Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 108 : Malam pagelaran fashion dunia 2.


__ADS_3

Acara pagelaran itu di laksanakan sampai tengah malam, Royyan dan Adrian berada di bagian sudut lain yang jauh dari keberadaan Manda dan juga sang istri yang kini tengah berbincang dengan para designer dan para model yang ada dalam gedung itu.


Sementara Royyan sendiri tengah berbincang dengan beberapa pengusaha yang bergerak di dunia fashion yang seharusnya di atasi oleh mertuanya, sayangnya Ressa dan Miranda pulang lebih dulu karena harus melakukan berbagai macam pekerjaan.


"Cek istri saya,"lirih Royyan pada Adrian yang ada di belakangnya.


"Baik pak,"sahut Adrian.


Tanpa menunggu lama lagi, Adrian segera beralih dari Royyan ke dekat Almira dan Manda. Pria itu melihat Almira dan Manda yang baru saja menyelesaikan perbincangannya dengan beberapa orang.


"Maaf nona,"sapa Adrian melipat kedua tangannya di depan dengan sopan.


Almira menoleh dengan lembut dan mendapati Adrian sudah berada di belakangnya. "Iya, ada apa? Bos kamu di mana?"sahut Almira meletakkan gelas yang ada dalam genggamannya tadi ke atas meja di dekatnya.


"Apa nona sudah lelah, jika memang nona ingin pulang, biar saya antar. Pak Royyan masih harus menemui beberapa orang, setelahnya baru beliau akan pulang,"ucap Adrian menawarkan diri sesuai keinginan Royyan.


Wanita berambut ikal di bagian ujungnya itu tidak lekas menjawab Adrian, netranya sibuk menyibuk ke setiap tempat untuk mencari sosok sang suami yang tak kunjung menghampirinya selama ada di kastil putih itu.


Pria berkaki panjang itu terus disibukkan dengan berbagai macam pertemuan dengan banyak orang, tak ada henti-hentinya orang-orang mengunjungi Royyan, sehingga menipiskan celah sepasang suami-istri itu untuk saling bertemu di kastil yang megah itu, bak pangeran yang menemukan Cinderella di istananya.


Namun, ini bukanlah sebuah dongeng yang berakhir bahagia seperti kisah Cinderella. Semesta memangkas waktu Almira dan Royyan di kastil itu begitu saja, Almira menyurut sedih. Bibirnya mencebik kesal, tapi tak ada yang bisa dia lakukan lagi di sana dan keadaan ruangan itu sudah sangat kacau.


Beberapa sudah terlelap karena pengaruh alkohol yang mereka konsumsi dalam jumlah banyak, dan sebagian dalam keadaan setengah sadar, membuat Almira dan Manda ketakutan dengan situasi tersebut. Alunan musik masih menggema dengan gagah, dan orang-orang dari berbagai macam profesi itu berbaur menjadi satu ke dalam lantunan musik itu.


"Balik yuk Man, udah kacau banget sumpah,"ajak Almira bergetar takut.


"Yuk ah, Adrian juga udah nungguin elu dari tadi, kasian tuh anak kagak balik-balik kerja,"sahut Manda mendekat pada Almira.


Almira melangkah maju ke hadapan Adrian. "Di mana mobilnya?"tanya Almira pada Adrian.


"Mari nona, saya antarkan,"sahut Adrian sopan menjulurkan satu tangannya ke depan mengarah pada pintu keluar, mempersilakan Almira dan Manda berjalan lebih dulu.


Tanpa basa-basi lagi, dua gadis cantik itu segera melampai ke arah pintu keluar untuk segera meninggalkan kastil putih itu. Keadaan di luar pun tak kalah gaduhnya dengan apa yang terjadi di dalam, membuat kepala gadis bermata kucing itu berkunang-kunang.

__ADS_1


"Pening pala gue lihat beginian?"ujarnya pada Manda yang ada di samping kanannya sembari terus melangkah menghabiskan langkahnya menuju parkiran.


