
Detak jarum jam dari jam tangan hitam yang melingkari lengan kiri Royyan sama sekali tidak menggoyahkan pria bertubuh tinggi itu untuk menekan istrinya di antara dirinya dengan mobil tersebut. Perlahan dia langkahkan wajahnya mendekati wajah Almira, deru napasnya menjalar ke seluruh wajah cantik itu dengan hangat, sampai akhirnya Royyan melekatkan bibirnya dengan bibir Almira sekali lagi.
Dia bermain disana dengan lihai, ini kali pertama dia menikmati sentuhan selembut ini dengan penuh gairah, seluruh tubuhnya memanas. Perlahan kedua tangannya menjalar di punggung Almira, terus menekan kecupan itu semakin dalam, berulang kali Royyan menjatuhkan ciuman dengan lekat, menyatukannya tanpa celah.
Almira merasakan sentuhan dibibirnya semakin lekat dan kuat, dia tidak bisa berkutik. Kedua tangannya yang menempel dipinggang Royyan perlahan melemah, sentuhan itu telah mengambil seluruh energinya sehingga dia tidak bisa bergerak. Pria bertubuh penuh otot itu ******* si bawel dengan penuh kelembutan yang dalam, meresapi rasa manis dari cream tiramisu yang tersisa.
Sungguh ini yang aku inginkan dari awal, mari akhiri ini Royyan, jika ini berlalu terlalu lama maka kamu akan melakukan hal yang melebihi saat ini. Tapi ini terlalu manis dan hangat, aku masih ingin disini, tolong tunggu sebentar lagi, aku ingin menyelam dalam kecupan ini sedikit lagi. Batin Royyan mencoba mengendalikan dirinya, tetapi dia tak ingin lepas.
Almira terdiam dan menerima perlakuan suaminya dengan suka rela, menghindar ataupun melawannya tak akan pernah mengubah apapun. Faktanya wanita berambut coklat keemasan itu tak memiliki banyak energi untuk melawannya, angannya melambung tinggi dengan cengkeraman kedua tangan yang bertinggung di pinggang Royyan.
Di dalam gedung, suasana pesta sudah agak berkurang, gemuruh perbincangan para tamu perlahan tak menyerbu telinga lagi, sebagian para tamu undangan mulai berputar keluar dari gedung. Termasuk Manda yang celingukan kesana-kemari, menyubuk ke setiap sudut dari gedung itu mencari sosok Almira yang tak kunjung kelihatan lagi.
"Ini anak pergi kemana sih, pergi ke toilet atau pergi ke gurun pasir sampai gak tahu jalan pulang,"gerutunya di tengah-tengah gedung seraya berkacak pinggang, "Atau jangan-jangan dia balik sendiri, ninggalin gue lagi."lanjutnya kemudian melontarkan wajah kesalnya yang manis.
Sekelibat angin tiba-tiba saja melintas mendorong pria dengan bermata downturned mendekati Manda yang masih saja nampak limbung. Sedikit Ajun menyentuh lengan Manda dengan lembut, menjadikan kedua pasang mata itu saling bertemu, lantas Ajun membungkukan kepalanya dan menyeringai tipis untuk meminta maaf. Namun, kata maaf tidak terucap dari bibirnya, nampaknya dia sangat terburu-buru.
"Siapa tuh ganteng?"pungkasnya lirih masih mengawasi langkah Ajun yang keluar dari gedung.
Kemudian, dia menggerakkan tangannya di udara tepat di hadapan matanya untuk mengembalikan fokusnya pada Almira. "Eh malah terhipnotis sama cowok gak kenal lu ah Man, harus nyari si Ra kemana nih,"sambungnya seraya meraba kepalanya dengan kedua tangannya.
Lekas dia memasukkan salah satu tangannya ke dalam tas kecil yang sedari tadi tak pernah lepas dari genggamannya. Manda segera mencari kontak Almira di ponselnya yang dia berikan nama "RaWell".
Ponselnya hanya berdering tanpa ada jawaban, sudah berulang kali Manda meneleponnya, tetapi hasilnya tetap sama. Panggilan tidak terjawab.
