Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 76 : Pergi dari rumah.


__ADS_3

Malam menjelang, Royyan yang masih terkapar di atas ranjang rumah sakit segera sadarkan diri, dia mengerjap dan terdiam sejenak, menjelajahi sekitarnya. Benda-benda yang hanya berada di rumah sakit kini mengelilinginya, di samping lain berdiri seorang suster dan di bagian kiri suster berpakaian putih dan berkerudung itu berdiri Ajun yang sepertinya baru bangun dari tidurnya.


"Yan ... lu masih hidup?"ujarnya becanda memasati wajah Royyan yang nampak limpung dan polos.


"Ami mana? Apa dia baik-baik aja?"Royyan malah bertanya kondisi Almira yang baik, tubuh wanita itu sangat tangguh.


Tak seperti parasnya yang cantik nan lembut, daya tahan tubuhnya jauh lebih gahar dari kelihatannya. Royyan bangun dari tidurnya, tubuhnya memang masih lemas tapi dia tidak ingin membiarkan jiwanya digerogoti rasa khawatir, sorot matanya menelan setiap cela yang ada di dalam kamarnya dia di rawat sampai membuat Ajun menyadari jika sahabatnya itu mencari ponselnya.


"Nih, hape lo ada di Adrian,"ujarnya memberikan ponselnya pada Royyan.


Lekas dia sambar ponselnya yang ada di genggaman Ajun, dia mencari nomor ponsel Almira yang selalu dia sematkan dan segera menelepon sang istri.


Tetapi tak ada jawaban, berulang kali dia menelepon sang istri dan berulang kali pula dia mendapatkan penolakan, panggilan teleponnya tak di gubris oleh Almira yang kini sudah menaiki pesawat dan gadis itu sengaja mematikan ponselnya.


Gadis berambut coklat keemasan itu bersandar pada kursi di pesawat sesuai dengan nomor kursi yang tertera di tiket yang seharusnya milik Van, dia bersandar dengan lemah memasrahkan tubuhnya di telan udara lepas yang menyerap hawa panas yang tersalurkan dari awan-awan di sekitarnya.


Royyan yang bersila di atas ranjang rumah sakit segera mengambil langkah tegas berlari keluar dari ruangan kamar rawat seraya dia mencabut cairan infus yang terpasang di tangan kanannya, dia mengabaikan jeritan suster yang menyerukan namanya dan menghentikan langkahnya untuk tetap terbaring di sana.


"Saya tidak punya waktu,"ketus Royyan kukuh, dia tetap berlari keluar dari kamar.


Ajun bergegas mengekori Royyan keluar, pria itu berjalan dengan gontai seraya menggelengkan kepalanya kasar, berusaha mengusir rasa perih yang memberatkan kepalanya, bahkan dia memukul-mukul kepalanya kasar seraya dia terus berusaha melakukan panggilan telepon dengan Almira.


"Royyan!"pekik Ajun menghamburkan pemburuan langkahnya pada keramik-keramik putih yang dia pijaki, dia berlari mendahului Royyan dan menahan tangan Royyan yang sedari tadi memukul-mukul kepalanya sendiri, "lu masih sakit, hentikan! Lu jangan gila."


"Gue harus memastikan kalau Ami baik-baik aja,"paksa Royyan menajamkan pandangannya pada Ajun.


"Udah lu tenang dulu, Ra gak papa, lu gak usah panik kayak gini dan mengabaikan keselamatan lu kayak gini, Ra tadi sama sahabatnya dan Ra baik-baik aja, dia cuman lemes aja. Setelah gua kasih air minum dia kembali membaik,"terang Ajun menenangkan Royyan.


Seketika kerutan di dahinya melemah ia tenggelam, rasa khawatirnya perlahan memudar, dia merasa lega jika istrinya terdengar baik-baik saja, ada sebuah kubangan hitam di dalam dadanya. Pertengkaran tadi membuat rasa khawatirnya semakin menebal, punggungnya bersandar pada dinding rumah sakit bercatkan putih bersih, lantas dia seret punggung itu terjatuh ke bawah.


Bokongnya melanggar keramik-keramik yang belum sempat terpijaki oleh kakinya tadi, dia menunduk lemah bersamaan dengan punggung lebar yang meluntur dari kegagahannya. Ketegakkannya mendadak menjadi pudar.


"Kalian kenapa sih? Tadi pun Ra kayaknya marah, mukanya gak lembut kayak biasanya?"tanya Ajun penasaran, seraya dia berlutut menyejajarkan tubuhnya dengan Royyan yang masih mencangkung di bawah.


