
Wangi mawar yang menyegarkan membuai gadis berambut coklat keemasan yang tengah berendam di dalam bathtub berbentuk bundar dengan warna putih pekat, gelembung-gelembung busa dari sabun beraroma mawar dengan butiran kelopak bunga mawar yang ikut melekati tubuh gadis berkulit seputih susu itu.
Di sisi kanan dan kirinya botol-botol peralatan mandi berjajar dengan rapi, perlahan dia mengambil salah satu botol berwarna biru dengan perpaduan putih dan gold yang mewah, dia tuangkan beberapa tetes ke tangannya dan dia gosok sehingga menciptakan gelembung-gelembung yang melambung dia baluti kakinya dengan gelembung-gelembung yang mewangi itu.
Tiba-tiba ponselnya yang berada tak jauh dari bathtub-nya berdering lantang, gadis itu menoleh dengan tenang, dia celupkan tangannya yang dipenuhi busa-busa sampai hilang dan dia keringkan dengan handuk yang ada di bagian kanannya, ia menggantung di gantungan kecil. Setelahnya barulah Almira mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan telepon yang sudah berdering sedari tadi.
"Kenapa Man?"serunya menjawab panggilan telepon itu.
"Lu ada di mana? Royyan ada sama lu gak? Soalnya Royyan tiba-tiba aja pergi tanpa ngasih tahu siapapun, si Ajun nyariin laki lu,"terang Manda dari balik ponsel.
Gadis itu mengernyit tidak tahu, "gak tahu, gue udah keluar dari rumah. Maybe ... kak Royyan ada di rumah orangtuanya atau di kantor, tanya Adrian, dia pasti tahu,"jawab Almira menyandarkan tubuhnya ke bathtub.
"Oke, nanti gue suruh Ajun hubungi Adrian aja, eh tapi elu sekarang ada dimana sih?"
"Euum ... gua lagi di apartemen, gue baru beli apartemen deket dengan butik gue, tapi gue gak bisa ngasih tahu elu, karena gue pengen sembunyi dari semua orang,"terang Almira.
"What? Really? Lu yakin hukum laki lu begitu?"tanya Manda terkejut dengan penuturan Almira.
Dia tak menyangka jika Almira benar-benar melakukan hal yang telah dia katakan saat di Bali, deru napas Manda terdengar berat. Dia merasa hal yang dilakukan Almira terlalu berbahaya.
"Ra ... emang lu yakin mau jauh dari suami lu?"tanya Manda serius.
Almira tersekat. Jiwanya sakit ketika berjauhan dengan Royyan, tetapi jika mengingat betapa tercabik-cabiknya hati dan raganya melihat Royyan lebih memilih Elshara untuk suaminya tolong, hanya karena sang suami mengetahui betapa hebatnya Almira menaklukkan air.
Tekadnya kembali membulat, raut wajah yang selalu lembut mendadak menjadi tegang dan kasar bersamaan dengan deru napas yang mendengkus dengan begar. "Gue menjauh untuk mencari tahu, apakah kak Royyan itu mencintai si Rala atau saat itu hanya rasa iba,"ujarnya dengan suara yang tegas.
"Oke. Kalau suami lu nyari gue gimana?"
"Lu bilang aja, kalau gue ke Paris dan gak tahu ada dimana dan kapan balik pun lu gak tahu, selesai,"jawabnya dengan wajah polos.
"Selesai apaan, eh elu gak lupa kan siapa suami lu itu."
"Maksudnya?"kernyit Almira membawa dirinya terduduk dengan tegak, dada yang tengah telanjang itu ikut berdebar dengan detakan yang kuat.
"Suami lu itu pemimpin perusahaan Rain Corporation, salah satu perusahaan properti terkuat di negara ini, perusahaan suami lu itu banyak bekerja sama dengan perusahaan besar di German dan Paris, power perusahaan itu sangat kuat. Untuk mencari tahu lu ada dimana, rasanya bukan hal yang sulit untuk Royyan,"terang panjang Manda.
Degh!
Hampir saja dia melupakan betapa berpengaruhnya sang suami, lantas gadis itu menelan ludahnya dengan sulit, bahkan dia sempat tersendat sejenak, dia menyugar wajahnya hingga ke tengkuknya, detik-detik terakhir panggilan telepon itu terhenti dia gunakan untuk terpekur, memasati kata demi kata yang terlontar dari mulut sahabatnya.
