Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 101 : Membuat kegaduhan.


__ADS_3

Gadis itu mengendur, semua rencana yang sudah dia rangkai dalam pikirannya dengan sekejap mata hancur lebur. Mata pipihnya meleleh bersamaan dengan bibirnya yang menganjur ke depan, sedangkan Royyan kembali ke ranjangnya untuk mengambil ponsel yang tergeletak tadi.


Dia mencari kontak Adrian, "Adrian, segera ke kamar hotel saya, tolong usir pengganggu, saya tidak nyaman,"pinta Royyan pada Adrian.


"Baik pak, saya akan segera ke kamar hotel bapak,"sahut Adrian yang baru saja selesai dari kamar mandi membersihkan dirinya.


Dengan gerakan cepat, pria itu mengenakan pakaiannya. Kaos polos dan celana hitam telah melekat dengan tubuh tingginya, lantas dia berlari keluar dari kamar hotelnya. Untuk mencapai kamar hotel sang bos, dia harus melewati tiga kamar.


Dari kejauhan dia melihat sosok wanita berpakaian seksi berwarna merah, kaki jenjangnya begitu indah, tetapi Adrian segera tepis dan menghampiri gadis itu.


"Maaf nona, tolong jangan ganggu bos saya, sebentar lagi kami akan segera pergi keluar. Tolong jangan mengacaukan jadwal,"pinta Adrian lembut.


Elshara mendelik kasar, menatapi Adrian dengan malas, lantas dia mendorong tubuh Adrian ke belakang, tetapi gadis itu tidak bisa mengubah posisi Adrian karena tubuh lelaki itu lebih besar dari tangan mungilnya.


"Berisik. Lu itu kenapa sih ganggu mulu, ini urusan gue jadi lu gak ada hak buat ikut campur,"tegas Elshara menunjuk-nunjuk Adrian.


"Saya diperintah oleh pak Royyan untuk menyingkirkan anda dari pintu kamar hotelnya,"terang Adrian, tatapannya mendingin.


"Hah?! Gak usah bohong lu, gak mungkin Royyan ngusir gue, gue ini sahabatnya ya kali di usir, mimpi lu bisa ngusir gue,"celoteh Elshara melipat kedua tangannya di depan.


Adrian menyeringai, menarik kedua tangannya ke belakang seraya dia tertunduk. "Mohon maaf nona, anda jangan membuat pekerjaan saya menjadi banyak, tolong pergi sekarang atau saya akan seret anda dari sini,"ancam Adrian tegas.


"Heh!"pekik Elshara, bola matanya membulat seraya dia berkacak pinggang dengan angkuh, "gak usah kurang ajar lu ya,"hunjam Elshara pada Adrian yang menatapinya dengan lurus.


"Tolong keluar sekarang juga,"pinta Adrian masih bisa berkata lembut.


"GAK! Mending lu aja yang cabut."


Saat itu juga pesan masuk ke ponsel Adrian, pesan itu berasal dari Royyan yang sudah menjadi pendengar dengan pertengkaran Adrian dan Elshara di luar, telinganya sudah terlalu panas jika harus mendengar celotehan Elshara.


[Seret. bawa dia secara paksa, kita akan segera pergi.]


Tulis Royyan demikian dalam pesannya, seketika Adrian menyengguk. Tadinya lelaki itu enggan untuk melakukan hal itu karena takut menjadi masalah, tetapi jika Royyan mengintruksikan demikian, maka dia tak perlu segan lagi untuk berbuat tegas pada gadis itu.


"Ikut saya, anda tidak mengerti."Adrian menyeret pergelangan tangan Elshara menjauhi kamar hotel Royyan.


"HEH! Adrian! Jangan kurang ajar lu, gue ini sahabat atasan lu. Lu gak ada hak megang-megang gue!"pekik Elshara murka, dia memukul-mukul tangan Adrian berulang kali.


Namun, pria itu mengabaikannya, Dia terus menyeret Elshara sampai menemui salah satu lift yang ada di lantai itu, tanpa segan Adrian lempar tubuh Elshara masuk ke dalam lift tersebut.


"Lebih baik anda bekerja dengan baik dan jangan temui bos saya, sampai pak Royyan mengizinkan anda menemuinya,"saran Adrian masih menggenggam pergelangan tangan Elshara.


"Bacot banget sih lu,"sergah Elshara menarik tangannya melepaskan diri dari genggaman Adrian, "awas aja lu ya, lu pasti di pecat! Lihat aja nanti,"ancam Elshara dengan bola matanya yang menanar.


