Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 105 : Romantic Dinner.


__ADS_3

Lagi dan lagi penuturan Royyan selalu terikat dengan kematian, sebuah perkataan yang di benci oleh Almira, gadis itu membencinya bukan karena dia memiliki trauma tentang kematian, tetapi dia sangat ketakutan jika hidup tanpa suaminya. Membayangkannya saja sudah sangat mengerikan, jangan sampai hal itu terjadi di hari ini, ataupun di masa yang akan datang.


Raga gadis itu membeku dalam dekapan Royyan, aroma dingin menusuk merasuki jiwa wanita berambut coklat keemasan itu. Perlahan dia mendorong sang suami dan mengendurkan dekapannya pada Royyan, wajahnya tertunduk sendu.


"Kak Royyan kenapa sih hobi banget ngomongin kematian?"tanya Almira lirih.


"Karena semua manusia pada akhirnya akan mati bukan?"cetus Royyan enteng, dia tidak terpikirkan pedihnya kematian itu.


Sontak Almira mendongak dan menempatkan bibir kecilnya tepat di depan bibir sang suami. "Jadi kamu mau ninggalin aku gitu,"pungkas Almira menatapi Royyan dengan sendu.


Pria itu malah tersenyum bersamaan dengan kedua bola matanya yang ikut tersenyum seraya menarik punggung istrinya lebih lekat dengan dadanya, perlahan dia jatuhkan hidungnya di atas hidung lancip istrinya.


"Jika aku punya kemampuan untuk meminta pada tuhan, aku ingin mati satu hari setelah kamu di ambil olehnya,"tutur Royyan memasati wajah cantik sang istri.


Almira mengernyit, seperti ada yang berbeda dari kata-kata tersebut, netranya yang terpatri dengan Royyan perlahan melembut bersamaan dengan kedua tangannya yang menggantung di kedua lengan kekar sang suami ikut terambau ke bawah.


"Kok kamu ngomongnya beda sih?"tanya Almira heran.


"Karena aku ingin hidup sampai waktu kamu habis, yang artinya aku bisa merawat kamu sampai akhir, jika aku tiada lebih dulu dari kamu, aku tidak yakin jika orang lain mampu merawat kamu sebaik yang aku lakukan."


Almira menyeringai geli, penuturan Royyan memiliki makna yang besar, tetapi entah mengapa gadis itu tidak bisa menahan tawanya. "Kalau ada yang bisa, gimana?"goda Almira melingkari leher Royyan dengan erat.


"Emang ada,"celetuk Royyan memasati wajah sang istri dengan dalam.


"Siapa?"Almira menaikkan kedua alisnya ke atas dengan sudut bibir yang sedikit menaik.


"Papi Ressa, siapa lagi lah,"pungkas Royyan menggamit hidung Almira.


Membuat jeratan tangan Almira pada lehernya melemah, gadis itu tak menyangka jika suaminya akan mengarah pada papinya, lekas dia mengendurkan dekapannya dan menarik sudut bibirnya ke arah kanan seraya dia memicing kesal dan melipat kedua tangannya di depan dengan kokoh.


"Apa sih kamu, ya iyalah papi aku yang terbaik, gimana sih,"kesal Almira memalingkan tubuhnya dari hadapan Royyan.


Baru saja Royyan ingin mendekati sang istri lagi, pintu kamar hotelnya lebih dulu menggema, memantulkan suara ketukan lantang sebanyak tiga kali. Sepasang suami-istri itu sepakat menoleh pada pintu, kemudian Royyan mulai melangkahkan kakinya untuk mendekati pintu, raut wajah yang lembut dengan senyuman yang terpatri padanya seketika lenyap dan kembali seperti semua, paras tampan yang selalu di hiasi ketajaman yang dingin.


Pria itu membuka pintu tanpa melihat siapa yang datang di dalam monitor, bahkan dia tidak mencurigai siapapun yang mengunjunginya kali ini, pikirnya Elshara tak akan mungkin datang lagi setelah pertengkarannya dengan Almira tadi.


Setelah pintu terbuka, Royyan mendapati Adrian yang berpakaian rapi membungkukkan kepalanya dengan sopan. "Maaf pak, kita harus segera ke kafe kemarin untuk melanjutkan meeting,"jelas Adrian.

