
Keduanya semakin terbenam pada obrolan yang mengasyikan, Manda terus memandangi keduanya dari kejauhan. Pikirnya dia harus segera menyingkir dari sana sebelum Ajun menyadari keberadaannya, tetapi jiwa penasarannya menjerat raga Manda untuk tetap di sana yang secara perlahan bergulir ke dekat Ajun dan wanita itu.
Ajun beralih dari posisi berdirinya ke samping kanan wanita tersebut, dia merekatkan bokongnya dengan kursi yang sama yang tengah diduduki wanita itu.
"Terus lu selama ini kemana aja?! Habis kelulusan, eh bahkan sebelum kelulusan dilaksanakan, lo udah menghilang nan,"tanya Ajun penasaran dengan apa yang terjadi dihidup teman masa SMA-nya ini.
Gadis itu bernama Nanda, ya! Dia adalan sosok teman masa SMA yang pernah dekat dengan Elshara, hanya saja saat kecelakaan beberapa tahun lalu, Nanda sempat menghilang bak tertelan bumi dan tidak ada yang mengetahui kemana dia menyembunyikan diri.
"Gue dikirim orangtua gue buat lanjut kuliah di Singapura nemenin kakak gue satu-satunya, jadi sorry ya pas kelulusan gue gak ada pamit sama kalian."
"Pantesan aja lu ngilang,"timpal Ajun sembari menjulurkan kaki panjangnya ke depan dengan punggung yang merunduk ke bawah.
Nanda menoleh pada Ajun, memandangi rahang lelaki itu dengan dalam, netranya menyelam begitu saja pada keindahan yang tercipta di sana.
"Kalau lu kemana aja, gue baru lihat lu lagi, padahal setelah dua tahun gue di Singapura, gue balik lagi ke Jakarta dan lanjut kuliah di sini." Nanda balik bertanya tentang keberadaan Ajun selama ini.
"Guee ..."serunya panjang menolehkan tatapannya pada Nanda dan gadis itu menarik alisnya ke atas, memberikan isyarat jika dia sudah tidak sabar mendengar jawabannya.
"Apa?"
"Pindah ke Bali, usaha keluarga gue lebih besar di Bali, dan bisnis keluarga gue yang ada di sini masih berjalan, cuman ya enggak se-intens di Bali,"terangnya kemudian.
"Oh begitu." Anggukan tegas dari Nanda tertumpah dengan sempurna, "sebenarnya pas gue di Singapura, tiba-tiba kakak gue harus jadi relawan di sebuah kecelakaan pesawat, kebetulan dia yang dipilih oleh kampus untuk terjun jadi relawan,"beber Nanda begitu saja.
Membuat Ajun terlonjak, netranya membulat. 'Sebuah kecelakaan pesawat' kembali menggema di dada Ajun, dia sungguh membenci hal kecelakaan itu, karena hal itu persahabatannya terpecah bahkan pernah hampir punah, tapi beruntungnya kecelakaan itu tidak benar-benar membawa pergi Elshara.
"Di mana?"tanya Ajun yang masih saja penasaran dengan maksud kecelakaan itu.
"Di Indonesia, saat El mengalami kecelakaan, saat itu gue gak bisa kemana-mana."
Degh!
Satu pukulan menghunjam Ajun, serpihan kata-kata Nanda membuat Ajun melambungkan sebuah praduga. Dahinya mengernyit dalam, dia berdiri dari kursi dan memosisikann dirinya lagi di hadapan gadis berambut sepinggang itu.
"Jadii ..."seru Ajun dengan tatapan seriusnya.
Nanda menghela napasnya, dia mulai merasa membeku dengan tatapan itu. Ajun adalah sosok yang jarang menampilkan wajah seriusnya, sehingga kala melihat Ajun dalam keadaan seperti itu seketika semua raga yang menatapnya mendadak menjadi bisu.
"Kakak gue yang menyelamatkan El, dia merawat El di Bali, dan---"
Pikiran Nanda masih terus merangkai kata untuk menjelaskan situasinya saat itu, tetapi Ajun sudah lebih dulu melabuhkan tatapannya di netra gadis itu, dan kedua tangannya secara impulsif mencengkam kedua lengan atas Nanda dengan lembut.