"Wah parah ini anak kemana sih, tumben banget susah di telepon, ya kali gue ditinggal sendirian disini,"rajuk Manda seraya memandangi ponselnya itu.
Jarum jam telah menunjukkan pukul 23.00 wib, di langit hitam yang hanya ditemani satu bintang itu terjatuh ke bawah menjumpai Royyan yang baru saja selesai dengan permainannya pada Almira. Kini keduanya terpaku saling mematung, bahkan Royyan memandangi wajah memerah Almira dengan dalam, seketika kedua sudut bibirnya menyeringai seraya menurunkan lututnya agar bisa melihat wajah istrinya lebih jelas lagi.
Sedangkan kedua tangannya sudah berpindah menempel dengan mobilnya itu dari yang awalnya terus menjalari punggung kecil Almira.
"Gimana? Aku berani kan?"cetusnya enteng, tanpa merasa jika dirinya sudah melanggar perjanjian yang tertera di dalam secarik kertas.
Almira yang masih terkejut dan merasa lemas, mendongakkan wajahnya dengan kasar, lalu satu tamparan lembut meluncur di pipi kanan dan agak mendorongnya ke samping, seraya dia menajamkan tatapan matanya menyeka bibirnya yang agak pegal dan lentur menggunakan punggung tangan kanannya.
"Kita ketahuan tanggung jawab sendiri ya."Almira mendorong Royyan, agar suaminya itu berdiri tegak dengan benar, lalu dia mengambil sebuah kaca kecil yang selalu dia bawa di dalam tas kecilnya.
Dia memeriksa penampilannya disana, melihat pantulan dirinya terlebih di bagian bibirnya yang sudah pucat, perona bibir yang tadi dia pakai telah meleber kemana-mana, semuanya telah mengotori bagian luar bibirnya.
"Kak Royyan jahat iih ... lihat nih jadi berantakan aaahh ...."satu pukulan kuat terjun di lengan kekar Royyan bahkan Almira merengek, menampilkan wajah yang akan menangis.
"Kenapa sih,"tepis Royyan menggenggam tangan Almira untuk berhenti memukulinya.
"Lihat nih,"tunjuk Almira pada bibirnya.
"Mau lagi?"goda Royyan membungkukkan tubuhnya mendekatkan wajahnya dengan Almira lagi.
Dengan sigap Almira menutupi bibirnya dengan kedua tangan mungilnya seraya bola matanya yang membulat. Tidak! Dia tidak ingin melakukannya lagi, bibirnya sudah terlalu pegal mendapatkan hal itu dari Royyan yang ternyata begitu luwes. Almira tidak bisa berkutik, apalagi menepisnya.
"Jangan aneh-aneh, aku tendang beneran ya."
__ADS_1
"Coba aja."Royyan menantang gadis yang tengah menarik urat emosinya.
Tak segan Almira melayangkan kaki mungilnya itu dan menghantam kaki panjang Royyan. Tanpa suara Royyan terhenyak ke belakang seraya mengangkat satu kakinya yang kesakitan karena tendangan Almira yang tidak bisa di anggap remeh, dia berjinjit-jinjit merasakan rasa ngilu di kakinya, bahkan dia meringis kesakitan.
"Kok beneran sih?"protes Royyan sembari mengusap-usap kakinya itu.
"Ya kamu juga beneran kan?"balas Almira berkacak pinggang dengan dagu yang terangkat.
"Oke kita impas,"balas Royyan sembari mengangkat kedua alisnya dan mengangguk, lalu dia berjalan mendekati Almira lagi dan mengambil tas kecil itu, dia mengacak-acak isi tas mencari perona bibir yang sering digunakan oleh wanita di hadapannya itu.
Impas apaan gila! Elu enak, gua yang lemes, masih untung cuman gue tendang, belum gue jorokin ke jurang lu.
Ingin rasanya kata-kata itu dia muntahkah ke wajah Royyan, tetapi keberaniannya belum setinggi itu, masih setinggi pohon toge yang merunduk. Akhirnya Almira memilih untuk menatap sang suami dengan tatapan sinis.
"Mau ngapain? Nyari apaan sih, jangan minta duit ke aku, uang kamu lebih banyak,"ucapnya begitu saja sambil dia menjulurkan kedua tangannya mencoba mengambil tas kecil itu dari Royyan.
