
Paras gadis bermata pipih itu mengeras dengan kerutan hidungnya yang melekuk dalam, percikan kemarahan terlempar pada Almira hingga deru napas Elshara terdengar begar. "Gak usah banyak bacot lu!"hardik Elshara tak ingin kalah.
Namun, pada nyatanya ... Saat ini dia memang kalah. Almira kembali mendekat dengan rekatan gigi yang lebih kokoh dan alis yang saling tertaut. "Keluar dari kamar hotel suami gua sekarang, atau gue seret lu keluar secara paksa dan juga kasar,"gertak Almira mematri tatapan mata pipih itu.
"Kalau gue gak mau?"tantang Elshara yang tidak menyadari jika dirinya masih mengenakan sehelai handuk kimono saja.
Bibir Almira menyungging, lantas dia mengeratkan kepalan kedua tangannya yang terjuntai ke bawah dengan berat.
"Fine."Almira mengernyitkan dahinya, "lu akan tahu kemarahan apalagi yang bisa gua lakukan sama wanita tidak tahu diri seperti elo!"
"Silakan, gue gak takut,"balas Elshara tidak gentar.
"Lu lihat aja, kedua orangtua lu sekalipun, gak akan bisa menyelamatkan elu."
Sontak jantung Elshara seperti terhantam benda keras. Atma nya merangkai berbagai macam kecaman yang tak bisa dia muntah kan ke hadapan Almira. Angannya sedang menyibuk ke bagian ingatannya tentang bagaimana kondisi perusahaan kedua orangtuanya saat ini.
Di petang saat kemarahan Manda membuncah dan memutuskan untuk keluar dari agensi, Elshara Daniar mengunyah langkahnya dengan tergesa-gesa menuju kantor pusat keluarganya yang terletak di bagian Jakarta utara.
Gadis dengan raut kemarahannya melenggang masuk ke dalam gedung perkantoran itu, langkahnya segera menuju dimana kedua orangtuanya bekerja. Tiba di depan pintu kaca yang buram, segera dia masuk ke dalamnya.
"Mami, Papi ..."panggil Elshara mendekati kedua orangtuanya yang tengah saling bersi-tatap membahas berbagai macam pekerjaannya.
Kedua orangtua gadis itu segera menoleh dan menatapi putri semata wayangnya dengan penuh kebingungan. Tak biasanya putri tunggalnya itu mengunjunginya di kantor, keduanya berputar dan meletakkan berkas yang tadi sedang di bahasnya.
"Ada apa? Ada masalah di agensi?"tanya papi Elshara itu.
"Nanti kita urus, sekarang kamu kembali bekerja aja, gak usah khawatir,"timpal mami Elshara.
Namun, tatapan Elshara semakin meruncing. "Sejak kapan Mami dan Papi jual saham perusahaan sama Remira Fashion?"tanya Elshara tegas.
Kedua orangtuanya bersitatap kembali, keduanya saling melontarkan isyarat sebuah pertanyaan "dari mana putri tunggalnya itu tahu tentang hal itu", karena sebelumnya mereka tidak pernah menceritakan kondisi perusahaan dengan Elshara.
"Kami terpaksa melakukan hal itu, karena kami terjebak proyek besar dan kami tidak memiliki dana dan perusahaan Remira Fashion menawarkan pembelian saham sebesar 50%,"jelas wanita paruh baya itu.
"Kami tahu hal ini adalah boomerang yang berbahaya jika Remira Fashion tiba-tiba saja marah dan mencabut semua sahamnya, tapi kami sedang berusaha untuk mendapatkan saham itu kembali. Tapi kamu tahu kan sayang, perusahaan Remira itu sangat kuat, koneksinya luas, jadi kami tidak bisa sembarangan menanganinya,"timpal papinya.
Elshara terhentak. Kali ini dia tidak bisa berkutik, kemarahannya jua tidak bertuah. Kedua tangan yang membulat hanya sebuah kemarahan biasa, tapi gadis itu tidak bisa melakukan apapun untuk melawan semua yang menurutnya mengganggu rencananya.
