Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 37 : Hantu El?


__ADS_3

Setelah mendapatkan pesan dari Royyan, bukannya meringankan beban pikiran Almira, malah makin menambah rasa pening di kepalanya. Dia sedang malas untuk berpikir sepagi ini. Lekas dia mencebik menatapi layar ponselnya dengan malas.


"Bukannya langsung aja ngasih tahu, malah suruh mikir, dasar suami gak berguna,"cibir Almira seraya sedikit menurunkan lututnya agar bisa melihat tombol-tombol itu dengan jelas.


Perlahan dia tekan satu persatu tombol itu sesuai interupsi dari Royyan, "tanggal lahir kak Royyan kan tanggal delapan belas, terus gue dua puluh, inisial nama kak Royyan 'R' 'D' 'A' dan gue 'M' 'A' 'T',"celoteh Almira lalu dia segera menyentuh tombol oke. Dan pintu dengan segera terbuka. "Ribet banget sih kayak hidupnya,"sungut Almira lagi.


Wanita yang mengurai rambutnya tanpa hiasan jepit rambut ataupun bando itu melenggang masuk ke dalam ruangannya yang berantakan. Sebelum duduk di kursinya, Almira membereskan lantainya yang di penuhi dengan gulungan kertas yang bergulung dengan ringsek, dia bawa kertas-kertas itu ke dalam tong sampah yang terbuat dari stainlees steel yang berukuran setinggi lututnya.


Lalu dia menyalakan pematik api dan membakar salah satu kertas yang menurutnya tidak berguna itu dan menyatukannya bersama beberapa kertas yang ada dalam tong sampah itu, dengan sekejap mata kertas-kertas itu terbakar sampai apinya berkobar-kobar keluar dari tong sampah yang ada di sudut lain yang jauh dari benda yang mudah terbakar, seketika kertas itu sudah berubah menjadi abu-abu.


Baru saja sedetik kertas-kertas itu menjadi abu, derap langkah Manda sudah terdengar memasuki butik dan kini sudah membuka pintu ruangan Almira seraya dia berkacak pinggang dan tatapannya yang tajam tak seperti biasanya.


"Ra!"panggil Manda dengan nada suara yang tinggi.


Almira yang tengah memperhatikan serpihan kertas yang terbakar itu terlonjak kaget, lalu dia menoleh ke belakang dan mendapati Manda sudah ada di dalam ruangannya.


"Apa sih lu, jangan kebiasaan ngagetin orang lain dodol, kenapa sih lu, pms ya?"ucap Almira seraya menyeret langkahnya mendekati meja kerjanya.


"Kok lu tenang banget sih, elu lagi digosipin seluruh Indonesia tahu enggak, katanya elu selingkuhan direktur utama perusahaan Rain Corporation Daboz,"papar Manda yang nampak panik, lalu dia melangkah mendekati sahabatnya yang sudah duduk dengan tenang di kursinya.


"Lu percaya gosip begituan?"bukannya menjawab Almira malah melempari Manda dengan pertanyaan lain.


"Ya kagaklah, mana mungkin bestie gue ini mau jadi selingkuhan,"ucapnya seraya mencondongkan tubuhnya bersandar pada meja kerja Almira.


"Nah itu tahu,"balas Almira seraya mematri map-map yang berisikan rancangannya yang sudah siap untuk di produksi.


"Oke deh."


Manda tak lagi mempertanyakan gosip konyol itu, lalu dia gegas menuju sofa dan seperti biasanya dia merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan kaki yang naik ke atas meja, itu hanya dia lakukan jika dia menggunakan celana jeans ataupun celana lainnya, tetapi jika sedang menggunakan rok pendek, itu tidak akan dia lakukan.


Dia membuka ponselnya dan kembali menjelajahi sosial media, sampai dia menemukan fakta baru jika Almira adalah adik sepupu dari Royyan. Kembali dia membeliakkan matanya seraya membawa dirinya untuk berdiri dan menyeret langkahnya kembali mendekati meja Almira. Lagi-lagi wanita yang berprofesi sebagai model itu membuntangkan bola matanya dengan azmat.


"Heh! Apa lagi ini? Sepupu? Elu sama si cowok kebab itu sepupuan? Wah parah lu kagak ngomong sama sahabat elu yang cantik badai kek begini,"gerutu Manda di hadapan Almira seraya dia menyodorkan ponselnya.


"Sssttt ...."desis Almira seraya meletakkan jari telunjuknya di atas bibirnya sendiri. "Sini ikut gue,"lanjut Almira seraya meraih tangan Manda dan membawanya ke sofa.


Keduanya duduk di sofa bersama-sama, Almira menarik Manda untuk mendekat agar bisikan terdengar. Sebelum menceritakan segalanya, wanita bermata kucing itu mengedarkan pandangannya untuk memastikan situasinya aman dan tidak ada yang mendengar percakapan serius ini.

__ADS_1


"Kenapa? Lu kok kayak maling sih, celingukan begitu?"tukas Manda menerka-nerka.


"Bacot lu kagak bener ya,"balas Almira menepuk punggung Manda lembut.


