Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 74 : Pertengkaran malapetaka 2.


__ADS_3

"Banyak bacot lu! Udah ikut aja kenapa sih ribet banget lu,"sergah Elshara tajam mengarik tangan dengan kuku-kuku panjang berwarna merah muda alami.


Segera Almira tarik kembali tangannya dengan kasar sehingga Elshara mendelik tajam, kekesalannya semakin memuncak menemui batas akhir dari sebuah rasa sabarnya. Tetapi jika diingat lagi kesabaran Elshara tak lebih dari pohon bunga mawar yang tertanam alami di pekarangan kamar inapnya, dengan cepat bola matanya membuntang dengan lukisan kerutan di bagian hidungnya.


"Lu siapa?! Berani merintah gue, kita sama-sama manusia, kenapa gue harus tunduk sama cewek manja yang hanya bisa bersembunyi dari kuasa orangtuanya,"cela Almira dengan tegas.


"Heh! Jangan kurang ajar lu ya, ikut gue sebelum gue lakukan lebih dari ini, gue bisa buat perusahaan keluarga lu hancur,"ancam Elshara dengan penuh keyakinan menunjuk Almira dengan kasar.


Senyuman Almira menyungging, memiring dengan sinis. Netranya mendelik kasar seraya menarik kedua tangannya mencangkung di pinggang rampingnya, lantas dia tajamkan sorot mata Elshara mematri mata pipih itu dengan gahar.


"Kalau berani, jangan pakai jasa nyokap bokap dong, karena kalau gue udah bertindak dengan bantuan orangtua gue, lu bakalan jadi abu yang akan terbang seperti sampah! Ah bukan."Almira mengakhiri perkataannya dengan gelengan kepala yang kuat, "atau bahkan lebih buruk dari sekedar sampah,"sambungnya.


"Aargh ...."Elshara memekik dengan suara melengkingnya seraya mengacak-acak rambutnya yang telah tertata rapi.


"Berisik gila!"sela Almira tegas, "lu itu seorang top model, jaga sopan santun lu. Diajarkan tatakrama kan sama keluarga lu atau sama bos kesayangan lu itu, jangan menunjukkan betapa rendah diri lu di hadapan semua orang."


"Bacot lu sialan!"hardik Elshara lagi dengan deru napas yang berapi-api.


Almira mengirimkan sebuah signal pada Manda untuk memintanya menunggu di sana, sedangkan dirinya sendiri menarik Elshara menjauh dari jangkauan mata semua orang yang sangat ingin tahu apa yang terjadi dengan kedua gadis yang memiliki nama besar itu.


Manda berkerut khawatir. Dia tidak akan membiarkan sahabatnya itu berhadapan dengan iblis berdarah dingin, terlebih Elshara sangat pandai memanipulasi sebuah keadaan dan menempatkan dirinya di sebuah kursi yang aman, dan semua orang akan membebaskannya dengan mudah. Wanita berdarah kotor itu akan melakukan apapun untuk semua keinginannya.


Almira membawa Elshara ke dermaga terdekat dengan lokasi minimarket itu berasal, dia menjatuhkan tangan Elshara di dekat lautan yang terbentang luas di hadapan dermaga, laut biru yang tengah disorot sinar matahari menaikkan uap-uap yang tertimbun di dasar lautan, gadis bermata kucing itu berdiri dengan tegak tanpa merasa takut ataupun gentar menghadapi wanita dengan kepala keras di depannya.


"Mau ngomong apaan, cepet. Waktu gue gak banyak,"tanya Almira tegas.


Elshara mendengkus kasar sembari melipat kedua tangannya di depan dada, "lu bener sepupunya Royyan?"celetuk Elshara dan berhasil membuat bola mata Almira menatap dengan getir, netranya berputar-putar tak karuan.


Sebenarnya dia sudah menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulut tipis dengan pewarna bibir merah merona itu, hanya saja dia tetap terkejut dan membuat debar jantungnya berdetak dengan sangat cepat, lidahnya sempat merasa kelu beberapa detik.


"Ya iya. Portal berita segede begitu, lu masih mempertanyakannya. Ngapain sih? Emangnya lu punya hak?"jawab Almira.


"Gue heran aja, masa sepupuan perhatiannya melebihi orang pacaran, kalian itu kayak suami istri tahu."


Degh!


Sialan! Kenapa dia bisa menyangka kesana sih, kan kak Royyan cuman ngasih makanan doang ke gue, dan lagian Manda juga di kasih, parah nih pikirannya kuat juga.


