
Mentari pagi menganjur ke atas. Mengukir langit biru dan awan-awan putih yang bersih itu menjadikan cakrawala seperti memiliki kehidupan nyata. Para dewa yang mungkin saja sekarang sedang menonton atau bahkan menertawakan penghuni muka bumi yang penuh dengan keluh kesahnya ataupun drama yang tercipta di atas tanah. Di bawah langit yang sama Royyan baru saja tiba di sekolahnya, tempat pertama yang dia kunjungi adalah parkiran.
Di lorong parkiran, Royyan menggendong tas di atas salah satu tangannya, dia berjalan menyusuri lorong itu sampai habis terjamah oleh kedua kakinya yang panjang, membaca setiap langkah dengan teliti tanpa tersisa satu pun diantara mereka. Butiran tanah yang menjadi penghuni celah-celah lantai yang terbuat dari bahan bangunan itu, sesekali terinjak oleh sepatu hitam pria yang baru saja menyeka rambutnya dengan jari-jemarinya.
Dia begitu tenang. Sampai dia berada di ujung lorong, tanpa sengaja dia bertemu dengan Elshara yang tengah menggenggam sebuah kotak berwarna biru dengan pita merah jambu yang cantik. Royyan menatapi wanita itu dengan dalam, mencoba masuk ke dalam kotak itu, menerka-nerka ada apa di dalamnya, tapi Royyan bukanlah cenayang yang mampu menerka ataupun meraba masa depan dengan kasat mata.
"Kenapa disini?"tanya Royyan singkat dan tetap meluruskan pandangannya pada bola mata kecoklatan Elshara.
"Nungguin kamu lah, ngapain lagi coba aku rela-rela kesini kalau gak ada apa-apa,"jawabnya dengan senyuman cerianya.
Gadis itu tertunduk malu-malu, kemudian dia tautkan rambutnya ke belakang telinga lalu segera menoleh dan kembali menatapi pria yang saat ini menjadi penghuni seluruh hatinya.
"Hari ini valentine kan? Happy valentine ya Royyan,"ungkap Elshara dengan intonasi suara manjanya, seraya menjulurkan kotak yang ternyata berisi coklat itu pada Royyan.
Royyan mengernyit. Tangan kirinya dia letakkan di pinggangnya, sedangkan satu tangannya yang lain dia gunakan untuk memegangi tas. Dan netranya terpaku pada kotak yang ada dalam genggaman Elshara.
"Ini apa?"bukannya membalas, Royyan malah mempertanyakan apa yang ada di dalam kotak itu.
Bola matanya menajam dengan raut wajahnya yang tengah melembut.
"Coklat dong Yan, kan hari valentine,"katanya lagi.
"Oh. Kasih Dirta."
Royyan berayun pergi melewati Elshara. Wanita yang mengenakan sweeter rajut merah jambu itu terdiam dan melunturkan senyumannya dengan segera. Dia tertunduk lesu, lalu dia menoleh dan menonton punggung lebar milik pria yang dia cintai itu berjalan menjauh darinya. Lekas dia mengayuh kakinya mengejar Royyan.
"Kenapa kamu gak mau, gak suka coklat? Kalau gitu kamu bawa aja buat Mama atau Papa kamu kan...."bujuk Elshara tidak menyerah menyodorkan coklat itu pada Royyan.
Pria dengan rahang tegas itu terdiam dan menoleh pada Elshara yang kini sudah ikut terdiam di samping kanannya.
"Valentine itu hari kasih sayang kan?"Royyan malah kembali bertanya.
"Iya,"sahut Elshara kembali bersemangat dengan senyuman cerianya seraya dia mengangguk.
"Yang sayang elu itu Dirta,"
"Hah?!"Elshara tersekat, dia segera menurunkan kotak itu ke bawah dan masih dalam genggamannya.
Bola matanya berputar. Elshara belingsatan setelah mendengar perkataan Royyan, dahinya berkerut mencoba menafsirkan serpihan kata yang coba diungkapkan oleh Royyan. Namun dia tidak menemukan jawabannya, dia tetap terbelenggu rasa heran dan bingung.
