Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 17 : Acara Keluarga part 2


__ADS_3

Posisi itu masih bertahan dalam lima menit lamanya, hidung lancip Royyan menyentuh hidung lembut sang istri. Kedua pasang mata itu saling terpatri dengan arak-arakan angin yang berhembus lembut merasuki wajah Royyan dan Almira yang enggan untuk berpaling.


"Kalau pun kamu berteriak, tidak akan ada yang datang,"cetus Royyan menjalankan jari-jarinya di wajah cantik istrinya.


"Ke-kenapa? Bisa aja ada yang datang kan? Kamu gak akan aman, lihat aja nanti,"balas Almira terbata-bata, dan bola matanya tak bisa diam karena sebetulnya dia juga panik.


Seketika Royyan tertunduk menyembunyikan senyumannya. Apakah benar wanita yang dia nikahi itu sudah melupakan jika dirinya sudah menikahi pria yang ada di hadapannya itu. Bahwa mereka telah menjadi suami istri.


"Kita ini suami istri, orang rumah tidak akan mendatangi teriakan sepasang suami istri yang berada dalam satu kamar."


"Lah kenapa begitu?"ujarnya dengan wajah polos yang seakan tidak mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya.


"Enggak mau ganggu."


"Emangnya lagi ngapain sampai gak mau ganggu."


Bibir tipis itu lagi-lagi menyeringai, sudut bibir kanan Royyan kembali menaik, kemudian tanpa aba-aba Royyan mendekatkan wajahnya sampai jarak bibir sepasang suami-istri itu menjadi semakin dekat, mungkin hanya angin yang bisa melintasi jarak sempit itu.


"Kak Royyan mau ngapain sih? Kenapa kakak jadi aneh sih, biasanya juga gak pernah mau deket sama aku, kenapa se-"


Belum habis Almira mengomel. Royyan sudah lebih dulu mendekatkan wajahnya lagi dan hampir saja menyentuh bibir wanita yang saat ini terus mematung dan melebarkan bola matanya serta kedua tangannya yang terletak di pundak Royyan mencengkeramnya dengan keras.


Dia terdiam, seakan bibirnya membeku, Almira tak mampu berceloteh lagi.


"Kamu akan melihat yang lebih dari ini, tunggu aja,"celetuknya. Membuat seluruh raga Almira bergetar, dan jantungnya terus berdetak dengan sangat cepat.


Duh mampus gue, ini mau ngapain sih, gua gak bisa gerak. Gimana mau gerak, kaki gue dikunci sama kakinya yang panjang sedangkan tubuh gue dia peluk begini, haruskah gue kehilangan keperawanan gua disini, ah enggak! NO! Awas aja lu ya kalau berani begitu, gua kunyah hidung lu.


Tidak ada perbincangan. Royyan hanya menatapi istrinya dengan penuh gairah, tetapi pikirannya terus berceramah dengan sangat berisik. Sehingga dia urungkan untuk menyentuh Almira, banyak sekali pertimbangan dalam batinnya. Walau dia sangat menginginkan untuk menyentuh sang istri, tetapi dia tidak bisa melakukannya, bibir yang sudah dekat itu segera melipir dan menjatuhkan kepalanya di dada Almira.


Dia memejamkan matanya disana, mendekap tubuh mungil Almira dengan erat. Menyelam ke dalam setiap helai rambut wanita yang tengah dilanda kebingungan. Bahkan kedua tangannya pun telah berpindah ke punggung lebar Royyan. Menghirup aroma mawar yang menyegarkan dari tubuh Almira.


"Kak Aneu sudah bicara tentang mereka kan?"celetuknya tetap dalam posisi yang sama.


"Tentang temen-temen kamu?"sahut Almira lirih dan mulai merasa nyaman dengan dekapan itu.


"Iya."


"Kak aneu cuman bilang kalian berteman lama, sampai wanita yang bernama Elshara masuk dan pertemanan kalian berantakan, emangnya setelah kecelakaan itu apa yang terjadi?"terang Almira seraya memainkan rambut lurus lembut milik suaminya itu, sedangkan satu tangannya tetap tergeletak di atas punggung Royyan.


"Aku akan cerita, tapi tidak sekarang."


"Kenapa? Apa bedanya nanti dan sekarang."


"Kalau aku cerita berarti kamu udah menjadi istriku seutuhnya."


