Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 96 : Apakah ini cinta?


__ADS_3

"Bukan gitu maksud gue,"sahutnya membalas Manda dengan lukisan senyum tipis, "tapi maksudnya itu, El dulu gak se-keras kepala ini, dulu dia orang yang lembut dan perhatian sama orang lain, bahkan saat dia di tolak oleh Royyan pun dia masih bisa berkata baik dan memilih untuk cabut dan setelah itu menghilang karena kecelakaan pesawat,"tambah Ajun menjelaskan siapa Elshara dulu.


Manda mengangguk-angguk paham dengan apa yang di jelaskan oleh Ajun walau lelaki itu tidak lepas dengan senyumannya. Mempercayai perkataan Ajun memang cukup sulit, karena lelaki itu sering berbicara nyeleneh dan mengundang gelak tawa semua orang. Begitupun dengan Manda yang ikut terkena sindrom Ajun.


Setelah puas berbincang seraya meraba jalanan sekitar taman menikmati angin malam yang berhembus lembut, walau menusuk tapi rasanya Manda merasakan sesuatu hal yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Hatinya berkembang dengan perasaan bahagia yang tak bisa dia gambarkan apalagi dia utarakan dengan jelas.


Apakah ini cinta? Baik Manda maupun Ajun, keduanya sepakat untuk tidak menamai perasaan ini dengan cinta, bagi keduanya cinta itu sulit untuk di gapai dan rasanya tidak mudah terasa begitu saja, cinta adalah sebuah rasa yang sangat mendebarkan dan untuk mencapai puncak rasa, memiliki waktu yang cukup sulit. Ajun dan Manda menamai cinta dengan sebuah ungkapan perasaan yang akan saling memberikan bahagia.


...***...


Di bawah semesta dengan pesona paginya yang hangat dan aroma matahari yang masih terasa manis menyebar ke seluruh muka bumi ini dengan antusias, sang matahari mengedarkan sinarnya sampai ke titik tak terlihat sekalipun, ia mencari celah-celah yang ada di bagian bumi untuk ia kirimkan hangatnya pagi dan menyingkirkan ribuan embun yang berkumpul di satu titik yang mereka inginkan.


Pada sebuah tanaman hijau dengan daunnya yang lebar, tepat di depan gedung agensi yang menaungi karir para model dimana Manda dan Elshara bernaung. Kedua top model itu sama-sama memiliki kekuatan yang sama di dalam agensi, dan hari ini adalah hari yang amat besar bagi agensi, Elshara, terutama Manda.


Gadis bermata almond itu sangat berbahagia di depan kaca, riasan wajah dan gaunnya sudah benar-benar sempurna, Manda bukan hanya siap, tetapi dia juga sangat berapi-api untuk menaklukan pemotretan hari ini.


"Brand kali ini sangat besar Man, beruntung lu yang di pilih oleh perusahaan perhiasan itu,"pungkas sang manager sembari dia merapikan rambut Manda yang sedikit berantakan.


"Iya kak, dan ini adalah brand impian gue, akhirnya gue bisa dapetin job ini,"sahut Manda tersenyum ceria.


Wajahnya bermekaran bak bunga mawar yang cantik dengan harum yang menyebar, selama bertahun-tahun dia berusaha keras untuk mencapai puncak karirnya, dan di agensi ini Manda mendapatkan puncak karirnya, saat di agensi pertama dia tak bisa berbuat banyak karena ada berbagai macam hal yang membuatnya membeku dan karirnya tidak naik.


Sampai akhirnya gadis itu memutuskan untuk pindah dan di agensi inilah Manda mendapatkan karir yang gemilang, tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena setelah kedatangan Elshara dua sampai tiga tahun terakhir ini job yang seharusnya di kerjakan nya selalu di ambil paksa oleh gadis bermata pipih itu.


Begitupun dengan detik ini, raut wajah sang manager tiba-tiba saja redup, membuat Manda yang sedang tersenyum ikut mengendur, dia beranjak dari kursinya berdiri di samping sang manager. Eriana terus meredupkan binar matanya, dia masih mengingat kejadian-kejadian sebelum hari ini, bagaimana Elshara merebut job Manda tanpa memiliki perasaan walau sebesar buah jarak.


"Kenapa sih kak Ana tiba-tiba aja mukanya kusam begitu,"tanya Manda memiringkan wajahnya untuk menyibuk ke wajah Eriana.


Helaan napas panjang berhamburan keluar dengan payah, "lu pernah bilang kan, kalau misalkan job lu di rebut lagi sama Rala, lu bakalan cabut dari agensi,"cetusnya kemudian.


"Euum ..."Manda bergumam menganggukkan kepalanya lembut.


"Please ..."pinta Eriana menggenggam salah satu telapak tangan Manda sehingga gadis cantik di hadapannya mengerjap ke belakang menatapi dalam sang manager. "Bawa gue bareng sama elu ya, gue yakin banget, kalaupun elu cabut dari agensi karir lu pasti masih cemerlang,"tambahnya penuh keyakinan, cahaya yang redup tadi seketika berkembang dan memercikan sinarnya.

