Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 141 : Dirta sekarat.


__ADS_3

Sementara Almira dan Manda telah tiba di tempat yang mereka tuju, sebuah danau bening yang terjaga dengan baik, dengan hiasan beberapa bunga-bunga yang dibiarkan tumbuh dengan sengaja di setiap pesisir danau yang berukuran cukup besar itu.


Kedua gadis cantik itu berguling ke tengah untuk memosisikan dirinya searah dengan sorot matahari yang tengah memancarkan sinarnya. Almira melipat kedua tangannya di depan, memerosotkan tatapannya pada danau yang ada di hadapannya.


"Gue bisa hamil lagi gak ya Man, gue takut gue akan membunuh anak gue lagi seperti kemarin,"ucap Almira lirih.


Manda menoleh lemah pada sahabatnya itu. "Lu ngomong apa sih Ra, lu gak bunuh anak lu, yang bunuh itu seseorang yang ada di balik semua ini, lu tahu kan kalau kecelakaan itu bukan murni kecelakaan biasa, tetapi ada seseorang yang merencanakannya,"bantah Manda menghadap pada Almira.


Almira terdiam, pikirannya mendadak kosong, tak ada jawaban yang bisa dia lontarkan pada sahabatnya itu, pandangannya terlempar jauh ke ujung danau itu, jauh di sana ada seseorang yang sangat dikenalinya, siluet suaminya terekam jelas di netranya, tetapi gadis itu mengabaikannya karena sebelum ini dia mengetahui jika sang suami ada di kantornya tengah bekerja.


Kak Royyan kan di kantor, ngapain ada di sini?


Ah mungkin itu perasaan gue aja, mungkin gue terlalu kangen sama kak Royyan.


Almira menggelengkan kepalanya untuk menepis semua praduga yang tiba-tiba dirajut pikirannya.


Dua bodyguard yang berada di sekitar Almira merasakan aroma dingin mencekam mendatanginya, keempat mata milik kedua pria berbadan tegap itu segera mengedar ke seluruh penjuru tempat tersebut.


Tiba-tiba empat orang yang sama-sama berbadan tegap itu mengepung Almira, Manda dan kedua bodyguardnya, sontak Almira dan Manda terkesiap dengan kedatangan mereka, tubuh kedua wanita itu membeku di waktu bersamaan. Dua pria berbadan tegap itu segera membentangkan kedua tangannya melindungi Almira dan Manda ; suasana menjadi sangat mencekam, aroma kelam berkabut tebal mendadak membelenggu semuanya.


"A-ada apa ini?"seru Manda ketakutan, gadis berambut sebahu itu mencengkeram pergelangan tangan Almira dengan kuat, dia tak ingin sahabatnya mengalami hal buruk untuk kedua kalinya.


"I-ni ... Gu-gue gak tahu apa-apa,"seru Almira terbata-bata, kedua tangannya menguarkan aroma dingin yang mencekam.


Salah satu bodyguard itu segera mendorong Almira dan Manda ke belakang sampai terseret jauh dari danau. "Nona, lebih baik kembali secepatnya ke butik, kami akan urus mereka,"sarannya tegas.


Tanpa dia sadari, Manda menarik Almira menjauh dari para bodyguard itu berlari ke lorong yang mengarahkannya ke area depan mal besar tersebut, sementara kedua bodyguard itu melangkah maju untuk menghadapi keempat pria yang tak kalah kekarnya dengan diri mereka, terjadilah pertengkaran di antara enam orang pria berbadan tegap itu, mereka berguling satu sama lain, saling memukul dan meninju silih bergantian.


Bodyguard bayaran Royyan nampak kewalahan melawan empat orang sekaligus, beberapa kali mereka terjatuh dan terkapar, tetapi mereka segera bangkit karena mengingat kemarahan Royyan lebih menakutkan daripada pukulan dan tinjuan keempat pria itu.