"Hah?! Emangnya sekarang bukan? Aku udah nikah sama kamu secara agama dan negara, cuman kamu gak mau mengakui aja aku sebagai istri kamu,"ungkapnya mendelik kesal dan menghentikkan permainan rambutnya.


"Bukan. Tetapi untuk melindungi kamu."


"Maksudnya?"kernyit Almira semakin kebingungan.


Hening. Hanya riuh suara para tamu di bawah yang memenuhi pendengaran Almira, sedangkan Royyan tanpa disadari dia telah terlelap, dekapan itu menarik pria berwajah dingin masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Dengan posisi masih memeluk Almira dengan erat dan kaki panjangnya yang berada di atas kaki wanita berambut panjang coklat keemasan itu.


"Tidur kan? Kalau gak tidur ya buru-buru cabut, kenapa sih? Bikin penasaran orang aja."gerutu Almira, seraya mengintai wajah Royyan.


Perlahan dia berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan sang suami. Tetapi dengan sigap Royyan menarik tubuh Almira kembali dalam dekapannya yang erat. Dan kembalilah Almira terdiam dan tak bisa berkutik, berakhirlah Almira ikut tertidur dalam posisi yang sudah di atur oleh Royyan.

__ADS_1


Acara perayaan itu tetap berjalan meriah, semua tamu nampak berbahagia dan menikmati pesta. Rian dan Rini berusaha untuk menyambut para tamu dengan baik. Dibantu putrinya Aneu. Sampai akhirnya mereka menyadari jika Royyan tidak ada bersamanya dalam jangka waktu yang cukup lama.


Kedua bola mata Rian mulai menyisir setiap sudut ruangan tengahnya yang luas itu, dia perhatikan satu persatu wajah setiap insan, dan tidak ada putranya disana. Lantas dia menoleh pada Aneu, dan Aneu pun segera mendekati Papinya untuk mempertanyakan apa yang ingin diketahuinya.


"Kenapa Pi, kok Papi kayaknya bingung begitu?"tanya Aneu.


"Adik kamu kemana? Dari tadi kok gak keliatan, dia itu pimpinan perusahaan, harusnya ada disini menyambut para tamu, kalau istrinya gak boleh ikut hadir, harusnya dia yang pasang badan disini."


"Aneu tadi lihat Royyan di dapur Pi, lagi masak."


Sontak Mami dan Papinya tersekat mendengar perkataan Aneu, ini adalah kejadian yang amat langka. Mami yang berada di dekat meja sajian berbagai macam minuman itu segera mendekat dengan wajah yang masih terkejut.


"Apa kata kamu? Masak? Jangan bohong, adik kamu mana mau dia datang ke dapur."Rini meragukan perkataan putri sulungnya itu.


"Iya Mi, tapi setelah itu aku gak tahu kemana perginya anak itu."


Rini mengangguk seraya otaknya berjalan kemana-mana, dan berakhir menerka jika putranya itu sedang berada di kamar bersama istrinya.


"Coba kita cek ke kamar, bisa aja mereka lagi berduaan kan?"usul Rini dengan penuh antusias.


"Mulai dah Mami kepo sama anak sendiri."


"Ah udah ayo."


Rini menarik tangan putrinya itu, berayun menaiki tangga, meraba setiap anak tangga yang mereka pijaki, sampai ke lantai tiga dimana kamar Royyan terletak. Tanpa segan mereka langkahkan kakinya itu menuju kamar dengan kayu berkualitas tinggi itu yang berwarna putih, perlahan Aneu menekan kenop pintu itu ke bawah dan pintu itu terbuka.


Ibu dan anak itu sepakat menyubuk ke dalam kamar dengan pencahayaan lampu yang begitu terangnya. Aroma mawar yang segar bercampur dengan aroma aqua yang lembut, kedua aroma itu bersatu menjadi sebuah aroma yang menarik, keduanya masuk ke dalam kamar dan melihat keindahan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


Pernikahan yang berawal dari tekanan kedua orangtua, tetapi berakhir manis. Oh tidak, ini bukanlah akhir, melainkan permulaan yang baru saja dimulai. Posisi Royyan yang tertidur di dada Almira masih bertahan, membuat Rini dan Aneu terkejut sampai melebarkan kedua bola matanya serempak.


"Pantesan lama gak keliatan, lagi tidur sama istrinya,"bisik Aneu dibalik tubuh mami-nya sendiri.


"Tapi Mi, kan kata Papi harus bawa Royyan."


