
Gadis itu melempar ponselnya ke atas ranjang, raganya bergetar ngeri. "Iiih kak Royyan jawabannya makin ngaco,"celanya pada sang suami, bola matanya beputar kesal dan bibirnya menganjur tak kalah kesalnya.
Hanya saja gadis itu tak bisa membiarkan ponselnya tergeletak begitu saja apalagi membiarkan sang suami menunggu balasannya, jari-jarinya kembali melangkah di atas layar pintarnya. Gigi yang mengerat menyiratkan kekesalan gadis itu dengan langkah jari di atas layar ponselnya berapi-api.
[Kok jawabannya boleh sih, kamu mikir apaan sih?]
[Aku mau mengulang dua malam kemarin boleh?]
Degh!
Jantungnya kembali berdebar dengan kekuatan yang lebih besar lagi, jawaban Royyan semakin brutal membuat Almira bergetar, seluruh raganya merinding. Angannya terlempar pada kejadian dua malam yang mereka habiskan untuk saling menyatukan cinta dan raganya dalam satu dekapan yang erat, tenggelam dalam kenikmatan yang seharusnya mereka lakukan.
Sentuhan demi sentuhan terasa, meraba tubuhnya, tangannya menjalar ke leher bersamaan dengan ingatan itu masuk menguasai angan-angan gadis itu. Kejadian dua malam beberapa waktu lalu benar-benar membekas di benak Almira dengan lekat. Untuk malam pertama mereka melakukannya dengan amatir, tetapi di malam berikutnya Royyan melakukannya lagi dengan lihai, video-video yang di tontonnya sungguh membentur gairah Royyan semakin membara.
Ingatannya membantai pertahanan Almira yang sudah siap untuk keluar dari rumah dan menemui sang suami, tetapi kini jiwanya yang kuat tadi menciut, menganjurkan raganya pada ketakutan saat nanti dia menemui malam dimana sang suami ada bersamanya. Dia gelengkan kepalanya kuat, lalu dia tepuk-tepuk kedua pipinya.
"Ra ... tenang, tenang ...."ucapnya seraya membentangkan tangannya dan mendorongnya ke depan sesaat setelah gadis itu tiba di luar gedung apartemen.
Di depannya sudah berdiri mobil hitam dengan ukuran yang besar, ada dua orang berpakaian hitam rapi berbadan tegap tengah melipat kedua tangannya di bawah dengan wajah yang tertunduk, kemudian salah satunya menghampiri Almira yang baru saja tiba di sana.
"Permisi nona Ra, tuan Royyan memerintah kami untuk menjemput nona,"tuturnya tanpa melihat gadis cantik di hadapannya.
Pria berbadan tegap yang tak berbeda jauh umurnya dengan Almira itu enggan untuk menatapi kecantikan gadis itu secara langsung, dia tak ingin menodai istri dari bosnya walau hanya dengan tatapannya.
"Oh iya, ayo berangkat,"jawab Almira melimbai ke arah mobil itu.
Seorang pria yang juga berbadan tegap itu segera membukakan pintu mobil untuk Almira, dan wanita itu segera masuk ke dalamnya, dia tak ingin membuang banyak waktu, rasa penasarannya melanda dirinya dengan kokoh tentang lokasi mana yang di pilih sang suami untuk mengungkapkan hubungan mereka.
Keberadaan rumah Adrian tak terlalu jauh dari keberadaan rumah sepasang suami-istri tersebut, dari lokasi Almira berada hanya perlu memakan waktu sekitar satu sampai satu jam setengah, gadis bermata kucing itu telah tiba di lokasi tempat konferensi pers di adakan.
Suasana di pekarangan rumah itu telah di penuhi banyak orang, membuat langkah Almira terhenti sesaat, dia mencoba membaca situasi keriuhan itu dari kejauhan, dia telan ludahnya dengan kasar seraya mencengkeram ponsel yang ada dalam genggamannya.
