
"Ada meeting apa saja yang harus saya jalani hari ini?"tanyanya lagi pada sang orang kepercayaannya.
"Iya pak, hari ini kita ada meeting besar dengan perusahaan German yang memegang kendali pembangunan national museum of mahakala art di salah satu restoran besar yang ada di Tangerang,"jelas Adrian.
"Oke, dan siapkan penjagaan ketat, saya tidak ingin pekerjaan kita terhambat oleh para wartawan,"pinta Royyan tegas.
"Baik pak, akan segera saya siapkan."
Royyan melahap keramik-keramik itu dengan langkah besar, perhitungannya mungkin benar, jika para wartawan itu sudah menunggunya di depan gedung apartemen tersebut, sehingga dia memiliki pemikiran untuk mengelabui semua orang dengan melalui penyamaran yang selalu dia lakukan.
Di dalam lift lelaki itu menumpuk pakaian rapinya dengan piyama berukuran besar yang dia beli beberapa waktu lalu, dan wajah tampannya itu dia tutupi dengan masker hitam, kacamata dan topi yang juga berwarna hitam. Tiba di lobi, dia mengarak angin untuk terdiam agar langkahnya yang terbata-bata tak terbaca oleh para wartawan yang sudah mengelilingi gedung apartemen.
Sudah gue duga.
Batin Royyan nyeletuk, selagi dia berceloteh netranya melesat ke arah kerumunan para karyawan dan segera dia turunkan topi yang dia kenakan berayun ke mobilnya yang terparkir di bagian kiri dari gedung yang menjulang tinggi itu.
Seperti praduga Royyan, jika mereka sama sekali tidak menyadari kepergian Royyan di hadapan mereka, topi hitam yang terus turun ke bawah telah menjadi dalang utama keselamatan Royyan dari gerombolan pertanyaan para wartawan yang sudah pastinya akan memakan waktu banyak.
Pria itu tak ingin menghabiskan waktunya hanya untuk menjelaskan sesuatu hal yang menurutnya orang lain tak perlu tahu ataupun ikut andil dalam kehidupannya, ini adalah hidupnya dan bagaimanapun ataupun mau seperti apapun kehidupan Royyan orang lain tak perlu ikut campur di dalamnya.
Hanya saja dia melupakan siapa dirinya dan siapa istrinya, Royyan tak bisa mengelak, walau menurutnya hal ini adalah masalah pribadi, dia tetap harus menjelaskan dengan gamblang pada publik, terutama pada Elshara yang mungkin saja dalam beberapa waktu dekat ini dia akan menemuinya dengan ribuan pertanyaan yang sama dengan apa yang dipertanyakan oleh semua orang.
Setibanya dia di depan gedung perkantoran nya para wartawan sudah berkelana mengelilingi gedung perusahaan bagaikan semut yang mengerubungi sebutir gula, dengan melihatnya saja bola mata Royyan terasa berkunang-kunang dan tatapannya seketika menjadi kabur, tiba-tiba saja kepalanya mendadak pening.
"Ah sial,"cibirnya menyandarkan tubuhnya ke jok mobilnya dengan satu tangan yang dia simpan di atas dahinya dengan mata terpejam, "mereka nih gak capek apa, Ajun dan Manda udah menjelaskannya semuanya, tapi kenapa mereka masih belum puas,"sambungnya kesal.
Royyan selukkan satu tangannya ke dalam saku celana sebelah kiri, dia mengambil ponsel hitam yang sudah menemaninya lebih dari dua tahun itu, jari-jarinya dengan lihai menjelajahi ponsel, dia geser ponselnya mencari kontak Adrian, lalu dia melakukan panggilan telepon dengan sekretaris pribadinya itu.
"Keluar, bawa semua keperluan meeting, saya tidak bisa masuk."
"Baik pak, sebentar lagi saya keluar."
Telepon singkat itu dengan sigap berakhir, Adrian yang baru saja tiba di ruangannya segera melenggang ke ruangan Royyan yang selama dua hari ini sunyi, lelaki itu mengambil berbagai macam berkas yang dibaluti map dengan warna yang berbeda, tak lupa dua sampai tiga gulungan rancangan yang telah dikerjakan Royyan dan staff-nya.