__ADS_1


"Semuanya sudah siap?"tanya Royyan seraya dia merapikan penampilannya.


"Sudah pak, semua klien pun sudah menempatkan posisinya di lokasi kafe,"sahut Adrian lagi melipat kedua tangannya di bawah.


"Oke."Royyan mengangguk, tanpa mengatakan apapun lagi, Royyan berputar kembali masuk ke dalam kamar.


Pria itu menemui istrinya yang berada di ambang ranjang berukuran besar itu. "Aku ada meeting,"pungkasnya singkat sambil mengambil laptop dan juga jas-nya yang tergeletak di atas ranjang, tepat di samping kanan Almira.


"Sama klien dari German itu?"tanya Almira penasaran seraya dia menganjurkan tubuhnya ke belakang dan menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan tubuhnya.


"Iya."Royyan mendekat tubuhnya menganjur ke depan, dia letakkan kedua tangannya di samping sang istri sebagai penopang tubuhnya, sampai wajah keduanya saling berdekatan, lantas pria itu menyeringai, "aku pulang malam, dan besok kita akan dinner karena aku sudah mengosongkan jadwal,"tutur Royyan dengan senyuman miringnya, tatapan nakalnya kembali menggoda Almira sehingga membuat jantung gadis itu berdebar hebat.


"Dimana? Aku harus mencari butik untuk persiapan pagelaran itu,"sahut Almira lirih, perlahan dia lepaskan kedua tangannya dari belakang dan beralih melingkari leher sang suami.


"Seperti yang kamu inginkan, dan untuk masalah itu aku sudah siapkan salon dan juga butik untuk mempersiapkan penampilan kamu,"balas Royyan dengan nada suara beratnya yang menggoda.


"Oke."Almira mengangguk dengan kedua sudut bibir yang menaik.


Tanpa segan durja gadis itu mendekat dan melekatkan bibirnya dengan bibir sang suami dengan singkat membuat lelaki itu menyeringai puas, kini istrinya sudah berani menyentuhnya lebih dulu seperti yang dia harapkan.


Royyan miringkan wajahnya dan perlahan mendekat senyuman yang menyungging, satu sentimeter lagi saja dia melekatkan c*um*n, tetapi itu tak terjadi karena Almira sudah lebih dulu menahan bibir Royyan menggunakan tiga jarinya dan mendorongnya agar menjauh darinya.


"Makanya sayang, beli lipstiknya yang bagus,"pinta Royyan sembari dia merapikan penampilannya lagi.


"Ini juga udah bagus, mau yang kayak gimana lagi coba,"protes Almira kembali menganjurkan tubuhnya ke belakang, "lagian ya terserah aku dong mau pake lipstik apa aja, kan yang makenya aku, bukan kamu."Almira menyambung perkataannya tadi dengan polos.


Gadis itu belum menyadari apa yang dimaksud oleh suaminya itu. Royyan tarik lengan kemejanya yang menyingsing ke bawah mendekap pergelangan tangannya dengan erat, dia betulkan jam tangannya yang ikut miring.


"Nanti aku akan carikan lipstik yang bagus,"pungkasnya seraya dia beralih keluar dari kamar hotelnya.


Telinga Almira yang masih berdengung menyerukan penuturan Royyan yang terakhir itu masih bertanya-tanya, apa yang di maksud oleh lelaki itu, dia mengucap-usap lehernya sambil dia mengoyak pikirannya untuk mencari maksud dari suaminya itu.


"Buat apaan lakik gue nyari lipstik?"tanyanya pada diri sendiri.


Netranya terlempar pada langit-langit kamar bercat putih itu, lantas dia ikut melempar tubuhnya ke atas ranjang dan memejamkan matanya di sana, beralih pada guling seukuran panjang kakinya lalu dia dekap guling itu dengan erat.


"Euuum ..."Almira bergumam seraya mengendus aroma yang membuatnya menggila menempel di guling itu, "aroma kak Royyan memang paling menyegarkan, gak nyangka banget bisa di titik ini, dimana gue sama kak Royyan saling menumpahkan perasaan yang tumpat ini,"lanjut Almira lirih.

__ADS_1


Baru beberapa detik mata kucing itu terpejam, gadis itu segera membawa dirinya untuk segera terbangun lagi, angannya baru saja merangkai sebuah kemungkinan dari jawaban pertanyaan yang sempat mengangkasa dalam lumbung batinnya.


