
"Iya,"jawab Royyan singkat, dan saat itu lah dekapannya perlahan mengendur.
Pria berambut mullet itu mengubah posisinya menjadi telentang dan Almira tertidur di samping Royyan seraya dia memiringkan tubuhnya menghadap pada sang suami, dengan tangannya yang dijadikan sebagai bantal.
Namun, keduanya tak saling berbincang, Royyan sendiri dari tadi hanya terpejam tak menggerakkan bibirnya sama sekali. Almira yang sudah pegal melihat suaminya yang sama sekali tidak bergerak akhirnya dia sendiri yang beranjak dari ranjang dan mengambil obat-obatan yang sempat dia beli tadi, dia letakkan di dekatnya.
"Sini ... aku obati dulu,"pungkas Almira seraya dia menarik sang suami untuk mengubah posisinya menjadi duduk.
Dengan gerakan malas, Royyan terbangun dan duduk di hadapan sang istri, tak lama kemudian matanya yang semula terpejam akhirnya perlahan membuka, mendapati Almira sudah meneteskan cairan alkohol untuk menyeka wajah Royyan dengan niat membersihkan lukanya terlebih dahulu.
"Jadi ... keluar tadi, kamu beli obat?"tanya Royyan dengan wajah berseri-seri dan balutan senyum tipis yang berusaha dia sembunyikan.
"Enggak,"elak Almira seraya menyeka luka Royyan dengan lembut, "aku mau jajan, tuh disana jajanannya lagi duduk."Almira berkilah lagi, tidak mungkin dia ungkapkan kekhawatirannya secara langsung pada sang suami.
"Oh ... kirain,"seru Royyan, hati yang sudah berkembang itu seketika menciut dan menampilkan wajah muramnya lagi.
Tanpa sengaja Almira lengkungkan bibirnya ke atas dengan samar-samar, tetapi dia berusaha untuk menahannya semampunya. Dia tetap menyeka luka Royyan dengan alkohol yang dia teteskan ke kapas, setelah selesai dia lanjut dengan meneteskan obat merah di kapas baru dan segera menyeka wajah Royyan lagi dengan obat merah tersebut.
"Lagian ngapain pake acara berantem sih, sok jagoan banget,"omel Almira seraya terus mengoleskan obat merah ke luka Royyan tepatnya di bagian area dekat bibir.
"Gak ada yang berantem,"jawab Royyan, lagi-lagi singkat, tetapi dengan suara berat yang khas dan terdengar sangat lembut.
Sontak Almira terhenyak satu sentimeter ke belakang dan menghentikkan aktifitasnya seraya memasati wajah Royyan yang kini sudah penuh dengan luka lebam pukulan, dengan dahi yang berkerut dengan dalam, sedang jauh di dalam hatinya begitu mengkhawatirkan sang suami yang terlihat sedang menahan nyeri.
"Terus ini apaa ... tuan muda Royyan D'caprio Alzaro, cakaran makhluk gaib ...."greget Almira sampai dia menggesekkan kedua gigi-giginya seraya menekan luka Royyan dengan kapas sedikit kasar.
"Aw ..."ringis Royyan membeliakkan bola matanya seraya menepis tangan Almira dengan lembut, "sakit dong, jadi istri tuh yang lembut kek, niat gak sih ngobatin,"protes Royyan yang kemudian mengambil tangan Almira yang sedang melayang di udara dan dia tarik sampai Almira kehilangan kendali dan terjatuh dalam dekapan Royyan, segera dia lingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri.
Kedua tangan yang menggantung di pundak Royyan seketika menguat saat wajah Royyan perlahan mendekati wajahnya yang tegang, "niat lah, kamu sih bohong, bilangnya gak berantem tapi wajah penuh sama luka lebam-lebam,"tepis Almira sembari mendorong Royyan sehingga dekapan Royyan melemah dan akhirnya terlepas dan wanita bertubuh mungil itu melanjutkan pengobatannya.
"Dia yang duluan."Royyan berusaha membela dirinya sendiri.
"Walaupun dia yang mulai masa kamu mau balas dia pake cara yang sama, terus bedanya kamu sama dia apa dong,"ujar Almira yang telah selesai memberikan obat merah, lalu dia berlanjut mencari plester untuk membaluti luka Royyan.
"Suami kamu di pukuli dan kamu bilang aku gak boleh melawan?"tanya Royyan dengan tatapan mengintimidasi.
"Ya bukan gitu, kamu bisa tepis dan cabut alias kabur, wajah kamu itu aset, kamu harus bisa menjaganya,"kata Almira dengan entengnya membuat Royyan menggeleng tak habis pikir dengan jalan pikiran dari istrinya itu, sampai dia mematung.
Setelah selesai memasang plester di seluruh luka yang ada di wajah Royyan, wanita berambut coklat keemasan itu segera merapikan benda-benda yang berserakan yang ada di atas ranjangnya, lalu mulai beranjak dari hadapan Royyan.