Setelahnya dia kembali ke ruangannya mengambil laptop dan ponselnya, lalu dia beranjak dari ruangan itu menuju keluar gedung. Adrian terkesiap melihat betapa banyaknya para wartawan yang berkumpul di depan gedung, seketika langkahnya yang menggebu-gebu tadi dengan cepat terhenti, dia telan ludahnya dengan kasar.
Lantas dia melipir ke arah resepsionis, dia berdiri di depan wanita yang bertugas menerima tamu itu, "saya ada meeting dulu di luar, jangan ada orang lain masuk ke dalam perusahaan tanpa seizin saya dan pak Royyan?"pesannya pada sang resepsionis seraya dia meletakkan satu tangannya ke atas meja yang setinggi di bawah dadanya.
Wanita yang sedang mengetikkan sesuatu di laptopnya itu segera berdiri sampai lututnya terbentur meja di depannya, dia meringis kecil dan membuat Adrian tertawa kecil, lantas wanita itu mengangguk seraya dia menunduk malu dan mengelus-elus lututnya yang terbentur.
"Baik pak, berapa lama bapak akan keluar?"sahutnya yang kemudian melempar tatapannya pada para wartawan yang ada di luar, "bagaimana dengan mereka pak?"lanjutnya menjulurkan satu tangannya keluar.
__ADS_1
"Biarkan saja, mereka akan pergi jika mereka sudah lelah, pak Royyan akan segera meluruskannya,"jawab Adrian.
"Ah baik pak,"angguk wanita itu.
Adrian bergegas darinya beranjak keluar dari gedung perusahaan, detik itu juga Royyan mengirimkan sebuah pesan pada Adrian, untuk meminta Adrian masuk ke dalam mobil Royyan dari pintu mana pun, tak mengapa jika dia duduk di kursi belakang dan Royyan menjadi sopirnya untuk menghindari terkaman para wartawan yang kehausan itu.
"Apakah anda akan menemui pak Royyan hari ini?"
"Sudah dua hari pak Royyan menghindari kami? Apakah mereka terlibat cinta terlarang?"
Pertanyaan salah satu wartawan wanita berhasil membuat Adrian terpekur dan menghentikan langkahnya, lantas dia menoleh pada wartawan itu dengan kernyitan tegas menghunjamkan tatapannya.
"Cinta terlarang?"tanya Adrian merasa aneh dengan kata-kata itu, bahkan hatinya terasa terhantam benda keras.
"Bukankah pak Royyan dan nona Ra itu sepupu? Lalu bagaimana mereka bisa melakukan hal itu di depan umum?"tanyanya lagi.
Adrian menghela napasnya menarik kedua tangannya menggantung di pinggang, "pak Royyan dan nona Ra bukan sepupu, dari awal saya kenal dengan nona Ra, beliau adalah istri dari bos saya,"tegas Adrian.
Para wartawan itu tercekal dengan jawaban Adrian, beberapa detik para wartawan itu tak berisik, yang terdengar hanya dentuman deru para kamera yang tidak berhenti memotret Adrian.
"Sejak kapan mereka menikah pak Adrian?"setelah semuanya senyap, salah satu wartawan di sudut kiri kembali membuka mulutnya.
"Satu tahun lebih,"sahut Adrian seraya dia melangkah mendekati mobil yang ada di depan gerbang perkantorannya yang di kendarai langsung oleh Royyan.
"Alasannya karena apa pak? Kenapa pak Royyan menyembunyikan pernikahannya?"pertanyaan itu masih saja di pertanyakan.
Adrian membuka pintu belakang mobil itu dengan kaca yang tertutup rapat, "untuk hal itu saya tidak bisa menjawabnya, tunggu pak Royyan saja ya, biarkan beliau yang memberikan jawaban yang jelas,"jawab Adrian dan segera tenggelam ke dalam mobil, lalu dia segera menutupi pintu mobilnya.