Dari arah lain, Almira dan Manda yang berlari ketakutan pun harus terpaksa melangkah mundur lagi kalau seorang wanita yang mengenakan celana jeans navy dan kaos polos ketat bergerak maju dari lorong itu sambil menyodorkan sebuah pistol.


Sontak Almira dan Manda bergulir ke belakang guna menghindari wanita yang juga memakai kacamata dan masker hitam. "Si-si-siapa lu, pergi! Jangan pernah sentuh sahabat gue,"berang Manda melangkah ke depan menyembunyikan tubuh Almira di belakangnya.


"Man ... Lu apa-apaan sih,"tampik Almira menarik tangan Manda untuk kembali menyejajarkan raga gadis itu dengannya.


"Diem Ra!"tepis Manda yang bersi-keras ingin melindungi Almira, "gue tahu dia siapa,"cetusnya kemudian.


Alis seorang wanita yang menyodorkan pistol padanya lantas memuncak. "Oh ya,"sahut wanita bertubuh indah itu.


"Rala! Hentikan! Gue tahu ini elu, sudah cukup lu ganggu kehidupan Ra, dia tidak pernah melakukan kesalahan apapun sama lu, kenapa lu mau bunuh dia,"cecar Manda dengan dada yang bergemuruh azmat.


Wanita yang mengikat rambutnya menyerupai kuncir kuda itu menguarkan tawanya lepas, suaranya yang memecah keheningan membuat Manda dan Almira menegakkan tubuhnya, hanya dengan tawanya saja kedua gadis itu sudah sangat mengetahui siapa wanita.


Perlahan Wanita itu melepaskan masker dan kacamatanya, lalu dia lempar secara sembarang ke atas tanah berambut hijau di bawah, seketika bola mata kucing dan almond itu membuntang kuat, alis keduanya saling tertaut dengan begar.


"Hallo ... Gimana rasanya dihantui kematian?! Menyenangkan bukan?"ujarnya tertawa sinis.


"SIALAN! RALA GILA!"cibir Almira begar melangkah ke depan dengan tegas.


"Sssstt!"desis Elshara memutar jari telunjuknya di dekat bibirnya, lalu dia tersenyum miring sembari meranyau pistol yang masih berada dalam genggamannya, "udah gue bilang kan ... Gue akan mendapatkan apapun yang gue mau,"embus Elshara mendekatkan dirinya dengan Almira dan juga Manda.


"Cewek gila!"cibir Manda mengerutkan hidungnya.


Elshara menoleh kasar pada Manda, lalu netranya melesat pada orang bayarannya yang telah mengalahkan kedua bodyguard bayaran Royyan, lekas salah satu dari keempat orang itu mendekat dan menjerat Manda dan menyeretnya jauh dari Almira.


"Aaaaargh ... Rala! Lepasin gue! Lu udah jatuh miskin, gak usah macam-macam, lu bisa dihabisi Royyan!"jerit Manda berontak dari jeratan lelaki berbadan tegap itu.


"BERISIK!"bentak Elshara menajamkan matanya merajam tatapan Manda.


Elshara memberikan isyarat pada orang suruhannya itu, lelaki berbadan tegap itu lekas mengerti, lalu dia melempar tubuh Manda dengan kasar dan mencengkeram leher bagian belakang milik Manda membuat Almira mengeras dan bola matanya semakin menyalang.


"Aaaaaauwhh ...,"ringis Manda mencengkeram tangan pria kekar itu, tetapi Manda tak bisa melawannya, gadis itu hanya terdiam dan menahan rasa sakit yang menjeratnya.

__ADS_1


Almira yang menyaksikan sang sahabat diperlakukann buruk segera mendelik kasar pada Elshara yang ada di hadapannya, tanpa segan dia menampar gadis berparas cantik yang masih menggenggam pistol hitam berpeluru tujuh itu.


"Aaargh ...,"ringis Elshara membuntang dan mendelik kasar.


"Harusnya lu masuk rumah sakit jiwa tahu gak, jiwa lu udah sakit, gila!"cibir Almira membulatkan kepalan tangannya.