"Maksud kamu? Kamu gak sayang sama aku, kenapa ngomong begitu,"tanya Elshara mencengkeram kotak coklat itu dalam genggamannya.
Royyan menghela nafasnya panjang seraya dia memicing yang kemudian dia berkacak pinggang di hadapan wanita yang tengah menunggu jawabannya. Wajahnya dia sengaja buat menjadi tajam, mencoba mempertegas posisinya di hadapan Elshara adalah hanya sebagai seorang teman.
"Dirta jatuh cinta sama kamu, jadi coklatnya mending buat Dirta."pungkasnya.
Elshara terperanjat mendengar pengakuan itu langsung dari mulut Royyan, dahinya berkerut tak ingin mempercayai, bahkan dia sedikit menggelengkan kepalanya. Wajah cerianya kembali meredup seirama dengan wajahnya yang tiba-tiba saja menunduk menatapi lantai yang terbuat dari bata hitam itu.
__ADS_1
"Itu Dirta kan, bukan aku. Aku gak bisa mengendalikan perasaannya, begitupun dengan aku,"ucap Elshara seraya dia mendongak dan mematri tatapan Royyan.
Dengan wajah datarnya Royyan menatap Elshara secara dalam, mata kecilnya yang selalu tajam itu terdiam, bahkan bibirnya pun ikut diam, ingin rasanya dia mengatakan segala hal pada Elshara, tetapi dia terlalu malas untuk banyak berbicara yang dimana bukan ranahnya. Dia tidak ingin ikut andil terhadap perasaan orang lain.
"Aku suka sama kamu Yan! Aku sungguh mencintai kamu, aku gak tahu kenapa perasaan ini muncul, aku gak bisa menahan perasaan aku,"sambung Elshara menatapi Royyan dengan lurus, dan penuh kesungguhan.
Nampak bola mata Royyan sedikit melebar, namun tak ada perubahan apapun dalam posisinya kini, dia masih berkacak pinggang seraya memegangi ranselnya.
"Oke. Makasih udah suka sama aku, tapi aku enggak, cari Dirta, udah ya aku mau ke kelas,"jawab Royyan tegas.
Mata Elshara mulai mengembun, dia menyembunyikan wajahnya. Seperti ada yang menghantam hatinya dengan benda yang sangat keras, sehingga dia sesak dan kesulitan untuk bernafas. Kemudian wanita bertubuh tinggi nan ramping itu menguatkan hatinya dan menahan bulir-bulir kristal di pelupuk matanya, sedikit dia tepuk-tepuk dadanya, memerintah hatinya agar tidak meluncurkan air mata di hadapan Royyan.
Elshara berayun kembali mengejar Royyan yang sudah berjalan meninggalkannya, hanya saja langkah Royyan yang tenang dan tidak terburu-buru, membuat Elshara mampu mengejarnya. Menyejajarkan langkahnya dengan Royyan.
"Kamu gak perlu memikirkan perkataan aku barusan, ini terima aja sebagai hadiah dari teman,"ucapnya kemudian setelah dia menggenggam tangan Royyan yang menganggur, berayun ke depan dan ke belakang seraya dia melangkahkan kakinya.
Pria dengan hidung lancip itu menoleh, merubah wajah tegasnya menjadi sendu, lembut parasnya merekam Elshara yang tertunduk di hadapannya. Rasa ibanya tiba-tiba saja melambung menampakkan diri ke permukaan, namun dia tetap tahan dengan sepenuh jiwa dan raganya. Royyan tidak ingin menghancurkan persahabatannya dengan Dirta. Perlahan dia ambil kotak coklat itu, hanya karena menghargai kerja keras Elshara yang telah bersusah payah mempersiapkan coklat itu untuknya.
"Makasih,"pungkas Royyan menyeringai.
"Udah ayo masuk."
Gadis cantik yang telah menyingkirkan semua embun yang menguap di bola mata pipihnya itu tersenyum senang. Lalu melangkah maju bersama Royyan menyelesaikan langkahnya menuju kelas bersama-sama.
