
Kernyitan di dahinya melekuk dengan dalam, netranya menerobos masuk ke dalam cahaya yang berkeliaran di sekitar bola mata kucing itu, dia mencoba mengalirkan cinta yang dia punya untuk wanita di hadapannya, tangan kekarnya membuai wajah Almira dengan lembut.
Gadis itu menatapi Royyan dengan kemarahan, hanya saja tangannya membisu terjuntai di bawah, ia berayun-ayun karena angin di sana sangat kuat. Sekali lagi Royyan mengairi sorot matanya dengan penuh cinta, kemudian dia menghamburkan dirinya memeluk sang istri dengan penuh sampai dia sesak.
"Siapa yang kamu bicarakan?"lirih Royyan, dekapannya pada sang istri menguat dan tatapannya terjatuh pada jalan yang beraspal, "cinta bagiku hanya kamu, kenapa kamu bilang seperti itu, maafkan aku sayang,"sambungnya sendu.
Hati gadis itu terasa tercengkeram oleh kerinduan yang sama dengan apa yang di rasakan lelaki yang tengah memeluknya dengan erat, satu tangan Royyan menjalari punggung sang istri dengan lembut, lebar telapak tangannya membuat gadis itu hangat, tetapi dia tak membalas pelukan Royyan.
"Laut itu berbahaya, dan kamu memilih untuk menyelamatkannya bukan aku, bukankah itu sudah membuktikan jika itu adalah cinta,"papar Almira dengan wajah datarnya, dia tidak memiliki gairah untuk meninggikan suaranya lagi ataupun enyah dari dekapan pria itu.
Jiwa Royyan mencelos, merosot sampai mulutnya kelu, tetapi tidak dengan dekapannya yang semakin lama menjadi lebih kokoh, dia tenggelam pada rambut coklat keemasan itu, tetesan kekesalannya pada dirinya sendiri terus membasahi jiwanya hingga lebur.
Almira dorong tubuh sang suami hingga melepaskan dekapannya, "mending kamu jujur aja sama diri kamu sendiri, siapa yang kamu cintai,"tuturnya kemudian, lalu dia melengos dari hadapan Royyan yang masih membeku membingkai wajahnya dengan deru amarah.
"Aku pikir,"ucap Royyan dan berhasil menghentikan langkah Almira yang kembali menoleh pada Royyan, lantas Royyan melangkah mendekati sang istri, "dia masih trauma laut, dan aku tahu kamu mahir dalam menaklukan air, dan itulah mengapa aku menolongnya. Itu hanya sebagai kemanusiaan, bukan cinta,"sambung Royyan dengan tegas.
"Itu cinta. Kamu lebih mengkhawatirkan dia di banding aku, jadi untuk apa kamu bersi-keras untuk membuktikan jika itu bukan cinta, itu sudah jelas cinta, itulah kenapa aku pergi, aku ingin memberikan kamu ruang berpikir tentang siapa nyonya sesungguhnya di rumah yang kamu bangun,"balas Almira tak kalah panjang dengan penuturan Royyan.
"Jadi sekarang kamu mau kita seperti apa?"
"Terserah, jika memang mau selesai sekarang juga silakan, aku tidak keberatan,"pungkasnya seraya menggelengkan kepalanya sendu, tetapi jauh di dalam lumbung batinnya dia merasakan pedih yang amat dahsyat.
"Oke. Aku akan selesaikan sekarang juga,"tegas Royyan menatapi sang istri dengan dalam.
"Silakan!"nada suara Almira melanting.
Royyan mengembuskan napasnya kasar. Kata selesaikan bagi Royyan adalah mengawali semuanya dari awal bersama orang yang sama, sedangkan dalam benak Almira adalah sebuah perpisahan di antara mereka, itulah mengapa embun-embun kembali memenuhi netranya.
"Aku akan mengurus segalanya, kamu terima beres aja,"celetuk Almira, kakinya berputar meninggalkan bola mata kecil di sana.
Aku akan selesaikan masalahku dengan Elshara, kita akan segera di kenal sebagai sepasang suami-istri, bukan lagi saudara sepupu.
Pria berkaki panjang itu melangkah, melahap langkahnya dengan suapan besar, dia menyusul langkah kecil sang istri yang sudah berjalan sedari tadi sudah mengunyah langkahnya dengan air mata yang berderai setitik demi titik.