"Jadi ... Selama ini, lu tahu kalau El masih hidup?" Kerlingan mata downturned itu mencekam.
Nanda terenyak ke belakang, dan bola matanya mengkristal tak berdaya di hadapan netra yang tengah menatapnya dengan penuh keseriusan. "Euum ... Iya, kenapa sih?!" Dahi Nanda mengerut, "ada apa emangnya?! Kok mu-ka lo menakutkan sih, jangan gini Ajun ... Gue takut." Nanda menepis kedua tangan Ajun yang membelenggu lengannya sedari tadi.
Ajun mencacak dengan benar, lalu dia mengembuskan napasnya keluar membuat dada yang terpenjara sesak merasakan lega bersamaan dengan tatapan yang kembali seperti semula. Ajun melangkahkan kakinya kecil seraya berkacak pinggang dan melempar tatapannya ke ruang bebas di sana, di bawah terik matahari yang tengah menggila.
"Gara-gara Elshara dinyatakan menghilang dan tidak ditemukan, sampai timsar memutuskan untuk menghentikan pencariannya, Royyan dan Dirta berseteru hebat,"terang Ajun.
__ADS_1
"Hah?! Kok bisa, kenapa?"tanya Nanda heran, wajah terkejut nampak berseteru dengan jalan pikirannya.
"Dirta jatuh cinta pada El, dan El jatuh cinta pada Royyan, dan terciptalah perseteruan itu. Kepergian Elshara adalah untuk menghilangkan perasaannya pada Royyan sampai akhirnya El kecelakaan dan Dirta mengetahui segalanya, dari situlah Dirta menyalahkan Royyan atas kematian El saat itu." Tubuh lelaki tegap itu beralih ke dekat Nanda lagi
Wajah Nanda mengeras tak percaya yang baru saja diceritakan oleh Ajun, semasa di SMA dia tidak mengetahui hal itu, karena Elshara tidak pernah menceritakan perasaannya pada siapapun kecuali pada Dirta.
"Lantas apa yang dilakukan Dirta?" Netranya tertadah dan mematri tatapan Ajun.
"Dirta menciptakan teror pembunuhan dikehidupan Royyan, sampai Royyan harus menyembunyikan pernikahannya dengan istrinya, padahal Royyan sudah jatuh cinta pada istrinya dari sejak pertemuan pertama mereka."
"What? "seru Nanda terkejut.
Gadis yang tengah merasakan sakit di kaki kirinya segera bangkit untuk mendekatkan dirinya dengan Ajun. "Dirta?! Kenapa dia jadi seperti itu." Semampunya dia berdiri dengan tegak sambil menahan rasa sakit yang mendekapnya.
"Itulah cinta, ia bisa melakukan segala hal, termasuk kejahatan. Beruntungnya Royyan tidak mempermasalahkan hal ini sampai ke hukum, lu tahu kan,"jawab Ajun melipat kedua tangannya di depan.
"Euum ..."gumam Nanda mengangguk menunggu kelanjutan dari perkataan Ajun.
"Jika Royyan sudah bertindak dan jiwanya terbakar, bisa-bisa dia meratakan semuanya, termasuk bisnis keluarga dari orang yang bersangkutan."
Angan Nanda berkelana jauh ke belakang, tenggelam pada sebuah kisah yang pernah terjadi saat dirinya mengenyam pendidikan SMA, saat itu ada seorang pembully yang tidak pernah kapok dengan tindakannya, sudah berulang kali di hukum oleh sekolah sekalipun dia tidak pernah jera.
Tanpa sengaja mengundang emosi Royyan membuncah, saat malam samar-samar Royyan membuat sebuah manipulasi dengan meretas semua situs perusahaan keluarga dari sang pembully sehingga lumpuh selama kurang lebih dari tiga bulan dan di sekolah lelaki kekar itu membuat sang pembully dihukum oleh sekolah.
