisa saja pria berbadan kekar itu melahapnya habis-habis hingga tersisa tulang-belulangnya saja, lekas dia turunkan tangannya lagi dan di tariknya ke belakang bersembunyi di sana.


"Udah ayo cepetan ikut gue, keburu mampus anaknya,"celetuknya kemudian memiringkan tubuhnya memberikan jalan untuk Almira melangkah.


Wanita berparas lembut itu berayun ke depan tanpa menghiraukan Elshara yang masih menikam Almira dengan tatapannya, tak lama dari itu Ajun ikut melimbai mengekori langkah Almira yang sudah berada jauh dari mereka, begitupun Ajun yang tidak memedulikan Elshara yang sedari tadi menyebarkan hawa panas membara.


"Ajun!"pekik Elshara menarik Ajun kembali menghala padanya.


Garis wajah Ajun mengendur tak rela langkahnya di penggal oleh Elshara, "ada apa sih El, gue lagi buru-buru ini,"protes Ajun.


"Royyan di mana? Gue mau ketemu sama dia,"tanya Elshara.

__ADS_1


Helaan napas panjang tertendang keluar sembari dia merelai tangannya dari genggaman Elshara, angannya terus berpikir keras, apa yang harus dia katakan pada gadis kukuh di hadapannya ini, sedangkan Royyan sama sekali tidak mengizinkan siapapun untuk masuk ke dalam selain Almira dan dirinya.


"Dia lagi di dalam, lagi nantang dirinya sendiri di sirkuit, keadaannya kacau, lu mending balik aja, percuma juga lu temui dia sekarang,"terang Ajun.


"Why? Emangnya ada apa sama Royyan? Gue mau ngomong bentar aja, emangnya kenapa sih."Elshara semakin meneteskan pertanyaan-pertanyaan yang lebih lebat lagi.


"Gak bisa. Royyan cuman mau ketemu sama Ra dan gue sebagai perantaranya, dan elu gak ada dalam daftar pertemuan Royyan hari ini,"jelas Ajun lagi.


"Maksud lu?"kernyit Elshara tak terima, "emangnya Royyan kenapa? Dia kacau? Gue bisa bantu lu buat Royyan kembali dengan mood yang baik, kenapa harus Ra?"pertanyaan itu semakin brutal.


Ajun tak ingin membuang waktunya hanya untuk meladeni Elshara dan memuntahkan lebih banyak kebohongan lagi, tetapi jika dia tak memberikan jawaban maka dia akan terus di cecar kejaran Elshara yang tak pernah menemui lelah.


Gue harus bohong lagi, haduh! Sampai kapan kebohongan ini akan berakhir?


Ajun menelan ludahnya kasar bersamaan dengan ayat-ayat kepenatan batinnya terukir di dalam kubangan batin.


"Istrinya Royyan lagi kabur dari rumah, jadi dia lagi kacau nyari istrinya, gue minta Ra kesini buat menghentikan kegilaan Royyan di sirkuit karena Ra saudaranya,"kilah Ajun.


Saudara sesama manusia maksud gue El, sorry ....


Elshara memicing kesal sambil dia melipat kedua tangannya di depan dada, dia melenggokkan kepalanya dengan mendayu. "Saudara apaan coba, seakrab itu,"urai Elshara memberengut.


"Terserah ya itu dugaan lu, gua gak ada urusannya sama pendapat elu, dah ya gue sibuk,"pamit Ajun kembali berayun.


Ajun berlari menjauhi Elshara, meninggalkan gadis yang tengah membakar wajahnya dengan cahaya merah yang panas meluap, "Ajuuun ...."panggil Elshara seraya menumbuk keramik-keramik putih dengan heels yang di kenakannya.


Pria itu mengabaikannya bahkan dia tak menoleh lagi pada Elshara, kakinya terlalu sibuk melanyak langkahnya agar dia cepat sampai di ruang VVIP dimana Almira dan Royyan berada. Meninggalkan sosok suara bak lumba-lumba menyambit gendang telinganya.


"Kenapa diem? Ayo hentikan suami lu Ra, gue udah berulang kali ngomong, tapi dia sama sekali gak dengerin gue,"ucap Ajun di dekat Almira.


Gadis mungil itu menoleh sendu, dia membingkai wajahnya dengan ringisan kelesah, "gimana caranya? Gue harus teriak gitu?"tanya Almira.


"Jangan. Kagak bakalan kedengeran, sirkuit ini luas dan suara lu bakalan terbawa angin ke atas,"tepis Ajun.


"Terus gimana?"


"Ikut gue, kita ke ruang kendali."


Ajun menuntun langkah Almira ke ruangan yang ada di samping kiri nya, mereka masuk ke dalamnya, Ajun memasangkan alat komunikasi yang terhubung langsung dengan Royyan yang masih merapah putaran sirkuit tanpa ampun. Hingga mobil yang dikendarainya kelelahan dan menguapkan aura panas.


"Lu ngomong aja, nanti Royyan denger kok, dia juga pake alat komunikasi juga kan,"titah Ajun, setelahnya dia kembali keluar untuk menjadi mata nyata pergerakkan mobil Royyan.


Almira mengangguk lalu dia menghela napasnya, "kak ... tolong hentikan, kamu bisa celaka, jangan lakukan ini,"lirih Almira dengan suara lembutnya.