Sampai pada akhirnya panggilan telepon itu terhenti, dia letakkan ponselnya ke atas meja di sampingnya menyatu dengan peralatan mandi yang lain, senandung rasa panik melanda Almira dengan getir.
"Gue harus segera ke Paris tanpa memberitahu siapapun, tapi ...."tekadnya yang kemudian segera meredup lagi kala dia mengingat kedua orangtuanya yang selalu dengan mudah menemukannya, terlebih Paris adalah wahana bisnis Ressa dan Miranda, lekas dia mengerut dan tubuhnya melorot tenggelam ke dalam air yang tengah merendam dirinya.
Di tempat lain Royyan telah kembali bekerja seperti biasa di kantornya bersama Adrian yang berada di ruangan meeting dengan staff-nya yang lain, mereka terduduk dengan tenang di depan laptopnya masing-masing, sedang di samping kanan dan kirinya berkas-berkas rencana proyek besar yang akan di tangani oleh perusahaan.
__ADS_1
"Kita mulai meeting,"seru Adrian yang berdiri di depan semuanya sedang menyiapkan bahan untuk di bicarakan dalam meeting tersebut.
Setelah semuanya siap, Royyan beranjak dari kursi kebesarannya yang berada di tengah-tengah semua staff-nya, berangsur ke podium yang biasa dia gunakan untuk membahas rencana pembangunan.
"Hari ini kita akan bahas tentang proyek pembangunan German national museum of mahakala art, proyek ini sangat besar, jangan ada satu kesalahan apapun. Pembangunan ini akan memakan waktu lebih dari satu tahun, jadi fokuskan diri kalian dan jaga kesehatan kalian,"beber Royyan tegas seraya dia membuka rancangan museum itu yang telah dia selesaikan seorang diri.
Klien itu meminta Royyan yang merancangkan museum itu, dan tidak menginginkan ada campur tangan dari yang lain, padahal para arsitektur dan perancang lainnya yang berada dalam naungan Rain corporation adalah orang-orang kompeten yang memiliki kemampuan luar biasa, tetapi klien itu tetap memaksa Royyan.
Bangunan megah dengan material bangunan berkulaitas tinggi dan juga langka untuk di dapatkan, bukan hanya sebuah bangunan yang nantinya akan menampilkan berbagai macam benda bersejarah dari negara tersebut, tetapi bangunan itu di buat di bagian tertentunya sebilah berlian yang akan menjadi kunci ruang pengendali.
Bangunan berbentuk kotak dengan di atasnya benda bulat sebagai penarik asap untuk memperlambat penyebaran api jika terjadi kebakaran, Royyan rancang bangunan megah itu dengan sedetail mungkin, bangunan semewah apapun jika tidak dipikirkan dengan matang maka hasilnya tetap akan menemukan kecacatan.
"Bagaimana dengan rancangan yang saya buat, silakan keluarkan pendapat kalian?"tanya Royyan setelah dia menjelaskan bagaimana rancangan bangunan yang di buatnya.
Semuanya senyap, tak ada satu pun yang berani mengomentari rancangan kerjaan Royyan yang nyaris sempurna, bahkan para staff terpukau dengan rancangan itu, sungguh luar biasa. Sepertinya mereka harus banyak belajar dari bos-nya itu, bagaimana bisa Royyan terpikirkan merancang bangunan semewah itu dengan detail yang sempurna.
"Rancangan bapak sangat sempurna, bahkan kami tak bisa memikirkan sedetail ini. Bapak memang arsitektur yang luar biasa, karya bapak benar-benar luar biasa,"puji salah satu staff.
Seketika Royyan menyeringai, "oke."pria itu menghela napasnya seraya menepuk tangannya satu kali, "kita akan pakai rancangan ini, saya di beri wewenang besar untuk merancangnya tanpa harus bertarung dengan perusahaan lain untuk mendapatkannya, dan ini tanggungjawab yang besar, jadi saya harap kalian bekerja dengan baik dan jangan melakukan kesalahan, walau sekecil apapun."
"Baik pak,"sahut semuanya serempak.
"Meeting selesai sampai sini dan silakan kembali pada pekerjaan kalian masing-masing.