__ADS_1


Manda mengernyit, "kenapa lu yakin banget sih, kalau sebaliknya gimana? Karir gue anjlok gimana na?"sahut Manda pesimis.


Eriana memicing sembari dia melepaskan tangan Manda dari dekapan tangannya, "Man ... lu itu sahabat dari putri tunggal pemilik perusahaan fashion terbesar di negeri ini, belum lagi lu deket sama Van, top model dari agensi nomor satu di negara ini, apa yang lu takutin,"pungkas Eriana menjelaskan seberapa penting posisinya kini.


"Euum ..."gumam Manda mengangguk-angguk, lantas dia lipat kedua tangannya di depan, melipir ke arah lain untuk menikmati pemandangan lain selain wajah dari managernya. "Tapi kan Van cuman top model di agensinya, bukan kayak Rala, anak pemilik saham terbesar di agensi,"tepis Manda dengan segera membandingkan posisi Van dan Rala dalam agensi masing-masing.


Eriana tertawa mempertontonkan gigi-giginya yang rapi dan juga putih membuat Manda kebingungan, apa yang di tertawakan oleh managernya ini, apakah perkataannya tadi ada selipan gurauan? Rasanya tidak, gadis berambut sebahu itu mengedikkan bahunya, mengirimkan kebingungan yang lebih pekat lagi.


"Ngapa lu ketawa?"tanya Manda.


"Van itu pemilik agensinya,"cetus Eriana.


"Hah? What?! Really? "seru Manda tak percaya, wajah cantiknya mengernyit hebat dengan kedua telapak tangan yang tertadah ke atas.


Eriana hanya mengangguk dengan pejaman mata yang singkat, "lu gimana sih, di Bali kalian kan sering jalan berdua bareng tanpa di pantau gue ataupun managernya Van, kok lu bisa gak tahu."


"Ya mana gua tahu lah na, yang gue tahu dia emang model kelas atas, kelihatan dari cara dia bekerja."


"Ah ya sudahlah, ayo kita ke lokasi,"ajak Eriana, kemudian wanita itu kembali ke depan kaca rias, merapikan berbagai macam keperluan yang akan di butuhkan oleh Manda.


Gadis bermata almond itu masuk ke dalam ruangan yang menjadi lokasi pemotretannya dengan teburu-buru, langkahnya berapi-api menyambangi lokasi tersebut. Semua staff sedang disibukkan dengan rentetan pekerjaan, sehingga kedatangan Manda tak terlalu di perhatikan.


"Apa-apaan ini!"pekik Manda dengan nada suara yang meninggi, membuat semua staff yang tengah terburu-buru seketika menghentikan aktifitasnya.


Melihat Elshara berada di posisi yang seharusnya Manda lakukan membuat gadis berambut sebahu itu tersulut emosi, sumbu-sumbu emosinya telah terbakar seluruhnya. Jiwanya tersakiti lagi dan lagi, kesakitan ini tak akan pernah berakhir jika hitam dalam ruangannya masih bersamanya.


Ruang redup yang menjadi tempatnya bernaung sudah terlalu gelap, Manda ingin segera keluar dari ruang redup itu, gadis itu tak segan-segan meninggikan nada suaranya di hadapan semua orang, termasuk pimpinan agensi dan beberapa klien yang sedang meliput, tak lupa di sana ada Van yang juga ikut serta dalam penggarapan pemotretan ini.


"Manda! Jaga nada suara kamu, disini lagi banyak tamu, yang sopan kamu,"bentak pimpinan agensi yang segera mendekati Manda yang baru saja menarik kasar kalung berlian yang melingkari lehernya.


Gadis bermata almond itu menoleh kasar, tatapannya meruncing mencabik-cabik kewibawaan pimpinan agensi itu menjadi serpihan tak berguna, seraya melepaskan semua perhiasan yang menempel di tubuhnya dengan kasar lalu dia lempar tepat di hadapan bos-nya, tatapan semua mata yang melihatnya terlihat nanar.


"Lagi!"tegas Manda dengan tatapan getir, "saya sudah bilang bukan, kalau pekerjaan yang sudah ada dalam genggaman saya berarti itu milik saya, kenapa an-da! Selalu memberikannya pada dia, DIA!"pekik Manda seraya menunjuk Elshara yang sedang melakukan pemotretan, kini gadis bermata pipih itu terpaksa menghentikan aktifitasnya, menatap Manda dengan malas.

__ADS_1


"Tenang dulu, iya saya tahu ini awalnya milik kamu, tapi saya berpikir ulang dan Elshara lebih cocok dengan pekerjaan ini, saya akan menjadwalkan pekerjaan lain untuk kamu, jadi tolong jangan mengacau, kali ini saja tolong kamu mengerti,"pinta pimpinan agensi itu.


Manda terdiam, bukan untuk menuruti perkataan pimpinannya, melainkan untuk menderukan tatapannya menjadi lebih ganas lagi, dia tolehkan wajahnya ke arah Elshara yang menatapnya dengan senyuman puas, gadis itu nampak bahagia telah merebut pekerjaan Manda berulang kali. Lantas Manda mengembuskan napasnya kasar seraya menoleh ke arah lelaki tua berkepala setengah botak itu.