Paras tampan Royyan menyembul, tatapannya melesat ke dinding putih yang ada di hadapannya yang menempel dengan kursi tunggu, "tadi gue sempet berantem karena Ami gak mau gue nolongin El, katanya El pura-pura kayak gitu, tapi gak mungkin kan El sampai membahayakan dirinya sendiri,"jelas Royyan, dahinya tegang.


"Hmm ..."Ajun terpegun. "Lu kayaknya harus balik deh, kayaknya Ra mikir kalau lu lebih peduli sama El di banding dia,"sambung Ajun menerka kemungkinan yang tergambar di angannya.


"Iya. Gue harus balik,"sahut Royyan sambil dia menganjurkan tubuhnya.


"Sebaiknya lu telepon Manda dulu, tanya dia Ra ada dimana,"saran Ajun.


Royyan kembali termengung, selama ini dia tak pernah terpikirkan untuk menyimpan nomor Manda. Lantas dia menoleh pada Ajun, menatap sang sahabat dengan wajah penuh tanya, Ajun mengernyit yang kemudian dia angkat kedua bahunya ke atas.


"Lu deket kan sama Manda, gue gak punya nomornya,"lirih Royyan polos.


"Hah?!"seru Ajun tak percaya, dia tarik tangannya menepuk dahinya lembut, "kok lo sampai gak punya nomor sahabatnya sih,"ucapnya tak habis pikir.

__ADS_1


Royyan mengembuskan napasnya pasrah seraya dia mendelik payah yang kemudian dia sandarkan kepalanya ke dinding putih yang ada di belakangnya, tepat di samping kanan kursi tunggu yang sengaja di sediakan oleh rumah sakit.


Sementara itu, Almira yang sudah tiba di bandara international Soekarno-Hatta terlihat keluar dari bandara dengan satu koper dan tas kecil yang tersilang di tubuhnya, penampilannya sangat sempurna lengkap dengan kacamata hitamnya.


"Kita mulai kehidupan baru,"cetusnya sembari merapikan kacamata yang mulai turun dari hidungnya.


Kaki kecilnya melangkah dengan tegas memasuki taksi yang sebelumnya sudah dia pesan lewat online, tak lama taksi online itu melaju meninggalkan bandara yang di penuhi banyak orang yang akan melakukan penerbangan ke tempat tujuannya dan ada pula yang datang seperti Almira.


Air mata masih menjadi embun di bola mata Almira, tetapi dia mengantuk, akhirnya dia tunda acara menangisnya dan dia terlelap. Bagaimanapun rasa sakit itu membuatnya menjadi berkobar-kobar, tubuhnya tetaplah merasa penat.


Air laut itu bukan hanya merenggut daya tahan tubuhnya sampai kehilangan banyak energi, tetapi juga ia telah merampas keyakinannya akan cinta yang dimiliki Royyan untuknya, mungkin bagi orang lain tindakan Royyan adalah hal yang biasa, sebagai bentuk manusiawi. Tetapi Almira memandangnya dengan hal lain, di saat dirinya merasa lemah dan membutuhkan pertolongan suaminya, Royyan malah memilih untuk menyelamatkan wanita lain.


Kak ... jika emang kamu mencintainya silakan, maka aku yang akan mengalah, selama kamu bahagia, aku akan pergi dan merelakan mu. Jangan memaksakan diri hanya karena kita sudah menjalin hubungan tabu ini selama satu tahun, aku baik-baik aja. Untuk kembali pada diriku yang dulu itu hal mudah.


Lokasi bandara dengan rumahnya tak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu kurang lebih dari satu jam dan Almira telah tiba di rumah pribadinya dengan Royyan. Rumah besar yang memiliki banyak pegawai, dari pelayan yang bertugas melayaninya dan membereskan rumah sampai satpam dan yang bertugas mengurus pekarangan rumahnya.


Mendengar suara mobil menyambangi pekarangan rumah, Syani segera keluar menunggu Almira di daun pintu dengan senyuman manisnya, sedangkan pelayan yang lain sudah berjajar di hadapan pintu menyambut kedatangan Almira.


Gadis yang mengurai rambut ikalnya itu turun dari taksi online menyeret koper yang baru saja keluar dari bagasi mobil, dan taksi online itu segera enyah dari rumah dengan pekarangan luas itu. Tak menunggu lama lagi satpam yang ada di dekat gerbang segera berlari mendekati Almira.