"Terus apa dong?"


Almira menempatkan bibirnya di dekat telinga Manda, "gue sama si cowok kebab itu bukan se-pupuan, itu cuman akal-akalan cowok itu aja biar wartawan pada diem, udah lu diem jangan banyak ngomong,"bisik Almira, kemudian dia menjauhkan dirinya dari Manda.


Seketika wanita berambut sebahu itu mengangguk lalu menyeringai, "oh gue ngerti, tapi hubungannya bisa nyasar sampe ke direktur itu, gimana caranya?"tanya Manda masih kebingungan.


"Karena kak Royyan pake mobil kakak iparnya yang memang direktur di Rain Corporation Daboz, makanya gosip itu meleber kemana-mana."


"Ooh pantesan aja, eh tapi ... hubungan elu sama si cowok kebab itu apa? Kok bisa dia jemput elu tengah malam begitu, elu pacaran kan sama dia?"tunjuk Manda dengan wajah seriusnya.


"Kagak anjir,"tepis Almira yang masih enggan memberitahu sahabatnya tentang fakta sebenarnya. "Udahlah gak usah di bahas lagi, sekarang mending elu pilih baju aja buat acara itu, nanti gue yang bilang ke agensi elu, kalau elu udah pilih gaun untuk episode pertama,"tambah Almira mencoba mengalihkan perhatian Manda.


"Okelah, gue keluar ya mau pilih-pilih gaun,"pungkasnya seraya berdiri dan melenggang keluar dari ruangan Almira.


"Hmm ..."gumam Almira.


...***...


"Aku di tolong oleh salah seorang dokter yang ada di dekat laut itu, karena aku tanpa sadar berpikir untuk berenang ke tepian karena aku ingin selamat, jadi aku berenang sampai ke tepian laut dan aku bertemu seorang dokter baik, setelah itu aku di rawat selama satu bulan sampai aku siuman, dan aku kehilangan ingatanku karena benturan yang sangat keras saat aku tiba di tepi laut, setelah dua tahun berlalu ingatanku kembali dan dokter baik itu berhasil menemukan mami dan papi, dan aku akhirnya ada di depan mata kamu,"jelas Elshara seraya menrangkai senyuman manisnya.


Royyan yang sedari tadi hanya mendengar seraya menyantap makanan kesukaannya itu sesekali mengangguk untuk merespon perkataan Elshara, "syukurlah, gue kelimpungan nyari elu, tapi syukurlah kalau elu selamat. Elu harus segera ketemu sama Dirta, dia yang sangat menderita saat elu gak ada,"papar Royyan yang kemudian dia menyimpan garfu dan pisaunya lalu mendongak untuk melihat wajah Elshara dengan jelas.


"Iya."Elshara mengangguk dengan senyuman tipisnya, ada percikan kecewa dalam lubuk hatinya, sudah pasti dia akan menemui teman-temannya satu persatu, tetapi yang paling utama dalam hidupnya adalah Royyan, pria yang sampai saat ini masih dia cintai.


Matanya selalu berbinar-binar saat merekam sosok Royyan di hadapannya, tetapi tatapan Royyan masih saja sama seperti dulu, tatapan dingin dengan aksen secuil kehangatan. Namun, Elshara masih saja tersenyum ceria.


Aku masih dengan perasaan yang sama, walau aku sempat hilang ingatan tetapi cinta ini tidak pernah meninggalkan hatiku, kali ini aku tidak akan pergi tapi aku akan mendapatkan hati kamu, bagaimanapun caranya. Aku lihat juga kamu tidak sedang bersama wanita mana pun kan? Jadi sepertinya hanya aku yang pantas menjadi wanita mu.


Batinnya berceloteh dengan penuh keyakinan dengan apa yang dia lihat, tetapi dia melupakan jika sosok Royyan yang dingin dan kerap kali tidak menceritakan dengan jelas soal kehidupan pribadinya.


"Aku belum menemukan dimana Dirta, begitupun dengan Ajun?"tanyanya kemudian setelah dia puas berceloteh dengan hatinya.


"Ajun seorang pengacara, rumahnya pindah ke Bali mengikuti kedua orangtuanya,"sahut Royyan seraya menarik tubuhnya ke belakang bersandar pada kursi yang dia duduki.

__ADS_1


"Waw ..."seru Elshara nampak takjub dengan pencapaian Ajun, bola matanya berbinar merasa bangga dengan pencapaian salah satu sahabatnya seraya dia menepuk tangannya lembut, "Ajun bisa juga ya bersikap keren, dulu kan dia gak peduli sama apapun selain makanan,"tambahnya.


Lantas Royyan tertawa kecil mengingat bagaimana sorang Ajun di matanya,"sekarang pun sama aja kalau soal makanan, tetapi dia pengacara hebat, dia bisa ada di seluruh pelosok Indonesia,"jawab Royyan.


