
Pukul 21.00 wib Royyan tiba di rumah pribadinya, tanpa mempedulikan bagaimana mobilnya itu terparkir dia lemparkan saja kunci mobil yang dia kendarai ke sopirnya yang seharian ini tidak melakukan apapun, sopir itu hanya membantu pekerjaan di rumah besar itu, karena Royyan seharian ini tidak menggunakan jasanya. Setelah itu pria bertubuh tinggi tegap itu menyelam ke dalam pintu utama yang di lengkapi dengan smart lock, di dalam rumah para pelayan sudah berjajar di depannya menyambutnya pulang.
"Selamat datang tuan,"sapa semua pelayan serempak.
Royyan menyengguk dengan pelan mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru ruang tengah yang luas itu, tetapi tak ada sosok yang dia cari, biasanya sang istri selalu ada di ruang keluarga yang dilengkapi dengan televisi besar. Namun, akhir-akhir ini Almira tidak melakukan hal itu, mungkin karena pekerjaannya di butik semakin banyak dan menumpuk makanya istrinya itu tidak melakukannya, pikirnya begitu.
"Nona sedang ada di dapur, katanya mau masak *********pancake*********,"ucap Syani, seolah dia tahu siapa yang sudah membuat Royyan nampak gelisah seraya bola matanya tak berhenti berputar mencari sesuatu.
Tak lama dari itu Royyan menarik langkahnya menuju dapur yang terletak agak jauh dari ruang tengahnya. Melewati ruang keluarga yang tersekat oleh dinding putih lalu dia melanjutkan langkahnya ke lorong kanan yang membawanya menuju dapur, tiba di dapur pria gagah itu melepaskan jas dari tubuhnya, dan dia letakkan di kursi meja makan yang berada di bagian kiri dari keberadaan dapur.
Satu meter dari Royyan berada saat ini, dia melihat Almira kesulitan yang sedang memanggang adonan pancake dengan api besar, karena dia tak pernah tahu bagaimana caranya memasak. Namun, entah mengapa kali ini dia ingin terjun ke dapur dan memasak makan malamnya sendiri, sedangkan di rumah itu ada dua belas pelayan yang siap diperintah olehnya.
Pria berambut mullet itu tak kunjung mendatangi sang istri, dia masih melihatnya dari kejauhan sampai istrinya menoleh padanya seraya membawa pancake sedikit gosong di spatulanya, wajahnya mengerut dan bibirnya mengerucut, bulir-bulir embun di matanya mulai menguap dan menguasai bola mata kecoklatan itu.
"Kok gosong ... kan gak lama manggangnya,"rengeknya di hadapan semua pelayan yang menunggunya.
"Apinya terlalu besar nona,"sahut salah satu pelayan.
"Oh gitu ... yaah sayang dong ini gosong,"ucapnya seraya melempar pancake itu ke atas piring yang sudah disiapkan di atas meja.
Saat itulah Royyan menghampiri, dan melayangkan satu tangannya memberikan isyarat untuk meninggalkannya dengan istrinya. Dengan sigap para pelayan yang menemani Almira tadi segera keluar dari area dapur, lalu Royyan mendekati Almira yang sudah mulai menuangkan adonan pancake ke atas wajan teflon lagi.
"Apinya terlalu besar,"celetuk Royyan yang berdiri tepat di belakang Almira, tangannya menempel pada keramik yang di atasnya ada kompor, sedangkan satu tangannya lagi dia gunakan untuk mengecilkan volume api itu.
Deg!
Almira mengerjap, terkejut dengan kedatangan Royyan, karena sebelumnya dia tidak menyadari ada Royyan di area dapur itu, lekas dia putar tubuhnya seraya menggenggam wadah berukuran sedang yang berisikan adonan pancake tersebut.
"Ngapain disini? Udah sana pulang-pulang aja ke kamar,"katanya dengan derap jantung yang berdetak sangat cepat.