Mengabaikan semua mulut yang masih ingin mencecarnya dengan ribuan pertanyaan, Royyan yang sudah mencengkeram kemudinya segera menginjak pedal gas, dengan sekejap mata laju mobilnya melesat ke depan meninggalkan semua orang yang haus informasi tentang kehidupan seorang pimpinan perusahaan Rain corporation pemegang kendali perusahaan papi dan mertuanya, ada juga beberapa perusahaan kecil yang berada dalam naungan Royyan.
"Pak lebih baik menepi dulu, biar saya yang menyetir dan bapak bersiap dulu,"saran Adrian yang merasa tidak enak karena dirinya bersantai di belakang layaknya seorang bos.
"Tidak perlu. Duduk dan pakai sabuk pengaman,"tolak Royyan menarik kemudinya dengan kecepatan lebih tinggi lagi.
Adrian terenyak ke belakang, beruntungnya lelaki itu sudah memasang sabuk pengaman dengan rekat sehingga dia tak tersungkur ke depan, bola matanya mengedar tak karuan seraya berpegangan pada sebuah benda yang ada di samping kepalanya.
Pak Royyan bukan pebalap kan? Kok bawa mobilnya kayak penakluk sirkuit sih, pantesan aja jarang bawa mobil. Bawanya kayak mau ketemuan sama malaikat maut.
Bait-bait ketakutan mengangkasa di langit-langit hati Adrian, ludah yang tertelan dengan kasar terus mengulangi aktifitasnya, dan Adrian tidak bisa mengelak ataupun menghentikan permainan Royyan di atas jalan raya, pria itu bagaikan patung yang bergerak kesana-kemari tanpa tujuan, ia hanya mengikuti kemana pun Royyan mengarahkan kemudinya.
Sementara di tempat lain, tepatnya di gedung pengadilan terbesar yang ada di ibu kota, Ajun yang baru saja keluar dari gedung menuju parkiran untuk menghampiri mobilnya yang terparkir di sana. Mobil silver yang baru di belinya beberapa bulan yang lalu untuk keperluannya selama di ibu kota, karena sebenarnya dia sudah tak memiliki rumah di ibu kota, kini dia tinggal di gedung apartemen milik Royyan.
__ADS_1
Lelaki itu membiarkan sahabatnya tinggal di sana tanpa biaya, sesukanya Ajun menggunakan apartemen dengan nomor 409 itu, pikir Royyan jika Ajun hanya butuh tempat tidur bukan tempat tinggal, jadi bukan hal besar hanya membiarkan satu apartemennya tanpa pemilik.
Setibanya Ajun di samping mobilnya, dia membuka pintu mobil seraya memasati layar ponselnya, pria itu tengah melihat jadwal pekerjaan selanjutnya, asistennya telah mengaturkan jadwalnya hingga satu bulan ke depan, tetapi tiba-tiba pintu mobil itu tertutup dengan kasar, membuat Ajun terkesiap mengerut heran.
Wajahnya yang kebingungan segera menoleh ke arah samping kanan, dia merasa ada seseorang yang berdiri di sana, mengenakan gaun mini dan juga ketat. Ajun pasati seseorang itu dari ujung kaki hingga ujung kepalanya dan gadis itu adalah Elshara dengan wajahnya yang memerah, apalagi di bagian matanya.
"El ..."seru Ajun tenang seolah dia tidak melakukan kesalahan apapun, setelahnya dia kembali membuka pintu mobilnya, "ada perlu apa?"tanyanya kemudian.
Dengan sigap Elshara kembali membanting pintu mobil Ajun, lalu dia melangkah ke hadapan Ajun menghalangi lelaki itu untuk kembali membuka pintu mobilnya, tangannya yang terjuntai mendadak menjadi membulat seraya tatapan matanya yang menajam.
"Lu gak mau ngomong apa-apa gitu?"tanyanya dengan gertakkan gigi yang mengerat.
"Apaan?"kerut Ajun melipat kedua tangannya di depan, "kita gak ada yang perlu diomongin,"sambung Ajun, netranya menatap Elshara dengan polos.