Batin Almira berceloteh, ludahnya dia telan dengan kasar sehingga tenggorokannya merasakan kering, lantas dia mengepal tangannya kuat untuk meredam rasa ketakutannya.


"Bagian mana yang lu sebut kedekatan kita bagaikan suami-istri,"kilah Almira berusaha untuk memalingkan kecurigaan Elshara.


Wajah Elshara miring, menatapi Almira dengan sorot mata yang lebih tajam. "Banyak. Salah satunya malam tadi, saat Royyan mengantar lu ke kamar dan Royyan keluar dari kamar lu cukup lama. Ngapain coba?"


Almira memicing malas, "lu jadi penguntit?"dahinya berkerut. "Sampai hal itu aja lu tahu dengan detail."


"Hello!"gertak Elshara. "Jawab pertanyaan gue, lu gak usah mengelak mulu."Elshara mendorong tubuh Almira sampai melanggar pembatas dermaga yang terbuat dari kayu berwarna putih.


"Apaan sih lu!"tepis Almira melempar kedua tangan Elshara dari tubuhnya, lantas dia pun mendorong Elshara dengan kasar sehingga gadis itu pun mendapatkan benturan yang sama seperti yang di rasakan oleh Almira.


"Aw ...."Elshara meringis sambil dia berpegangan dengan pembatas dermaga itu, kemudian dia mendongak dengan kasar.


Raganya ditarik oleh pawana yang melintasinya dengan panas, begitupun dengan Almira yang juga membawa dirinya berdiri dengan kokoh. Kedua bola mata gadis itu saling menajam dengan sorot mata yang memanah amarah satu sama lain.

__ADS_1


"Gue mau sepupunya ataupun bukan, itu bukan urusan lu!"tunjuk Almira pada Elshara, "lu harus inget, kalau lu itu cuman sahabatnya dan gak berhak untuk mengetahui urusan pribadi dari kak Royyan. Semua orang tahu kalau gue ini sepupunya, kenapa lu masih mempertanyakan hal bodoh kayak gini sih,"sambung Almira, bibirnya mulai bergetar.


"Jawab jujur!"Elshara mencengkeram kerah baju piyama Almira dengan bola mata yang menatap dengan bengis, "si-a-pa e-lu sebenarnya?"tegas Elshara masih enggan mempercayai apapun yang di katakan oleh Almira.


"Lu beneran udah gila."Almira menggeleng tak habis pikir, entah apa yang ada dalam pikiran wanita menyedihkan di hadapannya ini.


Dia terus menyiksa dirinya dengan sebuah harapan yang tak akan pernah menghampirinya. Almira tepis tangan Elshara darinya, menjauhkan tubuh gadis yang tengah rapuh itu darinya.


"Jawabannya akan tetap sama, gue sepupunya kak Royyan. Kalau lu mempertanyakan tentang perhatian kak Royyan, silakan lu tanyakan langsung sama kak Royyan,"tukas Almira yang kemudian melipir untuk meninggalkan Elshara.


"Tunggu!"teriak Elshara, "gue gak percaya."


Almira berputar mengarah pada Elshara yang berada di ujung dermaga, "ya itu urusan elu, mau percaya ataupun enggak, itu bukan urusan gue."


Wanita berwajah lembut itu mendekati Elshara yang sudah berada di tanjung dermaga, mungkin jika angin berhembus kuat, dia akan dengan mudah terseret dan karam ke dalam lautan yang memiliki kedalaman 1.000 meter dari permukaan.


"Kak Royyan udah punya istri, lebih baik lu berhenti mengejarnya. Kalau kak Royyan emang mau sama lu, udah dari dulu dia ngejar elu,"papar Almira.


Gadis bermata pipih itu malah merakit tawanya bersamaan dengan sorot matahari yang semakin menajam, dia berkacak pinggang dengan angkuhnya. Dia berpikir jika semua hal ini terjadi karena ulah Dirta, menurutnya jika Dirta tidak mencintainya mungkin saja Royyan sudah menjadi miliknya.


Bahkan dia menyalahkan dirinya karena dulu dia terlalu bodoh, bersikap lembut seperti si culun, dan menjadi baik adalah kesalahannya sehingga dia tidak bisa memiliki Royyan di hari ini. Untaian penyesalan itu terus bergemuruh di dalam dadanya, seharusnya dia lebih ganas mendekati Royyan dan menepis segala sikap lembut dan penuh kepeduliannya pada semua orang yang pernah dia miliki di masa lalu.