Perlahan Royyan melukis wajahnya dengan senyuman manis yang membuat jantung Almira semakin menggebu-gebu, lalu pria bertubuh kekar itu mengambil wadah adonan yang ada dalam genggaman Almira dan memindahkannya ke meja yang ada di belakangnya yang terbuat dari bahan bangunan dan berkeramik.
"Kamu kenapa tiba-tiba masak pancake, biasanya kan gak pernah nyentuh dapur,"tanya Royyan setelah dia tak lagi memblokir tubuh Almira di dekat kompor.
Jangan sampai ketahuan nih gue, kalau gue mau belajar bikin makanan kesukaannya, gengsi!
"Ya pengen aja, nanti kan aku bakalan punya anak, jadi aku harus belajar dari sekarang,"kilah Almira dan dia tidak menyadari perkataannya tadi membuat Royyan menyeringai lebih lebar dari yang tadi.
Sedangkan wanita yang mengikat rambutnya menyerupai kuncir kuda itu masih fokus dengan pancake-nya yang mulai membaik. Royyan tidak ingin mengganggu istrinya yang sedang berusaha, dia pun segera melipir ke meja makan dan membuka laptop yang dia simpan di dalam tas kotak berwarna hitam yang selalu dia bawa pergi ke kantornya, sementara di bagian kirinya ada kotak ber-isikan perhiasan itu.
__ADS_1
Pancake pun telah matang, dia tata di atas piring sebanyak enam tumpukan dalam satu piringnya, lalu dia siramkan saus madu di atasnya sampai meleber ke bawah menyebar ke seluruh area piring dan juga dia tumpuk dengan ice cream vanilla strawberry yang selalu ada dalam kulkasnya, kecuali yang gosong Almira diamkan di atas meja di depan kompornya, kemudian dia kayuh langkahnya membawa dua piring pancake itu ke meja makan.
Satu dia letakkan piring itu di samping Royyan sedangkan satu lagi dia letakkan di depan laptop suaminya, kemudian dia kembali ke kursinya yang berada di samping Royyan, tetapi Royyan lebih dulu meraih pinggang Almira yang hendak melipir ke area belakang kursinya dalam satu kali gerakkan dia tarik sang istri terjatuh di pangkuannya.
"Kak Royyan!"pekik Almira menajamkan tatapannya seraya memukul dada Royyan beberapa kali.
Royyan hanya tersenyum setelah melihat Almira tanpa henti memukulnya, kemudian dia genggam kedua tangan Almira dan menariknya ke belakang tubuhnya sendiri, membuat wajahnya menjadi sangat dekat dengan Almira.
"Aku udah bilang sama kamu, kalau kamu masih belum bener-bener cinta sama aku jangan melakukan hal-hal yang seolah kamu benar mencintai aku, ciuman di rumah mami papi itu yang terakhir ya, kali ini kalau kamu melakukannya lagi aku akan bener-bener marah,"ancam Almira yang masih batu dan tidak menyadari jika semua perlakuan Royyan adalah bentuk kata cintanya.
Ternyata kamu masih belum mengerti apa yang aku maksud dengan perlakuan seperti ini, aku mencintai kamu Ami, kenapa kamu tidak pernah mengerti. Entah mengapa batinnya selalu lancar berkata-kata, tetapi mulutnya sangat sulit untuk berucap.
Melihat sang istri menarik urat-urat dahinya, dia pun segera melepaskan Almira dan wajah datar dan dinginnya kembali menguasai diri Royyan, lalu dia singkirkan laptop dan mulai menyantap pancake yang dibuatkan oleh Almira, selanjutnya hanya hening yang menemani sepasang suami istri ini. Sampai akhirnya pancake itu habis dan berpindah ke perutnya masing-masing, tak lama dari itu Royyan memberikan kotak perhiasan itu ke hadapan Almira.
"Simpan kotak ini,"celetuknya datar yang kemudian menggeser piring yang sudah bersih dari makanan dan menarik laptopnya lagi kembali mendekatinya.
