
Wanita berkulit seputih susu itu mengabaikan gadis manja di hadapannya, dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya di saat Elshara mengoceh mengutuk dirinya dengan sebutan kurang ajar, tidak tahu diri, dan tidak punya sopan santun. Sosis itu telah merenggut perhatian dan fokusnya, setelah sosis itu habis di tangannya, dia remas kemasannya dan dia lempar pada tong sampah biru yang ada di dekatnya.
"Gue menolong kak Royyan, eh tapi sosisnya enak, makasih ya ..."ucapnya kemudian.
"Tolong apaan sih lu! Dasar gak tahu diri, lu itu cuman sepupunya dan lu gak ada hak buat ngatur siapapun yang dekat dengan Royyan,"pekik Elshara sudah tak bisa mengendalikan kemarahannya.
"Lu jangan lupa kalau kak Royyan udah beristri, jadi tandingan lu bukan gue, tapi istrinya,"tukas Almira menyeringai dengan puas.
Dan istrinya ada di hadapan lu bego!
"Gua akan singkirkan istrinya dari kehidupan Royyan,"pungkasnya dengan bola mata yang membulat dahsyat dan urat-urat wajah yang mengencang.
Almira menggelengkan kepalanya lalu dia memicing seraya menghela napasnya, kemudian dia melipat kedua tangannya di depan dengan dagu yang sedikit menaik, "lu bisa aja menyingkirkannya, tapi ... kalau lu gak dapetin hatinya kak Royyan, lu gak bisa menyingkirkannya. Sekalipun lu bunuh istrinya itu tidak akan merubah apapun, karena dalam cinta hanya hati yang bisa menyatukannya, raga hanya sebuah jasad yang di beri nyawa oleh tuhan, tapi yang membuatnya hidup adalah hatinya."Almira berceloteh panjang.
Elshara sibuk merangkai bait-bait amarahnya untuk menjadi lebih tinggi lagi, sampai membentuk menara rapunsel, raut wajahnya yang cantik terlihat menyeramkan, parasnya yang cerah perlahan meredup dan mencekam. Remang-remang benalu pepohonan merambat dengan cepat memenjara kemarahan gadis itu semakin membuncah, deru napasnya pun terhembus dengan kasar dan kedua tangan yang menjuntai telah mengepal.
"Oh ya, kayaknya lu gak tahu ya,"tutur Almira lagi sebelum dia melangkahkan kakinya untuk berlalu dari hadapan Elshara.
"Apa? Apa yang gak gua tahu tentang Royyan, iya! Gue emang gak tahu apa-apa gara-gara kecelakan sialan itu,"ketus Elshara dengan nada suara yang meninggi.
"Kak Royyan itu gak suka mayonaise."
"Hah?!"seru Elshara meredam sedikit emosinya, lagi-lagi dia terpatahkan oleh fakta yang tidak dia ketahui, "tahu dari mana lu?"tanyanya sekali lagi, enggan untuk mempercayai perkataan rivalnya.
"Gue ini se-pu-pu-nya! Ya tahu lah, Ajun dan Dirta juga tahu, kok lu gak tahu sih,"ledek Almira yang kemudian beranjak dari hadapan Elshara, dia berlari menginjak pasir-pasir di sana.
Elshara berderai lenyai. Dia frustasi, dia cengkeram rambutnya sampai napasnya tercekal. Lantas dia terjatuh dengan lemah di sana, dia tak bisa membiarkan dirinya tertinggal dari oranglain, ambisinya untuk mendapatkan Royyan semakin menggebu-gebu, rambutnya dia acak-acak karena frustasi dengan dirinya sendiri.
"Aarrghh ...."teriak Elshara mengerahkan suaranya yang lantang menyerupai lumba-lumba di lautan. Melengking menantang debur ombak yang tak kalah kerasnya, menyingkirkan suara angin yang berhembus dahsyat.
Dia membekam ribuan pasir di telapak tangannya sampai seluruh muka tangannya terasa panas dan juga gersang, lelehan kristal menderai dengan deras. Aura panas memeluknya dengan pekat, para pawana yang tengah menjelajah ikut memanaskan tubuh Elshara dengan kemarahannya.
"Gua gak boleh kalah dari siapapun, cukup! Gua gak akan mengalah lagi seperti gua mengalah pada Manda, siapapun istrinya Royyan akan gua bunuh tanpa terkecuali, dia akan mati di tangan gua, tidak ada yang bisa menghalangi gue, termasuk tuhan."
