Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 46 : Elshara ketakutan.


__ADS_3

Di tepi laut, ke-dua puluh model sudah berjajar berhadapan dengan laut secara langsung, sesekali ombak menyeret air ke daratan bersalaman dengan kaki mulus nan indah para model tersebut. Posisi Manda berada di samping Elshara yang sekarang tengah bergetar ketakutan, pelipisnya sudah dipenuhi keringat rasa takut yang membuatnya lemah dan tatapannya sudah mulai kabur.


"La-ut ..."lirih Elshara takut, perlahan wanita yang mengikat rambut dark blonde-nya menyerupai kuncir kuda itu mundur ke belakang.


Kecelakaan pesawat beberapa tahun yang lalu masih memberikan rasa takut yang mendalam bagi Elshara, laut dan pesawat telah mengambil keberaniannya dengan penuh, dan kini menyisakan Elshara dengan trauma yang dalam tentang laut dan pesawat.


Semakin dia menyurutkan tubuhnya ke belakang, raganya pun ikut bergetar dengan hebat. Tangan dan kakinya melemas dengan tatapan yang kabur, lalu dia terjatuh dan merungguh memeluk lututnya seraya dia menenggelamkan wajahnya di antara lututnya.


Enggak ... jangan bawa gua ke laut lagi, gu-gua takut, tolong!! Siapapun tolong gue, Royyan ... lu di mana? gue butuh elu, Royyan ...


Batin Elshara menjerit, lambat laun kedua tangannya menjalar ke kepalanya sendiri, sedikit mencengkeram rambutnya, napasnya perlahan mulai tersendat. Selama beberapa menit Elshara tetap dalam posisi yang sama, bahkan kini dia membanjiri pipinya dengan butiran kristal yang mengalir dengan deras sampai Manda yang sedang berdiri segera menoleh karena mendengar tangisan lembut Elshara.


Kenapa tuh anak, kayak yang ketakutan begitu.


Batin Manda berujar, lantas dia segera berputar untuk mendekati Elshara yang terus bergetar. "Lu kenapa? Sakit?"tanya Manda pelan dengan raut wajah yang nampak bingung.


Pelan-pelan tendas Elshara mendongak dengan wajah yang sudah dipenuhi butiran air matanya sedangkan kaki dan tangannya masih menggeligis, bola matanya menyiratkan rasa takut yang tak bisa dia ungkapkan.


"La-ut ... tolong! Jangan bawa gua kesana, jangan ... JANGAN!"ucap Elshara yang semula lirih, tetapi semakin lama Elshara furstasi, dia menyeret tubuhnya ke belakang dan akhirnya tangisannya pecah.


"Heh lu kenapa sih."Manda nampak panik, begitupun dengan orang-orang yang ada disana. Lekas Manda berdiri menyisir setiap sudut untuk menemukan seseorang yang sekiranya mampu membantunya.


Dia kayuh langkahnya menghampiri pimpinan agensinya dan meninggalkan Elshara yang tengah dikerumuni para model yang juga tengah bersiap untuk menaiki kapal pesiar, dengan beberapa kameramen yang sudah menyalakan kameranya, tetapi kini kamera itu harus terpaksa mati karena kondisi Elshara yang memprihatinkan.


Wanita cantik berkulit putih itu terus menyebut kata takut dan jangan, dengan wajah yang benar-benar mengkhawatirkan. Sedangkan Manda baru saja tiba di hadapan pimpinan agensi yang tengah bersama Royyan.


Dengan napas yang tersendat Manda mencoba untuk berbicara, "Ra-rala ... di-dia,"ucapnya terbata-bata.


"Kenapa? Tarik napas dulu yang bener, ada apa dengan Rala?"tanya seorang pria paruh baya yang berambut tipis.


"Gak tahu kenapa, ta-tapi dia kayak yang ke-takutan, la-ut, jangan, takut, katanya gitu,"beber Manda dengan terengah-engah.


Royyan yang berada di dekat Manda segera mengayuh kakinya berlari, lalu diikuti oleh beberapa orang yang ada disana termasuk dengan pimpinan agensinya, sedangkan Manda tetap berdiri di sana mencoba mengatur pola napasnya.


Pria berkaki panjang itu menerobos kerumunan dan mencari Elshara yang sekarang sedang menangis, dia berlutut di hadapan Elshara, perlahan kedua tangannya menangkup pipi Elshara yang sudah kuyup dengan air matanya.


"Ada apa? Kamu takut laut?"tanya Royyan panik, tetapi wajahnya masih saja datar.


"Royyan ..."rengek Elshara memecahkan kembali air matanya.


Elshara tak menjawab, dia hanya menangis dan terun menerjunkan bulir-bulir air matanya yang semakin lama menjadi semakin lebat, lalu dia menghamburkan tubuhnya memeluk Royyan yang ada di hadapannya, dia dekap suami Almira itu dengan lekat, dia lingkari Royyan dengan kedua tangannya dan perlahan tubuhnya melemah.