"Selamat datang nona ...."seru Syani menghadap pada Almira yang sudah mulai berjalan naik ke pintu besar.


"Hai Syani ... aku laper nih, bikinin aku mie pedes dong yang pedes banget pokoknya,"pinta Almira seraya melepaskan kacamatanya.


"Baik nona,"sahut Syani sopan.


"Baik nona."satpam itu mengangguk.


Setelah Almira masuk ke dalam kamarnya, barulah semua pelayan kembali bekerja, begitupun dengan satpam yang sudah selesai menyimpan koper sesuai dengan perintah Almira tadi. Di dalam kamar, Almira sibuk mengemasi barang-barangnya. Mulai dari pakaian santai, pakaian pesta, tas, sepatu, perhiasan dan beberapa keperluannya yang lain.


Barang-barangnya sangatlah banyak, sehingga koper yang tersisa di dalam rumah itu tak cukup untuk menampung semua barang-barangnya. Terpaksa Almira harus menyisakan barang-barangnya yang lain termasuk perhiasan pemberian Royyan saat itu, untuk perhiasan itu sengaja dia tinggalkan, perlahan air matanya menetes sampai sedunya menaik.


Ingatannya pada perhatian Royyan untuk Elshara kembali menghantam dan menghancurkan hati Almira, sebelum akhirnya bola matanya bergerak ke jari manisnya, di sana melingkar cincin pernikahannya, lantas dia segera melepaskan cincin itu dari jarinya, walau susah dia terus berusaha untuk melepaskannya sehingga cincin itu terlepas.


Dia genggam cincin yang melingkari jarinya beberapa waktu yang lalu itu, "dari awal pernikahan ini bukanlah cinta, sehingga cincin ini pun akhirnya menemui pelepasannya,"celoteh Almira yang menahan tangisnya.


Butiran kristal mulai berjatuhan, tetapi gadis yang tengah berdiri di hadapan meja yang di dalamnya berisikan perhiasan dan aksesorisnya segera menyeka air matanya dan menarik isakan yang hampir saja menjadi sedu.


Di luar pintu kamar utama, Syani mengetuk pintu berulang kali sampai Almira menyahut dan membukakan pintunya, "kenapa Syan?"tanya Almira seraya menyeka rambutnya ke belakang.


"Mie pedasnya udah siap nona, mau saya bawakan ke kamar nona atau nona mau makan di ruang makan?"Syani bertanya balik.


Almira melenggang keluar seraya menutupi pintu kamarnya lagi dengan rapat, dia tak ingin Syani atau siapapun yang ada di dalam rumah itu mengetahui rencananya sebelum semua barang-barang yang ingin dia bawa selesai dikemas.


"Mau makan di meja makan aja,"ucapnya sambil dia berjalan lebih dulu dibanding Syani.


"Sudah kami siapkan nona, strawberry kesukaan nona pun sudah kami siapkan,"ungkap Syani lagi.

__ADS_1


"Oke, thanks Syan."


Senyum Syani semakin berkembang, sepertinya dia sangat merindukan Almira, selama dua bulan lebih kedua majikannya itu tidak ada di rumah. Royyan yang cenderung diam dan gak banyak berbicara kecuali kalau dia membutuhkan bantuan para pelayan, tetapi dengan kehadiran Almira membuat rumah itu terasa lebih hangat dan berwarna.


Almira terduduk di depan makanan yang dia inginkan, dia menghela napasnya panjang, memandangi para pelayannya yang berdiri di depannya, mereka tersenyum dengan manis juga hangat. Rasanya berat meninggalkan rumah yang di dalamnya para pelayan yang bekerja dengan hati, kembali bola matanya mengembun.


"Kalian boleh kembali lagi, ini udah cukup kok,"papar Almira dengan suara berat sedikit parau karena dia menahan untuk tidak menangis di hadapan para pelayan.


"Baik nona,"sahut semuanya serempak.


Berbeda dengan Syani yang nampak melihat kejanggalan dari Almira, yang biasanya berbicara cerewet dan tak ingin di tinggal saat dia makan atau dia akan meminta salah satu pelayan ikut makan bersama dengannya.


Syani beringsut paling terakhir di banding para pelayan yang lain, wajahnya ikut meredup seperti sinar mata Almira yang meninggalkan sendu dan muram. "Ada apa dengan nona ya, kayaknya nona sedih banget, wajahnya bener-bener muram,"celoteh Syani pelan, dia berbisik pada benda-benda mati dengan harga fantastis yang ada di dekat ruang makan.