"Bacot! LU YANG BUAT GUE GILA!"pekik Elshara menarik pistolnya dan menyodorkan pistol itu tepat di dada Almira. "Lu udah rebut cowok gue! Lu lebih baik mati! Karena hidup lu hanya menjadi malapetaka hidup gue."


"Lu beneran gila Rala ... Kak Royyan gak pernah mencintai elu, sadar Rala, SADAR!"tangkis Almira tanpa rasa takut pistol itu akan membidik dadanya.


"Lu gak tahu apa-apa, Royyan jelas-jelas mencintai gue,"pungkasnya bersi-keras, bola matanya membuntang.


Perlahan jari telunjuk Elshara menekan tuas pistol itu, mata pistol itu tepat mengarah pada dada gadis mungil itu, dan detik itu ketakutan Almira mulai tumbuh, langkahnya berguling ke belakang dengan ragu-ragu, kakinya memijaki rumput hijau yang perlahan menjadi layu karena injakan nya.


"Rala!"jerit Almira bergetar gamang. "Jauhkan benda itu, atau--"


DORR!


"AAAh ...,"jerit Almira sesaat peluru itu meluncur dan tembus ke rumput-rumput hijau yang layu di sana, dan gadis mungil itu terjatuh membeku ketakutan.


Bola matanya membeku, tetapi ia masih mampu untuk terlempar tenggelam pada tatapan memburu mata pipih yang tengah begar saat ini, hidungnya mengerut sambil dia terus menyodorkan pistol yang menyisakan enam pelurunya.


Almira seret tubuhnya ke belakang dengan lambat dalam ketakutan yang membuncah dan tatapan merayang. Jiwa gadis itu benar-benar terombang-ambing di ombak kemarahan Elshara, kali ini gadis bermata kucing itu tak mampu berkutik, pistol berpeluru itu membuat jiwanya tercabik-cabik tak berdaya.


"Selamat tinggal Almira,"katanya tersenyum sinis.


Langkah Almira terbuncang getir, jantungnya berhamburan tak karuan membuahkan rasa takut yang semakin mencekam jiwa dan raganya yang membeku dari waktu ke waktu. Namun, Elshara nampak bahagia melihat lawannya mengerang ketakutan. Pelan-pelan dia tekan tuas pistol itu seirama dengan pejaman mata Almira yang mengerat sambil menutupi kedua telinganya dengan tangannya yang berguncang hebat.


Manda yang berada di sisi lain ikut berteriak. "HENTIKAN! RALA ..." Satu pukulan kasar mendarat di punggung Manda. "Aaaaarghh ..." Gadis berparas cantik itu tersungkur tak berdaya, dadanya terbanting melanggar rerumputan hijau di sana.


Apa aku akan mati di sini tuhan ... Tolong selamatkan siapapun yang ada di sini tuhan, tolong aku kali ini saja, aku ingin hidup bersama suamiku, tolong tuhan jangan ambil nyawaku di tangan wanita ini.


Batin Almira berujar perih, dia melakukan permohonan pada tuhan yang tentunya menyaksikan kekejaman Elshara kini.


DORR!


Satu peluru terlepas lagi dengan percuma, ia terlempar jauh ke udara karena Dirta menyeret pistol itu ke udara, dia berlari sekencang mungkin untuk menghentikan tindakan Rala, dalam napas yang masih terengah-engah Dirta terlempar ke samping bersamaan dengan peluru yang melesat jauh menerobos udara lepas.


"DIRTA!"pekik Elshara begar, lekas dia ambil pistol yang sempat terjatuh dari tangannya, "kenapa lu selalu ganggu rencana gue! Pergi dari sini atau gue akan bunuh lu sekalian sama wanita tidak tahu diri itu,"ancam Elshara, jiwanya semakin bergemuruh dengan kemarahan yang tidak wajar.


Dirta berdiri dengan tegas seiringan dengan bola mata Almira yang terbuka dengan tubuh yang masih bergetar, tembakan peluru itu membuat gadis itu benar-benar ketakutan, dadanya berhamburan tak karuan dan Almira tidak tahu bagaimana dia merelai rasa takut itu.