"Lu bohongin gue Ajun! Lu kok tega banget sih sama gue,"pekik Elshara yang membuncahkan amarahnya, dia cengkeram baju Ajun dengan wajah yang tertadah dengan getir, sesak di dadanya segera mengalir meruntuhkan air matanya,
"El!"seru Ajun dengan nada suara yang meninggi, lalu dia lepaskan tangan Elshara dari bajunya, "stop! Lu nyakiti diri lu sendiri, sekarang lu tenangin diri lu sendiri, baru temui gue lagi,"sambungnya menggenggam salah satu tangan Elshara, "ayo gue anterin lu pulang."Ajun tarik tangan Elshara yang sedang meruntuhkan bendungan air matanya.
Tiba-tiba langkahnya terhenti, lekas Ajun tolehkan wajahnya dan melihat Elshara sudah terjatuh ke bawah, punggungnya bergetar hebat. Pria itu melepaskan cengkeramannya pada gadis di depannya itu, lantas dia menurunkan satu lututnya sedangkan kakinya yang lain mencangkung.
Pria itu menghela napasnya, dia bukannya tak merasa iba pada gadis itu, tetapi kenyataan mengatakan jika hal ini harus terjadi. Cinta selalu bertindak seorang diri tanpa menunggu saran dari siapapun, bahkan petir sekalipun tak bisa menghentikan cinta saat dia sedang melangkah menuju sang kasih.
"Oke, sorry ... gue gak bisa ngomong jujur karena Royyan yang minta gue buat menyembunyikannya sampai situasinya terkendali,"jelas Ajun.
"Ke-kenapa Royyan te-ga banget sama gue Ajuuun .... a-apa yang kurang da-ri guee ...."rengek Elshara, butiran kristalnya telah berhamburan tak beraturan di pipinya.
Perlahan jari-jari lentiknya tenggelam ke dalam ribuan helai rambutnya yang lurus, lekas Ajun tahan kedua tangan Elshara untuk turun kembali, dia tahu betul Elshara pasti akan menjambak rambutnya sampai rontok.
"Berhenti. Stop nyakiti diri lu sendiri, Royyan emang gak pernah tertarik sama lu, dari pertemuan awal kita pun dia gak pernah tertarik sama lu,"terang Ajun lagi.
Elshara mendelik tajam tak terima dengan penjelasan Ajun, dia tarik tubuhnya untuk berdiri dengan tegak. Air mata yang menghujaninya tadi segera reda, langkahnya menganjur mundur seraya dia seka pipinya yang basah secara kasar.
"Bohong! Gue gak percaya sama lu Ajun, lu itu pembohong. Gua gak akan percaya lagi sama semua omongan elu!"rajuk Elshara frustasi, "gue udah nyangka pasti lu tahu sesuatu,"lanjutnya menunjuk-nunjuk Ajun dengan kasar.
"Gue gak bisa berbuat apa-apa El, lu temen gue, Royyan dan Dirta juga temen gue, gue cuman memastikan agar semuanya baik-baik aja. Saat itu Dirta lagi kacau sampai neror Royyan dan Royyan menyembunyikan pernikahan karena dia takut Dirta mencelakai istrinya, itulah kenapa dia menyembunyikan segalanya dari semua orang,"beber Ajun panjang sehingga dahinya berkerut.
"Ya kenapa harus menyembunyikannya dari gue Ajun! Gue gila! Lu tahu betapa terkejutnya gue saat Royyan mencium Ra di depan umum, gu-gue ... gue hampir gila, gue berusaha buat deket sama Royyan, gue berusaha untuk mendapatkannya kenapa orang lain yang mendapatkannya, apa salah gue, apa salah gua AJUN!"pekik Elshara histeris.
"Salah lu kenapa lu gak pernah sadar,"celetuk Ajun tanpa merasa iba melihat wanita di hadapannya bercucuran air mata.
Punggungnya berdiri dengan tegak, ia sama sekali tak gentar apalagi keinginan untuk menenangkan Elshara, pikirnya jika dia melakukan hal itu, semuanya akan sia-sia, gadis di hadapannya tengah menarik urat-urat keegoisannya menempati posisi pertama.
__ADS_1
NEXT ....