Royyan menahan tangan Almira dan memutarnya sampai mengarah padanya yang berada di arah jarum jam sembilan, tapi tiba-tiba Royyan berlutut di hadapan sang istri, sehingga Almira terhenyak beberapa langkah dengan satu tangannya yang masih terkunci jeratan tangan Royyan.
"Kamu tahu kalau aku sulit untuk mengatakan perasaanku sendiri, tapi aku sangat mencintai kamu, dan hal itu tidak pernah berubah dari sejak aku bertemu dengan mu saat di alun-alun,"lirih Royyan, punggungnya meringkuk layuh. "Kamu mau aku seperti apa, aku mohon maafkan aku."Royyan memohon dengan sepenuh jiwanya rapuh.
Wajah dengan rahang tegas itu terdongak, memasati wajah sang istri yang ada di atasnya dan mata Almira terjatuh pada lautan iba yang melihat netra rasa bersalah Royyan berhamburan menghantam pertahanan Almira.
Lantas gadis bermata kucing itu menyebarkan pandangannya pada arah lain, paniknya bukan main takut ada orang yang menyadari perlakuan Royyan padanya, "kak Royyan apa-apaan sih, cepetan berdiri,"ucapnya seraya dia celingukan memastikan keadaan sekitar aman dari ribuan mata yang haus menggosipkannya dengan sang suami.
Royyan berdiri, kemudian dia menangkup pipi Almira yang tidak bisa diam, lalu dia bawa ke hadapannya, gadis itu mematung. Wajah yang tadi berapi-api kembali melembut, lantas Royyan dekatkan wajahnya dengan hidung lancip sang istri sehingga keduanya saling menempel.
"Aku sangat mencintai kamu sayang,"lirihnya seraya dia menempelkan dahinya dengan dahi sang istri dan matanya ikut terpejam. "Hal itu tidak akan pernah berubah, apa yang telah aku yakini itu semua adalah kebenaran,"sambungnya sambil menurunkan dahinya sampai dia berhenti di tulang hidung sang istri.
Tangan yang menggantung tadi segera mendapatkan kekuatan, ia beralih ke pinggang Royyan dan menempel di sana, Almira dongakkan sedikit wajahnya karena tekanan tangan Royyan mulai merendah.
__ADS_1
"Kamu pasti sangat mencintainya, karena kamu berani terjun ke laut demi menyelamatkannya,"lontar Almira masih belum mau mempercayai perkataan sang suami.
Membuat Royyan menghela napasnya panjang dan juga kasar, kemudian dia lepaskan tangannya dari pipi sang istri dan memalingkan tubuhnya ke belakang, dia berkacak pinggang dengan wajah tertadah pada langit melepaskan deru kekesalannya terbang menemui awan-awan yang tertidur dalam pangkuan cakrawala.
"Jangan membohongi diri kamu kak, jujur aja siapa yang kamu cintai, dan itu bukan aku kan?"cetus Almira masih bersi-kukuh dengan apa yang dia yakini.
Pria dengan punggung lebar itu membalik tubuhnya dengan tatapan tajam yang selalu bersemayam menjadi lukisan wajahnya yang khas, seraya berkacak pinggang dia melangkah mendekati Almira yang terus melangkah mundur dengan debar jantung yang kuat.
"Kamu tahu kenapa aku terjun ke laut untuk siapa? Kamu tahu, nama siapa yang aku serukan saat kalian terjun ke laut? Kamu tahu ...."terang Royyan dengan tekanan suara yang memberat.
Almira terdiam, dia tak bisa menahan air matanya jika dia berbicara, gadis itu memutuskan untuk tetap diam dan menahan sesak di tenggorokkannya agar desakan sesak tidak mendorong air mata untuk menghujani pipinya, langkahnya pun ikut terjerat sehingga bergeming.
"Aku terjun ke laut untuk menyelamatkan kamu, kamu Almira Miara Tisya! Istri aku!"tunjuknya pada diri sendiri, "aku menyerukan nama kamu dan aku tidak sempat untuk menyerukan nama El karena yang ada dalam pikiran aku cuman kamu,"tambahnya dengan tegas.
"Terus, kenapa dia yang kamu selamatkan, bukan aku, kamu bohong!"sanggah Almira dengan suaranya yang sedikit bergetar.
"El itu trauma laut, itu yang ada dalam pikiran aku dan aku harus menyelematkannya, aku mengkhawatirkan hal itu,"jawab Royyan tegas.