"Ini gimana cara masuknya, banyak banget sih orangnya,"gerutu Almira melemparkan pandangannya pada punggung banyak orang yang tengah terduduk di sebelah kanannya.
Sopir dan penjaga yang mengantar Almira tadi segera mendekat, tak lupa mereka menciptakan jarak dengan bosnya dengan sorot mata yang menunduk ke bawah dan kedua tangan yang terlipat seperti yang mereka lakukan tadi saat di gedung apartemen.
"Mari nona saya antar, tuan dengan yang lainnya sudah menunggu di dalam,"celetuk sopir yang ada di belakang gadis itu.
"Mari nona lewat sini,"timpal bodyguard yang berada di samping Almira.
Lantas gadis itu mengangguk tanpa mengatakan apapun lagi, dia berayun mengikuti kemanapun lelaki berpakaian serba hitam itu melangkah di depannya, sedangkan sopir tadi ada di bekalang Almira mengekori.
__ADS_1
Setibanya dia dalam rumah itu, wanita bermata kucing itu melihat mertua dan kedua orangtuanya sudah berada di sana, termasuk Ajun dan juga Manda, tetapi dia tidak melihat suaminya dengan Adrian di sana. Bola matanya beputar mengerut, kemana Royyan dan Adrian? Angan Almira terus melesatkan berbagai macam pertanyaan di manakah sang suami.
"Mom ..."seru Almira mendekati Miranda yang terduduk di sofa bersama dengan Rini, dia menganjurkan bokongnya di tengah-tengah Miranda dan Rini, gadis itu memeluk Miranda.
Posisinya bertahan dalam beberapa menit ke depan, setelahnya dia berpindah memeluk Rini, baru lah dia terduduk dengan tegak di antara Rini dan Miranda.
"Muka kamu kenapa pucat sayang, kamu sakit?"tanya Miranda khawatir seraya dia mengelus pipi sang putri.
"Hah?!"seru Almira secara spontan meraba kedua pipinya. "Enggak mom, aku baik-baik aja kok."Almira menggeleng dengan senyuman tipisnya.
Gadis itu belum tenang karena sang suami belum menampakan diri di depan matanya, sorot mata Almira mengedar ke setiap sudut di ruangan tengah itu, jiwanya merasakan kekosongan. Membuat semua orang yang ada di sana menyeringai, mereka tahu betul mengapa Almira terlihat tidak tenang, terutama Manda yang tengah berdiri di hadapan Ajun.
"Lihat tuh yang nyariin lakinya,"tunjuk Manda pada Almira yang terus memutar kepalanya memeriksa setiap sudut ruangan tersebut.
Ajun segera menoleh, lalu dia tertawa kecil. "Ra ... lu nyari laki lu ya?"seru Ajun.
Penuturan Ajun mengentak Almira sehingga dia mematung dengan bola mata yang berputar tidak tenang, lantas dia kerutkan dahinya pada Ajun, seolah dia berbicara pada lelaki itu untuk diam dan tidak mengusik dirinya yang tengah menjaga harga dirinya di hadapan kedua orangtuanya dan mertuanya.
Almira melangkah mendekati Ajun dan Manda, dia terjunkan pukulan lembut di lengan Ajun, "berisik! Siapa yang nyari temen lu itu, enggak ya,"elak Almira mendelik dengan wajah yang tersipu malu.
Kedua tangannya terlipat di depan dan wajahnya terlempar ke samping kanannya, lantas Ajun dan Manda tertawa kecil, bahkan Manda mencolek lengan Almira yang terpekur di depan dadanya,
"Ish!"dahinya berkerut, tetapi bibirnya menyeringai. Gadis itu tidak bisa menahan rasa malunya sendiri.
Sedangkan Ajun masih sibuk menertawakan betapa merahnya wajah Almira, begitupun dengan Manda, keduanya merasa gemas dengan tingkah Almira. Sosok desainer ternama, karyanya menggaung di seluruh pelosok negeri ini, tak sedikit yang memuji karya-karyanya dan ternyata gadis itu lemah akan perasaannya.
