Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 50 : Emosi Manda.


__ADS_3

Tepi pantai sudah dipenuhi dengan beragam alat ********shooting******** dengan para staff-nya yang bertugas di bidangnya masing-masing, para model pria dan wanita pun telah berjajar di tempatnya masing-masing sudah bersiap untuk melakukan shooting termasuk Manda dan juga Elshara.


Di temani debur ombak yang tersibak ke daratan menyeret peluh buih lautan yang merindukan pasir-pasirnya, di atasnya Elshara dengan gaun merah muda berbahan lembut dengan ekornya yang panjang dan mengesankan serta bagian dadanya agak terbuka menampilkan kulit mulus indah milik Elshara, dia berpose dengan indah di hadapan kameramennya.


"Oke ... mulai lagi ya Rala,"pinta kameramen.


"Ok."Rala mulai kembali berpose dengan lihainya.


Di sudut lain ada Manda dan pasangannya yang sudah dipilihkan oleh pihak penyelenggara sesuai dengan kecocokkan kedua pasang anak manusia itu. Kebetulan Manda di pasangkan dengan top model pria dari agensi yang tak kalah terkenalnya dengan agensi yang menaunginya.


"Manda tolong lingkarkan tangannya di leher Van ya,"pinta kameramen itu.


Wanita yang menggunakan rambut wig panjang bergelombang itu mulai menurut, Van yang sudah berpengalaman di bidang model lebih dulu mulai melingkarkan kedua tangannya di pinggang Manda dan perlahan wajah kedua insan itu saling berdekatan dan melekatkan hidung mereka, senyum merangkai wajah Manda dan juga Van dengan sempurna.


Kemudian Royyan dan Adrian tiba di lokasi pemotretan berlangsung, pemotretan ini dilakukan untuk keperluan poster yang akan terpajang menjadi cover acara saat nanti tayang di aplikasi penayangan film dan video. Kedua pria yang baru tiba itu menghampiri area Manda dan Van yang masih melakukan pemotretan romantis di daratan dengan background pilar putih dengan kain penutup putih yang transparan layaknya negeri dongeng di atas langit.


"Ini pasangan yang cocok, chemistry yang mereka bangun pun sangat bagus,"puji Royyan di samping pria paruh baru yang memiliki rambut tipis.


Menyadari Royyan yang ada di sampingnya, dia segera menoleh dan merangkai senyuman lebar di wajahnya yang nampak sudah lebih ceria dari hari kemarin.


"Iya pak, Manda adalah salah satu model andalan kami selain Rala, pekerjaannya selalu bagus, dan banyak sponsor yang memberikannya dukungan,"jelasnya dengan penuh keyakinan.


"Saya tahu itu, Manda adalah teman saya,"sahut Royyan lagi seraya menarik tangannya ke atas dan terlipat di depan.


Seketika bola mata pimpinan agensi itu melebar, sepertinya dia tidak menyangka jika Manda juga berteman dengan Royyan, senyuman itu semakin melebar. Pikirnya dia akan mendapatkan kemudahan karena dua model andalannya berteman baik dengan orang berpengaruh di negara ini.


Di sisi lain, Elshara yang masih melakukan pemotretan yang mengharuskannya menginjak air laut yang terseret ke daratan, dia tak sengaja melihat Royyan yang memperhatikan Manda melakukan pekerjaannya, wanita yang telah membasahi setengah badannya segera beranjak dari tempatnya berayun ke dekat Royyan.


"Gue juga bisa kok melakukan hal itu, karena kan waktu itu gue sakit, jadi dia yang harus menggantikan posisi gue,"celetuknya saat sudah berada di samping Royyan dan juga pimpinan agensi yang selalu menuruti kemauannya.


Perlahan Royyan menoleh, "ini memang posisinya Manda, dan waktu elu sakit Manda cuman mengganti bagian elu saat elu sakit aja,"terang Royyan yang memang ikut memantau ke tengah lautan saat itu bersama staff lainnya.


Elshara mendelik kesal, dia melipat kedua tangannya di depan dengan dongkol, lalu dia menyelipkan ratusan helai rambutnya ke daun telinganya, "Manda ... tuker posisi,"panggil Elshara kukuh.


Manda yang tengah fokus seketika menjadi buyar dan segera menghampiri Elshara dengan penuh emosi, kali ini dia tak bisa lagi menahan emosinya, entah sudah berapa kali Elshara merubah jadwal hanya karena dia menginginkan posisi yang menurutnya bisa menarik perhatian Royyan.


"Kenapa lagi sih lu? Hobi banget ngerusuh kerjaan orang lain, porfesional dong, kerjakan kerjaan lu jangan ngusik orang mulu,"cerocos Manda di hadapan Elshara.


"Kamu kan tahu kalau aku takut sama laut karena kecelakaan pesawat itu, masa kamu gak ada rasa ibanya sama sekali sih, jahat banget. Kalau aku sampai tremor dan pingsan lagi gimana?"melas Elshara. Lantas dia menoleh pada pimpinan agensi untuk mengirimkan energi lemahnya agar mendapatkan belas kasihan dari pria paruh baya itu, "boleh ya pak, saya takut banget lo sama laut,"sambungnya memasang muka lembut yang lebih memelas lagi.