"Lalu bagaimana dengan aku, kamu pikir saat itu aku kuat? Enggak kak! Badan aku lemes hampir tenggelam, dan beruntungnya Ajun datang dan menyelamatkan aku, itulah kenapa aku masih hidup hari ini, kalau tidak aku udah MATI!"butiran kristal berhamburan berlomba-lomba untuk membasahi pipi gadis yang tengah tercabik-cabik.
Mendengar penuturan Almira, Royyan tersingahak. Bola matanya menegang, rasa bersalahnya semakin menjadi kabut hitam yang amat tebal di sekujur tubuhnya, aliran napasnya tersekat. Lalu dia melangkah untuk mendekati Almira, tetapi gadis itu melangkah mundur.
"Sayang ...."seru Royyan lirih dengan dahi yang berkerut.
"Gak usah manggil itu, kamu gak pernah sayang sama aku, jadi kata itu gak pantas terlontar dari mulut kamu,"tukas Almira yang masih terisak.
"Iya! Kamu bodoh tidak tahu apa yang kamu rasakan, sekarang kamu pergi! Cari dia, jangan libatkan aku dengan percintaan kalian."
Wajah yang merunduk tadi segera terdongak, "Aku tidak pernah mencintainya, harus berapa kali aku ngomong sama kamu, kalau aku tidak pernah mencintainya, kenapa kamu selalu menyangka seperti itu,"tepis Royyan mengambil langkah besar dan berhasil mengarik salah satu pergelangan tangan Almira, dia kunci pergelangan tangan itu dengan kuat.
"Buktinya kamu selalu mengkhawatirkannya, bahkan saat aku hampir mati pun, kamu masih khawatir padanya."kernyitan di dahi Almira semakin melekuk dengan dalam, "isakannya semakin kuat.
"Aku gak tahu ... kalau aku tahu aku gak akan mengkhawatirkannya."
"Karena kamu gak peduli sama aku."
"Sayang!"pekik Royyan menarik tangan Almira sehingga berlabuh ke dekatnya.
"APA! Itu kenyataannya, udahlah aku gak tahu mau ngomong apa lagi sama kamu,"balas Almira dengan pekikan yang lebih lantang, lalu gadis mungil itu menarik tangannya dari jeratan Royyan, setelahnya dia berlari keluar dari sirkuit.
Lelah menyeruak hebat membantai jiwa Royyan, dia terdongak penat pada hadapan langit yang bersenandung dengan para angin yang melintas, lalu dia lemparkan pandangannya pada Almira yang sudah sampai ke pintu yang sedari tadi di jaga oleh penjaga.
Apakah Royyan berdiam di sana? Tidak! Pria kekar itu segera mengayuh langkahnya, membuat Ajun yang terduduk tenang tadi lekas melambungkan tubuhnya menatapi sepasang suami-istri yang sedang di landa badai kehancuran.
"Kenapa tuh mereka? Apa Royyan berhasil meyakinkan Ra, atau malah membuat Ra makin kacau,"seru Ajun di tempat yang sama.
Di luar ruang VVIP, tepatnya di lobi Royyan mengejar Almira sampai berhasil memenjara pergelangan tangan gadis itu lagi, membuat Almira membuntang hebat melesatkan tatapan tajamnya pada rahang tegas sang suami yang ada di dekatnya, sedangkan Royyan dengan bisunya menarik tangan Almira menyeret langkah bersama.
__ADS_1
"Kak ... Kak Royyan lepasin! Jangan kayak gini, kamu lupa kalau kita ini sepupuan, gak ada sepupu yang pegangan tangan kayak gini,"protes Almira berusaha menarik tangannya dari dekapan tangan lebar itu.
Namun, Royyan tidak menggubris gertakkan dari istrinya, dia tetap melangkah dengan tegas menarik Almira keluar dari sirkuit itu, membuat jantung Almira menggebu-gebu ketakutan. Bola matanya menyebar, menebarkan rasa panik melekat dengan dirinya.
"Kak Royyan! Lepasin! Kamu gila ya."Almira pukuli tangan kekar sang suami yang menerkam pergelangan tangan kanannya, pukulan itu terus bersuara berulangkali tanpa mengenal lelah.
"Kamu yang udah buat aku menggila,"celetuknya dengan tatapan lurus ke depan, dan dia sama sekali tidak menghentikan langkahnya.
"Lah kok aku, kamu yang memulai pertengkaran ini. Kenapa jadi aku yang salah,"protes Almira lagi tak terima dirinya di salahkan.