Adrian menyeringai kecil. "Silakan, jika memang anda bisa melakukannya. Tapi setahu saya, jika pak bos hanya mendengar perkataan istrinya, nona Ra. Dan nona Ra adalah orang baik yang selalu menempatkan seseorang di tempat yang sama tanpa membedakan posisinya seperti anda,"lontar Adrian seraya satu tangannya menjalari tombol-tombol yang ada di dalam lift, dengan sembarangan dia menekan salah satu tombol itu.

__ADS_1


Segera lift itu tertutup dan Adrian menjauh dari sana, melihat Elshara menatapnya dengan getir. Pintu lift tertutup rapat, bola mata Adrian terlempar ke atas untuk melihat lantai mana yang sebenarnya di tekannya.


"Lantai dua? Harusnya lantai satu,"celoteh Adrian.


Kemudian beralih dari lift tersebut kembali ke hadapan pintu kamar hotel Royyan, di sana pria kekar itu sudah keluar dari kamar dalam keadaan sudah rapi lengkap dengan jas dan laptopnya.


"Sudah beres pak,"ucap Adrian sesaat setelah dia tiba tepat di hadapan pria itu.


"Bagus. Segera siap-siap, kita akan segera ke lokasi meeting,"titah Royyan.


"Baik pak,"sahut Adrian menyengguk.


Pria dengan rambut selalu rapi itu melenggang dari hadapan Royyan dalam keadaan sedikit membungkuk, dia masuk ke dalam kamar hotelnya. Sedangkan Royyan melanjutkan pengembaraan langkahnya, lelaki berkaki panjang itu berayun ke lift lain yang ada di lantai tersebut.


Lantai 19 dari gedung hotel itu memiliki dua sampai tiga lift, dan Royyan mengambil lift di samping lift yang sempat di tumpangi Elshara tadi. Lekas Royyan masuk ke dalamnya dan menekan tombol angka nomor satu, pintu lift tertutup rapat tanpa di temani oleh siapapun.


Tak lama dari lift itu berjalan, Elshara kembali lagi melalui lift yang dia tumpangi tadi, langkahnya begitu terburu-buru menyambar setiap keramik yang ada di depan mata kakinya yang terbalut oleh heels tinggi berwarna hitam.


Tiba di depan kamar hotel Royyan dia menghela napasnya panjang, menguatkan hatinya untuk menerima penolakan yang mungkin saja akan lebih kasar dan keras lagi, dia seret rambut panjang lurusnya ke belakang dengan kekuatan wajah yang lebih pekat lagi, lantas dia menekan bel kamar hotel itu berulang kali tanpa memedulikan siapapun.


"Royyan ... gua gak akan cabut, kalau lu gak nemuin gue,"panggil Elshara menghunjamkan tatapannya.


Gadis itu tak segan-segan membuat kegaduhan, sampai semua orang keluar dari kamarnya masing-masing, menajamkan sorot matanya hanya pada Elshara dengan tatapan tak suka, tak sedikit dari mereka berbisik-bisik mencibir Elshara.


"Shameless girl." (Gadis tidak tahu malu)


"N'avoir aucune manie`re." (Tidak punya sopan santun)


Namun, Elshara mengabaikan desis cibiran dari semua orang, dia tetap mengetuk pintu Royyan sampai pintu itu bergetar sehingga terdengar oleh Adrian yang masih mengenakan dasinya. Lekas pria itu keluar dengan terburu-buru seraya menenteng laptop dan beberapa berkas yang harus dia bawa untuk meeting, sedangkan dasinya miring ke kanan.


"Wanita itu lagi,"seru Adrian kesal, dia pindahkan berkas itu ke tangan yang menggenggam laptopnya, lalu dia seret langkahnya mendekati Elshara.


Tanpa segan, Adrian menggenggam tangan Elshara dengan kasar. "Stop. Jangan buat kegaduhan di negara orang lain, anda adalah seorang top model dan putri satu-satunya dari pemilik perusahaan Romz fashion, harusnya anda punya tatakrama yang baik, tidak seperti ini,"celoteh Adrian mencengkeram pergelangan tangan Elshara dengan kuat.


Dengan cepat Elshara tarik pergelangan tangannya dari genggaman Adrian dengan getaran tatapannya yang semakin ganas. "Lu!"tunjuk Elshara getir, "berisik banget tahu gak, lu itu cuman sekretaris pribadi Royyan, jadi gak usah songong lu,"tambah Elshara dengan nada suara yang menguat.


"Jika saya hanya sekretaris dan anda hanya seorang teman, lebih baik anda pergi dari sini karena pak Royyan tidak ada di kamarnya, beliau sudah pergi lebih dulu,"balas Adrian tak kalah tegasnya.


"What? "Elshara terbelangah, raut wajahnya begitu terkejut, menyadari jika usahanya tadi ternyata sia-sia, semua orang telah mencibirnya dengan umpatan kasar.