"Lu kan tinggal di Paris lama, dari mulai sekolah, kuliah, sampai kerja juga di sini kan?! Kenapa elu kaget dengan hingar-bingar kehidupan di sini,"sahut Manda.


"Gue di sini numpang nyari ilmu, makan sama tidur. Kalaupun gue liburan, pasti mami sama papi nyuruh bodyguard jagain gue,"terang Almira.


"Pantesan aja, lu lama tinggal di sini gak ada perubahannya, masih aja manja,"celetuk Manda sedikit meledek.


"Enak aja lo, manja apanya gue, itu nyokap sama bokap gue aja yang lebay pake acara pake bodyguard segala,"protes Almira tak terima dirinya di sebut manja.


Manda menyengih.


Beberapa menit berlalu, ke-tiganya tiba di parkiran. Adrian berlari ke mobil yang sudah di persiapkan oleh Royyan untuk istrinya dan mengendarai mobil itu sampai tiba di depan Almira dan juga Manda.


Adrian hendak keluar dari mobil untuk membukakan pintu mobil untuk Almira dan juga Manda, tetapi tatapan Almira memerintah lelaki itu untuk tetap diam di dalam mobil. Lantas Almira dan Manda masuk ke dalam mobil, setelah siap Adrian segera melajukan mobil itu keluar dari kastil putih meninggalkan segala kebisingan yang terbuat di sana.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, keadaan jalanan sangat sepi saat itu membuat Adrian leluasa melajukan kendaraannya dengan puas. Kemahirannya dalam mengemudi sudah seperti bos-nya saja, melesat bagaikan angin yang nyaris tak terlihat. Almira dan Manda menikmati perjalanannya dengan terlelap.


Di dalam kastil putih masih menyisakan beberapa orang yang masih ingin menetap di sana, sedangkan Royyan sudah melipir keluar dari dalam kastil untuk mencari tempat sunyi dan juga gelap. Energi di dalam tubuhnya sudah terkuras habis karena harus melayani banyak orang yang ingin berbicara padanya.


Wajahnya terdongak pada langit tenang dan para bintangnya, purnama malam ini tak terlalu kelihatan, para mega telah menutupi kegagahan sinarnya dan angin malam turun ke bawah menyelimuti Royyan.


Tak lama dari itu Elshara tiba dengan gaun merahnya yang menampilkan dada telanjangnya dengan indah, bagian tubuhnya sedikit terlihat, tetapi Royyan sama sekali tidak tergoda. Wajah tampannya menoleh malas pada gadis yang menggenggam dua gelas kecil sebuah minuman.


"Kok di luar sih, nih minum dulu, pasti capek kan?!"tawar Elshara menyodorkan satu buah gelas berisikan air bening itu.


Air berwarna kecoklatan yang nyaris menyerupai teh itu memiliki aroma yang sedikit menyengat, kadar alkohol yang mencapai 50% itu sungguh membuat hidung Royyan merasa terganggu, dia menatap sinis Elshara dan mengabaikan gelas yang gadis itu julurkan padanya.


"Bawa pergi,"tegas Royyan memalingkan tatapannya dari Elshara.


"Kenapa? Ini sedikit kok, gak bakalan membuat lo mabuk juga kan?!"pungkasnya memaksa, mengalihkan posisinya ke hadapan Royyan setelah dia meneguk minuman beralkohol itu dari gelas lain.


"Kapan lu akan berhenti untuk deket sama gua?"Royyan malah bertanya dan tidak berniat untuk mengambil pemberian gadis itu.

__ADS_1


Wajah gadis itu mengeras, pupil nya membesar. Namun, dia masih berusaha untuk menahannya, dan berusaha tersenyum.


"Gua bakalan jauh dari lo, kalau elo minum ini, walau nanti kita jauh setidaknya kita masih berteman bukan?!"Elshara kembali menjulurkan gelas itu pada Royyan.


Gue tahu apa yang ada di pikiran lo El, lu yang sekarang bukan lah gadis yang lembut dan peduli terhadap semua orang lagi, jika alkohol ini memabukkan gue, gue pastikan yang akan jadi pelampiasannya adalah istri gue.


