Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 126 : Gosip Hamil


__ADS_3

Alat tes kehamilan itu terbaring begitu saja, ia terabaikan tak berdaya. Lima meter dari nakas yang mendekap alat tersebut, Royyan terpekur memandangi layar pintarnya. Wajahnya menanamkan keseriusan yang membuat seluruh angin yang berada di sekitarnya ikut membisu, satu desiran pun tak mampu menggoyahkan pria berbadan tegap itu.


Deretan situs berita tengah membahasnya secara online, dahi Royyan mengerut lalu dia condongkan tubuhnya ke depan, mengurut dahi yang tengah berkerut itu secara perlahan, sedang bibirnya bergeming tak ada getaran apapun di sana.


Baru dugaan, udah seheboh ini.


Batin Royyan menyerukan sebuah siratan mengherankan, dia menggaruk kepalanya yang tak merasa gatal. Dia berusaha mencari cara untuk menenangkan media online itu sembari berpikir dari mana semua orang itu mengetahui kondisinya bersama sang istri kini.


"Dari mana mereka tahu,"serunya penuh pertanyaan.


'Istri dari pimpinan Rain corporation, Royyan D'caprio Alzaro sedang mengandung?! Bagaimana menurut kalian guys'


Begitulah kira-kira tagar yang menjadi trending dari semalam, hampir semua portal berita membahas atas kehamilan Almira, sementara sepasang suami-istri itu belum mengetahui apapun tentang hal itu.


'Gila! Baru dikabarkan menikah, udah hamil lagi aja.'


'Mereka sudah menikah dua tahun, ini berita besar.'


'Anak konglomerat akan segera lahir guys'


'Jadi beneran ya kapal Rala-Royyan sudah tidak bisa berlayar lagi, huhu ...'


'Selamat Pak Royyan dan nona Ra atas kehadiran buah hati'


'Dua tahun bukan waktu yang singkat, mereka pasti mengalami berbagai macam kesulitan, jadi selamat untuk kalian'


'Aku sangat bahagia, akhirnya Pak Royyan akan menjadi seorang ayah'


'Aku jadi sangat ingin tahu sosok nona Ra di real life itu seperti apa'


'Selamaat ... Aku sangat menantikan kehadiran buah hati dari pangeran dan permaisurinya ini, keduanya memiliki paras yang tampan dan cantik, aku yakin anaknya akan sangat indah'


'Aku harap ini hanya mimpi, aku sangat mendambakan kapal Rala-Royyan'


Gerombolan komentar dari ribuan bahkan jutaan netizen yang ikut meramaikan berita itu, satu persatu Royyan baca setiap komentar yang masuk disalah satu portal berita yang paling banyak dikunjungi oleh para netizen.


"Tidak berguna." Royyan mencibir deretan komentar yang mengutuk hubungannya dengan Almira.


Netranya mendelik kasar sambil dia lempar ponselnya dengan sembarang ke atas ranjang sampai benda pintar itu tenggelam di antara tumpukan bantal yang tertata rapi. Royyan naikkan satu kakinya menggantung di kakinya yang lain, dia membiarkan posisinya seperti itu sampai sang istri keluar dari kamar mandi.


Belum habis Royyan merekam setiap jejak pemikirannya yang keras, dering telepon berasal dari ponsel Almira segera menggema dan membuyarkan lamunannya. Lekas dia kayuh langkahnya menghampiri ponsel yang tergeletak di atas nakas.


Pria itu membaca nama 'Manda' melambung di permukaan layar ponsel itu, gegas dia mengangkat panggilan telepon itu. "Ami lagi di kamar mandi." Tanpa aba-aba pria kekar itu segera mengatakan hal itu tanpa menunggu Manda untuk menyerukan niatnya.


"Eh Royyan, lu udah lihat berita online, itu heboh banget lo,"seru Manda lirih.


"Iya."

__ADS_1


"Terus gimana itu, lu gak ada niatan untuk meluruskan atau apa gitu, kan belum bener juga Ra hamil, itu baru dugaan aja, dan lagian mereka tahu dari mana lagi."


"Gak usah, biarkan aja begitu, mereka akan diam dengan sendirinya."


"Oke kalau gitu."


"Euum."


Dengan cepat panggilan telepon terhenti.


Royyan kembali ke sofa dan terduduk lagi di sana, dia sandarkan tubuhnya pada sofa. Wajahnya tertadah ke atas dan tertidur di sana sembari melepaskan satu persatu kancing kemejanya.


Perlahan kemeja berwarna gelap itu dia lepaskan dari tubuhnya, Royyan lempar kemejanya dengan sembarangan ke lantai berkeramik putih itu. Sementara dirinya tetap bergeming di atas sofa dengan mata terpejam.