Dalam kelas itu, suara berisik bergelombang lagi. Hari Valentine membuat semua orang sibuk saling memberikan coklat untuk orang terkasih, entah itu kekasih ataupun sahabat terdekat. Meja-meja di dalam kelas itu tak ada yang kosong, di atas meja sudah bertengger coklat-coklat menjadi hiasan pagi ini. Tak terkecuali meja Royyan, mejanya penuh dengan coklat-coklat yang entah datang dari mana coklat itu.
Royyan membenci hal-hal seperti ini, sangat melelahkan. Kasih sayang tak perlu dirayakan saat satu hari itu bukan? Rasa sayang harus disalurkan di setiap detiknya bersama sang terkasih. Hal seperti ini bagi Royyan tak terlalu penting. Karena rasa cinta dan kasih sayang seharusnya ditunjukkan setiap saat. Perayaan Valentine tak bisa mengartikan seseorang sangat menyayangimu dengan tulus, itu hanya sebuah coklat yang memiliki rasa manis dan juga tak luput dari rasa pahitnya. Batin Royyan selalu berpikir demikian.
Celoteh batin Royyan.
Tetapi kemudian dia memilih untuk duduk di hadapan meja yang telah dipenuhi coklat-coklat itu. Satu per-satu dia masukkan coklat-coklat itu ke dalam ranselnya, sampai ranselnya mual tak mampu mengunci coklat itu di dalamnya.
"Langganan ya lu kalau valentine coklat luber di meja, padahal anaknya paling males merayakan valentine,"Ajun berceloteh di samping Royyan.
"Mau?"tanya Royyan seraya menghenyakkan tubuhnya ke belakang.
"Hah?! Boleh nih, nanti cewek-cewek yang ngasih ke elu pada ngamuk ke gua lagi,"
Royyan menyeringai seraya menekuk lehernya ke kiri dan juga ke kanan, melenturkan otot-ototnya yang sempat menegang.
"Gak mau? Yaudah gua gak maksa,"
"Eh iya iya, gua mau,"
"Nih!"Royyan menyodorkan beberapa coklat yang tersisa di atas meja pada Ajun yang berada di sampingnya.
"Weiiis thanks bro,"
__ADS_1
...***...
Di sebuah taman dekat sekolah tepat setelah jam pulang datang menghampiri. Dirta menarik Elshara ke taman itu, menuntun wanita yang sedari tadi pagi seperti tak memiliki gairah, jangankan untuk berjalan, sekedar tersenyum saja rasanya membutuhkan energi yang lebih besar.
Mereka saling berhadapan di depan salah satu kursi kosong bercat-kan hitam itu, dengan di dampingi bunga-bunga yang sengaja tumbuh di samping kanan dan kirinya, warna-warni bunga itu layaknya hari valentine yang di penuhi orang-orang penuh kasih. Keindahan bunga-bunga itu tak bisa menutupi kegundahan Elshara, di hadapan Dirta wanita yang merundukkan pandangannya itu mulai bergetar, tubuhnya menguapkan udara panas. Embun yang bersemayam dalam bola mata kecoklatannya itu mulai luntur, turun dan terjun layaknya air hujan yang di muntahkan oleh awan.
"El! Kamu kenapa tiba-tiba nangis?"tanya Dirta kebingungan, dia mendekati wanita di hadapannya itu, sedikit menurunkan lututnya menyejajarkan tinggi badannya dengan Elshara.
Gadis itu terus terisak dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangan putih nan lembutnya, punggungnya semakin bergetar tak berdaya, seluruh energinya terasa terkuras membuat tubuhnya kehilanngan banyak tenaga. Bulir-bulir kristal bening itu mulai berjatuhan dan membanjiri pipi Elshara.
Dirta berkerut bingung. Bola matanya terus berputar kesana-kemari tanpa tujuan dengan kekhawatiran yang terus tumbuh seiringan dengan tangisan Elshara semakin keras, memecah keheningan di taman itu. Dirta menyubuk ke sela-sela jari-jemari Elshara yang menutupi wajah tembamnya. Lekas dia berdiri tegak dan menarik lengan gadis itu, masuk ke dalam pelukannya.
"Ada apa? Aku gak tahu apa-apa, tolong ceritakan segalanya, biar aku ngerti apa yang terjadi sama kamu El,"tanya Dirta lagi.