Penuturan ganas Elshara terdengar dengan samar-samar oleh telinga Dirta di balik pohon besar dekat dengan pagar resort yang berdiri di hadapan lautan. Dia menatapi wajah merah penuh air mata wanita yang dia cintainya dengan penuh kegetiran, hatinya terasa cengkar. Peluh luka berambai-ambai mengotori batin Dirta dengan penuh, napasnya tersekat, dia tidak menghampirinya, Dirta sibuk dengan menelaah bait-bait cinta Elshara yang sudah terangkai hanya untuk Royyan.
Bagaimana bisa lu menyakiti diri lu sendiri El, gua tahu ... jika cinta selalu bertindak sesukanya tanpa memedulikan siapapun, bahkan telinga bisa mendadak tak berguna dan mata menjadi buta. Namun, bukan berarti lo harus melukai diri sendiri, tolong berhenti menyayat hati lu sendiri, bukan cuman elu yang luka tapi gua juga.
__ADS_1
Sajak batinnya merangkai kekesalan dan kemarahan dalam satu dawai yang sama, seluruh wajahnya berkelintaran tak tahu arah. Setelah pertengkarannya dengan Royyan saat itu, Dirta mulai berpikir tentang kesalahan apa saja yang dia perbuat hanya karena cintanya pada Elshara.
Namun, perlahan dia mulai menyadari, jika dia mendadak bodoh karena cinta, padahal dia adalah sosok pria pintar yang memiliki IQ di atas 190, bagaimana bisa dia sebodoh itu menyerang sahabatnya untuk melindungi wanita yang dia cintai, sedangkan Elshara sama sekali tidak peduli pada siapapun selain dirinya sendiri.
Dirta mendongak seraya menghela napasnya yang panjang dan terasa berat itu, dia berusaha mendorong embun-embun di matanya tadi yang sudah berkumpul untuk kembali pada lautan hatinya yang sudah penuh dengan luka sayatan penolakan Elshara dengan terang-terangan, lalu dia melangkah untuk mendekati Elshara yang masih merunduk, bahkan kini punggungnya bergetar.
"Mau sampai kapan lu nyakiti diri lu sendiri?"seru Dirta saat dia sudah berdiri di hadapan Elshara.
Elshara tersekat, dalam keadaan masih tersedu-sedu dia meranggul, dia melihat Dirta yang sudah berlutut di hadapannya. Entah terbuat dari apa hati yang dimiliki oleh Dirta, air mata itu bercucuran karena orang lain, tetapi dia selalu menjadi tisu yang siap menyeka air mata itu sampai kering.
"Cukup El! Royyan emang gak pernah suka sama elu, dulu dia bilang sayang sama elu sebagai temen dan sekarang pun sama,"tambah Dirta lembut.
"Ini semua gara-gara elu Dirta!"pekik Elshara yang segera berdiri dari duduknya.
"Apa yang gua lakuin? Gua emang pernah berbuat jahat, karena elu gak ada El ... tapi setelah lu kembali gua berhenti menjadi hantu dalam hidup Royyan,"tepis Dirta enggan untuk di salahkan.
Lantas pria bertubuh tinggi itu berdiri dengan tegak di hadapan wanita yang selalu dia cintai, sungguh pria yang langka di era sekarang. Sosok pria yang selalu mencintai wanitanya dalam keadaan apapun, sekalipun dia tak pernah berpikir untuk menyerah, apalagi menyerupai para lelaki tak bernyali yang dengan suka hati membagi kasih dan cintanya pada wanita lain dalam keadaan waras.
"Lu nyuruh Royyan buat jauhin gue kan, karena lu suka sama gua, dan itu membuat Royyan jadi kayak gini. Dirta! Gua cuman cinta sama Royyan, stop! Jangan mengacaukan usaha gua!"tegas Elshara dengan air mata yang berhamburan.
"Iya ... saat SMA gua pernah minta hal itu pada Royyan, tetapi sekarang beda El, Royyan udah punya istri dan dia sangat mencintai istrinya,"balas Dirta tak kalah tegasnya dengan Elshara.
Hanya saja pertahanan Dirta sangat kokoh, dia tak akan mudah terjatuh hanya karena tolakan dari Elshara. Pria itu menghela napas, dia memicing menangguhkan amarahnya pada pawana yang menyeretnya untuk melangkah mundur ke belakang.