Pria bertubuh kekar itu segera melimbai keluar dari ruang meeting bersama Adrian yang dengan sigap merapikan laptop dan berkas-berkas milik Royyan, pria itu harus segera keluar karena getaran di ponselnya bertalun dengan kuat, lekas dia angkat panggilan telepon itu.
"Gue mau ketemu, temui gue di restoran biasa yang kita kunjungi saat SMA,"ucap seseorang yang ada di balik ponsel.
"Oke."Royyan segera mematikan teleponnya.
Dan seseorang di sana tidak merasa tersinggung ataupun berat hati karena jawaban Royyan yang singkat, karena dia sudah sangat memahami bagaimana Royyan sebenarnya. Pria yang ada di balik ponsel itu adalah Dirta.
Pria itu bergegas dari bandara karena dia baru saja tiba dari Bali, langkahnya yang lelah berangsur masuk ke dalam taksi online yang dia pesan, mobil hitam itu melaju meninggalkan bandara dan bersatu dengan para kendaraan yang lain. Dia bersandar pada jok mobil yang dia duduki, bantal kecil yang menempel di kursi itu membuatnya terlelap dengan nyaman.
Sementara Royyan telah tiba di restoran yang di maksud oleh Dirta, restoran yang selalu menjadi tempat pilihan terbaik kala mereka akan menongkrong, menghabiskan waktu bersama sesaat setelah pulang dari sekolah. Di sudut kiri, lima meter dari keberadaan Royyan yang sekarang sedang memasuki area tengah restoran tersebut Manda dan Almira tengah menyantap makanannya.
Manda membeliak sesaat setelah dia melihat sosok gagah itu berayun ke lantai dua, tepatnya ke ruangan VVIP yang sudah di pesan oleh Dirta untuk pertemuan mereka. Ini kali pertama Royyan dan Dirta bertemu dengan keseriusan, saat di Bali mereka hanya menganyam pertemuan singkat tanpa berbicara dengan serius.
"Ra ... laki lu Ra ada disini,"bisik Manda menggetarkan tangan Almira yang mau memasukkan sepotong daging panggang ke mulutnya, sehingga terjatuh ke piring lagi.
"Euuum ..."protes Almira mengerut kesal seraya dia menutup mulutnya yang sudah sedikit terbuka tadi, "ih lu apaan sih, gue mau makan juga malah megang tangan gue, jatuh kan jadinya,"kesal Almira, kemudian dia menoleh ke arah sorot mata Manda memandang.
Almira tekesiap sehingga dadanya sesak, dia tutupi mulutnya tak menyangka jika suaminya itu bisa tiba di sana, lokasi restoran tersebut memang terletak cukup jauh dari keberadaan rumah dan kantor milik Royyan, tetapi dekat dengan rumah mertuanya.
"What? What is he doing here? "desis Almira mengernyit nanar, lantas dia lorotkan tubuhnya ke bawah, bersembunyi di bawah meja.
__ADS_1
"Eh Ra! Lu ngapain sembunyi di bawah meja kayak tikus lu,"decak Manda menyibukkan tatapannya ke bawah meja.
"Sssst!"desis Almira dengan matanya yang terpejam, "lu jangan berisik, nanti gue ketahuan, kan ceritanya gue marah dan mau sembunyi, gimana sih lu,"sambung Almira berbisik."
"Ooh, oke-oke,"sahut Manda mengangguk seraya melambungkan ibu jarinya yang lentik.
Sedangkan Royyan sudah tiba di ruang VVIP yang di tunjukkan langsung oleh pelayan di sana, lekas dia menggelincirkan bokongnya di sofa berbahan lembut, dia bersandar pada sofa itu.
Tak lama dari itu Dirta pun tiba dengan pakaian santainya dengan jaket kulit berwarna coklat pekat lengkap degan topi berwarna hitamnya. Tanpa aba-aba ataupun merangkai bait sapaan terlebih dahulu, dia segera dudukkan dirinya di sofa depan Royyan.
Royyan menghela napasnya, "tumben pake topi,"seru Royyan mengawali perbincangan mereka sambil dia tarik tubuhnya untuk duduk lebih tegak.
"Di luar panas banget, gue gak mau jadi item. Pelanggan gue bisa kabur, kalau cheft-nya gak ganteng,"jawab Dirta nyeleneh.