Keadaan hening menyerbu keduanya selama beberapa detik, sampai dia mengingat sebuah bingkisan yang ada di sampingnya. Bingkisan itu berisikan sebuah syal yang harusnya dia berikan beberapa waktu yang lalu untuk memperingati kematian Elshara, tetapi semesta mengirim Elshara terlebih dulu sebelum syal itu menemui rumah bunga yang diciptakan oleh kedua orangtua Elshara saat kepergiaannya beberapa tahun yang lalu.


Seraya membawa bingkisan itu ke atas meja dan segera menjulurkannya pada Elshara Royyan mengukir wajahnya dengan senyuman yang lebih hangat, beban rasa bersalahnya selama ini sedikit berkurang, "hadiah ini harusnya gue berikan saat di tanggal kepergian elu, berhubung gue banyak kerjaan jadi gue gak sempet, pake silakan enggak juga terserah,"tuturnya dan segera menjauhkan tangannya dari bingkisan itu sebelum Elshara mencoba meraihnya.


Percikan cahaya binaran cinta dalam bola matanya itu kembali berserakan, sampai seluruh tubuh Elshara nampak berseri-seri, wanita cantik itu melebarkan senyumannya seraya meraih bingkisan itu dan segera membuka dengan penuh bahagia dan sesekali dia mendongak dan menanapi wajah Royyan yang masih saja tampan.


"Thankyou so much, i really like it,"ungkap Elshara setelah dia membuka kotak panjang berwarna hitam dan melihat syal dari merek ternama itu terbaring disana.


Perlahan dia keluar kan syal dari dalam kotak yang sudah menemaninya dalam satu bulan terakhir ini. Syal yang selalu tertidur di dalam kotak hitam itu akhirnya bisa menghirup udara segar dan kini melingkari leher putih Elshara dengan lembut.


"This is so pretty, aku akan pakai ini sekarang juga,"tambah Elshara sambil dia berkaca pada kamera ponselnya sendiri, dan senyuman itu tak luntur dari wajahnya.


"Baguslah kalau elu suka."


Elshara mengangguk. Jika diingat ini adalah hadiah pertama yang dia terima dari Royyan selama dia mengenalnya saat dulu, hatinya bagaikan dibawa terbang oleh peri sayap yang membagikan sayap untuk peri-perinya. Terdengar berlebihan memang, tetapi inilah yang dirasakan oleh Elshara saat ini, betapa bahagianya dia bisa dekat lagi dengan orang yang dia cintai.


Selang beberapa menit dari itu dan mereka pun sudah menghabiskan makanannya, tibalah Ajun menghampiri Royyan. Dari jarak tiga meter dari area kafe bagian indoor, Ajun yang baru saja duduk di kursinya untuk menunggu kliennya nampak mengerutkan dahinya, ada sebuah rasa kesal dalam dirinya.


Bagaimana bisa Royyan menemui wanita lain sedangkan dia punya seorang istri di rumah, oh tidak. Bukan di rumah, melainkan di butik. Wanita bermata kucing itu sedang tempur dengan puluhan karyawannya untuk menyiapkan berbagai macam busana untuk para model yang akan mengikuti acara summer camp dua hari lagi.


"Sampe selingkuh gue bebek lu ya Yan, lu bilang pernikahan elu gak akan menemui kata cerai, ini apa?"gumamnya di depan sekretaris pribadinya. "Saya pergi dulu, kalau kliennya sudah ada hubungi saya secepatnya,"lanjut Ajun seraya dia melimbai keluar dari area Indoor ke area outdoor.


Butuh tiga menit untuk sampai ke meja Royyan dan Elshara yang ada di ujung area outdoor dan di meja sekitarnya tidak ada yang mengisi, mejanya dibiarkan kosong. Setibanya di dekat Royyan, Ajun segera melayangkan pukulan yang cukup keras di punggung Royyan. Membuat pria bertubuh kekar itu terlonjak kaget dan segera menoleh pada seseorang yang memukulnya.


"Si biang kerok!"tegas Royyan yang segera berdiri dari kursinya dan menajamkan tatapannya.


"Heh! Elu nakal ya sekarang, ini si---"hardik Ajun sebelum dia menoleh pada Elshara yang masih duduk di kursinya.


Setelah dia menoleh dan melihat sosok yang sangat dia kenali, seketika bola matanya melebar dengan dahsyat seperti melihat hantu yang terpajang nyata di hadapannya. Sehingga dia terbelangah dengan tatapan yang semakin membulat, lantas Ajun mundur beberapa langkah sembari terus menatapi Elshara yang kini perlahan tersenyum.


"Woaaah ...."Ajun berteriak sekencang yang dia mampu lalu dia melipir ke belakang tubuh Royyan yang masih berdiri di dekatnya, dia menenggelamkan wajahnya di sana, tubuhnya mematung.


Tak bisa mempercayai apa yang barusan dia lihat, hantu? Setelah sembilan hampir sepuluh tahun berlalu harusnya jasadnya sudah tak memiliki rupa lagi, mengapa saat ini wanita itu masih saja cantik dan bahkan warna kulitnya pun semakin membaik. Seperti itulah gambaran keheranan yang dicampuri rasa takut dalam jiwa Ajun.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2