Kotak apa ini? Ngapain jadi gue yang harus nyimpen, makin hari makin aneh ini suami gue. Cibir batin Almira yang kemudian secara perlahan menyambar kotak itu.
Sebenarnya dia tak ingin mengambilnya, tetapi jiwa penasarannya selalu saja mendesaknya untuk mencari tahu tentang apapun yang belum dia ketahui. Tangan mungilnya menyambar kotak biru itu dan segera membukanya, dan ya ... Almira sangat terkejut setelah melihat isi di dalam kotak tersebut, satu set perhiasan yang ada dalam pelelangan beberapa waktu yang lalu.
"Wah perhiasan yang waktu itu, cantik banget ..."puji Almira nampak bahagia melihat satu set perhiasan impian semua orang ada di depan matanya.
Lambat laun dia sentuh kalung yang menjadi pionir dalam satu set perhiasan keluaran terbaru dari perusahaan tersebut, senyumnya yang sempat hilang tadi, kini telah kembali dengan penuh sampai wajah cantiknya bertambah manis dan menggemaskan.
"Hah?!"Sungguh Almira terkejut dengan pernyataan Royyan barusan, dia mengerutkan dahinya hingga dalam.
Segera dia tutup kotak perhiasan itu dan sedikit menyingkirkannya darinya, "ngapain kamu ngasih aku perhiasan semahal ini, kasih sama mami atau kak Aneu aja, aku gak mau punya hutang budi sama kamu, nanti pas kita selesai pernikahan ini aku tinggal pergi,"beber Almira.
Ternyata selama ini Almira masih menganggap pernikahan ini akan berakhir saat Royyan sudah tidak menginginkan pernikahannya ini, sontak membuat Royyan geram, dia tolehkan wajahnya dengan kasar seraya menutup laptopnya dengan keras sampai meja makan itu bergetar, membuat Almira terkejut hingga menghenyakkan tubuhnya ke belakang, dia pasati wajah samping sang suami dengan secuil rasa takutnya.
"Kamu kenapa marah?"
"Simpan perhiasan itu sama kamu, kalau enggak, kamu akan tahu akibatnya,"ancam Royyan, kemudian dia beranjak dari meja makan seraya membawa berkas-berkas, laptop dan jasnya.
Pria dengan punggung lebar itu dengan cepat menghilang di lahap lorong hitam penghubung antara ruang keluarga dan dapurnya, sedangkan Almira mematung, dia benar-benar terkejut melihat sosok Royyan yang sedang dikungkung amarah, lantas dia kembali mengambil kotak perhiasan itu dan dia peluk dengan erat.
"Kenapa sih, nakutin banget tuh orang, kan emang bener kan apa yang gue bilang, dia gak cinta sama gue ngapain dia melakukan hal-hal selayaknya sepasang suami istri dan memberikan barang-barang kayak gini."akhirnya Almira menggerutu sendiri di meja makan.
Di dalam kamar Royyan pun ikut menggerutu, dia letakkan ponsel dan laptopnya di atas meja kerjanya yang ada di ruangan pribadinya, sedangkan jas dia lempar dengan sembarang lalu dia buka satu persatu kancing kemejanya dan dia lucuti kemejanya sampai dadanya telanjang setelah itu dia melemparnya dengan sembarangan juga ke lantai.
__ADS_1
"Kenapa kagak peka-peka sih heran gue, udah dua kali gue cium masih gak peka apa yang gue rasain, ada cewek yang kagak pekanya parah kayak begini, Aaaaaargh ...."dia acak-acak rambutnya hingga tak lagi rapi seperti tadi. "Gue harus ngomong yang sebenarnya kenapa gue menyembunyikannya dari publik, biar dia ngerti alasannya karena apa,"pungkasnya kemudian keluar dari ruang kerjanya dan segera keluar dari kamarnya.
Di luar kamar Almira baru saja tiba sembari memeluk perhiasan itu, lekas dia kayuh kakinya mendekati Almira, tiba di depan sang istri Royyan tarik istrinya masuk ke dalam kamarnya.