"Itu yang gue pikirkan saat elu gak ada El, siapapun yang nyakiti elu akan gua balas, dan saat elu kembali gue masih berpikir demikian, yang berhak miliki elu cuman gue, tapi ... semakin gue berusaha keras semakin gue tersakiti, di sakiti siapa? Sama perasaan gue sendiri. Sama seperti apa yang elu lakuin sekarang,"papar Dirta panjang lebar, dia berusaha untuk menyadarkan Elshara bahwa semua tindakannya itu adalah sebuah kesalahan.
Sepertinya wanita bermata pipih itu tak mendengarkan satu kata pun yang keluar dari mulut Dirta, wajahnya mengerut dengan warna merah padam. Gadis itu tak segan-segan untuk menganyam wajah cantiknya dengan kekesalan yang membuat seluruh wajahnya berkerut pun menegang, tetapi dia tak melepas bercak-bercak air matanya yang mengembun untuk kembali.
"Stop!"gadis itu terpejam kesal seraya dia menutupi kedua telinganya dengan telapan tangan bahkan dia mencengkeram rambutnya frustasi, dia tak ingin mendengar apapun dan dari siapapun, dia hanya ingin Royyan menjadi miliknya, "kalau lu datang cuman buat ngoceh kagak guna, mending lu cabut dan jangan temui gua lagi, lu ganggu tahu gak,"tegas Elshara dengan bola mata yang memburu tatapan Dirta dengan getir.
Pria berwajah kecil itu tercekat, sungguh dia tidak menyangka jika wanita yang dia cintai dahulu karena kelembutan dan perhatiannya yang manis bisa berkata sekejam itu, gadis cantik nan lembut itu benar-benar telah lenyap dan Dirta nyaris tidak mengenalnya lagi. Hal itu membuka mata Dirta dengan selebar mungkin untuk berhenti memperjuangkan cintanya pada Elshara, dia menggelengkan kepalanya dengan tatapan menajam, lantas dia terkekeh.
Dirta terus tertawa seraya dia berkacak pinggang, lalu dia menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya yang panjang ke belakang seraya dia mendongak dan mengembuskan napasnya kasar, membuat Elshara berkerut kebingungan, apa yang terjadi pada Dirta, sosok yang selalu berada di pihaknya, sekalipun dia menghakimi dan mencaci-makinya Dirta akan selalu berada di sampingnya, tetapi kali ini lelaki itu tak seperti biasanya.
"Lu bukan El."Dirta menggelengkan kepalanya sembari dia melangkah mundur, "atau emang gue yang gak mengenali elu dengan baik, gua cinta sama elu dengan tulus, gue selalu berusaha untuk mendapatkan hati elu tapi yang gua dapat cuman luka dan rasa pedih yang sangat mennyakitkan."
Pria itu berputar dan melangkah maju untuk meninggalkan Elshara, dia sudah sepenuhnya menyadari hal apapun yang dilakukannya untuk Elshara tidak ada yang bisa dia petik selain buah pahit yang rasanya sangatlah menjijikan.
__ADS_1
Baru saja beberapa langkah itu melenggang, Dirta putar kembali tubuhnya, melihat Elshara sekali lagi untuk terakhir kalinya, pikirnya dia akan benar-benar menghilang dari kehidupan Elshara dan akan memulai kehidupannya yang baru dan fokus pada bisnisnya dan tentunya menyelesaikan semua kesalahan yang telah dia perbuat pada Royyan beberapa waktu yang lalu.
"Tanyakan pada hati lu yang lagi berpikir waras, rasa yang lu punya untuk Royyan, cinta atau hanya sebuah obsesi, karena cinta dan obsesi memiliki gejala yang sama, tetapi cinta memiliki sifat siap mengorbankan tetapi obsesi memiliki sifat egosi dan juga jahat,"tutur Dirta, yang kemudian dia berlalu pergi.
Ya! Langkahnya kali ini benar-benar terkayuh keluar dari pantai, beberapa kali pun Elshara menyerukan namanya, dia tak sekalipun menyahut, tekadnya sudah bulat untuk pergi dan menata kehidupannya lagi dari awal.
"DIRTAA!"seruan Elshara semakin melengking dengan desakan air mata yang membuatnya parau.