Tentu saja dia akan melakukan segala hal untuk membuat Elshara senang, hanya karena kedua orangtua Elshara adalah pemegang saham terbesar di agensinya, dan dia rela menyingkirkan siapapun selama Elshara bisa tersenyum dan bahagia.


"Baiklah, Manda ngalah ya ... kasian Elshara dia ketakutan, kamu kan gak punya trauma jadi pasti aman-aman aja kan,"pungkasnya dengan enteng, dia melupakan ketakutan Manda beberapa waktu yang lalu.


Gadis berambut sebahu itu mulai geram dengan semua perlakuannya pada dirinya yang di anggap terlalu jelas pilih kasihnya, dia sama-sama memiliki power yang kuat seperti Elshara, tetapi dia selalu mendapatkan perlakuan keras dari pimpinan agensinya itu. Wajahnya sudah memerah padam dan tangan yang terjuntai telah mengepal dengan kuat.

__ADS_1


"Ya! Karena dia selalu menang, apapun yang dia mau dia selalu mendapatkannya,"pungkas Manda dengan gertakkan gigi yang perkasa, "anda selalu mengingat apa ketakutannya, tapi ANDA!"tambah Manda dengan nada tinggi seraya menunjuk pimpinan agensinya dengan penuh keberanian, "tidak pernah memperhatikan betapa takutnya saya saat harus berhadapan dengan rasa trauma saya sendiri,"sambung Manda dengan amarah yang sudah bergejolak di kepalanya.


"Ayo lah Manda ... kamu harus profesional, kita sudah kehilangan banyak waktu, kamu jangan bertingkah dan membuat proses shooting menjadi lebih ngaret,"celetuknya membuat amaran Manda semakin mendidih.


Mendengar jawaban pemimpin agensinya dia tarik wig yang dia pakai lalu dia lempar dengan sembarangan ke bawah, lalu dia acak-acak rambut pendeknya sampai mengembang.


"PROFESIONAL MACAM APA YANG ANDA BICARAKAN?"teriakan Manda memecahkan keramaian pantai itu, bahkan bola matanya memerah dan mengembun. "Kami di tuntut untuk profesional tapi kenapa hanya dia yang boleh bebas melakukan apapun yang dia mau."


"Apa sih Manda ... gitu aja pake ribut-ribut, gak profesinal banget lu,"cibir Elshara di sampingnya.


Lekas Manda menoleh dengan kasar lalu mendorong Elshara sampai tersungkur ke bawah, tatapannya mengeruh dengan puas telah membuat gadis manja itu terjatuh di tangannya.


"Auuw ..."Elshara meringis dan memasang wajah pilu mengharap perhatian Royyan, tetapi Royyan bergeming dan dia tidak ada keinginan untuk membantunya.


"Apa-apaan kamu ini Manda,"tepis pimpinan agensi sampai berani mendorong Manda sehingga hampir terjatuh.


Beruntungnya Van dengan cepat berlari dan berhasil menahan tubuh Manda di belakang, sedangkan pria paruh baya itu membantu Elshara untuk kembali berdiri. Lalu pimpinan agensi itu kembali memasang wajah angkuh di hadapan Manda.


"Kembali bekerja sesuai permintaan Rala, jangan membantah, sudah cukup! Jangan bermain-main lagi,"tegasnya.


"OK FINE! I'M OUT! Terserah acara ini mau gimana, GUA KELUAR! BYE ..."pekik Manda geram seraya dia menarik kalung mutiara yang sedang dia pakai sampai putus dan berceceran di pasir. "Dan elu!"Manda menunjuk Elshara dengan penuh emosi, "Elu bebas lakukan apapun yang elu mau, karena gua udah gak ada lagi,"tambah Manda yang kemudian memutar tubuhnya dan berlari menjauh dari hadapan semuanya.


"MANDA! KEMBALI! Kalau kamu gak kembali saya akan beri sanksi,"teriak pimpinan agensi itu seraya dia melangkah maju ke depan menatapi punggung Manda yang indah.


"BODO AMAT! DI PECAT JUGA SILAHKAN!"jawab Manda dengan nada suara yang lebih tinggi lagi.


"Lebay banget sih, gitu aja sampe marah se-begitunya, kayak anak kecil,"cela Elshara dengan angkuh.


"Dan sumber masalah selalu datang dari elu,"timpal Van yang kemudian melimbai pergi ke ujung pantai.


Royyan mengembuskan napasnya kasar lalu dia berputar bersama Adrian pergi dari lokasi shooting yang kembali berantakan, langkahnya mengarah keluar dari ****resort****, seraya dia berjalan pria bertubuh tinggi tegap itu segera menyelukkan satu tangannya untuk mengambil ponselnya, dia mencari nomor ponsel sang istri.


"Aku mau nanya?"ucap Royyan setelah panggilan teleponnya di angkat oleh Almira.


"Nanya apaan?"jawab Almira di balik ponsel.


"Manda punya trauma?"