"Itu pengecut namanya, kamu ngeselin ya ... aku cium kamu lagi tahu rasa kamu ya ...."ancam Royyan kesal seraya dia menghenyakkan tubuhnya ke belakang dan menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan.
__ADS_1
Almira yang baru tiba di nakas dan meletakkan beberapa obat yang masih tersisa segera menoleh dengan kasar dan memasang wajah kesalnya menjadi menggemaskan, dia membuang napasnya kasar, lalu dia langkahkan kakinya kembali mendekati sang suami.
"Heh! Ngancamnya gak lucu tahu ..."Almira berkacak pinggang di hadapan Royyan, "yang lain kek ancamannya,"tambah Almira mencebik.
"Karena kamu gak mau aku cium, jadi ancaman itu adalah yang paling pas,"tutur Royyan menggoda dengan tatapan nakalnya dan alis yang bergerak ke atas lalu kembali ke tempatnya semula.
"Ish! Menyebalkan,"balas Almira seraya dia melayangkan pukulan sedikit keras di jidat Royyan.
"Aw ..."teriak Royyan yang kemudian menangkis tangan Almira dan menariknya bersamanya.
Membawa tubuh mungil sang istri terbaring bersamanya, membuat Almira terperanjat hebat sampai dia membuntang, tetapi dia tidak sempat berteriak dan kini Royyan sudah mendekapnya lagi dengan erat, menekan kepala Almira sedangkan satu tangannya yang lain tetap berada di pinggang kecil sang istri dan wanita cantik itu tenggelam dalam kenyamanan.
"Ayo kita tidur,"papar Royyan memejamkan matanya seraya mempererat pelukan.
"Gak boleh, kamu harus cepet ke kamar kamu."Almira berusaha untuk keluar dari dekapan yang membuatnya nyaman.
"Kamu tenang aja,"lirih Royyan, suaranya sudah mulai parau, sepertinya dia sudah mulai terlelap.
Mendengar Royyan tak lagi bersuara berat dengan intonasi yang tegas, perlahan Almira mendongak untuk mengintip sang suami, dan benar saja Royyan telah terpejam, tetapi dekapannya masih saja terasa kuat.
"Padahal kalau tidur ganteng, tapi kalau lagi hidup nyebelinnya luar biasa,"tutur Almira yang perlahan melengkungkan bibirnya ke atas.
...***...
Di karenakan malam tadi terhalang oleh kegaduhan yang dibuat oleh Dirta, shooting yang seharusnya dilaksanakan dari semalam harus tertunda dan malam tadi hanya merekam beberapa bagian saat para model berada di kamarnya masing-masing, sedangkan Manda masuk di bagian terakhir.
Maka dari itu, pagi buta Manda dipersiapkan untuk melakukan shooting terlebih dulu. Shooting akan dimulai dari pemotretan per-individu di depan laut dengan segala printilan wahana permainan air.
Di sisi lain Adrian yang baru terbangun segera keluar dari kamar inapnya yang tak jauh dari keberadaan kamar Almira dan juga Royyan, dia ingat jika malam tadi Royyan masuk ke dalam kamar Almira dan malam itu Royyan tak kunjung keluar lagi dari sana. Dalam keadaan masih berusaha untuk menyadarkannya dari rasa kantuk yang berat yang masih menggunakan piyamanya.
"Pak ... pak Royyan ..."panggil Adrian seraya dia mengetuk pintu kamar Almira.
Mendengar pantulan suara ketukan dari pintu kaca itu Royyan segera membuka matanya dalam keadaan masih memeluk Almira dengan lekat, tanpa menunggu lagi pria yang baru setengah sadar itu segera beranjak dari posisinya dengan langkah yang sangat pelan-pelan karena tak ingin membangunkan sang istri.
Keluar dari kamar inap Almira dengan mulus, Royyan mengajak Adrian untuk segera enyah dari kamar inap sang istri menuju kamar pribadinya. Baru saja kedua pria itu tiba di kamar inap Royyan, terdengar derap langkah seseorang yang berlari ke arah mereka.
Tak lama dri terdengarnya derap langkah itu muncul lah dari arah kanan sosok Manda yang tengah memeluk bantal berbentuk 'love' dengan piyama pendek, melesat di hadapan mereka dan menuju ke kamar Almira.
"Ra ...."panggil Manda lantang. "Almira Miara Tisya ...."panggil Manda lagi dengan nama lengkap seorang Almira seraya menggedor-gedor pintu kaca itu.
Di dalam Almira segera membuka matanya dengan gerakan cepat karena terkejut mendengar pukulan Manda, dia sisir setiap sudut kamarnya mencari sosok Royyan. Dia ketakutan, jantungnya pun ikut berdegup sangat cepat.