Dia menyugar rambutnya dengan kasar ke belakang, lalu dia tersenyum miring, "sepertinya anda melupakan sesuatu,"celetuk Manda menatap sang pimpinan agensi dengan tajam.


"Maksudnya?"tanyanya lagi, dahinya berkerut.


"Jika satu kali lagi saya disingkirkan hanya karena wanita itu menginginkannya, maka jangan harap saya akan melanjutkan kontrak saya dengan agensi anda, saya ucapkan mulai hari ini! Saya keluar dari agensi! Saya akan segera mengumumkannya ke hadapan publik,"tegas Manda tanpa rasa takut.


Van yang sedang mengatur keberlangsungan acara pemotretan itu segera berayun ke dekat Manda, bahkan semua orang yang ada di sana membeliak di waktu yang bersamaan. Manda adalah salah satu model yang menjadi penopang berdirinya agensi itu, jika Manda pergi secara otomatis setengah power yang di miliki agensi itu runtuh.


"Tidak! Saya tidak akan mengizinkan kamu untuk keluar, gak usah kekanak-kanakan, hanya karena hal seperti ini kamu mau keluar dari agensi, belajar pro-"sanggah pimpinan agensi yang segera di potong oleh Manda.


"BASI!"hardik Manda, bola matanya membulat hebat.


"Profesional, profesional, profesional aja terus yang anda katakan, saya sudah muak dengan kata-kata anda,"sambung Manda dengan nada suara yang lebih tinggi, dada yang berdebar terasa terbakar.


"Ayolah Manda ... jangan ganggu pekerjaan kami,"sahut salah satu staff.


Namun, Manda mengabaikan suara yang lainnya, kali ini dia benar-benar ingin meninggalkan agensi yang selalu meremehkannya, "jika anda tidak mengabulkan permintaan saya, maka mari kita bertarung di pengadilan bersama pengacara yang telah saya siapkan, dan ...."tukas Manda seraya menunjuk pria paruh baya itu dengan runcing, "saya akan meminta bantuan tante Miranda dan om Ressa, awas aja anda ya, anda harus ingat perusahaan keluarga Rala ada di bawah kaki perusahaan Remira Fashion, perusahaan keluarga Rala hanya setengahnya karena om Ressa sudah membeli 50% saham perusahaan itu,"gertak Manda, tatapannya nanar.


Membiaskan cahaya yang bertaburan dengan getir, bulir air mata yang sudah berkumpul dengan cepat berhamburan keluar membasahi pipi Manda, gadis itu melimbai keluar dari ruangan itu, meninggalkan tatapan semua orang yang tengah di rundung kekhawatiran yang memanas. Terlebih Elshara yang nampaknya dia pun terkejut dengan penuturan Manda, termasuk pimpinan agensi yang nampak bergetar, tetapi dia tak bisa mengatakan apapun karena di sana sedang ada banyak sekali orang penting yang harus dia atasi.


Di saat keadaan sedang gabak, bahkan pimpinan agensi pun masih terlihat nanar nyaris tumbang dari pertahanan dirinya, Van membuka mulutnya seraya dia mengirimkan signal pada semua staff-nya untuk keluar dari ruangan itu. Dan semua orang yang ada di antara benda-benda untuk pemotretan itu segera berayun ke belakang Van.


"Saya pikir anda berlaku adil, maka dari itu saya menyetujui perjanjian kerja untuk menyuntikan dana dan mengirim staff dan beberapa model untuk brand ini, tapi ternyata anda masih sama saja, maka dari itu saya akan tarik seluruh dana yang sudah saya kirimkan pada anda,"cetus Van dengan penuh keyakinan.


"Hah?! Apa-apaan kamu ini, kamu cuman model dan kamu gak ada hak untuk mengatur soal sponsor yang di atur oleh perusahaan,"sanggah pria paruh baya setengah botak itu yang nampaknya dia belum mengetahui posisi apa yang di miliki Van dalam agensi.


Van tersenyum sinis sambil dia memalingkan wajahnya ke arah lain dengan malas. Lekas manager dari Van menggerakkan mulutnya bersamaan dengan langkahnya yang dia tarik ke dekat pimpinan agensi tersebut.


"Mohon maaf, sepertinya anda belum mengenal CEO dari perusahaan kami, yaitu pak Van, beliau memang sering mengambil alih job yang kemungkinan tidak bisa di kerjakan oleh bawahan, tetapi beliau ini adalah pemilik agensi ini,"jelas sang manager, membuat semua mata yang ada di sana terbelalak hebat.

__ADS_1


Bola mata semuanya membuntang secara bersamaan, tak sedikit dari mereka yang terbelangah, terlebih para staff yang nampak tersungkur, seluruh raga mereka terasa tersayat belati yang amat tajam hingga darah kekesalan bercucuran. Kali ini sungguh tak bisa tertolong lagi, sehebat apapun Elshara memikat para klien, tetap saja mereka harus menelan pahitnya kerugian yang akan datang.


NEXT ....


__ADS_2