"It's ok, lu gak usah ke laut,"bujuk Royyan mengelus lembut punggung Elshara, tetapi dia tidak membalas pelukannya.

__ADS_1


"Mereka menakutkan, gua gak mau kembali ke sana, tolong gue Royyan, gue takut ...."Elshara masih merengek membasahi kemeja yang di kenakan Royyan dengan suara lirihnya, nyaris tidak terdengar jelas.


"Ya. Elu istirahat aja,"pungkas Royyan kemudian seraya dia menyelukkan tangannya ke bawah tengkuk lutut Elshara dan membawa tubuh Elshara di atas kedua lengan kekarnya. "Rala harus istirahat, dia masih trauma dengan laut,"ucap Royyan setelah dia memutar tubuhnya menghadap kepada semua orang yang masih belum membubarkan diri.


"Iya, biarkan model lain yang menggantikkannya,"sahut pimpinan agensi.


Dalam waktu yang bersamaan semuanya mengangguk menyetujui keputusan Royyan dan juga pimpinan agensi, lalu Royyan melangkah pergi dari hadapan semua orang, membawa Elshara bersamanya tenggelam di bangunan megah resort-nya. Namun, pimpinan agensi masih di sana bersama staff dan model lainnya.


"Karena kondisi Rala tidak memungkinkan untuk ikut ke tengah lautan, jadi harus ada yang menggantikkan posisi Rala saat nanti fly fish,"tutur pria paruh baya itu sembari dia menyisir setiap model yang ada di depannya, sampai akhirnya dia berhenti menatapi Manda yang merupakan seorang top model yang juga memiliki pengaruh besar, "Manda, ganti Rala ya,"sambungnya.


Manda yang berusaha untuk tidak mempertemukan matanya dengan pimpinannya itu tersentak sehingga dia menoleh dengan gerakan yang sangat cepat lalu dia mengernyitkan dahinya enggan menggantikan posisi seseorang yang sama sekali tidak dekat dengannya.


"Gak mau, yang lain aja. Di sini model-modelnya memiliki talenta luar biasa, mereka juga bisa,"protes Manda dengan intonasi nada yang tegas.


"Manda ... kamu adalah top model juga dan pengaruh kamu besar sama seperti Rala, jadi yang paling pas itu kamu,"beber pria paruh baya itu lagi.


"Aku dari pagi pak shooting, masa harus sampai sore juga."Manda masih berusaha menepis jadwal tambahan.


"Gak bisa. Gak usah membantah, lakukan pekerjaan kamu dengan baik,"tegasnya tanpa mempedulikan jika Manda sudah sangat kelelahan.


Lalu pimpinan agensi itu berangsur pergi bersamaan dengan semua orang yang berkumpul tadi, setelah mereka semua pergi agak menjauh, Manda segera mencebik kesal dengan tatapan mata yang memicing kasar seraya menggerakkan kedua tangannya di udara menyerupai mulut yang sedang berbicara.


"Kamu top model juga, hanya kamu yang pantas menggantikkan Rala,"ejek Manda dengan suara berbisik. "Di kira badan gue gak punya rasa capek apa."Manda masih menggerutu.


"Huh! Thankyou ya ..."ucap Manda yang segera berayun ke depan, entah apa yang dia tuju.


"Oke,"sahut Ajun, tetapi Manda sudah lebih dulu melangkah smapai Ajun rela memutar kepalanya untuk mengikuti langkah Manda, "cantik, pasti dia top model juga kayak El,"pungkas Ajun lagi.


"Maybe ..."sahut Dirta dengan suara pelan.


Ajun dan Dirta kembali melajukan langkahnya, tetapi Manda segera menoleh lagi, hanya saja dia tidak mendekati Ajun atau Dirta lagi, dia melipat kedua tangannya di depan memasati punggung kedua pria yang sama gagahnya itu.


"Eh tunggu ..."seru Manda dengan suara lantangnya.


Sontak Ajun dan Dirta segera menoleh dan memasang wajah datar, tetapi penuh tanda tanya.


"Kalian temennya si cewek itu kan, Rala ..."lanjut Manda mempertahankan posisinya di tempat yang sama.


"Rala?"Dirta bertanya-tanya, siapa Rala? Dia belum mengetahui nama panggung Elshara adalah Rala.


"Iya ..."kemudian Ajun menjawabnya dengan cepat, sebenarnya dia sendiri pun tidak mengetahui siapa Rala, tetapi nama itu nampak mirip dengan Elshara, maka keluarkan kata iya itu.


"Dia pingsan, katanya trauma laut, jadi di bawa Royyan,"jelas Manda kemudian.

__ADS_1


"Hah?!"seru Ajun dan Dirta serempak.


Mereka menyadari jika Rala adalah Elshara karena ada kata Royyan di dalamnya.


