Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 93 : Kembali ke rumah 2.


__ADS_3

"Ekhem ..."Almira berdeham, dia tarik kedua tangannya ke belakang. "Kalau kamu kangen emangnya aku bisa apa?"lanjut Almira pura-pura tidak mengerti apa yang diinginkan oleh suaminya.


Bibir kecil itu menyeringai nakal, tatapannya menyelinap masuk ke dalam cahaya cinta yang berhamburan dari mata kucing itu, sedangkan kedua tangannya menjalari punggung Almira, menekan tubuh sang istri sehingga mempertemukan dadanya dengan milik sang istri, wajah Almira sontak tertadah di waktu bersamaan saat Royyan menarik tubuh Almira.


"Kamu pasti tahu apa yang aku inginkan,"lontar Royyan menganjurkan wajahnya semakin dekat dengan paras cantik Almira, "tutup matanya,"titahnya kemudian.


Almira mengerut, "kenapa? Kenapa aku harus menutup mata."gadis itu menarik kedua tangannya ke atas dada lebar Royyan.


"Yakin?"Royyan naikkan kedua alisnya seraya menaikkan sudut bibir kirinya.


"Yakin,"ucap Almira tegas, perlahan dia lingkari leher sang suami dengan kedua tangannya, lalu dia pejamkan kedua bola matanya.


Senyuman tipis Royyan tadi seketika berkembang, merekah menyebarkan bahagia yang tak terkira.


Perlahan dia dekatkan wajahnya dan menjatuhkan sebuah c*um*n rekat, bibirnya menempel hingga lengket dengan bibir manis Almira. Gadis itu terdiam merekatkan lingkaran tangannya di leher sang suami, membiarkan Royyan bermain di bibirnya, Almira mulai terbiasa dengan permainan Royyan padanya, dia menikmatinya.


Sampai tiba di titik keganasannya, Royyan menghentikan permainannya pada sang istri seraya dia menyeringai, mengendurkan kakinya turun ke bawah lalu dia usap bibir Almira dengan lembut.


"Pewarna bibir kamu bagus, ia gak luntur,"ucapnya lembut seraya menyeka pangkal kepala Almira.


"Aku gak pake lipstik, mager,"balas Almira sembari dia tersenyum, lalu dia menerjunkan kecupan singkat di pipi Royyan.


Royyan terdiam. Kecupan singkat itu telah mengunci raganya bagaikan patung pahatan, sedangkan Almira telah mengayuh langkahnya menjauh dari sang suami. Di detik berikutnya, tubuh yang menganjur tadi lekas berdiri tegak sambil dia menyelukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lantas dia tersenyum kecil menggelengkan kepalanya lembut.


"Udah berani ya sekarang,"lontarnya pada benda-benda mati yang ada di hadapannya sambil dia mengembangkan senyuman di sudut kanan bibirnya.


Setelah Almira menuruni tangga, bahkan gadis itu telah duduk di tengah-tengah Ressa dan Miranda, dia sengaja duduk di sana untuk menghindari sang suami, barulah Royyan melangkah untuk menyusul semua orang yang sudah lebih dulu memosisikan diri mereka di kursi yang mereka inginkan.


Tiba di depan semua orang, Royyan terhenti dulu sejenak di belakang kursi kebesaran tuan rumah, tetapi pria itu enggan untuk duduk di sana karena pikirnya ada dua kepala keluarga yang lain di sana, lekas dia melipir duduk di samping Miranda yang kursinya memang kosong.


"Eh sayang sini duduknya deket istri kamu,"saran Miranda seraya dia beranjak dari kursinya sehingga gadis yang sudah merasa aman di sampingnya berkerut kesal.


Melihat wajah sang istri yang menggemaskan, lekas lelaki itu berpindah sesuai permintaan ibu mertuanya, dia menganjurkan bokongnya di kursi samping Almira, satu tangannya sengaja dia julurkan ke bahu istrinya lantas dia terjunkan kecupan kecil di pelipis Almira, membuat semua orang yang ada di sana tak bisa menahan senyumnya.


Sedangkan Almira terbelalak, bola matanya tak berhenti berkelintaran, wajahnya memerah tersipu di lihat semua keluarga dan juga sahabatnya, tetapi sayangnya dia tak bisa marah ataupun memukul sang suami di depan semuanya, lantas gadis itu melempar tatapannya pada piring putih yang masih kosong.


"Ayo makan, kenapa pada diem,"cakap Royyan setelah dia duduk dengan tenang di kursinya.


"Iya, ayo-ayo di makan,"timpal Rian yang berada di bagian depan Almira.