Sementara Almira menatapi mie yang selalu menjadi kegemarannya kala dia merasa gundah dan sedih hati, masakan dari pelayannya selalu menjadi favoritnya. Mungkin setelah ini dia akan sangat merindukan makanan ini, rasa ini, aroma ini, semua yang terjadi di dalam rumah ini akan selalu dia ingat.


Meski napasnya tersekat sehingga mie-mie lembut yang gurih dan pedas itu sulit untuk tertelan, rasanya yang luar biasa sekalipun tak bisa menghentikan rasa gundahnya, tetapi pada akhirnya makanan itu ludes dan menyisakan kuahnya saja yang merah. Almira memanggil Syani untuk ikut bersamanya ke dalam kamar.


"Nona mau mandi?"tanya Syani, pikirnya Almira memanggilnya untuk menyiapkan air untuknya mandi.


Sebelumnya Almira memang selalu mengandalkan Syani, tetapi kali ini bukan hal itu yang diinginkan oleh Almira, dia membawa Syani ke dalam kamar dan pintu sengaja dia buka lebar, gadis bertubuh mungil itu memperlihatkan dua koper yang sudah berisikan barang-barangnya dan beberapa barang yang masih berserakan di atas ranjang.


"Nona mau kemana lagi? Apa nona gak capek, baru pulang langsung mau pergi lagi,"tanya Syani aneh, tiba-tiba saja hatinya merasa tidak enak.


Gadis itu merunduk lemah, terjatuh ke tepi ranjangnya yang berukuran besar itu. Beringsar dia edarkan tatapannya ke setiap koper yang sudah berdiri di dekat nakas, tepat di depan pintu yang di dalamnya berisikan pakaian dan barang-barang miliknya dan Royyan.


"Aku mau pindah dari sini Syan,"ungkapnya lirih, membuat Syani terkejut hebat.


Bola mata wanita bermata bulat itu semakin melebar, debar jantungnya berdetak dengan kecepatan tinggi, lututnya merasakan kelu. Tak pernah terbayangkan oleh Syani jika majikannya ini akan pergi dari rumah itu. Dengan langkah tertatih Syani mendekati Almira, tatapannya redup bersamaan dengan senyumannya yang perlahan memudar.


"Kenapa nona? Apa yang membuat nona seperti ini?"tanya Syani dengan suara serak, dia tak rela majikannya tergantikan atau bahkan tidak sama sekali.


Gadis bermata kucing itu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar yang luas itu dengan layu sampai akhirnya dia menghela napasnya pilu dan hampir saja dia menjatuhkan bulir-bulir kristalnya, segera dia mendongak untuk menenggelamkan butiran kristal itu lagi.


"Rumah ini milik kak Royyan, aku datang ke sini sebagai istrinya dan kak Royyan memberikan semua fasilitas di rumah ini dengan baik, dan hari ini saatnya aku harus pergi karena aku bukan pemilik sesungguhnya,"ucap Almira seraya dia berayun kesana-kemari sampai akhirnya dia melempar pandangannya keluar ke jendela balkon kamarnya.


"Maksud nona?"tanya Syani lagi, dia belum mengerti maksud dari majikannya.


Sebenarnya dia bukan tidak mengerti, melainkan enggan untuk menerka pada hal yang belum tentu benar adanya, dia harus memastikan apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku bukan wanita yang dicintai kak Royyan, pernikahan kita hanyalah sebuah perjodohan kedua orangtua kita, tugasku sudah selesai sampai sini, karena kak Royyan sudah menemukan wanita yang dia inginkan,"imbuh Almira mengendapkan rasa sesak yang menyiksa di dadanya.


Napasnya tersekat lagi, dia pukuli dadanya dengan harapan hal yang mengendap dan mengeras di dadanya segera meleleh dan tidak lagi menghalangi aliran napasnya yang keluar masuk dari sana.


Almira menoleh setelah beberapa menit berlalu yang dia gunakan untuk menatapi balkon dengan tatapan kosong tanpa menangis, walau sebenarnya dia sangat menginginkannya. "Aku pamit ya Syan, kamu hati-hati disini, kalau misalkan suatu saat nanti kamu berhenti kerja disini cari aku aja ya, tanyakan sama Manda sahabat aku, kamu tahu dia kan?"ucap Almira dengan rasa sesak yang lebih kuat lagi.


NEXT ....

__ADS_1


__ADS_2