Batin Royyan menggerutu.


Kemudian lelaki itu mengambil gelas minuman itu dan meneguknya dalam satu kali tegukkan rasa manis dan pahit menjadi satu menggelitik lidah lelaki itu, dia memberikan gelas itu dengan segera pada Elshara.


Lekas Elshara ambil gelas itu dan meletakkannya di sudut pilar bersamaan dengan gelas yang sudah dia habiskan isinya tadi. Senyuman puas kembali menyembul di permukaan wajah gadis itu, dia menyeka rambutnya ke belakang dan menarik gaunnya ke bawah. Dia berniat untuk menggoda Royyan yang sedang dalam pengaruh alkohol.


Dia tahu betul jika Royyan tidak pernah meminum minuman keras itu, maka menurutnya Royyan akan dengan mudah kehilangan kesadarannya. Cuaca dingin kota Paris mendorong Royyan menguar berat di kepalanya semakin kuat, perlahan tubuh lelaki itu lemah dan terjatuh ke bawah, punggungnya bersandar pada pilar putih yang berukuran besar itu seraya mencengkeram kepalanya dengan kuat.


Senyuman gadis bermata pipih itu semakin menaik. Perlahan dia melangkah dan menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Royyan, kedua tangannya melingkar di leher lelaki itu dan dia manarik wajahnya ke belakang telinga Royyan.


"Mari kita bermain sayang ..."lirih Elshara menggoda, sambil menjalari leher Royyan dengan jari--jari lentiknya.


Pria kekar itu tak lagi memiliki tenaga untuk menyingkirkan tubuh gadis itu dari pangkuannya, wajahnya tertunduk dan terjatuh di dada Elshara, membuat gadis berambut panjang lurus itu kembali menyembulkan sebuah senyuman puas.


Rencananya untuk menarik Royyan ke dalam kehidupannya berhasil, hatinya begitu menggebu-gebu, dia tak henti-hentinya memeluk Royyan dan terduduk dengan nyaman di pangkuan lelaki milik wanita lain. Tangannya yang lain menguar ke perut sixpack Royyan yang sempurna, dia membuka satu per satu kancing kemeja Royyan dari arah bawah untuk merasakan tubuh yang berbentuk dengan sempurna itu.


Di tempat lain, Almira dan Manda yang baru saja tiba di gedung apartemen milik keluarga Almira segera masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Manda sendiri tinggal di pintu kamar sebelah kamar apartemen Almira.


Mereka tidak tinggal di apartemen yang sama, karena Manda pikir kali ini dia tidak berhak untuk terus bersama sahabatnya, karena gadis itu sudah memiliki suami. Almira melempar tubuhnya dengan lemah ke atas ranjang, matanya terpejam menerawang beberapa kejadian yang akan terjadi saat suaminya datang nanti.


Sungguh dia meyakini jika suaminya akan datang dan meminta hal-hal aneh yang membuat hati gadis itu terbakar, membara cintanya semakin berkobar-kobar. Menguarkan segala cinta yang mereka miliki dalam malam yang mungkin akan menguap dan memanas.


Bibirnya menyunggingkan senyuman dan sangat menantikan kedatangan sang suami, tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi pada suaminya itu. Pria kekar itu di seret Elshara masuk ke dalam hotel dimana Royyan tinggal.


Bukan tanpa alasan Elshara membawanya ke sana, melainkan untuk meyakinkan semua orang jika mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. Jiwanya begitu membara, merapungkan rasa puas atas rencananya yang berjalan mulus.


Dia lempar tubuh kekar Royyan ke atas ranjang dalam keadaan terkapar lemah, bola matanya benar-benar terpejam. Tanpa basa-basi Elshara melucuti gaunnya dan menyisakan pakaian dalamnya, tubuh indahnya berjalan seduktif ke arah Royyan. Dia melepaskan semua kancing kemeja Royyan dan dalam sekejap mata kemeja itu terbuka.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2