"Royyan itu dulu sangat mencintai gue, hanya karena Dirta, dia jadi menjauh dari gue. Lu gak usah sok tahu,"ucapnya penuh kepercayaan diri.


Wah parah nih cewek, bukan gila lagi sih ini kayaknya layarnya udah pecah nih. Bisa se-yakin itu dia kalau suami gue mencintainya, bahaya nih pelakor ini.


"Gue sepupunya, jadi gue tahu. Lu gak akan pernah mendapatkan kak Royyan, karena dia sudah menikah."


Tawa Elshara kembali bergaung. "Menikah? Selama gue bisa membuat Royyan mencintai gue, istrinya bukan apa-apa,"ujarnya sedikit berbisik.


Almira mencibir Elshara dalam batinnya. Kemudian, tangannya mengepal dengan aura yang berkobar-kobar, tak ada lagi yang tertanam dalam diri Almira selain kemarahan yang tak bisa dia luapkan karena posisinya tak boleh terbaca oleh siapapun.


"Kita lihat, siapa yang akan menjadi prioritas Royyan,"celetuknya dengan tatapan melesat jauh ke belakang Almira.


"Hah?!"seru Almira bingung.


Lantas dia menoleh ke belakangnya, dan dia melihat Royyan dan Ajun bersama Manda tengah mendekatinya, tetapi tiba-tiba tubuhnya tertarik oleh Elshara yang sengaja menjatuhkan dirinya terjun ke dalam lautan yang luas itu, bola matanya membuntang seraya dia menoleh lagi pada Elshara.


"Aaaakhh ...."Almira memeking sekencang mungkin.


Berbeda dengan Elshara yang nampak membingkai wajahnya dengan senyuman. Kedua gadis itu membentur lautan yang tengah tertidur tenang dan para ombak yang biasanya bergerak dahsyat tengah tertidur di bagian benua lain, air laut yang biru itu pecah berhamburan ke udara akibat kedua gadis itu dan tenggelam ke dalamnya.


Tubuh keduanya terbalut air lautan yang terasa asin dan hangat, beberapa detik keduanya sama-sama tidak kembali ke permukaan, baik Almira maupun Elshara terus masuk ke dalam air laut itu, keduanya karam dalam keterkejutannya.


"Ra ...."


"Ami ...."


"Ra ... El ...."


Pekikan nama kedua gadis itu menggema memecahkan terik matahari yang tengah ganasnya, Ajun, Royyan dan Almira berlari ke ujung dermaga, menyubuk pada air yang kembali tenang setelah ia menelan kedua gadis cantik itu.


"Ra ...."pekik Manda berlutut di hadapan laut, dia meringis. Air matanya tak bisa dia tahan.

__ADS_1


Walau dia mengetahui betapa hebat sahabatnya itu berenang dan menaklukkan ombak lautan, tetapi gadis berambut sebahu itu tetap bergetar ketakutan, terlebih jika mengingat kedalaman laut itu sangatlah tajam. Punggungnya bergetar melesatkan tatapannya menusuk lautan biru yang terbentang dengan tenang.


"Ra ..."Manda kembali memanggil nama sahabatnya.


"Ra ... tolong cepet muncul Ra, lu mahir berenang Ra, jangan buat gue khawatir, Ra ...."rengek Manda, tubuhnya terjatuh lemah.


Sedangkan Royyan mematung bagaikan patung batu yang tak bernyawa, dia terpegun sejenak. Lantas dia segera melepaskan jas dan dasinya, serta sepatu dan kaos kaki yang dia pakai. Tanpa menunggu apapun lagi, dia segera melompat ke dalam laut itu. Membuat Ajun yang berada di belakang berlari ke ujung dermaga.


"Yan ....!"pekik Ajun dengan bola mata yang melebar dan mulut yang terbuka, "lautnya dalam Yan, lu jangan gila."Ajun menyugar wajahnya frustasi sambil dia berputar kasar dengan debur napas yang membara.


Manda yang masih menangis segera menoleh pada Ajun, lantas dia kembali memutar tatapan penuh derainya ke lautan yang kembali tenang, "gue harus selamatin Ra,"tekadnya tanpa memikirkan apa yang dia miliki.


Gadis bertubuh ramping itu mencuar dengan langkah gontainya berhadapan langsung dengan tanjung dermaga itu, tubuhnya bergetar ketakutan, tetapi tekadnya benar-benar kuat. Dia telah mengenal Almira dari sejak dia masih berpenampilan lusuh, sampai dia bisa menggapai cita-citanya menjadi seorang model, dan itu semua dia dapatkan atas bantuan keluarga Almira, jika tidak, mungkin saja dia hanya akan menjadi seorang gadis yang bekerja di pabrik-pabrik yang dipimpin oleh orang luar.