Menikmati angin yang berlari-lari kecil di dekat telinganya, ia bagaikan alunan musik bernada sendu yang membuat ketenangan melekat dalam tubuh pria bermata kecil itu ; Tangannya terbuka dengan lebar dan perut sixpack-nya tergelar dengan gagah.


Udara bergerak menyelinap masuk ke dalam kamar mandi yang tengah memeluk Almira. Gadis itu mematung di hadapan kaca yang berukuran besar sambil menggenggam alat tes kehamilan itu dengan erat. Kedua tangannya merasakan sebuah getaran tak percaya dengan apa yang sedang dia lihat.


"Beneran?"tanyanya pada diri sendiri dengan bola mata yang membulat hebat sambil masih menggenggam alat tes kehamilan itu.


Dua garis merah yang tebal menggurat di alat tersebut, tubuh gadis itu sedikit terlempar ke belakang dan akhirnya dia terjatuh lemah ke bawah. Dia tutupi mulutnya dengan satu tangannya yang menganggur.


"Kalau di film-film ini artinya ... Gue hamil?!"seru Almira lirih.


Dia telan ludahnya dengan kasar dan dahi yang berkerut dalam. Tubuhnya sengaja di seret ke belakang dan dia melempar alat tes kehamilan itu ke bawah. "AAaakhh ..." Tiba-tiba saja gadis itu melantingkan teriakannya.


"Ada apa?"tanya Royyan panik.


Kaki panjangnya bergerak mendekati istrinya yang terduduk di lantai kamar mandi dengan wajah yang tegang, tubuh berotot itu mencangkung di samping Almira sambil mengelus lembut punggung sang istri.


"Kak ..."seru Almira, tatapan mata kucing itu benar-benar membeku.


Gadis itu beralih terduduk di pangkuan sang suami sambil melingkari leher suaminya dengan kedua tangannya itu, wajah keduanya saling berdekatan bahkan jarak di antaranya hanya angin yang malu-malu mengendap-endap menyelinap masuk ke celah-celah sempit.


"Kenapa?"tanya Royyan sekali lagi.


Pria itu sama sekali tidak tertarik dengan pemandangan lain selain wajah istrinya, setiap lekukan di wajah Almira selalu berhasil mengunci tatapannya untuk bergeming di sana. Satu tangannya bergerak untuk terdiam di pinggang gadis mungil itu sembari dia melepaskan alisnya untuk terangkat ke atas.


"Kalau aku hamil gimana?"celetuknya mengerutkan dahinya dalam-dalam.


Royyan tersekat dengan pertanyaan istrinya barusan, lantas dia serukan tawanya hingga dia menjatuhkan bokongnya untuk duduk di sana dan Almira bisa terduduk di pangkuannya dengan nyaman.


"Kamu ini kenapa sih sayang." Royyan sentuh hidung istrinya dengan lembut.


Almira mengerjap sejenak. "Kenapa malah ketawa ih." Satu pukulan sedikit keras melayang ke dada bidang lelaki itu. "Aku serius, enggak becanda."


"Ya kamu kenapa bertanya hal begitu." Royyan tepuk jidatnya secara lembut sambil dia menggeleng. "Sekarang aku tanya, kenapa kamu bisa hamil?" Dagunya menaik lalu turun dengan segera.

__ADS_1


"Karena kamu lah, siapa lagi." Almira mencebik, tangan yang melingkari leher Royyan seketika meleleh, lalu dia lipat kedua tangannya di depan sambil memutar tubuhnya untuk memunggungi sang suami.


Senyuman miring menaik dari wajah dengan rahang tegas itu, tubuh lelaki itu menganjur ke depan dan memeluk tubuh Almira dengan lekat. Dagunya terjatuh di atas bahu sang istri.


"Jadi ... Aku ini siapa kamu,"ujarnya kemudian, wajahnya miring ke arah rahang Almira.


"Euum ... Su--ami ...."lontar Almira pelan dan tatapannya tetap bergeming pada posisi semula.


"Oke ... Lantas mengapa kamu takut dengan kehamilan kamu, aku yang melakukannya dan kita melakukan hal itu atas dasar suka sama suka dan sudah seharusnya demikian bukan?! Kita ini suami-istri dan memiliki anak sudah semestinya terjadi dalam hubungan berumah-tangga,"terang Royyan nyaris berbisik, embusan napas lembutnya menyelinap masuk ke dalam rongga telinga Almira.


"Euum ..." Almira bergumam.


