
"Mau ngasih apa?"tanya Manda.
"Euum ..."gumam Almira melesatkan tatapannya jauh keluar jendela yang ada di seberang ruang dapurnya, "kalau kasih tas atau gue merancang baju gitu gimana?"tanya Almira meminta saran dari Manda.
Tangan yang menggantung di atas meja tadi segera naik dan menopang dagu Manda dengan tatapan yang terpelanting ke arah yang sama dengan sorot mata Almira kini, "tas aja gak sih, soalnya gue lihat itu anak kagak ada pake tas lain selain yang itu sering dia pake,"saran Manda.
"Oke deh."anggukan tegas menyembul di wajah Almira.
...***...
Almira dan Royyan kembali ke rumah besar saat matahari telah bersembunyi dan malam menjelma jadi sunyi, suara hewan pengisi malam pun tak nampak menyerukan nyanyian malamnya, sepasang suami-istri itu menyelinap masuk ke dalam rumah tanpa sepengetahuan siapapun bahkan angin pun sudah mulai tertidur di pangkuan sang cakrawala.
Di dalam kamar yang sudah mereka tinggalkan lebih dari satu minggu itu, Almira segera melempar tubuhnya ke atas ranjang, sedang Royyan masih berusaha melepaskan jas dan kemeja abu gelap dari tubuhnya. Setelah semua urusannya selesai, Royyan segera menumpuk tubuh istrinya dengan tubuhnya.
"Iiiih ... Kak Royyan apaan sih, aku capek nih, awas ah ...."protes Almira menahan kedua bahu sang suami.
Lelaki itu mengabaikan rengekan sang istri, kedua sudut bibirnya semakin menaik bersamaan dengan tubuhnya yang beranjak ke atas, dia dorong tubuhnya sampai tiba di leher putih Almira, lantas dia tenggelam pada ribuan helai rambut Almira yang mengeluarkan aroma manis yang pekat.
"Tidur yuk,"ajak Royyan memejamkan matanya dan mengeratkan dekapannya.
"Hah?! Yaudah tidur sana, ngapain tidur di dada aku,"sahut Almira mengernyit, kedua tangannya masih sibuk menopang bahu sang suami yang tak ingin enyah darinya.
"Lebih nyenyak disini,"celetuk Royyan mengeratkan dekapannya pada pinggang kecil itu.
"Ih apaan sih, kak ..."seru Almira melemahkan dorongannya pada bahu sang suami.
Gadis itu mulai kelelahan menyingkirkan tubuh Royyan yang di penuhi oleh otot-otot yang sehat, bagaimana tidak? Lelaki itu setiap hari bergelut dengan alat-alat pembentuk otot, sesingkat apapun waktunya, dia tetap akan berolahraga walau hanya beberapa menit saja.
Beberapa menit posisi itu bertahan sampai Almira merasakan pegal di sekujur tubuhnya, netranya terjatuh pada wajah sang suami yang nampaknya sudah terlelap. Kelopaknya yang mengendur lelah mampu menaikkan kedua sudut bibir Almira, seraya membelai wajah sang suami dengan lekat gadis itu menggeser tubuhnya ke arah berlawanan dari keberadaan sang suami.
"Kamu ini manja banget sih, tinggal tidur doang. Bantal ada, kenapa milih di tempat yang gak empuk,"lirih Almira menjalankan dua jarinya di antara hidung dan pipi sang suami.
Dari atas nakas, ponsel Royyan bergetar kuat mengalihkan perhatian Almira yang tengah merekam wajah tampan sang suami dalam pena hatinya. Gadis itu melepaskan dekapan sang suami dengan sangat pelan dan menjatuhkan tubuh lelaki itu ke atas bantal yang ada di dekatnya.
Almira melangkah mendekati ponsel yang terbaring itu, dia melihat nama Adrian melambung, tangan kanannya bergerak maju, mendekati dan menyentuh ponsel yang bergetar itu, tapi segera angin mendorongnya kembali ke dekat pinggangnya.
"Eh jangan,"tepis Almira sungkan, dia angkat kedua tangannya ke atas sebelum akhirnya wajahnya terlempar pada punggung sang suami yang telanjang.