__ADS_1
Kemudian kayuh kakinya dengan malas membuka pintu,"ada apa sih? Pagi-pagi udah merusuh aja lu,"lirih Almira yang masih berusaha membuka matanya dari rasa kantuk.
"Gue di hukum, karena semalam gue ngilang karena gue lupa kalau ada shooting, cepetan gue butuh bajunya,"beber Manda seraya dia menggenggam kedua lengan Almira, mencoba menyadarkan sahabatnya itu dari rasa kantuknya, lalu wanita berambut sebahu itu berlanjut mengayuh kakinya masuk ke dalam kamar Almira.
Lantas Almira pun segera mengekori sahabatnya itu, dengan langkah gontai Almira menarik satu koper yang sudah dia namai dengan nama Manda, model yang ada dalam tanggung jawabnya adalah Rala, Manda dan dua model pria yang belum sempat Almira kenali.
"Nih ... pilih aja dah sendiri, gue ngantuk,"pungkasnya setelah membuka koper berwarna biru hitam itu, sedangkan dia sendiri kembali ke ranjangnya dan tergeletak lagi dengan mata yang terpejam.
"Heh! Kerja dodol ... udah sana cepetan mandi biar seger tuh muka, butek banget tuh muka."Manda segera menarik tangan Almira untuk membawanya terbangun lagi dari ranjangnya, lalu mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.
Baru selesai Manda membawa Almira ke dalam kamar mandi, Sara dan dua staff Almira yang lain tiba di hadapan Manda, wanita berambut sebahu ini seketika tersenyum dengan ceria, sepertinya tuhan mendengarnya dan menurunkan pertolongan dengan segera.
"Sara ... untunglah kamu datang, cepetan bantu aku pake baju, aku harus segera ke ruang make up,"ucapnya sumringah seraya dia mendekati Sara.
Orang kepercayaan Almira itu segera melengkungkan bibirnya ke atas, dan segera bergegas mengambil beberapa baju untuk Manda, sebelumnya dia sudah melihat catatannya yang ada dalam tablet berwarna biru miliknya. Di sana sudah terjadwal semuanya dengan baik dari awal acara sampai acara puncak.
"Pakaian nona Manda untuk pagi ini santai aja, karena acaranya bermain air di laut dan mencoba beberapa wahana permainan air, jadi nona gunakan kaos putih berbahan lembut yang menunjukkan perut indah nona dan celana pendek di atas lutut,"jelas Sara seraya mengambilkan satu set pakaian renang yang menjadi rancangan Almira pada musim panas yang telah berlalu.
"Oke ... gini kek dari tadi, tuh bos lu belum bangun, gak tahu tadi malam ngapain aja,"jawab Manda segera mengambil baju itu. "Kalian balik ke sebelah sana dulu, aku mau ganti baju dan pintu tutup rapat kalau bisa kunci aja,"titah Manda kemudian.
"Baik nona ..."sahut salah satu staff yang lain.
Dia segera menuruti semua perintah dari Manda, begitupun dengan Sara dan staff satunya lagi. Sedangkan Manda dengan gerakan secepat kilat melucuti pakaiannya dan mengganti dengan pakaian yang sudah di sediakan oleh Sara tadi, tak perlu memakan banyak waktu, Manda telah menyelesaikan berganti pakaiannya.
"Udah ... aku mau langsung ke ruang make up ya,"ucap Manda segera berlari dari kamar Almira keluar dari sana dan meninggalkan piyamanya di sana dengan sembarang.
Mendengar kegaduhan di luar, Almira yang sudah mandi dan juga mengganti pakaiannya segera keluar dari kamar mandi. Di sana dia melihat pakaian Manda berserakan di lantai tak beraturan.
"Yang punya bajunya kemana?"tanya Almira sudah lebih jelas, tidak lagi parau seperti tadi.
Sara dan dua staff yang sedang menatap ke arah pintu segera menoleh ke arah suara Almira berada, Sara melangkah lebih depan dari dua staff-nya yang lain.
"Nona Manda sudah berganti pakaian dan dia segera berlari ke ruang make up,"jelas Sara.
Lantas Almira pun mengangguk, "oke, sekarang bawa aja kopernya ke ruang make up para model yang kalian tangani, kalau ada yang kurang bilang ke aku ya ... aku mau menyelesaikan gaun malam terkahir nanti,"titah Almira kemudian.
"Baik kak,"sahut semuanya serempak.
Ketiganya beralih ke koper-koper dengan warna yang sama, membawa satu koper masing-masing sesuai dengan nama yang menjadi tanggungjawabnya. Setelahnya mereka segera keluar membawa koper itu, sedangkan Almira masih menetap di sana, beralih ke koper berwarna merah, di dalamnya adalah dua gaun dan dua tuxedo yang harus dia teliti lagi, pakaian itu untuk digunakan para model yang nantinya memilih karyanya untuk mereka gunakan di malam terakhir acara ini.
NEXT ....
__ADS_1