"Kak ... apa-apaan sih, kenapa? Kamu aneh ya hari ini, ada apa sih? Aku kan cuman ngomong apa yang sebenarnya terjadi di antara kita, emangnya aku salah,"celoteh Almira sesaat dia di tarik dari luar sampai dia masuk ke dalam kamar.
"Diem,"tegas Royyan membawa Almira ke pesisir ranjangnya, lalu dia dudukkan istrinya disana.
"Apa sih kak."wanita berambut coklat keemasan itu menepis tangan Royyan darinya.
"Diem, dan jangan banyak bicara, aku mau ngomong serius,"tuntut Royyan menunjuk-nunjuk istrinya.
Wanita berparas cantik itu mengernyit, dan memilih untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Oke. Pertama ... aku menyembunyikan pernikahan ini karena aku gak mau kamu celaka karena kesalahan aku, ah sebenarnya itu bukan kesalahanku,"ucap Royyan dengan kaki yang naik ke atas satu sedangkan kakinya yang lain dia biarkan menjuntai ke bawah, yang kemudian dia susul dengan gelengan kepala.
"Kamu ini ngomong apa sih, dari awal kamu selalu tentang keselamatan aku, emangnya aku kenapa dan ada apa sama kamu, penjelasan kak Aneu pun gak aku mengerti, ada apa sih sebenarnya?"balas Almira yang selalu kebingungan dengan kata keselamatan yang keluar dari mulut Royyan.
"Aku tidak melakukan kesalahan apapun, tapi ini hanya dendam dia sama aku,"pungkasnya, membuat Almira ingin melempar otaknya yang tidak mau bekerja.
"Kesalahan? Apa? Ceritanya dari awal coba, kamu tahu istri kamu ini otaknya kagak pinter-pinter banget,"rengek Almira mengerucutkan bibirnya.
Mendengar rengekan sang istri lantas dia menghela napasnya panjang, lalu dia membuka sabuknya dan menariknya keluar dari celananya, Almira yang melihatnya sontak ketakutan dan menggeser tubuhnya ke belakang.
"Mau ngapain kamu?"tunjuk Almira dengan bola mata yang melebar dahsyat.
"Kamu udah tahu kan soal Dirta, Ajun, Elshara dan aku, kalau kita itu dulu sahabat baik."
Almira mengangguk dengan otak yang terus berpikir keras, menerawang ke depan apa yang ingin coba di katakan oleh Royyan padanya.
"Kita dulu sahabat baik, tapi ada satu ketika Elshara bilang kalau dia suka sama aku."
Dengan cepat Almira memotong perkataan Royyan, "iya aku tahu dari kak Aneu."
Untuk membalas perkataan Almira, lekas Royyan anggukan kepalanya dan mulutnya terdiam sejenak dengan tatapan yang masih lurus fokus pada sang istri.
"Dirta suka sama El juga, setelah aku tahu Dirta suka sama El, aku menjauhi El untuk menghargai Dirta, tetapi setelah kelulusan, El pindah ke paris dan El mengalami kecelakaan, saat Dirta tahu kalau El tidak bisa ditemukan dan dinyatakan meninggal dunia, Dirta frustasi dan menuduh aku yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi, karena El pergi ingin melupakan rasa cintanya sama aku,"jelas panjang Royyan yang berhasil membuat Almira terdiam dan tak berkata apapun lagi.
Wanita bertubuh mungil itu benar-benar tersekat, dia mulai memahami apa yang selama ini ada dalam pikiran suaminya. "Jadi Dirta ngancem kamu?"tanya Almira ingin menegaskan dari teka-teki semua ini.
__ADS_1
Lagi-lagi pria dengan rahang tegas itu mengangguk dan tidak mengucapkan apapun selama beberapa menit ke depan, membiarkan suasana hening menyelimutinya. Dia sedang merangkai kata yang tepat untuk dimuntahkan ke hadapan Almira yang sekarang sedang melukiskan wajahnya dengan sendu dan rasa iba yang melambung tinggi di gelora matanya.
NEXT ....