Dia tidak akan membiarkan marabahaya mendekati Almira, dia mengepalkan tangannya seraya dia mengingat semua pelajaran yang dia dapat dari Almira tentang bagaimana menaklukan air agar dia bisa berjalan di atas air.


"Lu jangan gila!"bentak Ajun menarik Manda menjauh dari tanjung lautan, dia menggenggam kedua tangan Manda.


Manda terjatuh ke bawah dengan lemah dan dia menangis sejadi-jadinya di depan Ajun, lantas pria berambut french crop itu ikut menurunkan lututnya dan mencangkung di hadapan Manda, tak lama dia memeluk tubuh Manda yang tengah rapuh. Raganya benar-benar runtuh, layuh bagaikan secarik tisu bertemu dengan air di lautan yang luas, melebur menjadi serpihan tercabik-cabik.


"Ra ... gue harus selamatin Ra,"rengeknya di pundak Ajun.


Pria itu mengelus punggung Manda dengan lembut, "lu bilang Ra mahir berenang kan? Jangan khawatir, Royyan udah terjun dan Ra pasti selamat. Kalau lu ikut terjun yang ada lu yang akan celaka.


"Laut itu dalam ...."


Air mata dari bola mata Manda berhamburan, mereka berlomba-lomba untuk membasahi pipinya hingga kuyup, berapa kali pun dia menyekanya, butiran kristal itu akan terus berhamburan sampai dadanya sesak dan netranya lelah.


Detik itu juga Van tiba di dekat Ajun yang masih memeluk Manda, pria bermata downturned itu menoleh, hatinya merasa lega Van datang di waktu yang tepat, lekas dia lepaskan pelukannya dan Manda tetap terduduk dalam keadaan rapuh memandangi lautan yang menelan sahabat tersayangnya. Sedangkan Ajun segera mendekati Van yang termangu kebingungan, dia melangkah gontai mendekati Manda.


Ajun menahan Van sejenak, "tolong tenangkan Manda, gue harus mencari bantuan,"ujarnya memohon pada pria yang tak pernah dia kenali sebelumnya.


"Ada apa ini sebenarnya, kenapa Manda sampai menangis kayak gitu?"tanya Van dengan wajah yang berkerut ganar.


"Intinya Ra sama Elshara terjatuh ke lautan, dan Royyan lagi berusaha untuk mencari keduanya, udah lah gue harus segera mencari bantuan,"terang Ajun singkat, dan dia segera berbebar kesana-kemari mencari seseorang yang sekiranya bisa membantu kesulitannya.


Langkah Ajun sangat terburu-buru dengan wajah yang karut, netranya menyebar ke setiap penjuru pantai itu, ada sebuah gejolak debar jantung yang berjempalitan, beberapa kemungkinan terangkai di benaknya, dia takut jika Royyan kehabisan tenaga untuk menemukan kedua wanita itu.


Setangguh apapun Royyan, dia hanyalah manusia biasa yang bisa merasakan lelah jua, terlebih laut itu sangatlah dalam dan dia tidak mudah untuk menemukan seseorang dengan kedalaman laut yang cukup terjal itu.


"Halo, Dirta."


Tak ada pilihan lain selain meminta bantuan Dirta yang memiliki banyak koneksi, dengan suara paniknya Ajun tergopoh gopoh mencari beberapa orang yang ada di sekitar laut untuk di pintai bantuannya, tetapi akhirnya dia malah menelepon Dirta, tangannya bergerak sendirian melakukan panggilan telepon tersebut.


"Ada apa Jun?"jawab Dirta dari balik ponsel.


"Carikan timsar sekarang juga, gue gak tahu nyari timsar kemana,"pungkas Ajun, suara paniknya terdengar sangat jelas di telinga Dirta.


"Lu minta bantuan dulu sama penjaga pantai, gue akan carikan sekarang juga."


Dirta tak mempertanyakan lagi, untuk apa Ajun memintanya mencari timsar, suara paniknya sudah sangat menjelaskan jika sesuatu hal yang sangat berbahaya tengah terjadi. Dirta yang berada di dalam dapur dan masih mengenakan seragam chef-nya segera berlari keluar dari restoran seraya dia menelepon seseorang yang dia kenali.


"Tolong kirimkan beberapa anggota ke laut deket resort Rain Diamond beach,"pinta Dirta seraya dia masuk ke dalam mobil pribadinya yang berada di parkiran restoran.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2