'Kamu jangan berurusan dengan Almira Miara Tisya, jika kamu melakukannya maka bisnis keluarga kita akan hancur, hati-hati bertindak, kami tidak sekuat dulu yang bisa memanipulasi hukum'
__ADS_1
Tuturan kedua orangtuanya terus menusuk jantung Elshara, dia harus terpangkas oleh perkataan itu. Keangkuhannya tidak bisa dia banggakan di hadapan gadis bermata kucing itu, dia telan ludahnya yang kering hingga menggores tenggorokannya dan merasakan pedih di sana.
Sialan! Jika gue kalah karena keluarga gue ada di kaki keluarga lo, maka gua akan cari cara lain untuk menyingkirkannya, lihat aja! Apa yang bisa di lakukan oleh Elshara Daniar.
Deretan kekesalan Elshara hanya mengendap di dalam batinnya. Sedangkan di luar hanya tatapannya saja yang meruncing dan wajah yang berkerut hebat. Tetapi bibirnya yang polos bergetar tanpa berbicara apapun.
"PERGI! Se-ka-rang!"pekik Almira dengan tatapan yang membuncah hebat sambil dia melayangkan telunjuknya melesat ke pintu keluar dari kamar hotel itu.
"Oke! Gua belum selesai sama elo ya,"balas Elshara melenggang dari hadapan Elshara.
Perlahan dia membungkuk untuk mengambil gaunnya yang berserakan di lantai. Tetapi Almira sudah muak melihat gadis itu di hadapannya, belum sampai tangan Elshara meraih gaun dan beberapa barangnya, Almira lebih dulu menyeret tangan Elshara keluar dari kamar hotel tersebut.
"Aauw ... Apaan lagi sih lu,"protes Elshara menarik-narik tangannya dari jeratan cengkeraman Almira.
"Gerakan lu lambat banget, sakit mata gue lihat lu kayak keong,"cela Almira melempar tubuh Elshara keluar dari kamar hotel itu sesaat dirinya tiba di sana.
Tubuh Elshara terjatuh dan melanggar keramik-keramik putih yang berada di sana. "Aw ..."ringis Almira mengernyit. Tak lama dari itu Elshara segera berdiri dengan tegas, tatapannya semakin meruncing dahsyat dengan kerutan di hidungnya.
"Diem di situ,"tunjuk Almira begar.
Almira kembali ke dalam dan mengambil semua barang-barang milik Elshara. Sedangkan Manda yang sedari tadi hanya menunggu di ambang pintu terdiam, gadis itu terlalu muak melihat wajah Elshara lagi. Karena dia Manda harus menempuh jalur hukum yang melelahkan.
Menyadari Manda berada di dekatnya, lekas Elshara tolehkan wajahnya pada Manda yang kini tengah melihat ke arah lain. "Bagus lu ya, kenapa lu gak menghentikan kegilaan sahabat lu itu,"papar Elshara begitu saja, sudut bibir kanannya menaik, "lu udah bosen jadi model, gue bisa mangkas semua kerjaan lu dimana pun lu berada,"tambahnya mengancam Manda.
Lekas Elshara tepis tangan Manda darinya. "Maksud lo ngomong begitu apa?! Berani lu ya sekarang."
"Sejak kapan gua takut sama lu." Manda mendengkus dan memalingkan wajahnya malas, tak lama paras cantiknya segera kembali untuk menghunjam Elshara, "lu bukan anak penguasa negeri ini, bahkan perusahaan keluarga lu sekarang ada di bawah genggaman Remira, om Ressa dan tante Miranda adalah orangtua kedua gue, bagaimana bisa gue terganggu dengan kecaman sampah dari lo,"sambung Manda penuh percaya diri.
Lagi-lagi Elshara terbungkam dengan fakta yang terjadi, rautnya semakin memerah, membakar semua kemarahannya. Jiwanya tersakiti lagi dan lagi, bibirnya pun ikut menjadi kelu.
Baru saja Elshara ingin memuntahkan kemarahannya pada Manda, Almira tiba dan melemparkan semua barang-barang gadis itu ke muka Elshara, sepatu heels-nya puh sempat membentur dahi gadis itu.
"Aw!"Elshara menoleh kasar dan membulatkan kepalan tangannya, "lu punya sopan santun gak sih, ngasih barang orang bisa pelan kan, dasar gila!"gertak Elshara menajamkan tatapannya pada Almira bersamaan dengan deru napasnya yang terlempar dengan kasar keluar.
"Gua gak perlu punya sopan santun sama wanita yang berani tidur di kamar suami orang lain, pelakor pun terlalu sopan untuk dilontarkan ke wanita kayak lu."