"Stop! Hentikan El! Ini tindah kriminal, pikirkan masa depan lu, pikirkan kedua orangtua lu yang baru kehilangan perusahaannya." Dirta berdiri dengan gagah di hadapan Elshara tepat di depan Almira yang terpaku diam.


"Persetan dengan hukum negara ini, gue bisa beli hukum di negara ini!"angkuh Elshara melambung tinggi.


"El! Keluarga lu udah gak punya apa-apa, tinggal agensi yang menaungi lu aja, dan yang lu hadapi adalah Royyan, pimpinan banyak perusahaan."


"Berisik! Gue harus dapatkan Royyan, karena Royyan itu mencintai gue Dirta! Wanita itu udah merebutnya dan membuat Royyan terpaksa harus hidup dalam ketidakbahagiaan,"ujarnya penuh keyakinan dan tatapan getirnya.


Dirta menggeleng tak habis pikir dengan jalan pikiran wanita yang sampai saat ini masih saja menguasai hatinya, beribu-ribu kali Elshara membuatnya sakit, tetapi entah mengapa hatinya selalu saja tertuju pada gadis bermata pipih itu, sesak di dadanya tak pernah mampu dia singkirkan.


"El kamu udah sakit jiwa,"ucap Dirta melangkah mundur membantu Almira untuk berdiri.


Perlahan Dirta menyeret langkah bersama Almira menjauhi Elshara. "Lebih baik hentikan sekarang, sebelum semuanya menjadi lebih buruk,"katanya kemudian berdiri di sudut lain sembari memeluk punggung Almira.


"DIRTA! Lepaskan Almira sekarang! Atau lu yang akan menjadi sasaran pertama peluru ini,"ancam Elshara menganjurkan pistol searah dengan sorot matanya yang menajam.


"Silakan! Kalau itu membuat lu puas dengan kemarahan kamu itu, aku akan bertanggungjawab sebagai penebus kesalahanku pada Royyan selama ini."


Elshara mendengkus. Senyuman sinisnya terlempar ke samping dengan kasar, urat-urat tangannya merekat, lalu dia tarik pistol itu kembali ke udara bersamaan dengan sorot matanya yang menghunus.


"Baiklah."

__ADS_1


Tanpa ada aba-aba, Elshara tekan tuas pistol itu dengan gerakan cepat, sontak Dirta terkejut dengan tindakan itu, secara impulsif Dirta memeluk Almira dan melindungi gadis itu dari peluru yang kini tengah membenam di punggungnya.


"Aaargh ...," Lagi-lagi Almira menjerit dengan bola mata yang mengembun getir.


Dirta tersungkur ke depan dan Almira tak mampu menopang tubuh kekar Dirta. Tatapan lelaki itu perlahan kabur, seraya dia meringis menahan kebas di punggungnya dan kini punggungnya sudah berderai darah segar yang membuat Almira semakin membuncah gamang.


Almira berlutut di depan Dirta yang terkapar lemah, tangan yang bergetar itu mencoba untuk meraba punggung yang berlumuran darah itu bersamaan dengan bulir-bulir bening yang mulai membasahi pipinya dan bibirnya ikut menggegar.


"Dir-ta ... To-loong bertaha-han ...."lirih Almira. "Aaah ... To-loong bertahan Dirta ...."


Wajah Dirta perlahan mendongak dengan tatapannya yang sudah kabur. "R-rr-ra ... La-rii,"desis Dirta.


"Eng-ggg ...."


"Lari!"


Elshara melangkah maju tanpa merasa gentar telah meluncurkan pelurunya pada Dirta. "Sekarang giliran lu!"pekik Elshara mengudarakan pistol itu lagi.


"Aaargh ...,"teriak Almira menyeret tubuhnya ke belakang, "hentikan! Lu gila! Dirta sahabat lu! L-lu te-ga banget bu--"


"DIAM!"potong Elshara.