Wanita bermata kucing itu melipir kembali mendekati Royyan yang terlelap, dia mendudukkan dirinya tepat di belakang punggung Royyan, menggegarkan tubuh sang suami dengan lembut.
"Kak ... Kak Royyan bangun, itu ada Adrian nelpon,"bisik Almira di belakang telinga sang suami, satu tangannya menggantung di pinggang sang suami seraya menggegarkannya.
__ADS_1
"Euum ..."lirih Royyan tanpa menggerakkan tubuhnya.
"Kak cepetan bangun, Adrian dari tadi nelepon,"bisik Almira lagi, tangannya beralih ke otot tangan sang suami.
Perlahan bola mata Royyan menyirap, satu tangannya berputar ke belakang, mencari tangan Almira yang menggetarkan otot tangannya, dia genggam tangan Almira yang masih menyerana di atas lengannya dan menarik ke depan sehingga sang istri tersungkur membenturkan dadanya dengan punggung Royyan.
"Eh kak ... lepasin,"protes Almira menarik-narik tangannya dari jeratan Royyan.
Seperti biasanya gadis itu tak bisa melawan kekuatan dari sang suami, satu tangannya yang telah menopang pun ikut melemah, dagunya menggantung di bahu Royyan, menunggu suaminya untuk melepaskan tangannya yang lain.
"Sayang ..."lirih Royyan seraya dia memutar tubuhnya dan melingkarkan satu tangannya di pinggang Almira.
"Eeeum ..."Almira bergumam sambil dia menarik tubuhnya untuk terduduk dengan benar.
"Ambilkan hape aku,"lirihnya lagi dengan bola mata yang masih terpejam.
"Iya ..."sahut Almira mencondongkan tubuhnya ke samping dan mengambil ponsel yang sudah tak lagi bergetar.
Almira julurkan tangannya ke hadapan wajah sang suami, "nih hapenya,"pungkasnya meletakkan ponsel itu di atas pipi sang suami seraya dia tersenyum.
"Heeum ... telepon Adrian lagi sayang,"pinta Royyan merekatkan dekapannya pada pinggang Almira.
"Ih kok aku sih,"protes Almira mengenyakkan punggungnya ke belakang.
Gadis itu semakin terenyak, tubuhnya bergeser ke belakang, "eh iya iya, ih kamu, awas dulu kamunya,"sanggah Almira memutar bola matanya ke arah lain dengan tidak beraturan.
Tangannya bergerak mengambil ponsel yang terjatuh di antara kedua kakinya, dengan sigap dia menelpon Adrian lagi, tak perlu menunggu lama, pria muda itu segera mengangkat panggilan telepon bos-nya, lekas Almira meletakkan ponsel di atas telinga Royyan, karena lelaki itu enggan untuk enyah dari posisinya saat ini.
"Halo maaf pak mengganggu waktu istirahat bapak,"ucap Adrian dari balik ponsel, suaranya bergetar sungkan.
"Heuum ... Apa?"gumam Royyan tanpa mengubah posisinya.
"Untuk rencana pertemuan dengan perusahaan German di Paris, tiket ke Paris sudah siap pak, dua hari yang akan datang, saya mendapatkan tiket lebih cepat karena pihak dari Germannya meminta pertemuan di percepat,"terang Adrian rinci.
Mendengar penuturan Adrian, lelaki itu segera menarik tubuhnya dalam gerakkan cepat untuk terduduk di depan sang istri, satu tangan yang melingkar di pinggang Almira pun secara bersamaan melekang.
"Pagelaran penghargaan fashion itu kapan di adakannya?"tanya Royyan serius.
Sebelum Adrian menjawab, Almira yang sudah mendekap Royyan dari belakang lekas berbisik ke telinga suaminya, "satu minggu lagi,"bisiknya demikian.
Wajah Royyan tertoleh tipis pada sang istri, satu tangannya mengangkasa melewati kepala Almira dan terjatuh di salah satu bahu gadis itu. Dia tekan bahu yang berada dalam genggamannya seraya dia menjatuhkan kecupan kecil di pelipis Almira, membuat sang istri tersipu menenggelamkan wajahnya ke tengkuk Royyan.
__ADS_1
"Satu minggu lagi pak,"jawab Adrian.
Helaan napas panjang terurai keluar, "oke. Atur segalanya,"pungkas Royyan kemudian.