"Trauma? Oh iya ada, Manda takut banget sama balon, pernah tuh waktu itu udah lama sih, dia dapet job iklan kosmetik gitu dan properti-nya ada balonnya, tapi pimpinan agensi nyuruh tetap lakukan shooting dan harus profesional katanya gitu, emang nyebelin banget tuh si aki-aki, aku aja gak suka sama dia,"jelas Almira.


Sontak Royyan tertawa sampai seluruh garis-garis wajahnya yang selalu datar menjadi kendur, bahkan Adrian pun ikut tercengang dan merasa terkejut jika Royyan bisa tertawa se-bebas itu.


"Aki-aki? Ya ampun kamu ini, yaudah ... mending kamu susul Manda, dia tadi marah-marah di sini,"ucap Royyan kemudian yang masih menyimpan senyumnya.


"Lah kenapa? Marah kenapa tuh anak, jarang-jarang lo Manda marah."

__ADS_1


"Ada masalah di sini."


"Oke. Aku cari Manda dulu, bye ..."


"Hmm ..."


Panggilan telepon terputus. Lalu Royyan menghentikan langkanya dan menoleh pada Adrian, "jadwal saya selanjutnya apa?"tanyanya yang telah memasang wajah datar seperti semula.


"Hari ini jam sebelas kita harus meeting dengan klien dari paris di restoran dekat green bowl beach,"beber Adrian seraya dia memeriksa jadwal Royyan yang dia tata di dalam tablet miliknya.


"Ok."Royyan kembali melanjutkan langkahnya dan Adrian pun ikut mengekorinya.


Sementara itu, Almira yang mengenakan turtleneck berwarna navy dan rok pendek berbahan lembut berwarna coklat susu segera mengayuh kakinya keluar dari resort, sampai di area lobi dia segera melempar tatapannya ke setiap sudut yang ada di sana mencari sosok Manda. Namun, dia tidak menemukan Manda di sana, hanya saja Almira tidak menyerah dia mulai melangkahkan kakinya ke depan.


Belum habis tiga langkah Almira melahap keramik-keramik putih di sana, tangannya terasa tertahan, perlahan dia menoleh untuk mengetahui siapa yang telah menahannya.


"Manda ..."seru Almira, dan ternyata itu adalah Manda orang yang dia cari.


Gadis berambut sebahu itu sudah mengganti pakaiannya dengan gaun berwarna sapphire Di atas lututnya dengan lengan panjang sampai menutupi bagian pergelangan tangannya dan dada yang terbuka sedikit, tetapi masih di tutupi kain tipis.


"Lu ngapain celingukan begitu?"tanya Manda yang nampaknya amarah itu sudah tenggelam lagi.


"Nyari elu lah, kata kak Royyan elu marah-marah, makanya gue nyari lu, kebetulan kerjaan gue udah selesai,"jawab Almira.


"Oh itu, iya nih gue lagi emosi, nyari makanan yuk,"sahut Manda kembali memasang wajah marahnya seraya dia melipat kedua tangannya di depan, "nanti gue ceritakan semuanya di restoran,"sambungnya.


"Yaudah ayo, gue juga laper."


"Skuy ...."seru Manda merangkai wajahnya dengan senyuman, kemudian dia memeluk tangan Almira dan membawanya pergi dari sana.


Sontak senyuman Almira pun ikut menaik dan ikut mengayuh kakinya bersama Manda keluar dari area resort ke tepi jalanan menunggu taksi yang melintas, setelah mendapatkan taksi segera kedua gadis cantik itu masuk ke dalam taksi dan melaju meninggalkan resort.


Sedangkan di lokasi shooting sudah tak terkendali lagi, kemarahan Manda membuat proses shooting menjadi terbengkalai, langit yang tengah tertawa dengan ceria pun tak mendorong apapun terhadap proses shooting ini. Manager Manda kelimpungan menghubungi Manda yang tak kunjung mendapat jawaban.


Bagaimanapun Manda memiliki power yang kuat di dalam agensi, kepergian Manda bisa mengacaukan acara ini atau bahkan mereka akan kehilangan sebagian sponsor yang selalu mendukung Manda selama ini, salah satu sponsor yang mendanai adalah perusahaan fashion keluarga Almira.


"Ada apa lagi ini?"tanya pimpinan penyelenggara yang nampak sudah menarik urat-urat amarahnya.


"Tenang dulu ya pak, kita akan mencoba menghubungi Manda dulu, dia ini emang agak kekanak-kanakkan,"jelasnya tidak sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan.


Pria yang memiliki postur tubuh sempurna itu mendekati, Van mulai menggerakkan mulutnya untuk mencoba meluruskan apa yang tidak di jelaskan oleh pihak agensi lawannya.


"Rala ingin merebut posisi Manda untuk ke sekian kalinya, Rala telah melakukan ini berulang kali dan pimpinannya terus mengabulkannya dan membuat Manda selalu tersingkirkan,"terang Van membuat pimpinan agensi itu berang mewarnai wajahnya dengan warna merah padam.


"Rala lagi?"seru pimpinan penyelenggara yang sudah merasa muak dengan permasalahan yang tidak ada habisnya.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2