Mendengar hal itu, dengan cepat Royyan menyimpulkan senyuman manis di wajahnya dengan rahang tegas yang nyaris sempurna.
"Nyari hati kamu yang entah berceceran dimana?"celetuk Royyan, kemudian dia membawa dua lipstik yang berbeda warna keluar dari tas, sedangkan tas itu dia lempar ke dalam mobil dengan sembarangan.
"Hah?!"serunya bingung seraya netranya berayun mengikuti kemana pun Royyan melangkah, "ngapain nyari hati aku, orang gak bisa di bawa kemana-mana, kalau hati aku dibawa kemana-mana mati lah aku, kamu mendo'akan aku buat mati gitu, kalau gitu ngapain kamu ni-"sambung Almira yang terhenti bahkan bola matanya menjegil hebat dan tubuhnya yang mematung.
Satu kecupan meluncur lagi di bibir Almira yang baru saja beristirahat, Royyan menghentikkan ocehan istrinya dengan kecupan itu lagi. "Diem. Kalau enggak diem, aku akan lanjut ke part dua,"pungkasnya kemudian setelah dia mengangkat bibirnya dari Almira seraya mengusap bibirnya dengan ibu jari miliknya dengan lembut.
"Ya!"teriakan Almira menggema lagi memecahkan keheningan yang tercipta disana, sembari dia mengentak-entakkan kakinya kesal, bahkan dia sekali lagi memukul dada Royyan.
Bola mata kecil itu terpejam mendengar teriakan Almira sampai telinganya berdenging. "Makanya diem."
Simpul senyum kembali menaik. Tanpa menunggu lagi, Royyan segera mengusapkan lipstik berwarna nude pink mewarnai bibir Almira dengan indah dan rapi, pria dengan lengan kekar itu membersihkan pinggiran bibir istrinya untuk lebih merapikannya lagi. Sentuhan terakhir dia menambahkan warna merah sedikit gelap di bibir dalam Almira, rupanya Royyan tahu betul tipe warna bibir yang selalu digunakan oleh istrinya.
"Udah. Cepet pulang dan jangan aneh-aneh,"paparnya seusai dia memoles bibir Almira dengan lipstik tersebut, seraya menjulurkan kedua lipstik itu pada Almira.
"Iya. Udah ah aku bosen lihat muka kamu,"jawabnya seraya merampas kedua lipstiknya dari tangan Royyan.
Angin telah naik ke atas, lebih memilih satu bintang yang menemani langit dan satu rembulan yang tengah membulat dengan sempurna. Malam ini memang dingin, tetapi bulan memberikan rasa hangat yang hanya bisa dilakukannya. Rasanya berbeda dengan rumah yang memiliki penghangat buatan manusia.
Wanita bertubuh mungil itu melimbai keluar dari parkiran dengan perasaan dongkol, tetapi tak menutup kemungkinan, senyumannya tetap terpahat dengan indah, sembari dia menyentuh bibirnya berulang kali dengan ingatan sentuhan lembut tadi yang masih melekat di benaknya.
"Amira Miara Tisya ...."panggilan Manda memekik telinga semua orang yang mendengar jeritannya memanggil sang sahabat, yang kini sudah berada di depan gedung.
Dalam balutan malam yang hitam, Almira menggerakkan kepalanya menoleh pada Manda yang sudah bertolak pinggang tepat di depan pintu masuk yang berukuran besar itu, lantas wanita berambut sebahu yang menata rambutnya hanya dengan jepitan mutiara lucu di atas kepalanya itu melangkahkan kakinya dengan kecepatan yang menyerupai kilat yang melukis langit saat ini tanpa suara.
"Elu dari mana, katanya ke kamar mandi, tapi lamanya kayak pergi ke gurun pasir lu, habis ngapain sih,"semprot Manda berkacak pinggang di hadapan Almira.
"Ya kan tadi gue bilang lama, emangnya udah selesai acaranya?"balas Almira yang disusul dengan pertanyaan.
"Belum, kayaknya beres jam dua belas, tapi gua mau balik aja deh, temen-temen gua yang lain juga udah pada balik, elu sih lama,"jawabnya masih sedikit menyisipkan nada kesal.