"Baik pak, saya akan segera selesaikan semuanya."
Dengan cepat panggilan telepon berakhir. Pria itu beranjak dari ranjang seraya melepaskan dekapannya pada Almira dan melempar ponsel yang berada dalam genggaman tangannya yang lain ke atas ranjang dengan sembarangan.
Lekas dia kayuh kakinya masuk ke dalam pintu ruangan dimana semua pakaiannya tersimpan di sana. Almira yang berada di atas ranjang, segera mengekori langkah sang suami memasuki ruangan pakaian mereka.
"Kamu mau packing sekarang?"tanyanya lembut memosisikan dirinya berdiri di samping kanan Royyan.
"Heuum ... iya sayang, kalau besok takut gak keburu,"sahut Royyan seraya mengambil beberapa jas yang sekiranya dia butuhkan selama di negara orang.
"Berapa hari kamu di Paris?"tanya Almira seraya menarik kedua tangannya ke belakang dan mengekori kemana pun Royyan beralih.
Seraya beralih dari area lemari jas, dia menggerakkan bibirnya untuk tersenyum dan memutar tubuhnya ke arah sang istri, dia letakkan beberapa jas dan kemeja yang sudah memenuhi kedua tangannya, kemudian dia tangkup kedua pipi sang istri dengan lembut, hidung lancipnya terjatuh di atas pipi kanan Almira.
"Gak tahu sayang, yang jelas aku ada beberapa pekerjaan di sana,"ucapnya yang kemudian menarik wajahnya ke belakang untuk berdiri tegak.
"Kerjaan apa aja?"tanyanya lagi, gadis itu masih penasaran apa saja yang di kerjakan suaminya di sana.
Kedua tangan kekar itu meleleh dari pipi Almira dan menggantung di pinggang istrinya itu, "aku harus meeting dengan perusahaan German untuk pembangunan museum nasional dan mereka meminta bertemu di Paris dan sekalian aku juga menghadiri acara penghargaan fashion di sana, kamu juga kan nanti ke sana, jadi kita bisa ketemu di sana,"jelas Royyan.
Almira mengangguk dengan kedua tangannya yang menongkrong di atas tangan kekar sang suami, "aku di sana cuman tiga hari, setelahnya aku harus cepet pulang ke Indonesia lagi,"jawab Almira.
Satu tangannya beralih mengapit dagu Almira dan menarik wajah cantik itu untuk mengarah padanya, "aku akan luangkan waktu untuk jalan-jalan sama kamu di sana, oke sayang ...."tawar Royyan.
Wanita bermata kucing itu memejamkan matanya seraya dia menyengguk, lantas dia menenggelamkan tubuhnya ke dada Royyan, melekatkan dekapannya.
"Janji ya ... kalau kamu ingkar janji, aku bakalan pergi lagi,"ancam Almira menempelkan dahinya ke dada sang suami.
"Heuum ... kalau aku ingkar janji, kamu tarik aku aja dan kamu berhak mukul aku sekeras apapun, asal kamu jangan pergi, kalau kamu pergi aku akan berdiri di rel kereta dan menunggu kereta menghampiriku,"cetus panjang Royyan menjatuhkan kecupan hangat di pangkal kepala Almira.
Degh!
Tubuh gadis itu membeku, mungkin kata-kata itu hanya sebuah candaan, tetapi dalam benak Almira ada sebuah ketakutan yang mencekam jiwanya, angannya merangkai kisah jika sang suami tidak ada bersamanya, apakah hidupnya akan baik-baik saja? Jika hal itu terjadi sebelum pernikahan di mulai, mungkin saja Almira akan berkata, "it's ok", tapi jika hal itu terjadi hari ini, apakah Almira akan bertahan dalam selimut kabut yang hitam.
Selesai merangkai ketakutan itu, Almira dorong tubuh sang suami dengan kasar sampai membentur lemari kaca yang ada di belakang lelaki itu, wanita berambut ikal itu memasang wajahnya dengan kekesalan, bibir bawahnya menganjur tidak senang.
Sedangkan lelaki itu hanya menaikkan kedua alisnya ke atas, senyuman manis terangkai dengan indah di parasnya yang memiliki rahang tegas.
__ADS_1
NEXT ....