Tanpa basa-basi, Ajun segera berdiri dari kursinya mengangkat piring dan meraih sendok yang ada di piring putih panjang yang berisikan ayam bakar yang mampu menggugah selera Ajun.

__ADS_1


"Duluan ya om tante, laper nih,"ucap Ajun seraya mengelus perutnya sebelum akhirnya dia menyendokkan nasi ke dalam piring putihnya.


"Iya ... pasti kelaperan nih anak papi,"balas Rian membiarkan Ajun sibuk mengisi piringnya dengan berbagai macam hidangan yang tersaji di atas meja.


"Uh papi tahu aja nih anaknya kelaperan, kalau anak papi yang ono kan jarang lapar, perutnya kayaknya seukuran nyamuk pi,"timpal Ajun mengarahkan pandangannya pada Royyan yang terdiam.


Merasa dirinya yang di bicarakan, lekas satu tangannya meraih sepotong buah kiwi yang sudah terpotong-potong dan dia lempar ke arah Ajun, "berisik lu, makan aja udah,"berontak Royyan.


"Woi!"Ajun menghindar dan sepotong kiwi itu meluncur tepat di piring Ajun yang sudah lengkap dengan hidangan menu makan siangnya kali ini, "yang banyak kek lemparnya,"pungkasnya kemudian meraih buah yang terjatuh di atas nasinya.


"Si ishh ...."kesal Royyan, ingin dia berkata kasar, tapi tidak mungkin dia lontarkan di hadapan kedua orangtua dan mertuanya.


Serempak semua yang ada di meja itu tertawa, meriuhkan suasana hening rumah itu menjadi lebih hangat, apalagi Manda sampai dia menggelengkan kepalanya sambil dia menyandarkan punggungnya ke kursi yang dia duduki.


"Wah gila, ternyata persahabatan Ajun dan Royyan seperti ini,"lirih Manda, hanya dia yang bisa mendengar perkataannya.


Dari arah lain Miranda mulai menggerakkan mulutnya menghentikan pertengkaran kecil menantunya dengan sahabatnya itu, "udah udah jangan berantem lagi, ayo makan ...."kata Miranda berdiri dari kursinya.


"Iya ayo kita makan,"timpal Rini dari arah lain.


Seketika suasana kembali menjadi hening dengan selipan senyum yang tak luntur dari wajah semua orang yang ada di sana, termasuk para pelayan yang ikut merasakan kehangatan membahagiakan yang menguap dari energi semua orang baru yang menginjakkan kakinya di dalam rumah megah itu.


"Apa tuan Royyan sudah selesai dengan masalahnya ya?"tanya salah satu pelayan pada Syani yang berada di dapur sedang menyiapkan hidangan lain untuk Almira.


"Ya iya tahu Syan, tapi kan pengen tahu aja gitu, jadi kita juga gak perlu bersembunyi terus,"timpal pelayan lain yang sedang mencuci piring.


"Itu namanya kepo, gak boleh itu kepo sama bos sendiri,"balas Syani lagi seraya dia memasukkan potongan strawberry itu ke dalam mesin blender.


"Ah Syani gak asyik,"timpal pelayan lain yang sedang mengeringkan piring-piring basah dan menyimpannya kembali ke dalam lemari piring di atas.


Syani menyeringai tanpa menjawab apapun lagi pada teman-temannya. Di meja makan yang sudah ramai dengan aktifitas makan semua orang sambil berbincang satu sama lain, Royyan, Rian dan Ressa saling berbincang mengenai bisnis mereka yang akan menemui masa puncak kejayaannya.


"Gimana pembangunan museum di German? Sudah sampai mana Yan?"tanya Rian penasaran dengan proyek besar yang berhasil di dapatkan oleh putra bungsunya.


"Masih dalam tahap perencanaan, sekitar empat bulan lagi baru terbang ke German untuk survei lokasi,"jawab Royyan datar seraya dia menyendokkan nasi dan beberapa potong sayur hijau ke dalam mulutnya.


Rian mengangguk melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan putranya, "jika membutuhkan bantuan staff ambil dari papi, papi ada beberapa staff yang aman jika di alihkan,"papar Rian setelah dia menelan nasi dan ayam bakar yang sudah lunak di dalam mulutnya.


"Ya pi, untuk sekarang staff masih aman,"jawab Royyan lagi.


Suasana meja makan kembali hening, aura Royyan membuat semuanya terpaku diam, satu orang pun tak ada yang berani untuk membuka mulutnya, bahkan Almira sendiri pun terdiam dan fokus dengan makanannya, apalagi Ajun yang tak bisa lepas dari piringnya yang sudah bersih dari makanan, tetapi lelaki itu masih mengambil sepotong ayam bakar yang masih ada di piring.