"Iya,"jawab Adrian tegas. "Jadi lebih baik anda pergi dari sini, sebelum semua orang yang merasa terganggu karena anda, memanggil polisi dan menyeret anda sebagai pengganggu dan pembuat onar,"kata Adrian melanjutkan perkataannya tadi.


Tubuh tegapnya segera berpaling dari hadapan Elshara, dia meninggalkan gadis itu begitu saja dalam keadaan termangu, memasuki lift dengan cepat dan menekan tombol menuju lobi dari gedung hotel itu.


Tiba di lantai satu, Adrian gegas langkahnya mendekati mobil hitam yang sudah bertengger di depan pintu utama hotel tersebut, nampak jelas oleh kedua bola matanya jika Royyan sudah duduk di dalam mobil mengenakan kacamata hitam untuk menghindari sinar matahari yang menyorotnya dengan ganas.

__ADS_1


"Maaf pak saya lama,"ucap Adrian merasa bersalah karena telah membuat Royyan menunggunya lama.


Tanpa menoleh dan fokus dengan ponselnya Royyan menggerakkan mulutnya. "Dari mana? Ada masalah apa di atas?"tanya Royyan dengan nada tegasnya.


"Nona Rala datang lagi ke kamar hotel bapak dan membuat kegaduhan,"terang Adrian tertunduk di depan mobil hitam itu.


Degh!


Sontak jantung Royyan terasa terhentak, lekas dia tolehkan wajahnya ke samping dimana Adrian berada, wajahnya berkerut dan bola matanya menatap dengan geram. "Masuk, kita harus segera pergi."


"Baik pak."Adrian berlari ke kursi di samping kemudi.


Elshara! Sialan! Wanita itu gak bisa di remehkan, kegigihannya membuatku jijik.


Gue harus segera menyelesaikan pekerjaan dan membuat benteng antara gue dan dia.


Batin Royyan berceloteh. Tekadnya kuat sampai tatapannya mencekam, auranya menggelap dan Adrian menyadari perubahan aura sang bos, pria itu membungkukkan lehernya dan menggelengkan kepalanya dengan lemah.


Bahaya nih pak bos emosi, nona Ra kapan nyusul ya?


Adrian sangat mendambakan kehadiran Almira secepatnya, sungguh lelaki itu masih ketakutan saat Royyan dalam keadaan hati yang tidak baik dan selama ini hanya Almira yang mampu meredam emosi pria kekar itu.


"Bukan kah nona Ra akan ke Paris pak, bapak tidak ingin menjemputnya?"tanya Adrian mencoba untuk meredam tatapan yang mencekam dari lelaki itu.


Netra Royyan berpaling dari layar ponselnya yang kosong itu, lelaki itu masih menunggu jawaban dari sang istri yang hingga kini belum jua dapat di hubungi pada Adrian yang ada di depan, "tunggu kabar istri saya, dia belum bisa di hubungi,"jawab Royyan jengah.


"Tadi malam nona nelepon saya pak,"celetuk Adrian.


Seketika bola mata Royyan melebar seperti mendapatkan cercah cahaya tentang keadaan sang istri yang kini sedang tidak berada di dekatnya, "ada apa? Apa ada masalah?"tanya Royyan menggebu-gebu.


"Tidak pak, nona hanya menanyakan bapak, mengapa bapak tidak menghubunginya saat malam tadi,"terang Adrian dengan terperinci.


"Lalu?"


"Saya jawab jika bapak kelelahan dan tertidur, setelah itu nona mematikan panggilan teleponnya.


Lantas Royyan pun mengangguk. Dia mendapatkan jawaban, mengapa sang istri sulit untuk di hubungi, mungkin saja gadis itu mencoba memberikan lelaki itu hukuman atas ketidakpeduliannya terhadap sebuah kabar yang amat di nantikan oleh Almira.


Royyan mengetikkan sesuatu di ponselnya yang dia tujukan pada sang istri. Puluhan kata dia kirimkan pada sang istri, walau dia sendiri pun pesimis jika Almira akan membaca semua pesan yang dia kirim.


[Sayang ... kamu sibuk? Aku sebentar lagi akan meeting dengan perusahaan German, jadi tolong angkat dulu sebentar.]


[Tadi malam aku ketiduran dan tidak sempat mengabari kamu.]


[Marahnya jangan lama-lama, aku udah siapkan acara makan malam kita di menara eiffel, seperti impian kamu.]

__ADS_1


[Maaf sayang ... aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi, kalau aku sampai melakukannya lagi, kamu boleh cium aku sampai kamu puas.]


NEXT ....


__ADS_2