Bait-bait kecil Almira berlayar ke telinga Royyan, tentu saja pria itu mendengar suara yang sangat dia rindukan itu, lantas dia menyeringai, dia melengkungkan senyuman yang merekah di wajahnya yang tertutupi helm.


Akhirnya kamu keluar sayang, aku tahu kamu akan keluar, ternyata cara ini sangat ampuh.

__ADS_1


Bahana Royyan bersenandung dengan tala jantungnya berdetak dengan kecepatan tinggi, hanya mendengar suaranya saja sudah bisa membuat Royyan terasa terbakar kerinduan yang berkesinambungan.


Namun, Royyan tak kunjung menghentikan permainannya di arena. Laju mobilnya semakin tinggi, kemampuannya berkendara sudah berada pada tingkat setara dengan para pebalap profesional.


Sehingga Almira memajukan wajahnya pada monitor di hadadapannya dengan bola mata yang meroyak, dia cengkeram angin yang melintasinya dengan geram. Dia kesal Royyan tidak mendengarnya, dahinya berkerut, dia meringis melambungkan rasa takut semakin mencuat.


"Kak Royyan!"pekik Almira, suaranya melengking bak terompet tahun baru yang membangunkan semua orang di tengah malam. "Berhenti gak. Kamu mau bunuh diri? Kamu udah kayak angin tahu, melesat hampir gak keliatan,"sambung Almira, suaranya meninggi.


"Jika aku mati, kamu akan seperti apa?"Royyan malah bertanya hal yang membuat Almira semakin mendebarkan jantungnya dengan kekuatan yang lebih perkasa lagi.


"Gak usah ngaco, cepet berhenti! Kak Royyan jangan bikin aku jantungan ih,"rengek Almira.


Mendengar Almira mulai meruntuhkan bendungan air di bola matanya, Royyan menginjak pedal rem dengan sekaligus, sehingga mobil itu berputar-putar di tengah-tengah sirkuit, bunyi gesekan ban mobil dengan jalanan beraspal itu terdengar sangat nyaring, mobil itu terus berputar-putar selama lebih dari tiga menit sampai asap-asap yang mengepul di sekitarnya berhamburan.


"Aaaahh ...."teriak Almira terdengar pilu, dia lempar alat komunikasi dari telinganya.


Oleh karena itu, Almira berlari keluar dari ruang kendali. Dia mengayuh langkahnya dengan tersera-sera, angin yang berhembus kuat di sana mengibaskan ratusan helai rambut Almira dengan lembut. Gadis itu berlari sampai tiba di depan mobil Royyan yang baru saja terhenti.


Staff yang bertugas sudah bersiap untuk berlari jua menghampiri Royyan yang sudah berkendara lebih dari enam jam dengan kecepatan tertinggi dari mobil itu, tetapi Ajun segera berlari menghentikan langkah semua staff itu.


"Gak usah khawatir, kalian keluar aja dari sini dan tunggu Royyan di luar, mereka biar saya yang urus,"pinta Ajun.


"Tapi tuan Ajun, bagaimana kalau pak Royyan mengalami cedera,"bantah salah satu staff tersebut.


Ajun menggeleng dengan senyuman tipisnya, "kalian lupa siapa Royyan?"ujarnya menaikkan kedua alisnya ke atas.


Degh!


Perkataan Ajun menyadarkan semua orang yang ada di hadapannya, Royyan memiliki daya tahan tubuh yang kuat, jika hanya berkendara selama enam jam dengan kecepatan seperti itu bukanlah masalah baginya.


Lantas semua staff yang bertugas menyengguk dan mulai berhamburan keluar dari sana, dengan bersamaan pintu utama masuk ruangan VVIP itu tertutup dengan rapat, sedangkan para penjaga yang sedari tadi berdiri tak ikut enyah seperti para staff itu.


"Biarin lah mereka ngobrol. Cepetan makanya go public bikin gue jantungan mulu kalian,"celoteh Ajun di depan salah satu kursi penonton.


Pria itu melorotkan lututnya dan terduduk di sana, dia mengambil ponsel yang ada di dalam saku celana bagian kanannya. Dia berusaha untuk tidak ikut campur dalam perbincangan hubungan Royyan dengan istrinya.


Sementara itu Almira memukul-mukul kaca mobil sang suami yang tak kunjung keluar dari mobil itu, "kak Royyan! Cepetan keluar!"pinta Almira.


Tak lama dari itu, Royyan keluar dari mobilnya setelah dia melepaskan sapu tangan dan helm yang tadi sempat melindungi tangan dan kepalanya, dia kibaskan rambut mulletnya yang sudah merasakan panas karena terkungkung helm.


"Kenapa sih sayang ... kamu marah-marah mulu,"seru Royyan dengan suara lembut yang mendayu seraya mengapit dagu Almira singkat lalu mengembangkan senyumannya.


"Masih nanya lagi."nada suaranya meninggi, "kamu ngapain bawa mobil kayak kesetanan gitu,"sambungnya kesal.


"Aku kacau karena kamu."wajah Royyan menunduk lemah.


"Ya salah kamu sendiri,"sergah Almira yang kemudian memukul lengan Royyan sehingga pria itu meringis kecil, "aku gak bakalan pergi kalau kamu enggak mencintai wanita itu,"celetuknya.

__ADS_1


Penuturan Almira barusan berhasil membuat Royyan mendongak dan memasati wajah sang istri dengan dalam, dia mengarik pergelangan tangan Almira dengan kelembutan dan bola mata kerinduan yang dahsyat.


NEXT ....


__ADS_2