Kedua tangan Elshara tak lagi menutupi wajahnya yang sudah sembab, tetapi telah berpindah melingkari leher hangat yang menyebarkan aroma wangi dari parfume yang dia gunakan tadi pagi. Bersimpuh di sana, tangisan Elshara pecah tak terkendalikan. Tubuhnya melemah, kehilangan banyak energi. Beruntungnya Dirta bisa menopang tubuh Elshara seutuhnya tanpa merasakan berat ataupun hal lainnya.
"Aku mencintai Royyan,"celetuk Elshara lirih dengan isakan tangis yang masih belum selesai.
Deg!
Pelukan yang semula erat, seketika menjadi lemah. Senyuman Dirta segera masuk ke dalam palung wajahnya yang telah bersusah payah menyiapkan segala mental dan senyuman terindah-nya. Sesak. Perih. Menyakitkan, satu hantaman keras mendobrak hati Dirta.
"A-ku men-cintainya, ta-tapi Royyan gak mau, apa aku salah mencintainya Dir,"lirihnya berbisik di telingan Dirta yang berjarak hanya satu sentimeter itu.
Deru nafas yang berhembus hangat nan lembut itu merasuki telinga Dirta. Marah? Dia marah karena tidak bisa memaki siapapun disini. Dirta terdiam dalam waktu yang lama dan tatapan kosong itu terus menguasai diri Dirta yang masih dalam dekapan Elshara. Kedua tangannya pun masih melingkari pinggang kecil Elshara, tetapi pelukan itu hanyalah sebuah pelukan luka.
"Kenapa? Kenapa kamu mencintai Royyan?"papar Dirta tiba-tiba.
Kemudian dekapan Dirta melemah dan akhirnya dia mundur dari pelukan Elshara. Tangisan Elshara pun telah berhenti, dia menyeka sisa air mata yang masih menghiasi pipinya. Terdiam di depan Dirta dan membiarkan kedua tangannya terjuntai begitu saja tanpa menggenggam apapun.
Dirta yang merunduk segera mendongak, memberanikan diri untuk menatapi wajah gadis yang sangat dia cintai. Tetapi cinta itu tidak memiliki tempat dalam hati Elshara, hati Dirta tersiksa. Rasa sesak semakin menghantam jiwanya, berdiri di depannya tak menjamin Elshara menjadi miliknya.
Aku mencintai kamu El! Kenapa harus Royyan.
Aku yang selalu bersama kamu, kenapa Royyan yang mendapatkan posisinya.
Apa aku harus memberikan nyawaku agar kamu mencintaiku?
Aku mencintai kamu Elshara.
Kata-kata itu hanya menjadi penghuni batin Dirta dan tak mampu menyeruak apalagi termuntahkan ke hadapan Elshara. Wanita cantik itu hanya menatapi Dirta dalam tanpa tahu apapun yang ada dalam pikiran pria di hadapannya. Wajah kecil itu kembali tersenyum, dan memendam semua yang ingin dia katakan, dia hanya memberikan buket coklat yang telah dia persiapkan sebelumnya.
"Happy valentine."ungkapnya singkat dengan senyuman cerah yang dia paksakan menghiasi wajah tampannya.
Wajah gadis yang semula redup itu kembali dengan senyuman indahnya, dia mengambil buket coklat itu dengan senang hati, paras cantik dengan garis-garis manjanya itu merekah hebat, memeluk buket itu, hatinya sangat senang mendapatkan coklat sebanyak itu. Netranya tak bisa lepas dari kecantikan buket coklat itu.
Selama kamu tersenyum aku akan berusaha menjaga senyuman itu, aku mencintai kamu Elshara. Semoga suatu saat nanti posisi itu bisa menjadi milikku.
__ADS_1
Celoteh batin Dirta kembali menggema, membentur dinding-dinding hati yang masih merasakan perih, ungkapan Elshara bagai batu besar yang kemudian melunyahnya tanpa ampun. Dia benar-benar marah, tapi Dirta masih berpikir sehat. Tak ada celah untuknya marah, karena hati tidak bisa di kendalikan. Cinta selalu memilihnya dengan penuh kasih tanpa melihat apakah dia baik ataupun buruk.
NEXT....