Sesungguhnya Dirta tak ingin melakukannya, tetapi jika tidak demikian maka hatinya akan terus terluka. Tidak bersamanya memang sakit, tetapi jika memaksa untuk bersamanya itu adalah sebuah sayatan yang berkepenjangan dan akan semakin mengikis hatinya untuk menjadikannya sebagai orang jahat dan tentunya hanya menggali luka lebih dalam dan dalam lagi.
Dirta membiarkan hatinya terbiasa dengan luka tak mampu memilikinya, daripada dia harus menyayat hatinya terus menerus dengan sebuah fakta jika semuanya berakhir dengan sia-sia. Cinta memang harus di perjuangkan, tetapi bukan untuk dipaksakan, jika memang tidak bisa ... ya itu artinya harus mundur.
...***...
Semua staff acara beserta jajarannya yang lain telah pulang kemarin sore, termasuk pimpinan penyelenggara, pimpinan agensi dan para model yang ikut serta dalam acara tersebut. Kecuali Manda dan Van yang masih melakukan shooting liburan bersama, tempatnya masih di resort milik Royyan, tetapi di pantai yang berbeda.
Sebuah pantai yang terbentang luas tepatnya di tanjung benoa Bali, dimana para wisatawan menikmati wahana air dari berbagai macam jenis olahraga air. Lokasinya tak terlalu jauh dari keberadaan resort, Manda dan Van menaiki jetski yang dikendarai langsung oleh Van yang hanya mengenakan kaos putih polos berbahan tipis.
Cuaca di Bali sangat lah panas, mengakibatkan Van memilih untuk memakai pakaian tipis dan celana pendek, sedagkan Manda memutuskan untuk memakai celana pendek di atas lutut berwarna cerah dan kaos polos pendek berwarna putih.
Sama halnya dengan beberapa staff yang merekam kegiatan Van dan Manda di atas jetski, satu mengendarai jetski sedangkan di belakangnya memegangi kamera yang siap untuk merekam. Tak lupa di daratan pun ikut merekam dari jarak jauh untuk kebutuhan lainnya, Manda dan Van sangat menikmati liburan yang di balut dengan pekerjaan itu.
"Lu bisa berenang kan Van?"tanya Manda dengan suara lantang yang bertarung dengan deru angin yang berhembus kuat.
Sebelum menjawab, Van menyeringai terlebih dahulu seraya dia menjalankan jetski itu dengan lihai, dia berputar-putar di tengah lautan dengan ombak yang berkesinambungan tanpa rasa takut sedikit pun, sementara Manda nampak ketakutan menari-nari di atas air walau ada Van yang menjadi pegangan tangannya.
"It's ok, gue bisa berenang, pegangan yang kuat, kita nikmati shooting ini dengan bahagia,"balas Van yang kemudian dia belokkan jetski yang dia kendarai sampai kakinya dan kaki Manda tercelup ke lautan.
"Aaaaaah ...."teriakan Manda memenggal angin-angin yang menyerangnya sambil dia memukul-mukul punggung Van, "heh! Lo mau bunuh diri!"protes Manda dengan jantung yang masih berdebar-debar terkejut dengan apa yang barusan terjadi padanya.
Van tertawa, garis-garis wajahnya yang mahal seketika mengendur karena tawanya, tetapi dia tidak menghentikan permainannya di atas jetski berwarna putih dan hitam itu. Lantas satu tangannya yang lain terjulur ke belakang, telapak tangan lebar itu tertadah.
"Tangan lo mana, sini gue pegang,"pinta Van yang masih belum berhenti tersenyum.
"Buat apaan, mau jorokkin gua ya,"terka Manda, tetapi dia tetap menuruti apa permintaan Van, dia letakkan tangannya di atas telapak tangan Van.
"Disini ada kamera, ya kali gue berbuat begitu, kalau pun gak ada kamera ya gak mungkin gue lakukan hal itu, gue cowok tulen Man."Van menarik satu tangan Manda yang dia genggam, dia tahan di depan perutnya yang sixpack dan menggenggamnya dengan aroma hangat yang merasuki setiap buku-buku tangan Manda.
__ADS_1
Seketika senyuman Manda merekah bak bunga mawar yang bertemu dengan segarnya matahari dan embun yang menghujani dirinya. Tak lama Manda merasakan nyaman yang begitu dalam di dekat Van, satu tangannya yang menongkrong di punggung Van perlahan meleleh dan melingkari pinggang Van.
NEXT ....