"ALMIRA! Jaga ucapan lu ya!"pekik Elshara melenggang mendekati Almira seraya menunjuk kasar.
Almira tepis telunjuk Elshara dari hadapan mukanya, tak kalah kasar dengan apa yang dilakukan oleh Elshara padanya. "Jaga sikap lu! Top model gak tahu adab,"balas Almira.
__ADS_1
"SIALAN!"cibir Elshara, kemudian dia mengambil semua barang-barangnya dan segera pergi dari Almira dan Manda.
Gadis bermata pipih itu mengenakan handuk kimono seraya memegangi pakaian dan beberapa barangnya masuk ke dalam salah satu lift yang ada di sana. Sementara Almira dan Manda masih memandangi punggung kecil itu tenggelam ke dalam lift.
"Wanita gila! Bisa-bisanya dia membicarakan sopan santun, di saat dirinya tidak memiliki hal itu,"gerundel Almira melipat kedua tangannya di depan, dagunya sedikit naik ke atas dan tatapannya masih saja menajam.
"Udah selesai kan?"tanya Manda memastikan jika sahabatnya itu sudah tak lagi dikungkung amarah.
"Belum."
Tatapannya terlempar ke dalam kamar hotel sang suami, kamar itu sungguh berantakan sehingga membuat Almira merasa pening. Terlebih saat mencium aroma parfume yang di gunakan gadis itu menyebar luas di setiap penjuru kamar itu.
"Gue harus bereskan kamar kak Royyan dulu,"pungkasnya kemudian.
"Telepon petugas hotel aja buat beresin, gak mungkin lu mau beresin sendiri,"papar Manda di samping Almira.
Nerta gadis itu beralih ke samping. "Ya iyalah, ya kali gue beresin kamar, di rumah aja gue di bantu asisten rumah tangga."
Manda menyeringai. Tak lama Almira pun ikut tenggelam dalam seringaian kecil sang sahabat, lantas Almira menyugar rambutnya ke belakang, dia merasa lega telah melampiaskan kemarahan yang sempat dia timbun selama ini.
Walau jauh dalam batinnya, masih ada kejanggalan yang dipikirkan olehnya, perkataan Elshara terus terngiang-ngiang di benaknya. Almira sangat meyakini jika gadis berambut dark blonde itu akan melakukan kegilaan lain, tetapi Almira tidak bisa meraba apa yang akan dilakukan Elshara di hari kemudian.
Di tempat lain, Royyan dan Adrian serta beberapa staff yang ikut dalam meeting baru saja keluar dari restoran mewah itu. Para staff lain memutuskan untuk pergi lebih dulu, membiarkan Royyan dan Adrian dengan urusannya.
Atmosfer restoran itu begitu tenang dan nyaman. Walaupun banyak sekali orang yang keluar masuk ke dalam restoran tersebut, tetapi suasananya terasa hening dan Royyan nyaman dengan suasana ini.
Belum ada lima belas menit kedua lelaki itu berdiri di depan restoran menunggu jemputannya tiba, ponsel Adrian berdering, dia mendapatkan sebuah pesan dari pihak perhotelan.
Petugas hotel :
Kamar tuan Royyan sudah dibereskan, untuk wanita yang ada di dalamnya telah di usir oleh istri dari tuan Royyan. Baru saja istri tuan Royyan dan temannya keluar dari hotel.
Adrian mengernyit, lalu dia menoleh pada Royyan yang masih memeriksa ponselnya. Dengan sekejap Royyan menyadari tingkah Adrian yang terus memandanginya tanpa mengatakan sepatah kata apapun.
"Kenapa? Ada yang terjadi?"celetuk pria kekar itu tanpa mengubah posisinya.
Degh!
Sontak saja Adrian terlonjak kaget, deru jantungnya berhamburan dengan cepat. "Ah i-iya pak, mengenai nona Elshara yang saya katakan tadi pagi,"ucap Adrian menjatuhkan tangannya ke bawah sembari menggenggam ponselnya.
__ADS_1
Royyan tertadah dan gegas memasukkan ponselnya ke dalam saku jas, lalu menoleh pada Adrian, menatapi sekretaris pribadinya itu dengan dalam. "Ada apa?"tanyanya lagi ingin memastikan apa yang sedang terjadi di sana.
NEXT ....