"Ikut Mami dulu keluar."


Rini kembali menarik Aneu keluar dari kamar dan menutup pintunya dengan rapat. Tetapi Ibu dua anak itu tidak beranjak dari depan pintu, dia tetap berada di sana, kemudian wanita yang menata rambutnya dengan rapi itu dan gaun ketat melampaui lututnya yang berwarna putih mengetuk pintu kamar tersebut. Dan Aneu mengangguk, mengerti maksud dari Mami-nya itu mengapa membawanya kembali keluar walau mereka telah melihat kemesraan itu.


"Royyan sayang, kamu ada di dalam gak? Royyan ...."panggil Rini dengan senyuman yang terlontar pada Aneu.


Di dalam kamar, Royyan yang mendengar panggilan Mami-nya mulai membuka mata secara perlahan. Dia terbangun dan mengendap-endap turun dari ranjang karena takut membangunkan istrinya yang sudah terlelap dengan nyenyak. Wajah lelah Almira nampak begitu tenang dalam lelapnya. Seringaian kecil kembali menghiasi wajah tampan Royyan, sebelum dia melangkah keluar dia menarik selimut dan menyelimuti Almira dengan utuh dan membetulkan posisi tidur istrinya sampai terlihat nyaman.


Royyan berayun mendekati pintu dan membukanya dengan pakaian yang kusut dan wajah yang nampak jelas dia masih mengantuk.


"Kenapa Mi?"ucapnya sesaat setelah dia membuka pintu kamarnya.


"Dicariin juga dari tadi, tidur ya kamu?"sahut Rini menyembunyikan senyuman tipisnya.


"Hmm...."Royyan bergumam sambil dia mengangguk.


"Yaudah cepetan turun lagi, rapikan dulu penampilan kamu itu, udah itu langsung turun ya."titah Rini seraya berlenggang meninggalkan putranya yang masih mengantuk.


"Cepetan ya, klien udah banyak nunggu tuh disana."ucap Aneu sebelum dia mengikuti Mami-nya.


Royyan tidak menjawabnya dengan mulutnya melainkan dengan anggukan yang lemah. Lekas dia menutup pintunya lagi dan melepaskan kemeja yang dia pakai dan melemparnya dengan sembarang ke lantai, tubuh sixpack-nya begitu indah dengan lengan penuh otot, sayangnya Almira tertidur dengan lelap sehingga dia tidak bisa melihat tubuh indah suaminya sendiri.


Lelaki bertubuh penuh otot, baik di bagian perut, lengan ataupun kaki itu berangsur ke pintu yang ada di dalam ruangan kamarnya, pintu sebuah ruangan penyimpanan pakaian dan juga berbagai macam barang-barangnya yang masih tersisa. Setelah menikah Royyan memilih untuk tinggal di rumahnya sendiri, tetapi sebagian pakaiannya masih dia simpan di rumah kedua orangtuanya ini, untuk memudahkannya jika membutuhkan pakaian dengan cepat.

__ADS_1


Letak rumah Royyan dan Almira memang cukup jauh dari lokasi perusahaannya, begitupun dengan butik Almira. Tetapi itu bukan masalah, selama mereka bisa menjaga privasi masing-masing dan membuat kehidupannya aman dari serangan yang tak pernah diketahui dari siapakah itu.


Ponsel yang tergeletak sembarangan di atas nakas bergetar tiada hentinya, sehingga membangunkan Almira yang sedang terlelap. Mata pipihnya perlahan terbuka dan menyeret langkahnya dengan malas mendekati nakas untuk melihat ponsel siapa yang bergetar, karena ponselnya pun berada di samping ponsel suaminya.


"Oh hape-nya kak Royyan, yaudahlah tidur lagi gue."lirihnya seraya menggaruk-garuk tengkuknya dan mata yang masih enggan untuk terbuka dengan lebar.


Wanita berambut panjang coklat keemasan itu berputar dan berbenturan dengan dada telanjang Royyan yang lebar dan tegap. Pria bertubuh penuh otot itu berdiri di belakang Almira dengan jarak yang begitu dekat, sedang dia tengah memakai kemeja baru yang dia ambil di ruangan itu, dan belum terkancing semuanya.


Tubuh sixpack yang sempurna itu menampakan diri di depan kedua bola mata Almira yang sudah melebar dan perlahan menelan ludahnya sendiri, kemudian dia mendongak dan mendapati sang suami tengah menatapnya seraya satu tangannya meraih ponsel tersebut.