"Pembully tidak berhak hidup di sekolah ini, jika para guru dan staff di sekolah ini mengabaikan tindakan keji ini, maka saya yang akan menghukum murid itu,"gertak Royyan di hadapan semua guru dan staff sekolah tersebut.
Satu pun di antara mereka, termasuk kepala sekolahnya tidak mampu berkutik. Semuanya tertunduk hanya karena Royyan yang memegang kendali donatur terbesar di sekolah tersebut. Royyan sudah belajar tentang bisnis dari sejak dia di bangku SMA.
"Bagus. Karena jika tidak, saya yang akan menghukumnya langsung,"tegas Royyan.
Pria bermata kecil itu melenggang bak seorang pemimpin perusahaan yang berkuasa, dan nyatanya memang demikian, kini Royyan sudah menjadi pimpinan Rain Corporation yang menaungi lebih dari sepuluh perusahaan yang bergerak dibidang properti, fashion dan agensi model.
"Iya, gue tahu. Keluarga Dirta bisa kehilangan semua bisnis mereka,"cetus Nanda menunduk lemah.
Gue yakin banget, kalau Royyan pasti sudah menyelundupkan orangnya untuk masuk sebagai mata-mata di perusahaan Dirta dan Elshara, Remira Fashion salah satu kaki tangannya.
Batin Ajun meraba-raba kemungkinan yang tengah dilakukan oleh sahabatnya itu.
Nanda kembali menggerakkan mulutnya. "Gue tahu kecelakaan El saat kak Zarina ngasih tahu gue dan El dibawa ke Singapura untuk penyembuhan, karena kak Zarina prakteknya di Singapura, sedangkan gue gak tahu keluarga El ada di mana, saat kembali ke Indonesia gue nyari tahu dan menemukan keluarga El dan detik itulah mereka tahu kalau El masih hidup,"jelas panjang Nanda.
Serpihan perkataan Nanda menyatu dengan kepingan tuturan Elshara saat awal dia kembali dan sudah menjadi seorang top model di agensi itu. "Kenapa lu gak ngasih tahu gue atau Royyan dan Dirta."
"Ya gue mana tahu kalian ada di mana, selama tahun-tahun itu berlalu gue gak pernah menemukan kalian, ya sorry kalau ternyata kebisuan gue malah buat kalian menjadi renggang, bahkan saat sekarang pun gue udah jarang ketemu sama El,"tangkis Nanda.
"Lu jarang ketemu sama El?"tanya Ajun seolah dia tidak mempercayai perkataan Nanda.
"Iya." Nanda mengangguk tegas. "Yang sering ketemu sama El itu kakak gue, kak Zarina, karena El masih sering memeriksa kondisi kesehatannya sama kak Zarina."
"Kakak lu praktek di mana?"
__ADS_1
"Di rumah sakit pusat kota ini,"paparnya kemudian.
"Oke ..." Ajun mengangguk, entah untuk apa dia menanyakan semua itu pada Nanda.
Beberapa detik kemudian, netra Ajun terjatuh pada kaki gadis di hadapannya, tiba-tiba Ajun menaikkan tubuh gadis itu ke atas kedua lengan kekarnya ; Nanda membeliak, terkejut dengan tindakan Ajun yang tiba-tiba.
"Ajun ..."pekik Nanda melingkari leher Ajun dengan kedua tangannya, bola matanya membulat. "Lu mau bawa gue kemana? Gue masih nungguin kakak gue di dalam mal,"sambung Nanda mematri tatapan Ajun yang melesat jauh ke depan.
Pria berbadan tegap itu terus melangkah ke mobil dimana mobil Nanda terparkir. "Jalan lu lama, gak mau nunggu gue, ribet,"celetuknya kemudian.
"Ish! Dasar gila." Satu pukulan lembut terjatuh di dada Ajun, "gak berubah lu, romantis dikit kek sama cewek."
"Ngapain? Emangnya kalau romantis sama cewek menjamin apa? Wanita itu hanya butuh kepastian dan keseriusan kan?! Romantis hanya bumbu,"papar Ajun yang kemudian menurunkan Nanda di dekat mobil hitam milik Zarina.