"Eh bentar, jangan-jangan maksud kak Royyan nyuruh gue beli lipstik baru itu ..."paparnya memutarkan bola matanya ke segala penjuru ruangan kamar dengan panik, "bi-ar dia bisa cium gue kapan aja gitu,"celetuknya kemudian menambahkan penuturannya tadi.


Dia terbelangah, lalu dia pegangi kepalanya dengan lembut. "Mampus!"serunya panik, seluruh raganya merinding seraya dia mengatupkan bibirnya dengan lekat. Kemudian dia menyelinap masuk ke dalam selimut tebal berwarna putih itu dengan pejaman mata yang lebih kuat lagi.


...***...


Pagi menjelang, Royyan dan Almira tinggal di tempat yang berbeda, bukan sengaja mereka melakukan hal itu, tetapi posisi pekerjaan mereka sangat bertolak belakang. Royyan yang masih harus menghadiri berbagai macam meeting untuk membicarakan pembangunan museum nasional dari negara maju itu, sedangkan Almira harus mempersiapkan penampilannya untuk menghadiri acara penghargaan fashion dunia itu.


Tepat pada pukul 11.30 waktu Paris, Royyan yang di temani Adrian melipir ke sebuah mal terbesar di kota itu, bangunan megah bak istana itu menarik perhatian Royyan untuk menyambanginya. Pria yang akan menginjak umur 31 tahun itu berkunjung ke sebuah store kosmetik dari brand-brand ternama.


"Bapak ingin mencari apa?"tanya Adrian kebingungan dengan apa yang diinginkan oleh bosnya itu.


Tak biasanya Royyan mengunjungi store kosmetik secara langsung, sebelumnya jika dia ingin membelikan barang-barang untuk wanitanya, dia tak akan terjun secara langsung untuk membelinya, Royyan pasti akan meminta kakaknya atau orang kepercayaannya untuk memenuhi kebutuhan sang istri.


Sampai pikiran Adrian selesai, pria berbadan tegap itu tak kunjung menjawabnya, hanya seringaian kecil yang terlukis di parasnya, lantas dia melimbai masuk ke dalam store mewah itu seraya mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru untuk mencari benda yang sedang dia cari.


Tanpa mempertanyakannya lagi Adrian terus mengekori Royyan di belakang, melangkah kemana pun kaki Royyan berpijak. Sampai lelaki itu berhenti di deretan lipstik dari berbagai macam jenis, warna dan juga brand.


Tak lama dari itu seorang pelayan berpakaian rapi menghampiri Royyan yang baru saja menggenggam sebuah pewarna bibir yang menarik hatinya, sebuah warna yang senada dengan apa yang istrinya pakai.


"What do you want, sir? What kind of lip color are you looking for? "tanya pelayan yang tengah menundukkan kepalanya dengan sopan. (Apa yang anda inginkan, tuan? Warna bibir seperti apa yang sedang anda cari?)


"I want a lipstick with strong staying power, one that wouldn't wear off easily, nude pink and dark red,"pinta Royyan meletakkan lipstik yang sedang ada dalam genggamannya. (Saya ingin lipstik dengan daya tahannya yang kuat, yang tidak mudah hilang, warna nude pink dan merah gelap.)


"Ok sir, we will prepare it immediately." (Baik tuan, kami akan segera persiapkan.)


Wanita yang nampaknya lebih tua dari Royyan itu melenggang pergi untuk mempersiapkan pesanan yang diinginkan oleh pria berbadan tegap itu. Seraya menunggu, Royyan kembali melangkah untuk mencari benda lain yang memikat hatinya.


"Bapak membelikan nona pewarna bibir?"tanya Adrian segan.


"Tahu dari mana?"Royyan menoleh pada sang sekretaris pribadinya yang berada di belakang,


Pria muda itu menyeringai, bola matanya berbinar-binar, bagaimana tidak? Pria itu sungguh mengetahui jalan pikiran sang bos, tidak ada wanita lain yang bisa membuat Royyan melakukan keanehan ini semua.


"Bapak tidak akan melakukan hal ini pada semua orang, kecuali pada nona,"pungkas Adrian mendongakkan tatapannya pada Royyan.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2