Dari sebuah pintu kaca yang menyambungkan pekarangan belakang rumah tersebut, Royyan dan Adrian menyembul seraya menenteng tablet dan beberapa map. Royyan yang tengah membalik kertas dari map berwarna merah itu berayun ke dalam, langkahnya terhenti sejenak, pria itu menandatangani beberapa map yang kemudian dia berikan pada Adrian.
"Setelah ini kita konferensi pers dulu, kamu tunggu di dalam,"papar Royyan pada Adrian yang menata tumpukan map itu di atas kedua tangannya.
"Baik pak,"sahut Adrian, kemudian pria itu melimbai ke arah lain dari ruangan itu.
Sementara Royyan mengalihkan arah sorot matanya pada aroma mawar yang mengganggu penciumannya, membuat lelaki itu tidak bisa fokus dengan pekerjaannya, dia berayun pada sang pemilik aroma. Pria itu melampai begitu saja tanpa menegur kedua orangtua, mertua dan kakak kandungnya yang terduduk di sofa menunggu interupsinya untuk keluar menemui semua wartawan.
Royyan berhenti tepat di belakang sang istri, perlahan dia lilitkan tangannya ke pinggang sang istri, membuat gadis di hadapannya mengerjap kaget, kedua bahunya terangkat dan raganya membeku merasakan bayangan hitam menyembul dan punggungnya yang menghangat. Namun, pria itu semakin mendekatkan tubuhnya seraya dia menekan perut sang istri agar punggung di hadapannya itu lekat dengannya.
Perlahan punggungnya mengendur ke bawah, "cincin nikahnya mana?"tanyanya basa basi tepat di belakang telinga Almira.
Lekas Almira menoleh dengan bahu yang tegang, bola matanya dia tarik ke atas untuk melihat sang suami dengan jelas dan kedua tangannya terjuntai bisu di depan. "Ini,"cetusnya kemudian menailkkan tangan kanannya.
Pria itu mengarik tangan yang terangkat itu, dia belai cincin yang melingkari jari manis gadis itu, tak lama senyumannya terbit di wajah dengan rahang tegas itu, "kotaknya kamu taruh dimana?"tanya Royyan lagi masih menggenggam tangan Almira.
__ADS_1
"Di apartemen lah, masa aku bawa ke sini,"jawabnya ketus seraya dia tarik tangannya dari cengkeraman sang suami.
Namun, Almira tidak bisa menghentikan tangan Royyan yang menjeramahi perut rampingnya sampai membuat gadis itu merasakan geli, Almira hanya berusaha tenang agar Royyan diam dan tak lagi menekan dirinya untuk terus lekuk dengan dada sang suami.
"Oke,"sahutnya singkat, satu detik kemudian Royyan jatuhkan kecupan kecil di pelipis Almira.
Sekali lagi wanita bertubuh mungil itu mengerjap kaget, dia melantingkan tatapannya pada wajah tampan di atasnya, lantas dia memukul dada sang suami hingga mengeluarkan suara pukulan berat terdengar nyaring, membuat semua orang yang ada di sana menoleh ke arah Royyan yang masih mendekat Almira dari belakang.
Berbeda dengan Manda dan Ajun, keduanya memilih untuk berpindah dari posisinya, mereka tak bisa melihat kemesraan sepasang suami-istri itu di depan matanya. Mereka terlalu gemas sampai rasanya ingin sekali mereka mendorong Almira dan Royyan ke atas ranjang, biar mereka bisa meneruskannya di sana tidak di depan matanya.
"Kok mukul sih, harusnya kamu balas dengan kiss lagi dong sayang, "goda Royyan mengairi Almira dengan tatapan cintanya yang syahdu, seraya jari telunjuknya menepuk bibir miliknya dengan lembut.
"Ya lagian depan orang banyak main cium aja,"protes Almira menarik tubuhnya dari dekapan sang suami.