__ADS_1


"Oh iya papi Ressa, mami Miran,"panggil Royyan tiba-tiba saja seraya dia membersihkan mulutnya dari sisa-sisa makanan yang menempel, tatapannya tertuju pada Ressa dan Miranda yang berada di samping kanan dan kirinya.


"Euum ..."sahut Miranda menghentikan aktifitas makannya.


Begitu pula dengan Ressa yang baru saja meletakkan sendok dan garfunya di atas piring yang sudah kosong dari makanan, semuanya telah berpindah ke dalam perutnya yang tak kalah proporsionalnya dengan sang menantu.


"Bulan depan ada acara penghargaan fashion dunia di Paris, apa papi dan mami ikut serta di dalamnya?"tanya Royyan menoleh pada Ressa yang ada di dekat Almira.


"Tentu dong, di Indonesia hanya ada tiga perusahaan yang bisa ikut serta dalam ajang penghargaan besar itu,"jawab Ressa yang juga menoleh pada Royyan.


Miranda mengangguk, "kenapa tanya begitu sayang?"tanya Miranda di samping Royyan.


Kepala pria itu berputar pada Miranda, "beberapa waktu yang lalu, ada staff penyelenggara acara itu datang padaku, dan mereka meminta kastil putih milik perusahaan yang ada di Paris, kemungkinan Yan akan ke sana bulan depan,"sahut Royyan menyandarkan punggungnya pada kursi yang dia duduki.


Degh!


Mendengar hal itu membuat Almira berkelintaran tak karuan, silih bergantian dia menatapi kedua orangtuanya dan juga suaminya, lagi-lagi dia tidak mengetahui apapun tentang semua pekerjaan Royyan yang selalu terikat dengan pekerjaannya.


Lah! Bentar, bukannya acara itu juga ngundang gue kan? Kak Royyan acara apaan ya? Tanya aja kali ya, tapi nanti deh, gak enak nanyanya kalau disini, terlalu banyak orang yang memperhatikan kita.


Batin Almira mengoyak jiwa rasa penasarannya menjadi lebih kokoh, kedua tangan yang menggantung di atas piring lekas dia tarik ke bawah, gadis itu masih merasa kekeringan, bukan karena belum minum, tetapi karena rasa penasarannya menggerogoti dirinya.


"Salah satunya perusahaan yang anaknya top model itu, siapa ya namanya pi?"tanya Miranda pada Ressa yang berada jauh darinya.


"Iya itu namanya Rala, perusahaan yang beberapa waktu kita beli sahamnya,"sahut Ressa di samping Almira.


Lagi-lagi jantung Almira terhantam dengan sebuah kejutan yang tak pernah dia sangka-sangka, dengan sigap dia tolehkan wajahnya pada Ressa yang ada tepat di sampingnya.


"Hah?! Papi tanam saham di perusahaan keluarganya Rala?"tanya Almira enggan untuk mempercayai apa yang barusan dia dengar.


Perlahan Royyan gerakkan satu tangannya melingkari pinggang sang istri, membuat Almira mengerjap kaget, gadis itu langsung menolehkan wajahnya pada sang suami, mempertemukan bola mata kucingnya dengan bola mata kecil sang suami hampir saja hidungnya menempel dengan hidung Royyan.


"Iya sayang, waktu di Bali mami dan papi melakukan pertemuan untuk penanaman saham di perusahaan Romz Fashion, karena perusahaan itu sedang turun dan mami papi kamu telah menyelamatkannya dan mendapatkan 50% saham perusahaan tersebut,"terang Royyan mengerutkan hidungnya dan tersenyum seraya mencolek hidung lancip Almira.


Seketika bola matanya berkembang, tak lama dari itu tatapannya mengendur ke arah lain. Sedangkan Royyan masih mempertahankan posisinya mendekap sang istri dengan mesra di hadapan semua orang yang ada di sana.


Semua netra yang berada di sana sontak mematung tak kuat melihat kemesraan sepasang suami-istri itu secara nyata, satu persatu dari semua orang yang ada di meja itu beranjak, mereka berjinjit melarikan diri dari kemesraan itu, meninggalkan dua sejoli yang tidak bisa melepaskan tatapannya satu sama lain.


...***...


Wangi anggrek yang menyegarkan menyebar ke seluruh penjuru taman hijau yang di lengkapi dengan bunga-bunga lainnya, menyerbu hidung lancip Almira dan Manda yang tengah berjalan-jalan santai malam tanpa di temani oleh siapapun, di dekat kediaman Royyan dan Almira memang terdapat taman yang begitu indah lengkap dengan berbagai macam penjajal makanan dan juga minuman.

__ADS_1


Next ...


__ADS_2