Sosok wanita berprofesi dokter yang sempat di temui Adrian beberapa waktu lalu.
Setelah Ajun dan Nanda beringsut ke area parkiran, akhirnya Manda keluar dari persembunyiannya, wanita yang mengenakan celana panjang dan croptop yang dibaluti oleh sweeter berbulu halus dengan warna senada itu berdiri di kursi panjang di hadapan air mancur itu.
"Jadi cewek itu temen SMA-nya, tadi katanya kakaknya yang menyelamatkan El, si El itu kan si Rala kan ya?!"seru Manda menggaruk kepalanya dengan satu jari telunjuknya, "jadi si Rala suka sama Royyan udah dari dulu." Manda mengangguk.
Lantas helaan napas terurai dengan lembut keluar dari ceruk perhelaannya. "Pantesan aja si Rala kayak kegilaan begitu sama Royyan, ah udahlah,"tepis Manda berkacak pinggang, "bukan urusan gue, sekarang gue mau balik,"tambahnya kemudian.
Manda memutar tubuhnya dan mendapati dua sosok lelaki bertubuh kekar telah menunggunya, tatapan kedua lelaki itu nampak kehausan kala melihat lekukan tubuh indah milik Manda.
Degh!
Jantung Manda tak berhenti terus berbenturan dengan dinding-dinding ketakutannya, dia telan kasar ludahnya bersamaan dengan langkah kakinya mengenyak ke belakang, meraba-raba jalan dengan mata kakinya.
"Ka-kalian mau apa?" Manda gusar, rasa takut semakin menguasai dirinya.
Tatapan getirnya semakin meredup. Alis yang saling tertaut ikut mengendur bersamaan dengan raga Manda yang terus bergetar takut. Sedangkan kedua lelaki itu dengan angkuhnya menghunjamkan tatapan kehausannya sambil menjilati bibirnya sendiri, sesekali mereka mengusap bibirnya dengan ibu jarinya.
"Ayolah cantiik ... Gak usah takut, kita akan bersenang-senang, mau mulai dari mana?"pungkasnya mencoba meraih tangan Manda.
Perlahan langkah gadis itu melemah dan akhirnya terjatuh ke bawah melanggar lantai yang terbalut oleh bahan bangunan itu. "Aaaakh!!"pekik Manda melengking.
Burung-burung yang baru saja hinggap di antara kabel-kabel besar di udara dengan segera terbang, berhamburan menyelami awan-awan yang betebaran di angkasa. Para angin mengirim suara pekikan itu sampai ke telinga Ajun yang baru saja bertemu dengan Zarina.
"Makasih ya Jun, anaknya emang ngeyel dia,"ungkap Zarina membuat Nanda mencebik kesal dan memukul lengan Zarina.
"Ih apa sih kak,"tepis Nanda tak terima.
Ajun mengembangkan senyumnya. Sampai akhirnya ketiganya mematung sejenak kala suara pekikan seorang wanita mendatanginya, netra Ajun lekas mengedar untuk mencari sumber suara itu dari mana. Tatapannya menyipit untuk menjangkau lokasi pekikan itu lebih jelas lagi.
Netranya yang awas dengan segera menyadari sosok Manda ada di sana, seketika bola mata Ajun menjungkar hebat. "Manda." Ajun menyerukan nama Manda dengan jelas.
Nanda menyadari ada sebuah nama yang terlontar dari bibir Ajun, lekas dia tolehkan wajahnya pada Ajun yang belum melepaskan mata awasnya. "Lu kenal?"tanyanya.
"Gua ke sana dulu,"pamit Ajun
__ADS_1
Pria tegap itu gegas mengayuh langkahnya untuk mendekati Manda, dia berlari dengan kecepatan yang dia mampu, menerobos angin yang mencoba untuk menahannya, langkahnya begitu tersera-sera tanpa mengabaikan siapapun yang mencegahnya, bahkan panggilan Nanda tak dia hiraukan.
NEXT ....