"Aaah ...." Teriakan Almira semakin menyedihkan.


Lambat Elshara membisukan pendengarannya, dan menekan tuas pistol itu dengan penuh keyakinan tanpa memedulikan jeritan dari Almira dan Manda yang sudah lemah, gadis bermata almond itu sudah tak berdaya untuk terbangun, pukulan orang suruhan Elshara telah menyakiti tubuhnya.


Dorr! Dorr!


"Aaaargh ..."


"Aaarrgghh ...."


Jeritan dari dua wanita cantik itu dengan mata yang terpejam kuat sambil menutupi kedua telinganya, kegetiran mendekap keduanya dengan utuh.


"Aaaargggghh ...." Terdengar ringisan keras dari suara lain.


Dan itulah suara Elshara yang meringis kesakitan. Dua peluru itu bukan berasal dari pistol milik gadis berkaki jenjang itu, melainkan peluru dari pistol yang digenggam Royyan dari seberang danau bersama anak buahnya.


Setelah berhasil membidik pistol yang berada dalam genggaman Elshara dan melukai kaki jenjang wanita itu, Royyan segera melempar pistolnya dan melepaskan sapu tangan yang sengaja dia gunakan guna menghilangkan jejak sidik jarinya dari pistol itu, pria kekar itu berlari kencang menghampiri Almira.


"Sayang ...,"panggil Royyan lembut meraih pinggang Almira dan menariknya ke dalam pelukannya.


Pelan-pelan Almira menoleh. "K-kkak ...,"rengek Almira memutar tubuhnya dan segera menghamburkan tubuhnya tenggelam dalam dekapan yang lebih pekat lagi.


"Tenang sayang ... Semuanya sudah berakhir,"ucap Royyan membalas pelukan Almira dengan lekat.


Gadis mungil itu tak segan-segan menumpahkan air matanya di pundak sang suami, tubuhnya bukan hanya bergetar, tetapi ia juga lemah sehingga Royyan merasakan tubuh sang istri menjadi berat. "Di-dirta kak ... Aku takuut,"rengek Almira melekatkan pelukan di leher sang suami.


Dari arah lain, Elshara yang menyadari jika dia telah tertangkap basah, lekas dia berlari sebisa mungkin dengan kaki yang terluka dan darah yang mengalir dari area betis mulusnya itu bersamaan dengan pria kekar yang melukai Manda.


Melihat kedua pelaku melarikan diri, segera Royyan mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celananya, dia melakukan panggilan telepon dengan Ajun yang semula diperintahnya untuk menunggu di ambang lorong hitam itu.


"Tangkap Elshara dan satu orang suruhannya, pria itu sudah menyakiti Manda."


"Siap! Lu akan lihat mereka di penjara."


Panggilan telepon dengan cepat terputus.


Sedangkan ketiga orang pria kekar yang mengalahkan bodyguardnya telah diringkus oleh dua penyelundup yang ditugaskan untuk membunuh Almira dari sudut lain di gedung mal itu, tetapi dua orang itu tak menjalankan tugasnya karena sesungguhnya mereka dibayar oleh Royyan, sehingga mereka turun dan meringkus ketiga pria yang telah mengalahkan bodyguardnya.


"Kak ... tolong Dirta kak--dia terluka,"rengek Almira dengan air mata yang terus berderai pilu.


"Iya sayang ... Kamu tenang dulu, aku akan bereskan satu-satu,"sahut Royyan mendekap Almira dengan kekuatan lebih besar dan tatapannya memburu lorong yang telah menelan Elshara dan orang suruhannya itu.

__ADS_1


Kemudian Royyan naikkan tubuh istrinya ke atas kedua tangan kekarnya, dia berdiri dari sana dan memerintah anak buahnya yang lain untuk membawa Manda dan Dirta dari sana, mereka segera membawa Manda dan Dirta masuk ke dalam mobil hitam yang terparkir di sudut jalan belakang mal tersebut.


NEXT ....


__ADS_2