Dengan bola mata yang membuncah Dirta kembali memutar kepalanya memasati wajah Manda, "Sekarang ada dimana?"tentu saja Dirta sangat ingin tahu di bawa kemana wanita yang dia cintai itu.


"Gak tahu, tanya aja sama Royyan, udah ya gue mau balik kerja,"jawab Manda, kemudian memutar tubuhnya kembali berjalan ke depan.


"Eh tunggu ..."seru Dirta, bahkan kakinya sudah siap bergerak untuk mengulik informasi dari Manda.


Namun, dengan sigap Ajun menghentikan langkah Dirta, "jangan. Kayaknya itu cewek lagi emosi, kalau lu samperin sekarang yang ada elu jadi target bulan-bulanan emosinya,"beber Ajun menarik Dirta kembali ke belakang.


Dirta menoleh dan mengerutkan dahinya pada Ajun, "lu tahu dari mana kalau dia lagi emosi?"tanya Dirta, seolah dia tidak mempercayai perkataan Ajun.


"Gini nih, elu tuh terlalu mudah termakan cinta dan membuat elu jadi bodoh terhadap urusan lain, cinta itu pake hati dan logika,"papar Ajun, membuat Dirta terdiam mencerna perkataan Ajun.


Di tempat lain, Royyan merebahkan tubuh lemas Elshara di atas ranjang di kamar inap Elshara. Di dalam kamar hanya ada mereka berdua, lalu pria berambut mullet itu segera berdiri hendak meninggalkan Elshara yang masih terengah-engah menahan rasa takutnya yang berlebihan, tetapi kemudian Elshara segera menaut pergelangan tangan Royyan dan membuat Royyan kembali menoleh dengan wajah datarnya.


"Royyan ... boleh gak gue minta elu disini dulu, gue takut ...."pinta Elshara lirih.


"Gue banyak kerjaan, hubungi Dirta aja,"sanggah Royyan menepis tangan Elshara dari tangannya.


"Kenapa harus Dirta, gue maunya elu,"rengek Elshara sembari dia membawa dirinya menjadi duduk dan mencoba untuk meraih tangan Royyan lagi.


Namun, dengan segera Royyan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, lalu dia berayun ke depan menciptakan jarak antara dirinya dengan ranjang yang dimana Elshara terduduk dengan wajah pudarnya, bahkan punggungnya merunduk.


"Gue nolongin elu karena simpati sebagai teman, dan elu harus ingat kalau gue udah punya istri dan tolong jangan melewati batas."sekali lagi Royyan menegaskan posisi Elshara dalam hidup Royyan itu siapa.


Baru saja Royyan menyelesaikan perkataannya, tibalah Ajun dan Dirta di kamar itu, segera Dirta menimpali perkataan Royyan dengan jiwanya yang masih saja membara, "lu gak pernah berubah, kalau ngomong sama cewek itu bisa yang lembut gak sih, kasian El."Dirta berjalan ke samping Elshara yang sepertinya dia sudah siap menerjunkan air matanya.


Lantas Royyan mendengkus kasar, memuntahkan emosi lewat deru napasnya. Perkataan Dirta selalu saja sama, tetapi dia tidak menyadari jika apa yang dilakukan Royyan adalah upaya menjauhkan Elshara darinya untuk dirinya.


"Jagain tuh cewek lu, gue gak mau istri gue lihat dan dia bisa marah-marah, elu gak tahu seberapa bawelnya bocil gue,"balas Royyan tegas.


Perkataan Royyan benar-benar menghantam jantung Elshara yang masih enggan untuk mempercayai jika pria yang dia cintai itu sudah menjadi milik orang lain, bola matanya pun perlahan mulai mengembun.


"Ka-kamu ... sangat mencintai istri kamu?"Elshara masih saja mempertanyakan hal yang sudah jelas dia ketahui jawabannya.


Dengan cepat Royyan menjawabnya, "Ya. Gue gak akan menikahi wanita yang gak gue cinta, walau wanita itu berusaha sekeras apapun, ataupun melakukan segala hal dia tidak akan pernah mengalahkan istri gue,"ungkap Royyan semakin memojokkan Elshara dengan wajah datar yang tegas.


Tiba-tiba saja suasana menjadi hening. Perkataan Royyan benar-benar telah membungkam semua orang yang ada di dalam kamar, kemudian dari luar terdengar jeritan yang sering Royyan dengar, yaitu Almira. Teriakan itu milik Almira, sebuah teriakan yang selalu dia tumpahkan saat dia ketakutan karena badut.


Mendengar hal itu Royyan segera berlari keluar, dia kelimpungan mencari asal suara Almira ada di bagian mana, kemudian Ajun segera ikut keluar dari kamar, membiarkan Elshara yang kini sudah benar-benar mengairi pipinya dengan air matanya, dan Dirta dengan senang hati menjadi pilar air mata Elshara yang lagi-lagi merasakan sakit hati, sudah berulang kali dia tertolak dengan nyata oleh Royyan.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2