"Ikut aku dan jangan membantah,"tegasnya.
Semua orang yang berada di dalam sirkuit itu melihat kejanggalan itu dengan jelas, bola mata mereka melebar, termasuk Elshara yang ternyata masih ada di sana menunggu Royyan, lekas gadis yang terduduk di salah satu kursi yang ada di lobi berlari mengayuh langkahnya mendekati Royyan.
"Royyan ... kamu kenapa?"tanyanya sendu dengan iringan deru kemarahan menangkup jiwanya, lalu dia lemparkan pandangannya pada Almira yang tengah berusaha menarik tangannya dari jeratan Royyan, "kenapa Ra di tarik-tarik begitu,"tambahnya seraya menggerakkan tangannya untuk memisahkan tangan Almira dari Royyan.
Gegas Royyan tarik tangannya ke belakang bersamaan dengan Almira yang ikut terseret ke belakang, "aah ..."Almira meringis karena usahanya yang hampir berhasil melepaskan diri menjadi gagal karena cengkeraman lelaki itu kembali menguat.
"Jangan ikut campur. Ini urusan gua,"decak Royyan menghujamkan tatapan pada Elshara.
"Tapi kan Yan ...."
"Gua bilang gak usah ikut campur, kita jadi gini juga karena elu. Jadi tolong sadar diri!"gertak Royyan yang kemudian dia melenggang pergi dari hadapan Elshara.
Retakkan di hati Elshara kembali ternganga, perih hatinya bagaikan luka sayatan benda tumpul yang berulang kali menghantamnya, kerutan di dahinya bukan lagi menguat tetapi luntur dan menyisakan benih air mata yang sudah tertanam bersama embun yang menguap di bola mata pipihnya.
Sementara langkah Royyan sudah menyeret Almira ke pekarangan area sirkuit itu. Tubuh Elshara melebur bersama rasa sakit yang menikamnya tanpa henti, tak ada luka yang bisa terlihat di bagian tubuhnya, tetapi rasa sakit itu tak bisa di artikan atau di terjemahkan dengan bait-bait pedih. Butiran kristal runtuh di sana bersamaan dengan raga Elshara yang terjatuh melanggar lantai berkeramik putih di sana, dia masih menatapi Royyan yang memaksa Almira untuk masuk ke dalam mobilnya.
Apa gue salah Yan, jika gue punya cinta itu. Apa Ra sepenting itu sampai elu ngomong kasar sama gue, Ra siapa elu sih sebenarnya, dia sepupu lu kan, kenapa dia lebih penting dari apapun.
Lirih Elshara menerjunkan butiran kristal hingga pipinya kuyup dan dia terisak hingga sedunya bergetar.
Saat itu Ajun tiba dan segera menghampiri Elshara yang terduduk lusuh, "lu kenapa duduk di sini, malu tuh di liatin banyak orang, baju udah mewah malah duduk sembarangan lu,"cakap Ajun yang tidak menahu bagaimana retakkan di hati Elshara semakin membesar.
Dengan layu Elshara menoleh, lalu dia memukul lelaki di sampingnya seraya dia terus menangis. "Lu jahat Ajun! Bukannya nenangin gue, malah bully gue lo,"lirihnya.
"Dih ngapa jadi gua, lu emangnya kenapa lagi nangis begitu, jelek tahu."
"Ajun!"pekik Elshara seketika tangisannya terhenti membuat Ajun terpejam seraya menutupi kedua telinganya, lantas gadis itu berdiri seraya merapikan penampilannya.
Ajun yang tadi berlutut di bawah pun segera mengikuti pergerakkan Elshara, dia memasati wajah Elshara yang membengkak karena wajahnya telah menyerap banyak rintik dari bola matanya.
Elshara menoleh pada Ajun, "jawab jujur,"ucapnya dengan sisa sedu tangisannya, "Ra siapanya Royyan? Kenapa Royyan sebegitu-nya sama Ra,"tanya Elshara serius.
Mampus! Si Royyan pake narik Ra kayak gitu sih, kan jadi gue yang jadi batu sasarannya.
Netra Ajun berhamburan ke sekitarnya, mencari celah untuk kabur dari pertanyaan Elshara. Otaknya sedang tak bisa di ajak untuk bepikir kebohongan apalagi yang harus dia lontarkan pada gadis itu.
__ADS_1
NEXT ....