Almira menyernyih seraya bola matanya mengedar ke belakang untuk memastikan dia sudah menjauh dari suaminya, tetapi Royyan, Adrian malah mendekat sedang orang-orang suruhannya yang berjaga tadi menghilang, entah kemana mereka pergi. Mereka bagaikan bayangan hitam yang tak mudah terbaca oleh mata manusia, jangankan hal itu bahkan angin pun tak bisa mengetahui kemanakah orang-orang itu.
__ADS_1
"Eh si cowok kebab, dia kayaknya ada mulu ya, apa jangan-jangan jodoh ya sama elu,"celetuk Manda sesaat dia melihat Royyan dan Adrian berdiri di depannya.
Deg!
Lagi-lagi jantung Almira berdegup sangat cepat, bagaimana tidak? Baru saja Almira selesai bersama Royyan bahkan melakukan suatu hal yang sudah jelas tertera di dalam surat perjanjian itu sebagai syarat untuk tidak di lakukan semasa pernikahan ini berlangsung, tetapi seiring berjalannya waktu, perjanjian yang tertulis itu satu persatu dilanggarnya dengan alasan yang sangat sederhana.
Dari jarak dua meter, Royyan dan Adrian bertemu dengan Ajun yang tiba-tiba saja menghampirinya dan menjabat tangannya lalu memeluknya sejenak. Almira menyipitkan bola mata kucingnya itu, menatapi Ajun yang kini berdiri di hadapan suaminya.
I-itu ... temennya kak Royyan yang ada di foto itu kan? Tapi katanya gak pernah ketemu sama temennya, lah ini apa?
Satu pertanyaan muncul kembali di benak Almira.
Namun, setelah itu dia menggelengkan kepalanya untuk menepis pertanyaan tersebut dengan segera. Mencoba mengabaikannya dan berusaha tidak mencampuri urusan Royyan.
"Kapan lu kesini?"tanya Royyan setelah dia melepaskan pelukan singkatnya pada Ajun.
"Dari awal, cuman gua baru sadar ada elu pas elu keluar dari gedung, mau gua samperin tapi Adrian berjaga di depan, jadi gue ngerti lah,"terang Ajun.
"Bagus. Kalau tadi elu tiba-tiba datang, kacau semuanya."
"Eh, emangnya elu ngapain?"Ajun menyipitkan matanya, menatap Royyan dengan praduga yang sudah dia yakini dengan benar.
"Hmm ...."jawab Royyan menggerakkan wajahnya sedikit ke atas lalu dengan cepat kembali ke asal.
Pria yang memiliki bobot tinggi badan sama dengan Royyan itu seketika tersenyum bahkan dia tertawa kecil seraya berkacak pinggang.
"I know ... gua udah duga sih hal itu bakalan terjadi, gak mungkin elu bisa nahan, karena dia tipe elu juga kan."
"Ya, elu emang tahu gue."
"Oh jelas, gue kenal elu dari smp sampai sekarang."
Perbincangan itu samar-samar merasuki telinga Almira, hal itu sudah jelas menanamkan rasa penasaran Almira semakin melambung tinggi.
"Ngomongin siapa sih?"bisik Almira dan terdengar oleh Manda yang berada di sampingnya.
"Gak usah kepo sama urusan orang lain,"jawab Manda berbisik di telinga Almira.
Sontak Almira menoleh dengan cepat dan mendorong Manda sedikit menjauh darinya, "elu ya, udah yuk ah balik,"Almira menarik Manda bersamanya kembali ke parkiran.
Manda mengernyih dan meringankan tubuhnya agar Almira bisa dengan mudah menyeretnya. Kedua wanita itu melimbai dari sana, tenggelam ke dalam lorong gelap yang disebut dengan parkiran.
Pencahayaan parkiran di gedung ini sepertinya harus mendapatkan sebuah protes karena kekurangan penerangan. Lampu-lampu yang selalu berjajar di taman-taman memang mengelilingi parkiran tersebut, tetapi tidak membuat pencahayaan di parkiran gedung ini menjadi lebih baik.
NEXT ....
Happy Reading, and thanks for reading my story 🥰
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...