Beberapa detik berlalu, Almira masih bergeming, mendengungkan rasa malu bertalun dengan nyaring. Gadis itu bukan tidak menginginkan anak yang sedang bersemayam di dalam perut rampingnya, melainkan wanita bermata kucing itu terlalu malu untuk mengakui jika dirinya akan menjadi seorang ibu, yang tak pernah dia bayangkan jika hari itu akan cepat menjumpainya.


Perlahan dia putar tubuhnya untuk mengarah pada suaminya dalam keadaan masih terduduk di pangkuan lelaki bertubuh kekar itu. "Apa aku bisa kak ..." Suara lirih gadis cantik itu terdengar ragu-ragu, "menjaga anak ini, aku takut menyakitinya,"sambung Almira sendu sembari mengelus perut yang masih tampak ramping.


"Kita melakukannya berdua, dan untuk menjaganya ..."sahut Royyan bergantian mengelus perut istrinya, "kita lakukan berdua, kamu tenang aja ... Yang penting kamu jaga diri kamu dan jangan ada hal apapun yang kamu sembunyikan dari aku, ngerti ...."lanjut Royyan.


Dagu gadis itu perlahan terangkat, mata kucingnya mematri tatapan sang suami dengan penuh keyakinan. Lantas dia mengangguk. Tak lama dari itu dia menghamburkan dirinya memeluk sang suami dengan lekat-lekat, menenggelamkan wajah merah mudanya di tengkuk Royyan.


"Saat itu bagaimana kamu selamat dari lelaki bermotor itu?" Tiba-tiba saja Royyan mempertanyakan hal itu.


Warna merah muda yang sempat menguasai permukaan paras cantik Almira seketika memudar. Pertanyaan inilah yang sangat ingin dihindari oleh Almira. Tatapannya kembali terkatung-katung.


Gimana ini?! Jawab jujur aja kali ya, tapi gue takut kak Royyan berantem lagi sama Dirta, pasti kak Royyan nyangka Dirta yang melakukan hal itu lagi, tapi kan belum tentu dia lagi kan, tapi kalau gak jujur gue gak bisa bohong juga sama kak Royyan.


Batin Almira kembali merangkai deretan ketakutan yang mungkin akan terjadi jika dia mengatakan hal itu dengan jujur, termasuk saat Dirta mengantarnya ke rumah. Namun, pintarnya gadis mungil itu, dia tidak benar-benar menunjukkan di mana lokasi rumahnya berada.


Gadis bermata kucing itu mengarahkan Dirta ke kediaman mertuanya dan tentunya Dirta sangat mengetahui letak rumah itu ada di mana. Almira berbicara pada Dirta tentang mengapa dia tinggal di rumah yang sama dengan mertuanya dan hal itu hanyalah sebagai alasan kuat agar Dirta mempercayai jika dirinya dan Royyan memang tinggal di sana.


"Lu tinggal di mana?! Gue udah lama gak bertukar kabar sama suami lu, jadi gue gak tahu apa-apa soal Royyan setelah kecelakaan El saat itu."


"Euum ... Di rumah mami sama papi, kita tinggal di rumah yang sama." Kata-kata itu keluar begitu saja karena pikiran Almira masih dikuasai penuturan Royyan tentang persembunyian rumahnya.


"Oh gitu, dari awal lu tinggal di sana?"


"Iya. Soalnya kan pernikahan kita awalnya emang tersembunyi."


"Ah iya, sorry ya gara-gara gue kalian jadi harus sembunyi-sembunyi gitu."


"Bukan masalah lagi kok, santai aja."


Beberapa percakapan antara Almira dan Dirta selama perjalanannya. Dirta menurunkan Almira tepat di depan pintu gerbang rumah besar yang dulu sangat sering dia kunjungi untuk bermain bersama. Tetapi kali ini berbeda, lelaki berambut wavy bergelombang itu hanya mengantarkan Almira sampai sana, lalu dia gegas melajukan mobilnya untu meninggalkan rumah besar itu.


Samar-samar kabut rekaman beberapa kejadian yang dia lalui dengan Dirta mengelebatkan lamunan begitu saja--- Royyan sangat menyadari istrinya tengah dalam alam bawah sadarnya, lekas dia melekatkan sebuah ci*m*n yang bertahan lebih dari lima detik, sekatika Almira mengerjap, kontan dia mengenyakkan kepalanya ke belakang dan menghancurkan ingatannya tentang Dirta.


"Jawab jujur, kalau kamu gak jujur aku akan mencari tahu sendiri dan akibatnya akan lebih buruk dari apa yang ada dalam bayangan kamu,"ancam Royyan dengan sorot matanya yang tajam.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2