Dengan sekejap mata tubuh mungilnya terlepas dan berputar jadi mengarah pada Royyan yang tadi ada di belakang tubuhnya, sorot matanya menaik menemui mata kecil sang suami yang tengah memercikan cahaya penuh cinta, lantas pria bertubuh tegap itu mencondongkan tubuhnya ke depan mendekatkan wajahnya dengan paras cantik sang istri dan kedua tangannya menggantung di belakang.
Sembari tersenyum dia menggerakkan bibirnya, "itu bukan c*um*n sayang,"kilah Royyan sambil dia membelai pangkal kepala Almira, "tapi hanya kecupan kecil,"sambungnya membuat Almira mengelokkan kepalanya mengalihkan pandangan matanya ke arah lain, tak lupa wajahnya di lukis dengan senyuman manis.
Pria itu ikut mengelok dengan tubuh yang masih mencondong ke dekat sang istri, "kalau cium itu kayak gini,"celetuknya kemudian melanjutkan perkataannya tadi seraya mengapit dagu Almira, dengan kecepatan kilat dia meluncurkan c*uma*n kecil di bibir Almira, sehingga tubuh gadis itu mematung.
"Ini baru cium sayang,"sambungnya lagi, bibir kecil itu menyeringai sambil dia menarik tubuhnya berdiri tegak.
Lekas dia tarik tubuh gadis yang membeku itu ke dalam dekapannya yang hangat, dia melekap tubuh istrinya hingga merasakan kenyamanan dan melunturkan beku tubuhnya tadi, lantas dia tenggelam di dada lebar Royyan sambil dia lingkari pinggang Royyan dengan erat, seringaian kecil dengan selipan sipunya yang merebak di seluruh wajahnya.
"Kamu siap?"tanya Royyan lirih dengan dagu yang mencangkung di atas kepala Almira.
Satu helai hembusan napasnya terurai keluar, lalu dia terbangkan tatatapannya pada sang suami dengan dagu yang menancap di dada lebar itu. "It's ok, ini semua terjadi karena permintaan aku kan,"pungkasnya mengendurkan lilitannya pada pinggang Royyan. Membuat semua orang yang ada di sana merasa tidak nyaman mleihat kemesraan itu di depan matanya.
Semua yang ada di dalam ruangan itu perlahan berhamburan keluar dari ruang tengah rumah tersebut, bahkan mereka menutupi pintunya dengan rapat, membuat ruangan itu hanya di sinari oleh lampu yang menggantung di langit-langit.
"Kalaupun kamu tidak meminta, aku memang akan mengungkapkannya. Dan aku dengan Dirta memang sudah meluruskan masalah kita,"terang Royyan membelai wajah Almira dengan lembut.
"Oh ya?"Almira terkejut, tapi dia juga bahagia jika sang suami tak lagi di tawan keganasan cinta di masa lalunya yang selama ini menghantui lelaki itu.
"Kok bisa? Bukannya si cewek itu masih ngejar-ngejar kamu, kok Dirta bisa menghentikan pemburuannya sama kamu,"tanya Almira penasaran.
"Karena sejatinya, Dirta hanya ingin El ada di dekatnya, El hidup sehat, bahagia dan dia bisa menemui El kapan pun, jadi urusan Dirta dengan ancamannya padaku udah selesai, tapi jangan lengah, manusia memiliki sisi jahatnya masing-masing, ada kemungkinan suatu hari nanti Dirta atau bahkan El yang akan menawan kita,"beber panjang Royyan melepaskan belaiannya pada Almira.
Almira melepaskan helaan napasnya panjang, angannya berkelana pada beberapa kemungkinan yang akan terjadi di suatu hari nanti. Dia bahagia karena tak harus bersembunyi dari semua orang tentang pernikahannya, tetapi tidak menutup kemungkinan ada bongkahan ketakutan yang berasal dari Elshara dan Dirta.
NEXT ....
__ADS_1