"Halo, ada apa?"ucapnya setelah dia mengangkat telepon dari sekretaris pribadinya itu.


"Klien ingin bertemu dengan bapak, apakah bapak ingin menemuinya sekarang? Jika tidak, saya akan mengatur ulang jadwalnya,"balas Adrian di seberang sana.


Almira yang merasa sudah tidak aman lagi, segera dia melangkah untuk pergi dari pemandangan yang sebenarnya membuatnya terpaku dan nyaman, hanya saja tidak aman untuk jantungnya.


Tetapi tangan Royyan menahan pinggang istrinya dan membuat Almira kembali mendongak dan mengernyit, kemudian mencengkeram tangan kekar itu dengan kedua tangannya, mencoba melepaskan tangan Royyan dari pinggangnya. Namun, pria berambut mullet itu menggeser Almira kembali ke hadapannya dan meminta Almira untuk mengancingkan semua kancing di kemeja yang sedang dia gunakan.


"Gak mau, pake aja sendiri."bisik Almira mengerutkan bibirnya.


Melihat bibir Almira yang membingkai kata-kata penolakan, Royyan segera menekan pinggang kecil Almira sampai masuk ke dalam dada lebarnya itu, dan Almira seketika terpejam.


"Saya akan segera turun. Atur dulu kliennya."


"Baik pak, saya akan atur segalanya."


"Bagus."


Panggilan telepon pun berakhir. Royyan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana yang dia pakai dan memindahkan kedua tangannya ke belakang seraya terus menatapi istrinya dengan tatapan tajamnya yang khas.


"Aku gak mau, pake aja sendiri,"ketusnya memalingkan muka.


"Cepet!"tegas Royyan.


"Iih apaan sih, gak mau."kernyit Almira mendorong perut sixpack Royyan.


Ponsel Royyan kembali bergetar, dan pria bertubuh tinggi itu segera mengangkatnya dan berjalan keluar dari kamar dalam kemeja yang masih belum terkancing.


"Iya Pi."


"Kamu ada dimana sih, ini klien banyak yang nyariin kamu, cepetan kesini."


Almira terbelalak dan ternganga, melihat Royyan yang keluar dari kamarnya dengan tenang, sedangkan dia panik, para pelayan diluar atau para tamu akan ikut menikmati keindahan tubuh Royyan. Lekas Almira mengayuh langkahnya keluar mengikuti Royyan dan menggenggam lengan Royyan dan memutarnya lalu membawanya kembali masuk ke dalam kamar.


"Aku ada di kamar Pi."


Wanita yang tengah mengenakan gaun di bawah lutut dan berlengan panjang itu mulai mengancingkan kemeja Royyan sampai habis. Setelahnya dia berlari ke ruangan pakaian dan mengambil jas dengan warna yang senada dengan celana berwarna coklat yang dipakai suaminya itu.


"Yaudah cepetan turun, temui para klien."


"Baik pi."


Kemudian Royyan merapikan kembali kemejanya, dimasukkan ke dalam celana seraya dia melipir keluar dari kamar tanpa berpamitan dulu dengan istrinya yang kini sudah kembali ke atas ranjang sembari memainkan ponselnya.


"Dasar cowok gak beradab, bisa-bisanya keluar dengan baju gak terkancing, mana nyuruh orang lagi, dasar bocah,"gerutu Almira seraya memperhatikan layar segiempat yang berada dalam genggamannya.


Tak lama dia menggerutu. Almira mulai menyadari apa yang sebelumnya dia lakukan, seketika dia terbangun dan membuka mulutnya lalu dia segera menutupi mulutnya itu dengan mata yang melebar dan dahi yang mengernyit.

__ADS_1


"Bentar. Tadi kan gue tidur, karena kak Royyan gak lepasin pelukannya, terus gua tidur sama dia dong tadi, ah! Ra! Lu kenapa baru nyadar sekarang sih,"paparnya seraya menepuk-nepuk kepalanya dengan lembut. "Eh tapi kan cuman tidur doang, kagak ngapa-ngapain, lu ngapain panik sih Ra, kalaupun iya kan dia suami elu dan kak Royyan berhak atas itu semua,"sambungnya kemudian, kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang lagi, mulai berusaha mengabaikan apa yang sudah terjadi.


NEXT ....


__ADS_2