Seketika Royyan tertawa kecil. Rasa persahabatan mereka sangat kental, lebih pekat dari darah. Seburuk apapun perlakuan Dirta padanya dia tetap memperlakukan Dirta dengan baik, karena pria dengan hidung lancip itu tahu betul bagaimana Dirta sesungguhnya, pria itu sebenarnya lelaki yang baik dan bisa memperlakukan wanita dengan baik, hanya saja saat itu dia terlalu termakan oleh cintanya.
"Jadi apa yang mau elu omongin?"tanya Royyan langsung tanpa basi-basi.
Bahkan minuman yang di pesan Dirta lewat online pun belum juga tiba. Para chef itu sangat hati-hati membuatkan minumannya yang mereka tahu untuk siapa minuman itu, jika minuman yang di pesan Dirta tidak memuaskan reputasi restorannya akan menurun, pikirnya Dirta adalah salah satu chef bergengsi di negara ini dan Royyan pelaku bisnis properti terkuat di negara ini.
Sebelum menjawab perkataan Royyan, Dirta menghela napasnya terlebih dulu untuk membuat dirinya santai dan tenang, kali ini dia cukup tegang menghadapi sahabatnya sendiri. Ini kali pertama dia harus meminta maaf dengan sungguh-sungguh pada Royyan.
"Intinya gue minta maaf sama elu, gue bodoh banget sampai neror elu, padahal Ajun selalu berusaha buat menyadarkan gue, tapi ya dasarnya gue lagi t*l*l, jadi gue malah bersikap kayak orang bodoh. Sorry Yan, gue gak tahu harus dengan apa lagi buat nebus kesalahan gue."Dirta tertunduk lemah bersamaan dengan punggungnya yang ikut layuh.
Pria berkaki panjang itu tidak menjawabnya, sorotnya dia lesatkan ke depannya, menembus bilah-bilah penyesalan yang menyelimuti tubuh yang merungkuh itu. Dia tarik satu kakinya menggantung di kakinya yang lain.
"Oke,"sahut Royyan singkat dengan santainya.
"Hah?!"seru Dirta bingung, jawaban Royyan menimbulkan banyak pertanyaan-pertanyaan baru di benak Dirta, kemudian wajahnya mendongak memasati wajah sang sahabat, "oke buat apaan nih?"tanya Dirta ingin memperjelas jawaban Royyan.
Royyan menghela napasnya seraya kedua pundaknya menaik lalu menurun lagi, "oke untuk permintaan maaf lu. Gue tahu kalau lu bukan laki-laki yang jahat, dan hari ini akan tiba,"jawab Royyan.
Dirta tersekat. Dahinya sudah tak bisa berkerut lagi, dia terlalu terkejut dengan sikap Royyan, pikirnya Royyan akan menghajarnya habis sampai tulang-tulangnya remuk, karena seingatnya Royyan akan melakukan kekerasan yang parah jika orang yang dia sayangi tersakiti.
Kejadian beberapa tahun yang lalu kembali merasuki ingatan Dirta, saat Royyan menghajar seorang pria angkuh yang mencoba untuk melecehkan kakak kandungnya Aneu, dan pria itu pulang dalam keadaan lumpuh sebelah karena Royyan menghajar pria itu tanpa ampun sampai kaki kanannya mengalami keretakan tulang.
Namun, ternyata ketakutan Dirta tak satu pun yang terjadi. Syukurlah. Tapi apa alasan Royyan tidak menaruh dendam pada Dirta?
"Kenapa lu gampang banget maafin gue, gue udah neror lu selama dua tahun, tapi kenapa?"Dirta masih mempertanyakannya.
"Lu gak berhasil buat merenggut istri gue kan?"sahut Royyan menaikkan satu alisnya, "jadi gue gak ada alasan untuk menghajar elu, dan orang-orang yang elu suruh untuk mencelakai gue semuanya meleset, karena elu emang gak niat untuk jadi pembunuh,"beber Royyan panjang.
Degh!
Dirta kembali tersekat dengan penuturan Royyan, ternyata ... semua rencananya sudah terbaca oleh Royyan, dia merasa telah gagal menjadi peneror handal, jiwanya yang menggebu-gebu dan merasa semua rencananya itu keren terasa terhinakan. Lekas dia lempar tubuhnya ke belakang bersandar pada sofa yang dia duduki.
__ADS_1
"Sia-sia gue neror lu,"ucapnya seraya menepuk jidatnya.
NEXT ....